
Begitu sampai didepan gerbang sekolahan Angel pria itu benar benar melarang Hana turun dari mobilnya karena tidak ingin siapapun melihat penampilan Hana. Stefan bahkan sampai rela turun dari mobil untuk memanggil Angel yang sedang bersama teman teman-nya. Hal itu membuat Angel terdiam tidak percaya karena tidak biasanya Stefan mau turun dari mobil saat menjemputnya. Stefan bahkan memanggilnya.
Merasa kesal karena Angel yang malah diam menatapnya, Stefan pun melangkah mendekat pada gadis kecil itu kemudian langsung menariknya menjauh dari teman teman-nya.
“Itu daddy nya Angel yah? Wah.. Ternyata dia bule ya.. Ganteng banget lagi..”
Angel menoleh ketika mendengar apa yang dikatakan oleh segerombol kakak kelasnya. Angel tersenyum. Daddy nya memang sangat tampan dan Angel sangat bangga menjadi anaknya.
“Masuk mobil.” Suruh Stefan pada Angel.
“Mommy mana dad?” Tanya Angel saat hendak membuka pintu mobil.
“Masuk saja. Mommy di dalam.” Jawab Stefan dengan wajah datar.
Angel tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Gadis kecil itu kemudian masuk kedalam mobil.
Stefan menghela napas. Pria itu menoleh menatap segerombol anak yang tingginya hampir sama dengan Hana. Stefan kemudian menggeleng tidak menyangka jika anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar saja sudah bisa mengerti tentang pria tampan.
“Dasar anak jaman sekarang.” Gumam Stefan kemudian masuk kedalam mobilnya.
“Jalan jalan-nya besok saja ya Angel. Tadi pagi oma telepon. Oma bilang kangen banget sama kamu dan pengin ngobrol sama kamu.” Ujar Hana lembut.
“Ya mommy..” Angguk Angel tidak berani perotes karena Stefan sudah masuk ke dalam mobil dan duduk dikursi kemudi.
Stefan melirik Angel sesaat kemudian segera menghidupkan mesin mobilnya dan berlalu dari sekolah Angel.
Dalam perjalanan Angel terus menceritakan tentang teman teman-nya pada Hana. Angel bahkan juga menceritakan beberapa teman-nya yang kagum pada sosok Stefan termasuk segerombol kakak kelasnya tadi yang dengan terang terangan mengatakan bahwa Stefan ganteng.
“Eemm.. Hebat juga ya daddy, nggak cuma membuat perempuan perempuan tertarik doang, tapi juga anak anak kecil sampai mengaguminya.” Sindir Hana pada Stefan.
Stefan menggelengkan kepalanya. Hana sedang mencari celah kesalahan-nya.
Saat sampai didepan halaman rumahnya, Hana segera mengajak Angel untuk turun. Wanita itu dengan sangat jutek melirik Stefan sebelum akhirnya meninggalkan pria itu sendirian didalam mobil.
Melihat tingkah istrinya Stefan tersenyum samar. Tingkah Hana membuatnya semakin merasa gemas.
Stefan kemudian turun dari mobilnya dan melangkah masuk kedalam rumah menyusul Hana dan Angel yang sudah lebih dulu masuk mendahuluinya.
__ADS_1
Stefan langsung melangkah menuju kamarnya. Pria itu berniat memberitahu kabar bahwa Alan sudah membuka kedua matanya, Alan sudah sadar dari komanya. Stefan juga ingin tau bagaimana respon Hana begitu tau sahabat baiknya sudah sadar dari komanya.
Stefan membuka pintu kamarnya dengan pelan. Namun disana tidak ada siapa siapa.
“Kemana dia?” Gumam Stefan pelan.
Ketika Stefan hendak keluar dari kamarnya tiba tiba pintu kamar mandi terbuka dan Hana keluar dari sana dengan pakaian yang berbeda dari sebelumnya. Sedang dress toska yang tadi di kenakan-nya sudah berada ditangan-nya.
“Apa liat liat?!” Jutek Hana pada Stefan yang menatapnya.
Stefan menatap pelan pintu kamarnya kemudian melangkah mendekat pada Hana yang terus melayangkan tatapan kesal padanya.
“Ada yang mau aku bicarakan Hana. Ini tentang Alan.”
Ekspresi Hana langsung berubah. Kedua matanya sedikit melebar karena terkejut mendengar Stefan mengatakan sesuatu tentang Alan. Namun Hana tidak ingin Stefan tau keterkejutan-nya. Hana menghindari Stefan dan melangkah menuju keranjang tempat baju kotor.
