ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 268


__ADS_3

Malamnya


Stefan sedang fokus dengan laptopnya saat Hana meletakan Theo di ranjang bayi miliknya. Namun saat tubuh gempalnya menyentuh kasur Theo langsung membuka kedua matanya dan menangis tidak mau lepas dari dekapan hangat Hana. Dan tangisan Theo berhasil membuat perhatian Stefan teralihkan. Pria itu tersenyum menatap Hana yang akhirnya mau tidak mau kembali menggendong Theo.


Stefan menghela napas pelan kemudian bangkit dari duduknya di sofa. Pria tampan dengan kaos putih polos itu melangkah mendekat pada Hana yang kembali mengayun Theo sambil menyusuinya.


“Apa kamu lelah Hana?” Tanya Stefan dengan pelan dan penuh kelembutan. Stefan menyentuh dan memijat lembut kedua bahu Hana.


Hana menoleh dan sedikit mendongak untuk membalas tatapan suaminya.


“Tidak. Hanya saja aku pikir Theo akan lebih nyaman jika berbaring Stefan.” Jawabnya.


Stefan tersenyum. Mengurus Theo sendiri tanpa bantuan dari siapapun pasti bukan hal yang mudah bagi Hana. Stefan sendiri merasakan bagaimana repotnya mengurus Theo saat Hana tidur pagi itu.


“Mungkin Theo ingin berbaring dengan kamu.. Kita bisa berbagi tempat tidur dengan Theo mulai malam ini sayang.”


Hana mengeryit. Theo memang sudah semakin aktif bergerak. Dan mungkin ukuran ranjang bayinya terlalu kecil sehingga membatasi pergerakan bayi tampan-nya.


“Memangnya kamu nggak keberatan?” Tanya Hana yang takut Stefan merasa tidak leluasa jika Theo satu ranjang dengan mereka.


“Hey, kamu ngomong apa sih? Theo kan anak kita. Nggak papa dong kalau dia tidurnya sama kita. Lagian sepertinya Theo juga sudah merasa tidak nyaman berada di tempat tidurnya. Nanti aku akan mencari lagi yang lebih besar agar Theo bisa lebih leluasa saat bergerak tengkurap.”


Hana tersenyum mendengarnya. Wanita itu kemudian langsung membawa Theo menuju ranjang mereka. Hana membaringkan Theo disana kemudian ikut berbaring disamping Theo yang kembali mencari susu.


“Ya Stefan.. Sepertinya lebih baik seperti ini.” Katanya.


Stefan tertawa pelan kemudian ikut mendekat. Pria itu membaringkan tubuhnya di belakang Hana. Tangan-nya melingkar dengan lembut di perut Hana. Satu kecupan Stefan daratkan di tengkuk Hana membuat Hana berjengit merasa geli akibat sentuhan bibir panas suaminya.


“Stefan..” Lirih Hana.


“Tenang saja.. Aku akan menunggu sampai Theo benar benar terlelap sayang..” Bisik Stefan mesra.

__ADS_1


Hana hanya bisa diam dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Hana tau apa yang Stefan maksud.


-----------


Di kediaman sederhana keluarga Alan.


Amira baru saja pulang dari aktivitas rutin-nya di luar rumah dengan Tristan yang mengantarnya. Kali ini Amira memang pulang sedikit terlambat karena setelah selesai kerja di toko pak Ang, Amira harus latihan dansa dengan Tristan.


Amira menghela napas khawatir kakak juga ibunya akan marah. Gadis itu menatap keduanya yang sedang duduk santai di kursi yang berada di teras depan rumah.


“Aku yang akan jelasin ke ibu sama kak Alan Amira, kamu tidak perlu khawatir.” Ujar Tristan yang kemudian ikut turun dari motornya.


Amira mengangguk pelan. Meskipun pernah beberapa kali dirinya terlambat pulang, namun tidak seterlambat sekarang.


“Ayo..” Ajak Tristan mendekat pada Alan dan ibu.


Setelah sampai di depan keduanya, Amira langsung menyalimi keduanya bergantian dengan Tristan.


“Kenapa handphone nya nggak aktif? Kakak telepon kamu dari tadi sore loh Ra..” Tanya Alan dengan sangat tenang. Namun ketenangan Alan justru membuat Amira merasa takut.


