
Stefan masuk kedalam ruangan-nya kemudian balik menghubungi dokter Rania. Stefan benar benar merasa kesal karena Hana lancang mengangkat telepon dari dokter Rania.
“Ada apa Rania?” Tanya Stefan dengan rahang mengeras.
“Ya, Stefan. Maaf kalau aku mengganggu. Tapi ini tentang Alan.”
Stefan mengeryit mendengar apa yang dokter Rania katakan.
“Kenapa dengan Alan?” Tanya Stefan penasaran.
“Stefan, Alan sudah ada perkembangan baik.”
Stefan langsung terdiam sesaat mendengar apa yang dokter Rania katakan. Tiba tiba bayangan Hana tersenyum manis padanya melintas di penglihatan Stefan. Dan entah kenapa Stefan tiba tiba merasa khawatir.
“Ada perkembangan apa? apa dia sudah siuman?” Tanya Stefan dengan rahang yang kembali mengeras membayangkan Alan membuka kedua matanya kemudian datang menjemput Hana dan membawa Hana pergi dari sisinya.
“Hahaha.. Kamu bercanda Stefan? Mana mungkin seorang yang koma tiba tiba siuman begitu saja? Semuanya membutuhkan proses oke?”
Stefan tersenyum merasa lega mendengar apa yang dokter Rania katakan. Rasa khawatirnya perlahan mulai mereda.
“Tapi Stefan, mungkin tidak lama lagi Alan akan siuman. Berkembangan-nya mendadak sangat baik.”
“Ya.. Kamu urus dia dengan baik.”
Stefan langsung memutuskan sambungan telepon-nya setelah itu. Stefan menghela napas kemudian berdecak. Membayangkan Hana di ajak pergi dari sisinya oleh Alan membuat Stefan merasa kesal sendiri. Stefan seperti tidak rela jika Hana kembali lagi dengan Alan. Orang yang sampai saat ini masih Stefan kira pacar Hana.
“Ada apa denganku sebenarnya? kenapa sepertinya aku tidak rela jika Hana harus pergi dariku?”
Stefan membasahi bibirnya yang kering dengan lidahnya sendiri. Mendadak hatinya menjadi tidak tenang. Apa lagi mengingat Hana berada di sisinya juga demi Alan dan keluarganya.
__ADS_1
Stefan mengusap kasar wajah tampan-nya merasa frustasi sendiri. Stefan juga tiba tiba merasa takut jika Hana tau bahwa yang menabrak Alan adalah dirinya. Hana pasti akan sangat marah dan tidak mau mendengarkan penjelasan-nya. Dengan begitu Hana akan dengan sangat mudah pergi dari sisinya. Disamping itu jika Sera tau tentang itu Sera juga pasti akan salah paham. Bisa saja Sera menganggap Stefan tidak menghargai wanita atau mungkin menganggap Hana wanita gampangan yang mau saja melakukan segala hal demi uang.
“Stefan..”
Suara Sera membuat Stefan menoleh. Pria itu menatap Sera yang berdiri di ambang pintu ruang kerjanya. Saat itu jantung Stefan seolah berhenti berdetak. Stefan berpikir mungkin saja Sera mendengar pembicaraan-nya dengan dokter Rania di telepon tadi.
“Mamah..” Stefan menelan ludah. Stefan belum siap dan belum memikirkan kata yang pas untuk menjelaskan semuanya pada mamahnya itu sekarang.
Sera melangkah mendekat pada Stefan dengan tatapan yang begitu serius seperti orang yang hendak menanyakan sesuatu yang sangat penting. Dan tatapan itu berhasil membuat Stefan kebingungan sendiri.
“Eemm.. Ada apa mah?”
Sera mengeryit mendengar pertanyaan Stefan. Meskipun putranya memang terus ber ekspresi datar, namun Sera bisa dengan jelas melihat bahwa putra kesayangan-nya itu sedang gugup.
“Ada apa?” Tanya balik Sera menatap Stefan. Tidak biasanya Stefan bertanya lebih dulu padanya.
Stefan menunduk sesaat dan menegakkan kembali kepalanya menatap lurus kedepan menghindari kontak mata langsung dengan mamahnya itu.
“Kenapa kamu selalu saja menomor satu kan pekerjaan Stefan? Ini hari libur.. Seharusnya kamu beristirahat. Menikmati waktu berdua kamu dengan Hana. Bukan malah terus bekerja dan membiarkan Hana sibuk sendiri. Kamu harus bisa membagi waktu kamu Stefan. Kamu harus bisa adil..”
