
Selesai sarapan, Hana mengantar Stefan dan Angel sampai teras depan rumah. Wanita itu juga membawa serta Theo yang belum di mandikan karena masih terlelap dalam gendongan-nya.
“Angel sekolah dulu ya mommy.. Dada adek.. Kakak sekolah dulu. Nanti kalau kakak Angel pulang kita main main yah..”
Hana tertawa mendengarnya. Wanita itu kemudian meraih tangan Angel yang berniat menyaliminya.
“Oke.. Belajar yang pinter ya kak..” Balas Hana.
“Oke mommy..” Senyum lebar Angel menatap Hana kemudian berlalu menuju mobil Stefan yang sudah di siapkan oleh body guard dan masuk untuk menunggu Stefan.
Stefan menghela napas. Pria itu masih merasa kesal pada Hana yang menolak niat baiknya. Meskipun memang pada kenyataan-nya Hana memang bisa sarapan dengan tenang meskipun ada Theo di gendongan-nya.
“Aku berangkat yah..” Katanya pada Hana.
Hana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Tentang yang tadi dimeja makan aku benar benar minta maaf Stefan. Aku nggak bermaksud tidak menghargai maksud baik kamu. Aku hanya tidak ingin Theo sampai menangis kalau tidurnya di usik.” Ujar Hana mencoba menjelaskan berharap Stefan mengerti maksud penolakan halusnya saat di meja makan.
Stefan mengangguk pelan. Stefan mengerti karena dirinya juga tidak ingin jika sampai putranya menangis. Tapi Stefan tetap merasa kesal karena Hana yang menolak begitu saja tanpa memberitahu langsung alasan-nya.
“Ya udah aku berangkat sekarang yah..”
Hana menghela napas pelan. Mungkin caranya menolak Stefan membuat pria itu merasa tidak di hargai.
“Ya sudah. Hati hati..” Senyum Hana menyalimi Stefan.
Stefan hanya mengangguk dengan senyuman tipisnya. Pria itu kemudian mengecup singkat kening Hana. Stefan juga tidak lupa mengecup kening putranya yang masih juga terlelap.
__ADS_1
“Daddy berangkat ya sayang. Jangan rewel.” Bisik Stefan yang juga bisa di dengar dengan jelas oleh Hana.
Setelah berpamitan pada Hana juga Theo, Stefan pun langsung berlalu melangkah menuju mobilnya kemudian masuk tanpa menoleh pada Hana yang menatapnya dari teras depan rumah.
Stefan menghidupkan mesin mobilnya kemudian melajukan-nya dengan kecepatan sedang berlalu dari pekarangan luas rumahnya.
Hana menghela napas pelan. Mungkin memang ucapan-nya tadi saat di meja makan menyinggung perasaan Stefan sehingga pria itu marah padanya.
“Maafin aku ya Stefan. Aku hanya enggak ingin Theo menangis.” Gumam Hana lirih.
“Sudah nggak papa. Stefan memang begitu. Nanti juga kalau dia sudah paham sendiri pasti minta maaf sendiri.”
Hana menoleh dan mendapati Sera yang sudah berdiri disampingnya.
“Mamah mengerti maksud kamu Hana. Mamah juga mengerti maksud Stefan. Kalian sama sama ingin yang terbaik hanya saja mungkin cara pikir kalian tidak sama.”
“Ya udah yuk masuk, Theo nya kan juga harus di mandiin.” Ajak Sera dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
Hana menganggukkan kepalanya mengiyakan ajakan Sera kemudian sama sama masuk kedalam rumah kembali. Hana berharap sepulang dari perusahaan nanti Stefan sudah tidak lagi diam seperti tadi saat Hana menyaliminya.
----------
Berita tentang kembalinya Stefan dari Amerika dengan membawa kabar gembira perihal tentang kelahiran putra pertamanya dengan Hana juga sampai pada dokter Rania dan Williana. Dokter Rania ikut merasa bahagia dan lega mendengar Hana yang sudah melahirkan putranya meskipun berawal dari sebuah insiden yang menegangkan. Sementara Williana, dia bahagia bukan karena ikut merasa bahagia atas kelahiran putra Hana. Tapi karena Williana merasa punya celah untuk kembali mendekati Stefan yang sudah berada di indonesia.
