ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 258


__ADS_3

Kebahagiaan bukan hanya milik Stefan dan Hana saja malam ini. Tapi juga milik Alan dan dokter Rania. Mereka berdua memang sedang tidak bersama. Mereka juga belum menyatakan untuk selalu bersama. Tapi hati keduanya begitu sangat berbunga bunga malam ini. Keduanya juga sama sama menatap langit penuh bintang malam ini meski dengan tempat yang berbeda. Alan yang berada di halaman depan rumah. Sedangkan dokter Rania di balkon kamarnya.


Rasa yang sangat luar biasa itu kini sedang memenuhi dada keduanya. Mereka bahkan tertawa sendiri setiap kilasan bayangan kebersamaan-nya muncul di pandangan.


Dokter Rania sebelumnya tidak pernah merasakan apa yang saat ini sedang dirinya rasakan pada Alan. Karena sebelum bertemu dengan Alan yang ada di pikiran dokter cantik itu hanya bagaimana caranya menjadi dokter yang baik untuk membantu pasien pasien-nya.


“Apa mungkin Alan juga merasakan apa yang aku rasakan sama dia?” Gumam dokter cantik itu dengan senyuman di bibirnya.


Wanita dengan setelan piyama bermotif bunga warna pink itu kemudian menghela napas. Terkadang rasa bingung juga takut pun melanda hatinya jika memikirkan kemungkinan Alan memiliki perasaan yang sama padanya atau tidak. Dokter Rania takut kecewa jika ternyata Alan hanya menganggapnya sebagai dokter yang sudah membantu merawatnya selama dirinya sakit. Dokter Rania juga takut jika ternyata kebaikan Alan selama ini tidak ada arti apa apa bagi Alan sendiri.


“Ya Tuhan... Aku harus bagaimana?” Lirih dokter Rania dengan helaan napas berat.


Dokter Rania kemudian menundukkan kepalanya menatap halaman luas kediaman-nya dengan pandangan nanar hingga deringan ponsel di tangan-nya membuat lamunan-nya tentang bagaimana perasaan Alan padanya buyar.


“Alan..” Gumamnya mendapati nama kontak Alan yang tertera dilayar ponselnya.


Sesaat dokter cantik itu tampak diam sambil berpikir membiarkan ponselnya terus saja berdering.


“Alan meneleponku?” Gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.


Satu sampai dua bahkan tiga kali ponselnya terus berdering seolah menandakan seperti Alan sangat tidak sabar ingin dokter Rania mengangkat telepon darinya.


Dokter Rania menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan. Dokter Rania kemudian segera mengangkat telepon dari Alan.


“Halo Alan..” Sapa dokter Rania mengangkat telepon dari Alan.


“Ya dokter.. Apa aku mengganggu, kenapa lama sekali mengangkat telepon dariku?” Tanya Alan dengan sangat pelan dan lembut.


Dokter Rania tidak tau harus menjawab bagaimana sekarang. Tidak mungkin jika dirinya jujur dirinya tidak langsung mengangkat telepon dari Alan karena sedang memikirkan bagaimana perasaan Alan yang sebenarnya padanya.


“Halo, dokter? Apa kamu masih disana?”


Kedua mata dokter Rania mengerjap beberapa kali ketika Alan kembali melontarkan pertanyaan padanya.


“Ah ya Alan.. Tentu saja aku masih disini.” Jawabnya.


“Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?” Tanya Alan lagi.

__ADS_1


“Hem.. Aku hanya sedang berpikir tadi.”


“Berpikir tentang apa?” Tuntut Alan kembali bertanya.


Dokter Rania tertawa. Entah kenapa dokter cantik itu merasa Alan ingin sekali tau apa yang sedang dokter Rania lakukan.


“Hey, kenapa kamu menjadi menuntut sekali?” Tanya balik dokter Rania dengan nada meledek.


“Oh jadi aku tidak boleh tau begitu? Baiklah kalau begitu aku akan kerumah kamu sekarang kalau kamu nggak mau menjawab kenapa tadi kamu lama sekali mengangkat telepon dariku. Atau jangan jangan sebenarnya sekarang kamu tidak sedang berada dirumah? Iya?”


Dokter Rania mengeryit. Alan benar benar sangat aneh kali ini menurutnya.


