ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 241


__ADS_3

Sampai malam ibu terus memikirkan kenapa dokter Rania tiba tiba pulang tanpa berpamitan padanya setelah Alan pulang. Ibu bahkan sampai berpikir mungkin saja putranya mengatakan sesuatu yang kurang mengenakkan pada dokter cantik itu sehingga dokter Rania marah kemudian pulang dengan rasa kecewa atas sikap Alan padanya.


Ibu menghela napas. Tidak ingin berpikir buruk pada putranya sendiri, wanita itu memutuskan untuk langsung menanyakan saja pada Alan tentang apa yang sedang mengganggu pikiran-nya.


Ibu keluar dari kamarnya kemudian melangkah menuju kamar Alan yang berjejer dengan kamar Aisha. Wanita berdaster kuning cerah itu menahan sejenak napasnya kemudian menghembuskan-nya perlahan sebelum mengetuk pelan pintu kamar Alan.


Tidak lama Alan langsung membuka pintu kamarnya dan tersenyum ketika mendapati ibunya yang berdiri didepan pintu kamarnya.


“Ibu..”


“Boleh ibu masuk?” Tanya ibu dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


Sesaat Alan terdiam. Pria itu yakin ibunya pasti memiliki maksud tertentu tiba tiba mengetuk pintu kamarnya.


“Tentu saja. Masa nggak boleh sih bu..” Jawab Alan sambil melebarkan membuka pintu kamarnya mempersilahkan ibunya untuk masuk.


Ibu masuk dan mendudukkan dirinya ditepi ranjang tempat Alan tidur.


“Kok ibu belum tidur sih?” Tanya Alan kemudian sambil mendudukan dirinya di samping ibu.


Ibu menghela napas. Dirinya memang tidak bisa memejamkan kedua matanya karena terus memikirkan Alan dan dokter Rania.


“Inilah kenapa ibu nggak bisa tidur nak. Ibu terus memikirkan kamu dan dokter Rania.” Jawab ibu yang membuat Alan mengeryit.


“Memangnya Alan sama dokter Rania kenapa bu?” Tanya Alan membuat ibu tersenyum lebar.

__ADS_1


“Nak, ibu tidak akan bertanya sama kamu kalau ibu tau kenapa. Dan mungkin ibu juga tidak akan bisa tidak tidur sekarang kalau ibu tau apa penyebabnya.”


Alan diam. Alan yakin ibunya pasti masih penasaran dengan kepulangan dokter Rania yang tanpa pamit itu tadi sore.


“Jadi sekarang kamu katakan yang sebenarnya pada ibu kenapa tadi sore dokter Rania pulang begitu saja tanpa berpamitan sama ibu? Ibu tau bagaimana dokter Rania Alan. Dia tidak mungkin pergi begitu saja tanpa mau menunggu ibu keluar untuk berpamitan jika memang tidak ada masalah.”


Alan menghela napas mendengarnya. Pria itu sebenarnya tidak ingin ibunya tau bahwa Stefan adalah orang yang menabraknya. Bukan berniat menutupi keburukan Stefan, tapi karena Alan tau bagaimana ibunya yang begitu sangat percaya pada Stefan dan menganggap Stefan sudah sangat berjasa pada keluarga mereka.


“Alan.. Ibu sangat tidak suka di bohongi. Jadi lebih baik kamu katakan dengan jujur sejujurnya pada ibu. Ada masalah apa kamu dan dokter Rania.” Desak ibu yang membuat Alan semakin merasa di lema.


Alan menatap wajah ibunya. Wajah itu kini terlihat segar dan cantik kembali karena penyakit yang di derita ibunya selama bertahun tahun sudah benar benar sembuh total. Dan itu karena dokter yang di perintah oleh Stefan untuk memastikan dan memberikan pengobatan yang terbaik untuk ibunya.


“Bu.. Jadi sebenarnya dokter Rania tau siapa orang yang menabrak Alan malam itu. Tapi selama ini dokter Rania menutupinya dari kita.” Ujar Alan pelan memulai untuk berbicara jujur pada ibunya.


“Lalu siapa Alan? Siapa orang itu?” Tanya ibu yang langsung merasa penasaran akan sosok yang sudah membuat putranya tergolek tidak berdaya diatas tempat tidur dalam waktu yabg tidak sebentar.


