
Stefan menatap Hana yang begitu bahagia menikmati pemandangan indah di ladang bunga tulip yang memang begitu terkenal dengan ke indahan-nya di kota itu bahkan di dunia.
Tidak ingin menyia nyiakan kesempatan itu, Stefan pun mengeluarkan ponsel dari dalam jaket hitam yang dikenakan-nya. Stefan juga melepaskan kaca mata yang bertengger di pangkal hidungnya.
Stefan mengarahkan kamera ponselnya pada Hana yang sedang tersenyum bahagia menikmati ladang bunga tulip dengan berbagai macam warna itu kemudian mengambil gambarnya.
Stefan tersenyum karena berhasil mengambil photo Hana secara diam diam. Tidak puas hanya mengambil satu photo saja, Stefan kembali mengambilnya. Kali ini Stefan berpikir ingin mengambil photo Hana yang tersenyum ke arahnya dengan latar belakang bunga bunga warna warni itu.
“Hana..” Panggil Stefan yang membuat Hana langsung menoleh padanya. Kebetulan saat itu angin berhembus menerbangkan rambut Hana yang memang sengaja di gerai.
Stefan langsung mengambil photo itu yang tak terduga membuat Hana terlihat semakin menawan dengan rambut yang terbang karena hembusan angin tersebut.
Stefan tersenyum melihat hasil jepretan-nya. Pria itu tidak menyangka dirinya begitu sangat berlebihan seperti remaja yang baru saja mengalami jatuh cinta dengan mengambil photo pasangan-nya secara diam diam.
Sementara Hana, wanita itu sangat terkejut dengan apa yang Stefan lakukan dengan memotretnya menggunakan ponsel milik pria itu.
“Iiihh.. Stefan..” Hana merengut karena pasti photonya di ponsel suaminya sangat jelek menurutnya.
Stefan tertawa geli. Pria itu menghela napas kemudian mendekat pada Hana yang berdiri dengan jarak dua meter darinya.
“Kamu suka tempat ini?” Tanya Stefan yang mengabaikan ekspresi merengut Hana.
Pria itu tidak ingin memusingkan protesan Hana kali ini. Tentu saja karena Stefan hanya ingin membuat istrinya bahagia selama mereka berada di Amerika.
Ekspresi Hana langsung berubah. Wanita itu menatap ke sekitarnya lagi. Bohong jika Hana tidak menyukai tempat indah itu. Karena Hana juga tau tempat yang saat ini dirinya dan Stefan berada juga di akui oleh dunia bahwa ladang bunga tulip itu adalah salah satu tempat terindah.
“Stefan, hanya orang bodoh yang nggak suka sama tempat ini.” Jawab Hana yang membuat ekspresi Stefan langsung berubah.
“Jadi maksud kamu aku ini bodoh?”
__ADS_1
Hana mengeryit tidak mengerti dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh suaminya.
“Memangnya kamu nggak suka sama tempat seindah ini?” Tanya balik Hana.
Stefan menghela napas. Stefan sejak dulu memang tidak terlalu suka dengan tempat tempat yang banyak di kunjungi oleh orang banyak, salah satunya tempat wisata. Dan kali ini demi Hana, Stefan pun mengabaikan rasa tidak sukanya. Namun siapa sangka Stefan tiba tiba menyukai tempat tempat wisata yang di rambahnya bersama Hana.
“Aku akui aku memang tidak terlalu suka dengan tempat ramai Hana. Tapi bersama kamu, entah kenapa aku sedikit menyukainya.” Jawab Stefan menatap ke segala arah tempat indah itu.
Hana tersenyum. Hana merasa senang jika Stefan menyukai tempat yang di datangi bersamanya.
“Oh ya? Aku nggak percaya kamu jadi suka karena aku. Jangan jangan karena perempuan perempuan disini yang cantik cantik.” Ujar Hana menghela napas dan mengubah posisinya menjadi memunggungi Stefan.
Stefan mengeryit kemudian tersenyum geli. Jika Stefan menyukai wanita hanya karena cantiknya saja, tentu bukan Hana yang Stefan pilih. Karena diluar sana banyak para wanita cantik yang mengantri bahkan berharap di pilih oleh Stefan.
Stefan menghela napas dan semakin mendekatkan dirinya pada Hana hingga posisinya benar benar berada di belakang Hana tanpa jarak. Bahkan rambut Hana yang diterbangkan oleh angin sampai menerpa wajah tampan-nya.