Stefan hanya diam. Namun dalam hatinya Stefan merasa sangat lega karena ternyata mamahnya tidak sedikitpun menyinggung tentang pembicaraan Stefan di telepon tadi dengan dokter Rania.
“Sekarang lebih baik kamu istirahat siang. Mamah akan beri tahu jika sudah waktunya makan siang.” Senyum Sera mengusap lembut lengan kekar Stefan.
Stefan tidak punya alasan untuk menolak sekarang. Dan jalan satu satunya menghindari Sera memang beralasan istirahat siang.
“Ya mah.. Kalau gitu aku ke kamar.” Angguk Stefan kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Sera.
Sera tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sera tau bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat di cintai. Sera bahkan pernah berpikir mungkin Stefan akan mengikuti jejaknya untuk tidak menikah lagi setelah orang yang sangat di cintainya meninggal. Tapi ternyata pemikiran Sera salah karena akhirnya Stefan membawa Hana dan memperkenalkan guru TK yang begitu sederhana dan manis sebagai kekasih yang akan segera di nikahinya. Dan itu benar benar Stefan buktikan dalam beberapa hari saja. Stefan bahkan mengatur acara yang begitu meriah untuk pestanya.
__ADS_1
Sera kemudian melangkah keluar dari ruang kerja Stefan. Tidak lupa Sera menutup pintu ruangan tempat putranya selalu berkutat dengan berbagai kesibukan-nya yang Stefan bawa sampai kerumah.
Sementara Stefan, pria itu menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya dan Hana. Pikiran Stefan terus tertuju pada Alan sekarang. Berbagai pertanyaan bersarang di kepala Stefan. Tentang bagaimana dirinya nanti jika Alan benar benar membawa Hana pergi dari sisinya.
Stefan berhenti melangkah ketika sampai dianak tangga terakhir di lantai dua rumahnya. Stefan menelan ludah menatap pintu kamarnya. Tempat dirinya dengan Hana tidur bersama meskipun tidak melakukan apa apa karena bahkan mereka berdua saling memunggungi jika berada diatas tempat tidur.
Pelan pelan Stefan melangkah menuju pintu kamarnya. Ketika hendak membuka pintu kamarnya Stefan mengeryit. Hana menguncinya dari dalam.
Stefan berdecak. Pria itu berpikir mungkin Hana marah padanya karena apa yang Stefan katakan tadi saat Hana mengangkat telepon dari dokter Rania.
Tidak mau membuat Sera heboh, Stefan mencari kunci cadangan kamarnya ke gudang. Setelah mendapatkan-nya Stefan pun kembali ke kamar dan langsung membuka pintu kamarnya dan Hana.
Begitu pintu kamarnya dibuka, Stefan menemukan Hana yang masih fokus berkutat dengan aktivitas merajutnya.
Stefan tersenyum samar. Hana pasti juga tidak menyadari kehadiran dirinya seperti saat Stefan keluar dari kamar mandi tadi.
Stefan melangkah mendekat menuju ranjang dimana Hana duduk di tengahnya. Stefan baru tau ternyata selain pandai memasak Hana juga pandai merajut. Sebenarnya perlengkapan rajut itu juga Stefan yang membelinya dulu untuk Lusi. Tapi karena Lusi menolaknya Stefan menyimpan-nya di gudang. Stefan bahkan tidak tau jika perlengkapan itu masih ada dan lengkap. padahal Stefan kira sudah di buang oleh pelayan yang membereskan gudang.
“Hana...”
Hana tidak menyaut. Wanita itu benar benar sedang sangat fokus dengan apa yang dilakukan-nya. Kentara sekali Hana sedang tidak mau di ganggu karena bahkan Hana sampai mengunci pintu kamar mereka dari dalam.
Karena Hana tidak menyaut, Stefan kemudian mendudukkan dirinya di samping Hana. Pria itu bahkan duduk dengan posisi yang sangat dekat dengan Hana.
Stefan menatap Hana dari samping dengan posisi yang sangat dekat. Stefan tersenyum. Hana terlihat semakin menarik jika sedang serius seperti sekarang.
“Hana, sepertinya aku tidak bisa melepaskan kamu begitu saja.” Batin Stefan.
Merasa ada yang mengawasi Hana pun menoleh. Saat itu juga tatapan mereka bertemu. Hana terdiam menatap wajah Stefan yang begitu tampan dengan hidung mancung dan kulit putih bersih kemerahan. Pria berdarah campuran Amerika itu memang terlihat sempurna dari segala sudut pandang. Baik dari rupa maupun kekuasaan yang di milikinya.
__ADS_1
“Lanjutkan saja, aku tidak akan mengganggu.” Bisik Stefan.