“Syukurlah akhirnya mereka sudah kembali.”
Suara Tristan dari arah belakang menarik perhatian Williana yang pagi ini entah kenapa tiba tiba menghidupkan TV di ruang keluarga. Williana memutar tubuhnya dan mendapati Tristan yang sudah siap siap akan pergi seperti biasanya pagi ini.
__ADS_1
“Kamu tau Stefan dan istrinya ada di Amerika?” Tanya Williana pada Tristan.
“Iya aku tau kak. Kan aku sama Amira pernah kesana buat ketemu sama kak Hana. Tapi katanya kak Hana dan kak Stefan sedang di Amerika. Amira pasti senang mendengar ini.”
Williana mengangkat sebelah alisnya mendengar apa yang Tristan katakan. Rasa penasaran akan hubungan Hana dan Amira tiba tiba muncul di benaknya. Dan itu membuat Williana kembali mengingat kejadian beberapa bulan lalu saat Hana datang dengan Stefan kemudian menamparnya karena tau Williana mengutus orang untuk mengikuti Amira bahkan berniat menyakitinya.
“Memangnya ada hubungan apa gadis itu dengan istrinya Stefan Tristan?” Tanya Williana menatap Tristan penuh rasa ingin tahu.
“Aku nggak terlalu tau banyak kak. Tapi yang aku tau hubungan kak Hana dan keluarganya Amira itu cukup dekat.” Jawab Tristan yang memilih untuk berbohong karena tidak mau menjelaskan panjang lebar pada kakaknya. Tristan tau kakak nya juga sangat tidak menyukai Hana dan Amira. Tristan takut jika dirinya menjelaskan, Williana akan memanfaatkan celah kecil untuk membuat masalah.
“Kamu nggak bohong kan Tristan?” Tanya Williana menatap Tristan penuh selidik.
“Ya enggaklah kak. Buat apa juga aku bohong. Oh iya kalau kakak mau kerumah kak Stefan buat jenguk kak Hana yang baru melahirkan jangan lupa ajak aku ya kak. Aku juga penasaran pengin lihat adek bayinya.” Jawab Tristan yang kemudian mencoba mengalihkan pemikiran Williana yang Tristan tau menaruh curiga padanya.
“Buat apa jenguk istrinya. Kakak lebih suka datang ke perusahaan-nya supaya bisa bertemu dengan Stefan. Bukan dengan istrinya yang menyebalkan itu.” Ujar Williana malas.
Tristan hanya bisa menghela napas. Entah sampai kapan kakaknya akan terus berharap pada Stefan yang jelas jelas tidak pernah menganggapnya ada. Apa lagi Stefan juga sudah mempunyai istri yaitu Hana, wanita yang tentu sangat Stefan cintai.
“Kak laki laki di luar sana banyak. Nggak cuma kak Stefan doang. Aku yakin kok kakak bisa mendapatkan yang lebih baik dari kak Stefan yang tentunya juga sayang dan cinta sama kakak. Jadi menurut aku lebih baik kakak jangan berharap pada sesuatu yang tidak mungkin.” Tristan mencoba memberitahu Williana yang benar.
“Laki laki yang lebih baik dari Stefan? Kakak nggak yakin ada laki laki seperti itu Tristan. Kakak tau bagaimana Stefan. Dan kakak yakin suatu saat Stefan akan jauh lebih memilih kakak dari pada perempuan tidak jelas itu. Karena di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin.”
Tristan menggelengkan kepalanya. Pemuda tampan yang sudah rapi dengan jaket hitamnya itu tidak tau lagi harus bagaimana memberitahu kakaknya bahwa berharap bisa bersama dengan pria yang sudah beristri itu adalah hal yang sangat mustahil. Ditambah lagi Stefan yang sama sekali tidak pernah mau menatapnya.
“Ya udah terserah kakak aja. Tristan cuma bisa mengingatkan.” Ujar Tristan akhirnya.
Setelah berkata demikian, Tristan pun berlalu dari hadapan Williana. Tristan tidak mau kesiangan menjemput Amira yang akan bekerja di toko pak Ang.
__ADS_1