
Hari ini dokter Rania sengaja datang kembali ke alamat tempat Alan bekerja. Wanita cantik yang masih mengenakan jas putih kebanggan-nya itu turun dari mobil merahnya menatap gedung perusahaan tempat Alan mengais rezeki.
Dokter Rania mengangkat tangan kirinya menilik waktu sore ini. Dokter cantik itu sudah menghubungi Alan sebelumnya dan Alan mengatakan sudah akan selesai pekerjaan-nya.
“Apa aku masuk aja?” Gumam dokter cantik itu pelan.
Tidak sampai satu menit dokter Rania berdiri disamping mobilnya, Alan pun keluar dari gedung itu dengan Veby. Mereka tampak asik mengobrol diselingi tawa yang membuat senyuman di bibir dokter Rania seketika sirna.
“Ya Tuhan.. Kenapa aku sampai melupakan kedekatan Alan dengan perempuan itu.”
Dokter Rania melengos enggan menatap Alan yang begitu akrab dengan Veby. Wanita itu tidak ingin melihat tawa riang Alan bersama Veby.
“Tapi beneran kak tadi itu lucu banget. Kalau kak Alan nggak langsung nolongin bos, pasti bos jadi tertawaan banyak orang tadi.” Ujar Veby dengan tawa yang masih menyisa.
“Sudah sudah jangan ngomong begitu. Nanti kalau bos tau bisa dimarahin kamu Veb. Memang kamu mau di pecat? Atau jangan jangan kamu sudah bosan kerja disini hem?”
“Eh ya enggak dong kak. Kalau aku nggak kerja disini aku mau kerja dimana lagi coba. Apa lagi disini teman teman baik banget sama aku.” Ekspresi Veby langsung berubah sendu takut apa yang Alan katakan benar benar terjadi. Veby sudah merasa nyaman bekerja dengan di kelilingi orang orang baik.
“Ya makan-nya jangan ngetawain bos..”
Ucapan Alan menggantung saat pandangan-nya tertuju pada dokter Rania yang berdiri disamping mobilnya dengan posisi memunggunginya. Alan tersenyum menatap dokter Rania yang memang sebelumnya sudah menghubunginya menanyakan kapan Alan pulang dari bekerjanya sore ini.
“Dokter Rania..” Gumam Alan tersenyum.
Veby yang merasa aneh dengan senyuman Alan mengeryit. Wanita dengan rambut bergelombang itu kemudian mengikuti arah pandang Alan yang tertuju pada dokter Rania.
“Ada apa kak?” Tanya Veby membuat Alan langsung menoleh kembali kearahnya.
“Eh enggak, nggak papa. Ya udah aku duluan yah.” Senyum Alan.
__ADS_1
“Oke..” Angguk Veby tersenyum manis.
Alan kemudian berlalu dari hadapan Veby dan mendekat pada dokter Rania yang berdiri disamping mobil memunggunginya.
“Dokter.” Panggil Alan membuat dokter Rania menghela napas dan mau tidak mau harus memutar tubuh untuk menghadapnya.
Sedangkan Veby, dia mengeryit melihat Alan mendekat pada dokter Rania. Namun wanita itu merasa tidak perlu tau dengan siapa Alan berbincang sekarang. Veby lebih memilih berlalu menuju motornya kemudian melaju dengan kecepatan sedang tanpa sedikitpun ingin tau dengan siapa Alan sekarang.
“Eh iyah.. Udah ngobrolnya?” Tanya dokter Rania menatap Alan dengan senyuman manis di bibirnya.
Alan menyipitkan kedua matanya menatap dokter Rania. Alan yakin yang di maksud oleh dokter cantik itu adalah Veby.
“Tadi aku lihat kamu lagi asik ngobrol. Jadi aku nggak mau ganggu. Ya sudah deh aku pulang aja ya Lan.” Ujar dokter Rania yang sebenarnya merasa kesal melihat kebersamaan Alan dengan Veby.
Ketika dokter Rania hendak memutar tubuhnya, Alan langsung mencekal pergelangan tangan dokter cantik itu. Hal itu membuat dokter Rania kembali menatap Alan.
“Dokter tunggu. Kenapa buru buru sekali?” Tanya Alan tidak mengerti kenapa dokter Rania berniat pergi padahal sudah ada di depan perusahaan tempat Alan bekerja.
