
Seperti rencananya semalam, Hana bangun lebih awal bahkan sebelum Stefan bangun. Namun Hana merasa sedikit bingung melihat posisi pria itu yang masih sama seperti saat pertama membaringkan tubuhnya semalam.
Hana menghela napas setelah selesai mengganti kemeja Stefan dengan bajunya sendiri. Setelah itu Hana melangkah keluar dari kamar pengantin-nya tidak ingin berlama lama berada satu ruangan dengan pria dingin itu.
“Selamat pagi mommy...”
Hana tersentak saat membuka pintu mendengar suara Angel. Hana mengusap usap dadanya karena terkejut melihat gadis kecil itu sudah berdiri didepan pintu kamarnya dan Stefan.
“Angel.. Aku eemm.. Mommy sampai kaget.”
Angel tertawa mendengarnya. Gadis kecil itu kemudian meraih tangan Angel dan menariknya pelan.
“Angel sengaja pasang alarm pagi pagi sekali supaya bisa bangun lebih awal mommy. Angel nggak sabar buat main sama mommy..”
Hana tersenyum tipis. Wanita itu terus mengikuti kemana arah Angel akan menuntun-nya.
“Kok main-nya disini? Ini kan masih pagi pagi buta Angel..”
Hana mengeryit bingung saat Angel membawanya menuju balkon dilantai dua rumah itu di pagi buta seperti sekarang.
“Mommy suka warna jingga enggak?” Tanya Angel melepaskan gandengan tangan-nya pada Hana kemudian berjalan menjauh dan duduk di ayunan panjang dibalkon tersebut.
Hana mengeryit lagi. Hana menyukai semua warna yang menurutnya bagus. Bisa dikatakan Hana bukan orang yang menyukai sesuatu tertentu dengan berlebihan.
Hana melangkah pelan dan mendudukan dirinya disamping gadis yang mulai sekarang adalah anaknya itu.
“Mommy suka semua warna yang indah dan cerah.” Senyum Hana menjawab.
“Angel suka sekali disini mommy. Setiap sore dan pagi saat matahari akan keluar dari persembunyian-nya. Oma bilang mommy Lusi sangat menyukai warna jingga. Tapi Angel tidak suka. Tapi Angel berusaha untuk menyukai warna jingga, untuk mommy Lusi.”
Hana menatap Angel yang berada disampingnya. Hana merasakan sendiri bagaimana rasanya kesepian karena tidak mempunyai orang tua. Dan mungkin perasaan yang dulu pernah Hana rasakan itu kini di rasakan pula oleh Angel yang tidak pernah bisa bersama Lusi juga Stefan yang selalu sibuk dengan dunianya sendiri.
“Bagaimana dengan Daddy? Apa daddy suka dengan warna jingga juga?” Tanya Hana dengan lembut.
Mendengar pertanyaan itu Angel tampak murung. Gadis kecil yang masih mengenakan setelan piyama hello kittinya itu menggelengkan kepala.
__ADS_1
“Daddy sangat benci warna jingga mommy. Daddy juga tidak pernah mau menemani Angel untuk menyaksikan warna jingga langit saat sore hari.” Jawab Angel jujur.
Hana merasa iba mendengarnya. Angel mempunyai segala yang dia inginkan. Kemewahan dan fasilitas yang lengkap. Hana yakin Angel pasti juga selalu mendapat apa yang dia mau hanya dengan sekali tunjuk saja. Namun gadis itu sama sekali tidak mendapat cinta dari keluarga yang lengkap. Dan detik itu juga Hana merasa jika dirinya jauh lebih beruntung. Karena meski dulu hidupnya sederhana dengan kedua orang tuanya, tapi Hana bisa merasakan kasih sayang dan cinta yang lengkap sebelum keduanya benar benar pergi meninggalkan-nya untuk selamanya.
“Lihat itu mommy..” Tunjuk Angel dengan senyuman dibibirnya.
Hana mengikuti arah tunjuk Angel. Seulas senyum kembali menghiasi bibir Hana begitu menyaksikan warna jingga di langit karena matahari yang mulai menampakkan sinar terangnya.
“Warna jingga itu Angel anggap sebagai mommy Lusi yang tidak pernah Angel lihat secara langsung. Bagus kan mom?”
Hana menganggukkan kepalanya. Ini pertama kali baginya menyaksikan matahari yang mulai keluar dari persembunyian-nya untuk menyinari bumi setelah malam berlalu.
Hana memang selalu bangun pagi pagi sekali. Namun Hana tidak pernah menyempatkan waktu untuk melihat sinar jingga dilangit saat pagi hari.
