
Pagi ini Alan keluar dari kamarnya tanpa menggunakan kursi roda yang biasa menopang tubuhnya. Pria itu melangkah perlahan lahan dan dengan sangat hati hati menuju tangga. Alan ingin membiasakan kekuatan kakinya agar terbiasa kembali untuk berjalan seperti dulu. Alan tidak ingin terus bergantung pada dokter Rania. Alan ingin bisa seperti dulu lagi, bekerja untuk ibu dan kedua adiknya.
“Alan..”
Suara dokter Rania membuat Alan menoleh. Pria itu menatap dokter Rania kemudian tersenyum lebar.
“Aku ingin mencoba turun tangga sendiri dokter.” Katanya dengan senyuman lebar.
Dokter Rania terdiam kemudian menganggukkan kepalanya mengerti. Biasanya memang dokter Rania selalu membantu Alan menuruni tangga dengan menuntun atau memapahnya. Itupun sejak Alan bisa melangkahkan kakinya karena saat Alan masih terus duduk di kursi rodanya, dokter Rania tidak mengizinkan Alan untuk turun ke lantai satu rumahnya demi kebaikan Alan sendiri.
Dokter cantik itu melangkah pelan menuju tangga kemudian berhenti tepat di ujung tangga menatap Alan yang mulai menapakkan satu persatu langkah kakinya menuruni anak tangga. Dokter Rania sebenarnya khawatir Alan tidak bisa mengimbangi tubuhnya sendiri mengingat kedua kakinya yang belum cukup kuat untuk menopang tubuhnya. Tapi dokter cantik itu tidak ingin membuat Alan merasa berkecil hati dengan keraguan-nya. Dokter Rania membiarkan saja Alan melakukan apa yang menurut Alan bisa dilakukan sendiri.
“Tidak usah buru buru. Pelan dan perlahan saja Alan.” Titah dokter Rania yang mengawasi dari ujung tangga.
Alan tertawa pelan. Sebenarnya Alan juga sedikit takut jatuh terguling di tangga. Tapi Alan juga sadar jika dirinya tidak mau mencoba semuanya akan terus terasa sulit dan susah.
“Aku bisa dokter. Aku bisa..”
Dokter Rania tersenyum dibelakang Alan. Pelan pelan wanita itu melangkah mendekat pada Alan berjaga jaga agar jika Alan hendak jatuh dirinya bisa menolong dengan memegangi pria itu.
Dengan penuh kesabaran dokter Rania mengikuti Alan yang begitu sangat pelan melangkah menuruni satu persatu anak tangga sampai akhirnya pria itu benar benar sampai di lantai satu rumah dokter Rania. Dan pagi ini adalah kali pertama Alan sukses menuruni tangga sendiri tanpa bantuan dari dokter Rania.
“Lihat dokter, aku berhasil.” Senang Alan tersenyum lebar pada dokter Rania.
__ADS_1
Dokter Rania mengangguk pelan dengan senyuman dibibirnya. Melihat Alan yang sudah bisa menuruni tangga tanpa membutuhkan bantuan-nya entah kenapa membuat dada dokter cantik itu terasa sesak. Tapi lagi lagi dokter cantik itu langsung mengenyahkan perasaan itu dari hatinya.
“Sepertinya sekarang memang kamu harus berusaha lepas dari kursi roda Alan. Kamu harus sering melatih kembali kekuatan kaki kamu dengan sering berjalan. Tidak perlu terburu buru sebenarnya, kamu bisa melakukan-nya perlahan tapi juga harus rajin dan telaten.” Ujar dokter Rania.
“Hem ya dokter.” Angguk Alan semangat.
“Kalau begitu mari kita ke meja makan. Kita sarapan.” Ajak dokter Rania.
Alan tersenyum kemudian meraih tangan dokter Rania dan menggandengnya erat.
“Maaf dokter, rasanya kakiku sedikit bergetar dan sepertinya harus ada yang aku gandeng untuk kembali melangkah sekarang.” Kata Alan.
Dokter Rania menatap tangan-nya yang di gandeng begitu erat oleh Alan kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sedikitpun dokter cantik itu tidak pernah merasa keberatan meski harus banyak berkontak fisik dengan Alan.