“Memangnya Alan kenapa?” Tanya Hana masih dengan nada juteknya. Hana juga ingin tau sebenarnya bagaimana kabar sahabat baiknya itu sekarang.
Stefan tersenyum samar. Rasanya tidak mungkin jika Hana sudah benar benar tidak memikirkan pria itu. Tapi Stefan bisa maklum jika mengingat bagaimana dulu mereka dekat.
“Alan sudah sadar dari komanya Hana.” Jawab Stefan pelan.
Hana menghela napas kemudian tersenyum. Hana ikut bahagia mendengar kabar baik itu.
“Syukurlah kalau begitu.” Ujar Hana.
Stefan mengeryit mendengarnya. Hana sama sekali tidak menunjukan ke antusiasan-nya mendengar kabar tentang Alan yang sudah membuka kembali kedua matanya.
“Kamu nggak bahagia Hana?” Tanya Stefan penasaran.
Hana tersenyum lagi kemudian memutar tubuhnya menghadap Stefan yang menatapnya.
“Alan itu sahabat baik aku Stefan. Aku bahagia mendengar dia sudah sadar dari komanya. Karena itu artinya Alan bisa kembali lagi dengan keluarganya.”
Stefan menyipitkan kedua matanya. Pria itu merasa ekspresi Hana terlalu biasa mendengar kabar baik tentang Alan. Dan Stefan merasa sedikit aneh mengingat Hana yang sebelumnya begitu antusias jika mendengar kabar baik tentang Alan.
“Oh ya?” Tanya Stefan tidak percaya.
__ADS_1
Hana berdecak kemudian mengerucutkan bibirnya mendengar pertanyaan Stefan yang tidak percaya dan seolah sedang meledeknya.
“Kamu tidak ingin kesana Hana?” Tanya Stefan lagi.
“Memangnya aku boleh kesana? Terus memangnya kamu nggak marah kalau aku menjenguk Alan?” Tanya Hana menatap Stefan dengan senyuman meledek.
Stefan melengos. Stefan tentu tidak mengizinkan Hana untuk menjenguk Alan. Tapi jika Hana memang sangat menginginkan melihat langsung keadaan sahabatnya itu Stefan tidak bisa mengekangnya.
“Aku nggak ada waktu buat nganter kamu kesana.” Ujar Stefan dingin.
“Ya sudah. Aku juga lagi malas pergi kok.” Balas Hana tidak perduli.
Ketika Hana hendak berlalu dari hadapan-nya, Stefan meraih lengan Hana mencegah wanita itu menjauh darinya.
“Apa lagi sih Stefan?” Tanya Hana dengan nada malas.
Stefan tersenyum kemudian menarik lembut lengan Hana. Stefan kemudian melingkarkan kedua tangan-nya diperut rata Hana memeluknya dengan mesra. Stefan juga menempelkan dagunya di pundak Hana membuat aroma wangi dari tubuh Hana langsung masuk kedalam indra penciuman-nya.
“Hana jika aku juga berada di posisi Alan, apa kamu juga akan melakukan hal yang sama? Apa kamu juga akan berkorban untuk aku?”
Hana menautkan kedua alisnya.
“Maksud kamu aku menikah lagi dengan laki laki lain begitu demi kamu? Hey Stefan, kamu jangan gila. Harta kamu itu banyak. Bahkan semua itu tidak akan habis kalau hanya untuk biaya pengobatan kamu kalau sakit. Aku mungkin bisa merawat kamu. Tapi kalau untuk menikah lagi aku nggak mau.” Jawab Hana dengan wajah kesalnya.
Stefan tertawa mendengarnya. Tawa yang begitu renyah yang baru pertama kali Hana dengar.
Penasaran ingin tau bagaimana ekspresi Stefan saat tertawa, Hana pun memutar tubuhnya menghadap Stefan. Wanita itu menatap tidak percaya pada wajah Stefan yang sangat tidak biasa menurutnya.
“Hey bodoh, aku juga tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku ini Stefan Devandra. Aku nggak akan kenapa napa. Aku akan selalu baik baik saja. Dan aku akan memastikan sendiri kamu selamanya akan berada di sisiku. Kamu milikku Hana.” Ujar Stefan menoel ujung hidung mancung Stefan.
Hana tersenyum. Ketampanan suaminya bertambah ketika sedang tertawa.
“I Love you Hana.” Bisik Stefan membuat wajah Hana langsung bersemu merah.
Karena malu, Hana pun menyembunyikan wajah memerahnya dengan memeluk tubuh kekar Stefan.
Hal itu membuat Stefan tertawa lagi. Stefan membalas pelukan Hana dengan erat. Ini adalah kali pertama mereka berdua saling berpelukan.
__ADS_1