“Iya.. Warnanya cantik sekali.” Setuju Hana menatap langit berwarna jingga itu.
“Namaku Angelica Jingga Devandra mommy. Tapi daddy selalu memanggilku dengan nama Angelica Devandra saja. Sepertinya daddy memang sangat tidak menyukai warna jingga.”
Hana tidak mengerti bagaimana mungkin Stefan tidak menyukai warna yang menjadi favorit mendiang istri pertamanya. Bahkan untuk menyebut nama jingga pada anaknya sendiri saja dia enggan.
“Angel lihat mommy..” Perintah Hana lembut.
Hana membelai lembut pipi chuby gadis cantik itu.
“Mulai sekarang mommy akan menemani kamu melihat warna jingga di langit baik saat pagi ataupun sore hari.”
“Benarkah?” Tanya Angel menatap Hana antusias.
“Tentu saja. Aku adalah mommy kamu bukan?”
Angel menganggukan kepalanya cepat kemudian langsung berhambur memeluk Hana dengan senyum penuh kebahagiaan-nya.
“Kamu tidak akan merasa sendiri mulai sekarang Angel. Aku akan selalu menemani kamu. Anggap saja ini adalah caraku membalas apa yang sudah Stefan lakukan untuk Alan.” Batin Hana tersenyum mendekap Angel penuh kasih sayang di dadanya.
Lagi, Stefan melihat Angel yang begitu lengket pada Hana. Pria itu melengos kemudian berlalu dari tempatnya berdiri. Stefan mendengar semuanya yang Angel katakan. Dan semua itu memang benar. Stefan tidak pernah menyukai warna jingga. Warna favorit mendiang istrinya.
__ADS_1
Stefan masuk kembali kedalam kamar kemudian segera membersihkan dirinya. Stefan menguap saat didalam kamar mandi. Tidur seranjang dengan wanita asing membuat Stefan tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam. Apa lagi Hana juga sering sekali bergerak membuat ranjang empuk itu juga ikut bergerak.
Selesai membersihkan dirinya Stefan langsung keluar dari kamarnya kemudian turun dan melangkah menuju meja makan.
Disana sudah ada Angel yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya juga Sera dan Hana yang duduk anteng ditempatnya masing masing.
“Selamat pagi daddy..” Sapa Angel dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.
Stefan hanya tersenyum tipis dan menatap sebentar pada putrinya. Stefan menghela napas dan mendudukan dirinya dikursi tempat biasa dirinya duduk bahkan sebelum ada Hana dirumah itu.
“Stefan kamu sarapan yang banyak pagi ini karena ini semua adalah masakan Hana. Mamah sudah mencicipinya dan semuanya enak.” Ujar Sera dengan sangat semangat.
Stefan melirik pada Hana sebentar kemudian menatap pada Sera, mamahnya.
“Memangnya kemana semua pekerja dirumah ini? Kenapa harus Hana yang masak? Apa mereka sudah bosan bekerja disini?”
Bibir Hana terbuka mendengar pertanyaan dingin yang keluar dari bibir Stefan. Hana tidak bermaksud mengambil alih tugas pekerja dirumah itu. Hana hanya sedang mencoba menjadi mommy dan istri yang baik.
“Bu bukan begitu Stefan. Aku hanya..”
“Kamu harusnya tau bagaimana harus bersikap dirumah ini Hana.” Sela Stefan menatap Hana datar.
Hana langsung bungkam. Stefan sepertinya memang pria yang tidak bisa di ajak berkompromi.
“Stefan.. Kamu nggak boleh begitu dong. Mamah yakin kok maksud Hana bukan begitu. Dan bukankah memakan masakan istri adalah hal yang sangat menyenangkan bagi seorang, suami.” Senyum Sera berusaha membela Hana yang tersudut karena ucapan dingin putranya.
“Hh.. Terserah.”
Stefan meraih satu lembar roti tawar mengolesinya dengan selai kemudian melahapnya tanpa sedikitpun berniat mencicipi masakan Hana.
Hana menghela napas pelan. Niat baiknya disalah artikan oleh Stefan.
Angel yang mengerti dengan perasaan Hana langsung menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya kemudian tersenyum lebar.
“Oma benar. Nasi goreng buatan mommy sangat enak.” Katanya berusaha menghibur Hana.
__ADS_1
Hana tersenyum. Setidaknya masih ada Sera dan Angel yang memahami maksud baiknya dirumah itu.
“Awas saja kamu Stefan. Aku akan membuat kamu bahkan tidak mau lagi memakan masakan pelayan dirumah ini.” Batin Hana menatap sebal pada Stefan.