
Besok siangnya Stefan langsung mendatangi Alan ke tempat kerjanya. Bahkan Stefan meminta langsung pada pemilik perusahaan tempat Alan pekerja agar memanggil Alan ke ruang rapat.
“Kak Alan.”
Lamunan Alan buyar begitu Veby memanggil dan menepuk pelan pundaknya. Pria itu kemudian menoleh menatap Veby yang meringis menatapnya.
“Maaf maaf kalau aku membuat kak Alan kaget. Tapi dari tadi aku sudah panggilin kakak berkali kali tapi kakak sama sekali nggak nyaut dan terus asik melamun.” Katanya menjelaskan.
Alan menghela napas. Sejak semalam pikiran Alan memang terus berpusat pada Hana. Ucapan sahabatnya itu juga terus terngiang di telinganya membuat Alan merasa tidak habis pikir.
“Iya.. Nggak papa. Ada apa Veb?” Senyum Alan kemudian bertanya kenapa Veby memanggilnya.
“Itu kak Alan di panggil bos, suruh ke ruang rapat sekarang katanya.”
Alan mengeryit. Tidak biasanya bos besarnya memanggilnya. Kalaupun memanggil biasanya karena ada kesalahan yang di perbuat oleh karyawan-nya.
“Bos manggil aku?” Tanya Alan memastikan lagi.
“Iya.. Buruan kak Alan kesana. Takutnya ada masalah serius.”
Alan terdiam sesaat sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. Alan tau bagaimana bos besarnya itu. Dia tidak akan memanggil karyawan-nya untuk menghadap jika memang tidak ada masalah yang serius.
“Ya udah Veb, aku ke bos dulu ya..”
“Ya kak..” Angguk Veby.
Veby menghela napas menatap Alan yang berlalu. Wanita itu sejujurnya juga khawatir pada Alan sekarang. Veby takut jika ternyata memang ada masalah serius sehingga Alan di panggil untuk menghadap bos besar mereka.
“Huft, semoga nggak ada masalah serius deh.” Gumam Veby berharap.
__ADS_1
Alan melangkah cepat menuju ruang rapat. Pria itu mengetuk pelan pintu yang sedikit terbuka itu kemudian masuk ketika bos besarnya berseru dari dalam ruangan itu agar Alan segera masuk.
“Permisi tuan, apa anda memanggil.. saya?”
Ucapan Alan sedikit melirih ketika mendapati Stefan juga ada disana bersama bos besarnya. Pikiran buruk mulai menguasai Alan. Alan berpikir mungkin Stefan sengaja mencari masalah di tempat kerjanya karena tidak terima atas apa yang Alan lakukan semalam padanya.
“Ah ya Alan.. Silahkan duduk.” Balas pria paruh baya berperut buncit bernama Roni itu.
“Baik pak..” Angguk Alan menurut saja meski sebenarnya hati dan pikiran-nya sedang kembali tersulut emosi karena keberadaan Stefan disana.
“Jadi begini Alan. Saya memanggil kamu kesini karena tuan Stefan. Dia bilang ingin berbicara dengan kamu berdua saja.” Ujar Roni menjelaskan maksudnya memanggil Alan.
Alan hanya diam saja. Pria itu melirik tajam pada Stefan yang begitu tenang dan santai menatapnya.
“Baik tuan Stefan, kalau begitu saya tinggal yah.” Roni menatap Stefan dengan senyuman ramahnya.
“Ya.. Terimakasih.” Angguk Stefan membalas.
“Anda benar benar sangat licik tuan. Anda memanfaatkan pemilik perusahaan tempat saya bekerja untuk menindas saya.” Vonis Alan langsung pada Stefan.
Stefan tersenyum mendengarnya. Pria itu mengerti dan paham jika memang Alan sangat membencinya.
“sebelumnya saya menganggap anda seperti malaikat. Tapi ternyata anda ini seorang iblis.” Lanjut Alan terus mengeluarkan unek unek dalam hatinya pada Stefan.
Stefan hanya diam saja membalas tatapan penuh kebencian Alan dengan tenang. Pria itu memberi kesempatan pada Alan agar Alan bisa mengeluarkan segala apa yang di rasakan-nya pada Stefan.
“Perlu anda tahu tuan, Harta itu bukan segalanya.”