Stefan tersenyum. Aroma shampo bayi yang berasal dari rambut panjang Hana membuat indra penciuman Stefan terasa nyaman. Apa lagi aroma tersebut begitu lembut menurut Stefan.
“Aku tidak suka dengan perempuan cantik Hana. Aku juga tidak suka dengan perempuan sexy.” Bisik Stefan yang membuat Hana mengeryit bingung. Tidak mungkin rasanya jika seorang pria seperti Stefan tidak suka dengan wanita cantik juga sexy seperti apa yang di katakan pria itu padanya.
“Masa sih?” Tanya Hana menoleh pada Stefan yang harus menundukan kepalanya untuk berbisik pada Hana.
Tatapan mereka bertemu. Stefan semakin mendekatkan wajahnya pada Hana kemudian mengecup singkat bibir Hana.
“Hem.. Aku lebih suka perempuan bodoh seperti kamu.” Jawab Stefan kembali berbisik pada Hana.
Wajah Hana memerah mendengarnya. Stefan menciumnya ditempat terbuka juga didepan banyak orang yang memang meski tidak dekat dengan posisi mereka tapi pasti melihatnya dengan jelas.
Hana langsung memalingkan wajahnya kedepan. Perasaan-nya langsung campur aduk antara bahagia dan malu karena apa yang Stefan lakukan padanya.
__ADS_1
Hana akui, Stefan adalah pria romantis yang dikenalnya.
Melihat Hana yang salah tingkah, Stefan semakin merasa gemas. Stefan merasa seperti om om yang merayu gadis remaja. Tentu saja karena usianya dengan Hana terpaut cukup jauh.
Pelan pelan Stefan memutar tubuh Hana agar menghadapnya. Pria itu menatap tepat pada kedua mata Hana yang juga sedang menatapnya dengan jantung berdetak cepat.
Ya, tatapan Stefan selalu berhasil membuat Hana merasa di hipnotis.
“Hana..” Panggil Stefan membelai lembut pipi Chuby Hana.
“Ya, Stefan..” Saut Hana pelan.
“Jika Alan tidak mengalami kecelakaan juga Angel tidak masuk rumah sakit karena demam malam itu, mungkin saat ini kita tidak bersama. Mungkin juga kita tidak akan menikah. Mengenalpun mungkin tidak.” Ujar Stefan pelan.
Hana diam mendengarkan apa yang Stefan katakan. Pertanyaan tentang kenapa tiba tiba Stefan menawarkan bantuan dengan syarat Hana menikah dengan-nya itu kembali terbesit di pikiran Hana. Apa lagi dulu Stefan tiba tiba menghampirinya seperti tau apa yang sedang Hana rasakan di kantin rumah sakit pagi itu.
“Aku tidak tau harus bagaimana mengungkap rasa syukurku karena Tuhan mempertemukan kita. Tapi Hana, terkadang aku juga merasa takut kamu akan pergi jauh dan meninggalkan aku..” Lanjut Stefan.
Hana menghela napas. Wanita itu meraih tangan besar Stefan yang membelai pipinya dan menggenggamnya lembut. Stefan adalah pria baik yang tidak semua orang tau. Tentu saja karena pria itu menutupi kebaikan-nya dengan sikap dingin-nya. Bahkan sebelum mereka saling mencintai Stefan begitu dingin padanya.
“Aku tidak akan pernah punya alasan untuk meninggalkan kamu Stefan. Aku mungkin memang bodoh. Tapi aku tidak mau menjadi semakin bodoh dengan meninggalkan laki laki baik seperti kamu Stefan. Dan tentunya laki laki yang aku cintai.” Senyum Hana menatap Stefan.
Stefan terdiam. Setiap Hana mengatakan itu entah kenapa rasa takutnya semakin besar.
“Apa kamu mau berjanji?” Tanya Stefan serius.
“Tentu saja. Aku berjanji.” Jawab Hana mengangkat tangan-nya memberikan jari kelingkingnya pada Stefan.
Stefan terdiam menatap jari kelingking Hana kemudian mengikuti apa yang Hana lakukan dan menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Hana.
__ADS_1
“I Love you daddy Stefan Devandra, suamiku.” Ungkap Hana tersenyum lebar membuat Stefan terkekeh merasa geli mendengarnya.