“Ini juga ada kaitan-nya dengan Hana yang akhirnya memutuskan untuk menikah dengan Stefan Devandra bu.”


“Jangan bertele tele Alan. Katakan saja dengan jelas pada ibu. Siapa orang yang sudah menabrak kamu?” Ibu terlihat sangat tidak sabar. Emosi bahkan bisa terlihat dengan jelas dari raut wajah cantik ibunya. Hal itu membuat Alan semakin merasa ragu untuk memberitahu apa yang sebenarnya.


“Jadi Stefan meminta untuk Hana menikah dengan-nya sebagai syarat setelah membiayai operasiku saat itu sebenarnya hanya sebuah alibi saja bu. Stefan melakukan itu agar tidak ada yang mencurigainya karena tiba tiba membiayai pengobatanku. Karena sebenarnya Stefan adalah orang yang menabrak Alan malam itu bu.”


Kedua mata ibu terbelalak. Mulutnya terbuka mendengar apa yang Alan katakan. Wanita itu kemudian mengangkat satu tangan-nya menutupi mulutnya yang terbuka dengan kepala menggeleng pelan.


“Bagaimana mungkin? Tuan Stefan sangat baik Alan. Dia banyak membantu keluarga kita.” Lirih ibu masih tidak bisa percaya begitu saja dengan apa yang Alan katakan.

__ADS_1


“Ya bu.. Awalnya aku juga berpikir begitu. Tapi setelah tau yang sebenarnya, sekarang aku sadar bahwa apa yang Stefan lakukan juga karena Stefan tidak ingin disalahkan. Mungkin dia sengaja membuat keluarga kita merasa berhutang budi sehingga akhirnya kita tidak bisa menyalahkan-nya.”


Ibu menelan ludah. Selama ini meskipun Stefan selalu bersikap dingin dengan wajah datarnya, tapi ibu merasa Stefan adalah orang yang baik dan berhati tulus. Tapi sekarang Alan sendiri yang mengatakan bahwa Stefan adalah orang yang menabrak dan membuatnya sampai sekarat bahkan hampir mati.


“Tapi bu.. Aku harap ini cukup kita saja yang tau. Aisha juga Amira tidak perlu mengetahui ini. Aku tidak mau mereka berdua merasa benci dan merasa tertipu karena kebaikan palsu Stefan.”


“Apa Hana juga tau tentang ini Alan?” Tanya ibu kemudian.


Alan menganggukan kepalanya pelan. Dengan sangat berat hati juga rasa kecewanya, Alan menjawab dengan jujur.


“Hana bahkan juga menutupinya dari kita bu.. Hana sudah tau dan sama sekali tidak berniat memberitahu kita. Hana bahkan membela Stefan dan meminta agar aku memaklumi semuanya.” Jawab Alan.


Ibu terdiam. Wanita itu sudah menganggap Hana seperti putrinya sendiri. Ibu juga tau bagaimana Hana luar dan dalam. Hana yang begitu baik dan penuh dengan ketulusan.


“Hana tetap bertahan meski dia tau suaminya adalah laki laki licik yang menganggap harta adalah segalanya.”


“Enggak Alan. Ibu tau bagaimana Hana. Ibu juga tau bagaimana bingungnya Hana saat tau kamu harus di operasi dengan biaya yang tidak sedikit. Hana juga yang melarang ibu dan Amira untuk menjual seluruh harta peninggalan ayah kamu. Hana perempuan yang baik. Dia mempunyai pola pikir yang dewasa. Ibu tau itu.” Tolak ibu Alan yang tidak bisa menerima vonis Alan pada Hana.


“Tapi bu..”


“Hana pasti punya alasan melakukan-nya Alan. Hana itu tidak bodoh.” Sela ibu lagi.


Alan tersenyum kecut. Sekarang bahkan ibunya juga bersikap seperti Hana.


“Jadi sekarang ibu juga memaklumi apa yang telah terjadi sama aku?” Tanya Alan merasa sangat kecewa.

__ADS_1


“Kita tidak bisa menyalahkan seseorang begitu saja tanpa tau apa yang terjadi sebenarnya Alan. Bersikaplah dengan bijak dan dewasa.” Jawab ibu mencoba memberi pengertian pada Alan.


__ADS_2