
Stefan hanya diam saja menatap Hana yang sedang di periksa keadaan-nya. Pria itu duduk di kursi yang tidak jauh dari brankar tempat Hana berbaring dimana dokter sedang menanyakan apa saja keluhan Hana selama masa trimester pertama yang sedang di laluinya.
Setelah selesai di periksa, dokter juga menyuruh untuk Hana menimbang berat badan-nya dengan berdiri di atas timbangan digital.
“Bagaimana Clara?”
Pertanyaan Stefan membuat Hana menoleh padanya. Wanita itu mencebikkan bibirnya mendengar Stefan memanggil nama dokter cantik yang baru saja selesai memeriksanya. Hana merasa Stefan sepertinya sudah sangat akrab dengan dokter tersebut.
Dokter Clara tersenyum dan mempersilahkan Hana untuk lebih dulu melangkah menuju mejanya dimana Stefan duduk disana.
“Semuanya baik baik saja Stefan. Semua keluhan Hana juga masih sangat wajar dan memang umum di alami oleh ibu hamil. Tidak perlu khawatir.” Senyum dokter Clara menjawab pertanyaan Stefan.
Stefan menelan ludah kemudian menatap Hana sebentar. Hana memang tidak mengeluhkan apapun sejak bangun tidur. Tapi Stefan tetap saja merasa khawatir pada keadaan istrinya itu.
“Apa kamu yakin Clara?”
Pertanyaan Stefan yang menjurus pada keraguan membuat dokter Clara juga Hana dengan kompak mengeryit. Keduanya saling menatap sebentar kemudian sama sama menatap Stefan.
“Em maksudku tolong kamu cek sekali lagi. Mungkin kamu bisa menanyakan lagi keluhan yang dirasakan oleh Hana.”
Hana tidak mengerti kenapa Stefan seperti tidak percaya dengan hasil dari pemeriksaan dokter Clara bahwa Hana baik baik saja.
“Aku baik baik saja. Dan aku nggak mau di periksa ulang.” Ujar Hana tegas.
Dokter Clara hanya diam saja. Wanita itu juga bingung kenapa Stefan tidak percaya dengan hasil dari pemeriksaan kandungan Hana yang memang baik baik saja.
“Hana tapi..”
__ADS_1
“Aku bilang enggak ya enggak.” Sela Hana marah.
Stefan hanya bisa menghela napas. Stefan tidak mau janin dalam kandungan istrinya kenapa napa. Tapi Stefan juga tidak mungkin mengatakan-nya secara gamblang bahwa dirinya sedang sangat khawatir setelah melalui malam yang sangat panas dengan Hana semalam.
Kesal karena kediaman suaminya, Hana pun bangkit dari duduknya di kursi yang ada disamping Stefan. Wanita itu menatap jengkel pada Stefan sebelum akhirnya berlalu keluar dari ruangan dokter Clara.
Stefan berdecak merasa gemas sendiri. Pria itu kemudian segera bangkit dan menyusul Hana keluar dari ruangan dokter Clara menyisakan dokter Clara yang hanya bisa menggeleng tidak mengerti dengan tingkah pasangan suami istri itu. Dokter Clara memang sudah lama mengenal Stefan. Itu sebabnya Stefan membawa Hana pada dokter Clara yang memang berprofesi sebagai dokter kandungan. Dokter Clara juga mengenal dokter Rania karena mereka juga menimba ilmu di unoversitas yang sama.
Hana melangkah cepat menghindari Stefan yang mengejarnya. Hana berpikir Stefan sengaja meminta dokter Clara untuk mengecek ulang keadaan Hana karena Stefan ingin berlama lama menatap dokter cantik itu.
Ya, Hana merasa cemburu karena Stefan yang lumayan akrab dengan dokter Clara. Apa lagi baik Stefan maupun dokter cantik itu sama sama memanggil nama tanpa embel embel tuan atau dokter seperti profesi yang di sandang dokter Clara.
“Hana tunggu Hana..” Stefan meraih tangan Hana menghentikan langkah wanita itu.