“Dia Veby. Teman kerja aku. Dokter nggak perlu merasa menjadi pengganggu karena aku sama Veby nggak ada apa apa. Kami hanya teman kerja dan nggak lebih dari itu.”
Dokter Rania tampak terkejut mendengar apa yang Alan katakan. Dan detik itu juga dokter cantik itu merasakan himpitan yang terasa di dadanya seketika hilang. Rasanya begitu sangat melegakan.
“Oh, begitu ya? Tapi Alan aku..”
“Kamu cemburu ya dokter? Kamu kira aku sama Veby pacaran? Hayo ngaku..” Sela Alan meledek dokter Rania dengan senyuman yang membuat wajah dokter Rania seketika memerah dan terasa panas.
“Apaan sih? cemburu apa coba. Kepedean banget.” Dokter Rania melengos menghindari tatapan Alan.
“Hayo ngakuuu..” Alan terus meledek dokter Rania. Pria itu merasa gemas melihat dokter Rania yang tampak malu malu di depan-nya.
__ADS_1
“Ih Alan apaan sih? Udah ah aku pergi aja kalau kamu terus meledek aku gini.”
Dokter Rania pura pura kesal agar Alan berhenti meledeknya. Wanita itu kembali memutar tubuhnya namun sekali lagi di tahan oleh Alan yang tentu tidak mau dokter Rania pergi.
“Eh eh eh jangan dong. Masa gitu aja marah. Iya deh iya nggak cemburu. Aku cuma bercanda kok.” Ujar Alan.
Dokter Rania diam diam tersenyum. Dadanya benar benar terasa plong dan lega mendengar penjelasan Alan bahwa Alan sama sekali tidak punya hubungan serius dengan Veby, rekan kerjanya.
Dokter cantik itu kembali menghadap pada Alan yang kemudian langsung melepaskan cekalan tangan-nya di lengan-nya.
“Eemm.. Jadi ada apa dokter kesini?” Tanya Alan kemudian.
Dokter Rania diam sesaat. Niatnya datang adalah untuk mengajak Alan berbicara berdua tentang Stefan yang adalah orang yang menabraknya. Bukan ingin menambah masalah. Dokter Rania hanya ingin semuanya jelas. Mungkin Alan memang akan tidak percaya atau mungkin marah dan tidak terima karena orang yang Alan anggap seperti malaikat ternyata adalah orang yang membuatnya koma dan tidak berdaya di kursi roda dalam waktu yang tidak sebentar.
“Oh iya.. Aku pengin ngajak kamu jalan. Kamu nggak sibuk kan?” Tanya dokter Rania.
“Enggak sih.” Jawab Alan menatap wajah cantik dokter Rania dengan penuh perhatian.
Mendapat tatapan seperti itu dari Alan, dokter Rania kembali merasa salah tingkah. Alan selalu saja membuatnya tersipu akhir akhir ini.
“Ya udah kita jalan sekarang aja. Ini, kamu yang bawa mobil aku.”
Alan menerima kunci mobil yang di sodorkan oleh dokter Rania. Pria itu terkekeh geli melihat tingkah dokter Rania yang malu malu kemudian berlalu begitu saja dari hadapan-nya masuk kedalam mobil lebih dulu.
Alan menggelengkan kepalanya. Dokter cantik itu selalu membuat Alan merasa penasaran karena tingkahnya. Selain itu dokter Rania juga begitu baik dan tidak pernah memandangnya sebelah mata yang membuat Alan merasa nyaman meski kastanya dan dokter cantik itu jauh sangat berbeda. Mereka bahkan bisa di ibaratkan seperti bumi dan langit.
Sebelum menyusul dokter Rania masuk kedalam mobil, Alan lebih dulu menitipkan motornya pada pak satpam yang berjaga didepan pintu masuk perusahaan tempatnya bekerja. Setelah itu Alan pun masuk kedalam mobil dokter Rania dan duduk dengan tenang di kursi kemudi di samping dokter Rania yang pura pura memainkan ponsel untuk menutupi rasa gugupnya.
“Kita mau kemana?” Tanya Alan sambil menghidupkan mesin mobil milik dokter Rania.
__ADS_1
“Terserah kamu aja yang penting tempatnya nyaman.” Jawab dokter Rania.
Alan mengangguk kemudian mulai melajukan mobil dokter Rania berlalu dari depan perusahaan tempatnya bekerja.