Stefan mengangguk anggukkan kepalanya mengerti. Pria itu bisa tenang dan sabar karena Hana juga mendukungnya. Hana membela dan memaafkan kesalahan-nya yang telah lalu pada Alan.
__ADS_1
“Oke, sekarang kamu diam dan dengarkan saya bicara Alan. Semalam saya diam bukan berarti saya tidak berani sama kamu. Saya hanya memberi kesempatan pada Hana, istri saya untuk bicara.”
Alan melengos. Muak sekali rasanya menatap Stefan yang sedikitpun tidak terlihat merasa bersalah setelah menabraknya.
“Saya tidak akan membanggakan apa yang sudah saya lakukan untuk kamu ataupun keluarga kamu. Karena apa yang saya lakukan memang sudah seharusnya. Sebagai tersangka yang menabrak kamu dan membuat kamu tidak berdaya, sudah seharusnya saya memastikan yang terbaik untuk keluarga kamu. Tapi Alan, apa yang saya lakukan untuk ibu kamu juga kedua adik kamu bukan hanya karena rasa tanggung jawab saya sebagai pelaku yang membuat kamu sekarat kemudian koma berbulan. Tapi karena saya juga adalah anak dari seorang perempuan. Dan tentang peristiwa itu saya sungguh minta maaf. Saya sudah berusaha menghindar malam itu Alan. Tapi sepertinya Tuhan memang sudah menghendaki agar peristiwa itu terjadi. Mungkin itu adalah jalan untuk kita semua agar kita bisa saling mengenal.”
Alan tertawa mendengar apa yang Stefan katakan. Pria itu bahkan sampai memukul mukul meja panjang yang menjadi penghalang posisinya dan Stefan yang berhadapan.
“Anda ini benar benar lucu tuan. Anda berkata begitu bijak saat posisi anda sedang terjepit. Tapi apa kabar saat saya dengan ikhlas membantu mendonorkan darah saya untuk anak anda? Anda menuduh saya yang tidak tidak. Anda mendatangi saya kemudian marah marah pada saya dengan alasan yang sangat sangat konyol. Tapi sekarang saya tau alasan anda begitu. Anda takut saya dan Hana tau kan saat itu bagaimana licik dan kejamnya anda ini?”
Stefan menghela napas. Alan benar benar memvonisnya layaknya penjahat paling kejam yang Alan tau. Pria itu bahkan tidak sedikitpun menerima penjelasan dari Hana semalam.
“Alan, saya memang salah menabrak kamu. Tapi kalau malam itu kamu juga tidak salah posisi membawa motor kamu, mungkin kecelakaan itu tidak akan terjadi.”
“Jadi sekarang anda menyalahkan saya tuan?” Tanya Alan tertawa tidak menyangka Stefan malah balik menyalahkan-nya.
“Kamu pikir cuma kamu yang bisa menyalahkan saya? Alan, di mobil saya ada CCTV. Disana bisa terlihat dengan jelas bahwa malam itu kamu salah dalam mengemudikan motor kamu. Apa perlu saya tunjukan sama kamu sekarang juga?”
Alan melengos. Alan sama sekali tidak mengingat apapun malam itu karena yang ada di pikiran-nya hanya Hana.
“Alan, saya memang salah. Tapi saya sudah melakukan apa yang harus saya lakukan. Saya sudah bertanggung jawab. Saya sudah membiayai semua pengobatan kamu. Saya juga sudah memastikan semua yang terbaik untuk keluarga kamu. Sekarang apa lagi yang kamu inginkan? Katakan sekarang Alan.”
“Saya mau anda lepaskan Hana.” Jawab Alan cepat.
Kedua tangan Stefan langsung mengepal erat mendengar apa yang Alan katakan. Tatapan-nya yang semula tenang langsung berubah tajam penuh amarah pada Alan.
“Jangan pernah kamu bermimpi bisa mengambil Hana dari saya Alan. Karena saya tidak akan pernah membiarkan-nya.” Tekan Stefan tajam.
Keduanya saling menatap dengan tatapan sama sama tajam. Aura kebencian begitu terasa diantara keduanya membuat siapa saja yang berada di antara mereka pasti bisa merasakan-nya.
__ADS_1
“Berani kamu menyentuh istriku, maka kamu dan keluarga kamu akan tau akibatnya Alan.” Tekan Stefan lagi.