Stefan benar benar tidak ada niat lain selain ingin tau lebih detail bagaimana keadaan janin dalam kandungan Hana. Karena keterangan dokter Clara yang mengatakan Hana dan janin dalam kandungan-nya baik baik saja itu tidak membuat Stefan puas. Stefan khawatir jika ternyata Hana mempunyai keluhan yang tidak terlalu Hana perdulikan mengingat bagaimana mereka melalui malam panas bersama itu semalam.
“Lepasin aku. Aku nggak mau di periksa ulang. Aku baik baik saja Stefan.” Marah Hana berusaha melepaskan tangan Stefan yang mencekal lengan-nya.
“Hana dengar. Aku hanya khawatir sama kamu dan anak kita. Tolong mengerti.”
Hana menyipitkan kedua matanya. Stefan benar benar sangat aneh kali ini.
“Tapi aku baik baik saja. Kamu juga sudah dengar sendirikan tadi apa kata dokter CLARA bahwa aku dan anakku baik baik saja.” Balas Hana dengan menekan nama dokter Clara begitu jelas.
Stefan diam sesaat. Dulu setelah tau Lusi hamil Stefan tidak pernah menyentuhnya. Bahkan jika di ingat ingat rasanya Stefan hanya menyentuh mendiang istri pertamanya itu beberapa kali itu pun sebelum Lusi hamil. Dan setelah Lusi hamil Stefan berusaha menahan dirinya. Selain itu Lusi juga selalu menolak jika Stefan mendekat padanya. Itu benar benar sangat berbeda dengan tingkah Hana yang malah ingin selalu lengket pada Stefan.
“Bilang aja terus terang kalau kamu mau berlama lama dengan dokter CLARA kan? Dia emang cantik, dia juga pintar. Dia nggak kaya aku yang pas pasan.” Marah Hana membuat ekspresi Stefan langsung berubah.
__ADS_1
“Apa maksud kamu Hana? Kenapa kamu berbicara seperti itu?” Tanya Stefan tidak mengerti dengan apa yang Hana maksud.
“Sudahlah. Aku mau pulang.” Ketus Hana menolak menjawab pertanyaan Stefan.
Hana menghempaskan tangan Stefan sehingga cekalan tangan Stefan terlepas dari pergelangan tangan-nya. Hana kemudian masuk kedalam lift meninggalkan Stefan yang masih kebingungan tidak mengerti dengan apa yang Hana maksud tentang dirinya yang ingin berlama lama dengan dokter Clara.
Setelah beberapa menit berpikir akhirnya Stefan tersenyum. Stefan sudah mengerti kenapa tiba tiba Hana marah dan mengatakan sesuatu yang sangat tidak mungkin itu.
“Dasar bodoh. Sudah tau aku cintanya cuma sama kamu masih saja marah marah karena cemburu.” Batin Stefan tersenyum.
“Stefan.”
Stefan menoleh saat mendengar suara dokter Clara. Pria itu langsung kembali menampakkan wajah datar tanpa ekspresinya begitu berhadapan dengan dokter Clara.
“Apa kalian baik baik saja?” Tanya dokter Clara pelan.
Stefan menganggukkan kepalanya menjawab. Sekarang Stefan percaya bahwa Hana baik baik saja.
“Ah ya Clara mulai bulan depan tolong kamu saja yang rutin datang kerumah untuk memeriksakan keadaan istriku.”
“Tidak masalah.” Senyum dokter Clara tidak merasa keberatan.
“Oke kalau begitu. Aku duluan.”
“Ya. Hati hati.”
Stefan kemudian masuk kedalam lift untuk menyusul Han yang sudah lebih dulu turun ke lantai dasar rumah sakit megah itu. Stefan tidak mau membuat istri tercintanya semakin merajuk karena terlalu lama menunggunya di parkiran.
__ADS_1
Dan selama berada di dalam lift Stefan tidak bisa untuk tidak tersenyum karena tau Hana cemburu padanya dan dokter Clara. Stefan memang belum memberitahu Hana perihal tentang hubungan pertemanan-nya dengan dokter cantik beranak satu itu. Bahkan anak dokter Clara juga bersekolah di sekolahan yang sama dengan sekolah Angel.
“Hana.. Ternyata kamu benar benar mencintaiku.”