ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 40


__ADS_3

Karena terlalu fokus mengajak Alan yang tidak berdaya mengobrol, Hana sampai tidak menyadari Stefan dan dokter Rania yang sudah tidak ada dikamar itu.


Hana mengeryit bingung karena mereka berdua begitu kompak meninggalkan-nya sendiri hanya bersama dengan Alan saja.


“Masa sih dokter Rania itu bener pacarnya Stefan? Tapi kalau iya untuk apa dia mengajukan syarat untuk menikah denganku kalau ada dokter Rania yang lebih pantas?” Batin Hana terus bertanya tanya tentang kedekatan Stefan dan dokter cantik itu.


Hana menghela napas kasar kemudian merogoh tas kecilnya mengeluarkan benda pipih miliknya bermaksud menghubungi Aisha karena siang tadi mereka sudah berjanji akan sama sama menjenguk Alan.


“Halo Aisha.. Aku sudah dirumah dokter Rania sekarang. Kalian dimana?” Tanya Hana langsung pada Aisha yang berada diseberang telepon.


“Ya kak.. Kami baru saja sampai rumah. Maaf kami tidak bisa menunggu. Aku harus sekolah besok dan tidak bisa pulang terlalu malam..”


“Oh ya sudah kalau begitu. Istirahatlah.. Belajar yang rajin ya Aisha. Kalau ada waktu mungkin kita bisa bertemu lagi.” Senyum Hana kemudian menyudahi telepon-nya dengan Aisha.


Hana menarik napas dalam kemudian menghembuskan-nya pelan. Padahal Hana ingin sekali bertemu langsung dengan ibu Alan. Hana ingin tau bagaimana kabarnya dengan mengobrol secara langsung, bukan lewat telepon atau yang lain-nya.


Setelah memutuskan sambungan telepon-nya, Hana pun melangkah keluar dari kamar tempat Alan berada. Hana bermaksud mencari Stefan yang tiba tiba menghilang entah kemana.


Dengan langkah pelan Hana melangkah dilantai marmer kediaman dokter Renata. Wanita itu mengedarkan pandangan-nya ke seluruh sudut rumah mewah itu berharap menemukan Stefan yang mungkin saja sedang bersama dokter Rania.


“Mommy...”


Suara Angel membuat langkah Hana terhenti. Wanita itu menoleh dan tersenyum mendapati gadis kecil itu berlari ke arahnya dengan mengucek kedua mata serta bibir mengerucut seperti sedang sangat sebal.


“Hey.. Darimana sayang?” Tanya Hana lembut.


“Angel abis main sama mbak. Mommy, Angel ngantuk banget..”


Hana menghela napas dan menganggukkan kepalanya. Wanita itu mengerti dan paham kalau gadis kecil itu sudah mengantuk karena Angel memang tidak terbiasa tidur malam.


“Permisi nyonya..”


Hana baru saja membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu pada Angel ketika tiba tiba Rico muncul. Hana ingat, Stefan yang menyuruh pria itu untuk datang menyusul.

__ADS_1


“Ya Rico..” Saut Hana tersenyum tipis.


“Saya diperintahkan oleh tuan untuk membawa Angel dan mbak titin pulang lebih dulu.” Ujar Rico memberitahu Hana.


Hana terdiam sesaat. Entah apa maksud Stefan yang menyuruh Angel pulang dengan Rico dan bukan bersama dengan mereka berdua.


“Kalau begitu biar saya juga ikut dengan kamu saja. Lagian Stefan juga tidak tau dimana sekarang.”


Rico tersenyum tipis mendengarnya.


“Tuan masih disini nyonya. Dan maaf, lebih baik nyonya pulang dengan tuan saja.”


Hana mengeryit.


“Tapi dia tidak ada Rico. Saya sudah lelah dan ingin istirahat.”


“Mohon kerja samanya nyonya.” Sela Rico membuat Hana berdecak. Rico benar benar seperti budak yang sedikitpun tidak berani melawan Stefan. Bahkan untuk membawanya pulang bersama Angel saja tidak mau.


Angel mendongak menatap Hana.


“Angel pulang dulu ya mommy...”


Dengan terpaksa Hana mengukir senyumnya. Hana benar benar tidak ingin berlama lama dirumah itu. Apa lagi melihat Stefan dan dokter Rania yang begitu dekat membuat Hana merasa kesal sendiri. Ditambah lagi sekarang Stefan dan dokter itu menghilang entah kemana.