Alan menganggukan kepalanya kemudian melangkahkan kembali kedua kakinya dengan pelan menuju meja makan. Tangan-nya menggandeng erat tangan kecil dokter Rania yang melangkah disampingnya.
Diam diam Alan melirik wanita cantik yang begitu kecil jika berdiri disampingnya. Entah kenapa Alan selalu merasakan sesuatu yang aneh pada hatinya akhir akhir ini setiap bertatap muka dengan dokter cantik itu.
----------
Stefan menatap syal warna coklat susu yang tergeletak di meja tidak jauh dari ranjangnya dan Hana. Semalam saat Stefan melepaskan pelukan Hana, Syal itu Hana tunjukan padanya. Pria itu kemudian meraih syal tersebut dan memperhatikannya. Di syal itu tertulis namanya dengan benang wol hitam yang di rajut begitu rapi.
Stefan menyentuh lembut syal buatan Hana. Rasanya begitu sangat halus. Rajutan-nya pun begitu rapi seperti bukan buatan tangan.
__ADS_1
Stefan tidak menyangka Hana bisa merajut dengan begitu halus dan rapi. Apa lagi hasilnya juga sangat bagus.
“Itu untuk kamu..”
Suara Hana membuat Stefan menoleh padanya. Hana baru saja selesai membersihkan dirinya dari kamar mandi pagi ini. Dan selama di dalam kamar mandi Hana berhasil menemukan titik terang kediaman Stefan selama semalaman ini. Apa lagi semalam Hana juga sudah mengobrol dengan dokter Clara yang memang sengaja Stefan suruh datang dengan ancaman agar mau memeriksa kembali kandungan Hana yang sebenarnya baik baik saja.
Stefan menghela napas pelan. Rasa kesalnya pada Hana masih membuatnya malas berbicara pada istrinya itu. Stefan kesal bukan karena Hana menyambutnya, tapi karena apa yang Hana lakukan dengan berlarian didalam rumah bahkan sampai menuruni anak tangga. Stefan merasa Hana seperti tidak menyayangi janin dalam kandungan-nya.
“Aku harap kamu suka dengan syal itu Stefan. Aku juga mau minta maaf untuk yang semalam. Aku hanya terlalu senang semalam dan tidak sabar ingin menunjukan syal itu sama kamu.”
Stefan memejamkan kedua matanya mendengar permintaan maaf Hana. Stefan tidak ingin marah sebenarnya. Tapi jika Stefan tidak marah, Hana pasti tidak akan menganggap serius apa yang Stefan peringatkan.
“Stefan.. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan pelan pelan saat bergerak.” Hana merengek pada Stefan namun tidak berani mendekat pada pria itu. Hana takut Stefan akan menolaknya.
Stefan kemudian menghela napas. Jika Hana sudah merengek Stefan tidak akan bisa tahan. Pria itu kemudian meletakan syal yang dipegangnya di tempatnya semula. Stefan melangkah mendekat pada Hana yang masih mengenakan handuk kimono warna putihnya didepan pintu kamar mandi dengan rambut panjangnya yang basah.
Ketika sudah berhadapan dengan jarak dekat, Stefan menatap Hana yang malah menundukkan kepalanya tidak berani menatapnya. Tangan besar Stefan menyentuh lembut dagu Hana dan mendongakkan-nya pelan menyuruh agar Hana menatapnya.
“Dengar Hana, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi sama kamu juga anak kita. Jadi tolong kamu mengerti. Jangan pernah kamu mengulangi lagi apa yang kamu lakukan semalam.” Ujar Stefan lirih.
Hana hanya diam saja. Hana juga sudah menyadari kesalahan-nya. Dan Hana tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri kalau seandainya semalam dirinya sampai jatuh yang pasti akan berakibat buruk pada janin yang sedang di kandungnya.
“Maaf...” Lirih Hana yang tiba tiba menangis.
__ADS_1
Melihat Hana yang tiba tiba menangis entah kenapa Stefan merasa geli sendiri. Pria itu tertawa pelan kemudian menarik tubuh Hana dan memeluknya dengan penuh cinta juga kasih sayang.