Alan menganggukkan kepalanya mengerti. Alan tidak sama sekali berniat memarahi keduanya, karena Alan sendiri tau dan merasakan bagaimana menyenangkan-nya masa masa menjadi anak sekolahan. Baginya asal adiknya tidak terjerumus ke perbuatan yang menyeleweng itu tidak masalah.


“Ya sudah kalau begitu. Lebih baik sekarang kalian masuk. Amira, buatin teh untuk nak Tristan ya..” Senyum Ibu berkata dengan penuh kelembutan.


“Eh enggak, nggak usah bu. Saya langsung pulang saja. Kakak saya juga pasti sedang menunggu saya di rumah.”


“Oh begitu. Ya sudah kamu hati hati ya..”


Tristan menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Tristan kemudian kembali menyalimi Alan dan Ibu bergantian.


“Saya pamit pulang ya kak, bu..” Katanya.

__ADS_1


“Ya.. Hati hati..” Saut Alan.


Tristan menatap Amira sebentar kemudian kembali melangkah menuju motor gedenya. Pemuda tampan berjaket coklat susu itu lalu mengenakan helm full face nya, menaiki kembali motor gedenya dan berlalu dengan kecepatan sedang dari halaman depan rumah sederhana keluarga Alan.


Setelah Tristan berlalu, Ibu menoleh pada Amira yang berdiri di depan pintu dan terus menatap kearah motor Tristan melaju. Wanita itu tersenyum geli melihat tingkah putrinya.


“Amira, masuk sayang.” Perintahnya dengan nada lembut.


“Ah iya bu..” Sentak Amira yang kemudian langsung berlalu masuk kedalam rumah.


Alan tersenyum geli melihatnya. Masa masa sekolah memang masa yang sangat indah dan menyenangkan. Alan sendiri pernah berada di masa itu. Masa dimana semua beban bisa dia bagi dengan teman setia. Masa dimana Alan juga mulai merasakan cinta yang tumbuh di hatinya. Dan yang Alan cintai adalah Hana, sahabat sejak kecilnya.


“Ah ya Alan, sampai dimana tadi obrolan kita?” Tanya ibu yang kembali membahas topik obrolan bersama Alan sebelum Tristan dan Amira datang.


“Hemm.. Sampai dimana ya.. Alan juga lupa bu.. Ya sudahlah bu, lupain aja.” Alan mencoba menghindar dari topik obrolan tersebut. Alan merasa belum saatnya ibunya tau tentang hubungan yang baru dia jalin dengan dokter Rania.


“Jadi sekarang mau rahasia rahasia an nih sama ibu..? Memangnya kamu nggak pengin begitu curhat sama ibu? Sekedar berbagi kisah indah kamu dengan dokter Rania mungkin?” Goda ibu yang berhasil membuat wajah tampan Alan memanas lalu memerah.


“Apaan sih ibu..” Alan mencoba berkilah kembali.


“Nak.. Siapapun yang melihat kedekatan kamu dan dokter Rania pasti bisa menebak bahwa hubungan kalian sangat tidak biasa. Ibu tau kok.. Kamu suka sama dokter Rania kan? Kamu nggak bisa membohongi ibu Alan.. Ibu tau dan sangat paham bagaimana anak anak ibu..”


Alan tertawa pelan. Alan merasa sepertinya dia memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari ibunya.


“Ceritalah.. Ibu akan menjadi pendengar yang baik untuk kamu nak.” Bujuk ibu dengan sangat penuh perhatian.


Alan menghela napas kemudian menatap ibunya. Pria itu meraih tangan kanan ibunya kemudian mencium punggung tangan wanita yang sangat hebat dalam hidupnya itu dengan penuh perasaan.


Apa yang Alan lakukan membuat ibu merasa sangat tersentuh. Ibu tau putra sulung kesayangan-nya adalah pria yang baik dan penuh dengan kasih pada siapapun.


“Aku dan dokter Rania memutuskan untuk menjalani sebuah komitmen bu.. Aku harap ibu merestui.” Katanya lirih.

__ADS_1


Ibu tertawa pelan kemudian menganggukkan kepalanya.


“Tentu nak.. Tentu ibu merestui keputusan kalian berdua. Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik.” Ujar ibu penuh harapan dan do'a.


__ADS_2