“Ya sayang.. Nanti langsung istirahat ya dirumah.. Jangan lupa gosok gigi, cuci kaki dan tangan juga.” Kata Hana menoel gemas ujung hidung mancung Angel.


“Oke mommy..” Angguk Angel.


“Saya permisi nyonya..” Ujar pelayan yang di panggil mbak Titin itu.


“Titip Angel ya mbak..” Senyum Hana pada pelayan tersebut.


“Baik nyonya.” Angguk si pelayan.

__ADS_1


Rico menggiring Angel dan pelayan itu berlalu dari hadapan Hana setelah pamit undur diri pada istri dari bos besarnya itu.


Sedangkan Hana wanita itu kembali melangkahkan kakinya menyusuri ruangan demi ruangan dirumah dokter Rania mencari keberadaan Stefan dan dokter cantik itu yang Hana tebak mempunyai hubungan yang lebih dari seorang kenalan biasa.


“Kemana sih mereka?” Hana bersungut merasa kesal karena tidak kunjung menemukan Stefan dan dokter Rania.


Sudah beberapa menit mencari keberadaan suaminya dan tidak kunjung menemukan-nya, Hana pun berniat kembali ke kamar tempat dimana Alan berada. Namun suara tawa dokter Rania menarik perhatian-nya.


Penasaran, Hana pun segera mengikuti arah suara itu. Hingga akhirnya Hana sampai didepan pintu ruang keluarga yang berada sedikit jauh dari kamar tempat Alan berada. Hana melongokkan kepalanya mencoba melihat kedalam ruang keluarga itu diam diam.


Hana menghela napas kasar begitu melihat Stefan juga berada disana. Mereka sedang duduk disofa yang sama dengan posisi memunggungi Hana sehingga hanya kepala mereka berdua saja yang terlihat. Tawa dokter Rania terdengar sangat ceria seperti orang yang sedang menertawakan sesuatu yang sangat lucu. Dan mereka hanya berdua diruangan itu.


“Pantes.. Ternyata lagi berduaan disini.” Gumam Hana pelan.


Tidak ingin melihat pemandangan menyebalkan itu Hana pun berlalu dan memilih untuk kembali menemani Alan. Hana tidak ingin mengganggu Stefan yang sedang berdua dengan dokter Rania.


“Dasar laki laki. Bilangnya aku harus selalu berada di sisinya. Tapi dianya sendiri begitu.” Dumel Hana memasuki kamar dimana Alan berada.


Hana mendudukan dirinya di sofa tunggal yang berada tidak jauh dari ranjang tempat Alan berbaring.


Beberapa kali Hana berdecak dan menghela napas kasar membayangkan apa yang sedang dilakukan oleh Stefan dan dokter Rania di ruangan keluarga.


Hana tidak bisa berpikir jernih sekarang. Apa lagi Hana juga melihat sendiri bagaimana dekatnya Stefan dan dokter Rania.


Stefan bisa membuat dokter Rania tertawa begitu keras itu artinya hubungan mereka memang bukan hubungan sekedar teman saja. Mungkin apa yang Hana pertanyakan benar. Dokter cantik itu adalah pacar Stefan.


“Iihh.. Udah udah.. Ngapain sih aku mikirin dia terus. Terserah dia lah mau ngapain. Mau dia punya pacar, mau dia ngapain aja itu nggak urusan kamu Hana.” Hana memukul mukul pelan kepalanya sendiri. Wanita itu berusaha meyakinkan dirinya bahwa dirinya tidak perduli dengan hubungan Stefan dan dokter Rania.


“Pantas saja dia menyuruh Rico membawa Angel pulang lebih dulu. Ternyata biar dia bisa berduaan sama dokter Rania. Dia pasti takut Angel mengadu sama mamah Sera. Dasar laki laki nyebelin. Sok hebat.”


Meskipun sudah mengingatkan dirinya sendiri dan berusaha tidak perduli dengan Stefan dan dokter Rania, pada kenyataan-nya Hana tetap saja menggerutu kesal pada Stefan.


“Iiihh.. Nyebelin...!!” Pekik Hana beralih memukul mukul tasnya sendiri. Hana benar benar merasa kesal pada Stefan yang di anggapnya sedang asik berduaan dengan dokter Rania diruang keluarga dibelakangnya.

__ADS_1


__ADS_2