“Hanya bercanda dokter. Tidak usah di tanggapi dengan serius oke?” Ujar Alan kemudian dengan disertai tawa pelan.


Dokter Rania ikut tertawa. Alan benar benar sangat tidak jelas menurutnya malam ini.


“Apaan sih? Nggak jelas banget.”


“Jadi sekarang kamu sedang apa dokter? Apa merindukanku?” Tanya Alan yang semakin tidak jelas menurut dokter Rania.


“Oke oke kali ini aku serius. Kamu sedang apa? Sudah makan malam?”


Dokter cantik itu tersenyum. Meskipun Alan tidak jelas pertanyaan-nya tapi dokter Rania merasa terhibur. Wanita itu bahkan sampai melupakan apa yang sempat mengganggu pikiran-nya tadi.


“Aku sedang menatap bintang di langit Alan. Dan aku sudah makan malam.” Jawabnya.


“Sama dong. Aku juga sedang menatap bintang di langit. Cuaca malam ini sangat bagus ya dokter. Bintangnya banyak banget di langit.”


Dokter Rania menganggukkan kepalanya setuju. Namun setelah sadar Alan tidak akan tau meskipun dirinya menganggukkan kepala, dokter Rania pun menjawab dengan bersuara.


“Iya...” Ujarnya sambil kembali mendongak menatap bintang di langit.


Obrolan kemudian berlanjut dengan diselingi canda tawa. Sejenak mereka sama sama melupakan apa yang sedang mengganggu pemikiran-nya tentang prasangka perasaan masing masing.


-----------


Tristan memasuki rumah dengan langkah lebar. Pemuda itu kemudian berhenti ketika mendengar suara klakson mobil kakaknya yang baru pulang dari bekerjanya hari ini.

__ADS_1


Tristan kemudian memutar tubuhnya dan melangkah kembali menuju pintu utama yang sengaja dia biarkan terbuka begitu saja.


Tristan tersenyum melihat kakaknya yang turun dari mobil mewah yang di kendarainya sendiri.


“Kak..” Panggil Tristan begitu Williana melangkah mendekat padanya.


“Ya... Kamu baru pulang Tristan?” Saut Williana kemudian bertanya dengan penuh perhatian serta seulas senyum yang menghiasi bibirnya.


“Hem ya kak.. Tapi aku belum makan.”


Williana yang hendak melangkah masuk kedalam rumah mengeryit. Tristan secara tidak langsung sedang menagih rencana makan malam bersamanya yang pernah gagal karena kedatangan dan kemarahan Boby.


“Kamu belum makan? Kok tumben?” Tanya Williana merasa heran namun juga lucu.


Tristan hanya bisa tersenyum lebar. Tristan benar benar ingin sekali bisa menghabiskan waktu bersama kakak satu satunya itu meskipun hanya sebentar saja.


“Sebenarnya sih tadi udah makan bakso kak. Tapi belum kenyang. Kita makan malam diluar yuk kak? Kan waktu itu kita nggak jadi pergi..”


Williana tersenyum geli mendengarnya. Wanita itu kemudian mengangguk anggukkan kepalanya mengerti.


“Ya sudah, tapi kita perginya pake mobil kakak aja ya.. Kamu yang bawa.”


“Oke, nggak masalah.” Senyum Tristan tidak keberatan.


“Tunggu sebentar.” Kata Williana kemudian masuk kedalam rumah melewati Tristan begitu saja. Namun sebelum benar benar berlalu, Williana lebih dulu memberikan kunci mobilnya pada Tristan.


Tristan mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu sembari menunggu kakaknya selesai bersiap. Pemuda itu sebenarnya juga merasa lelah setelah seharian beraktivitas, sekolah juga membantu Amira bekerja di toko sembako milik pak Ang. Namun karena ingin sekali mendapat perhatian dari kakaknya, Tristan mengesampingkan rasa lelah yang di rasakan oleh tubuhnya.


Tidak menunggu lama, Williana pun kembali masih dengan mengenakan dress yang sama. Namun kali ini wanita itu membawa tas jinjing kecilnya.


“Sudah?” Tanya Tristan menyudahi memainkan ponselnya kemudian bangkit dari duduknya.


“Ya.. Ayo..” Angguk Williana tersenyum.


“Oke..”


Tristan kemudian mendekat pada kakaknya. Pemuda itu meraih dan menggenggam lembut tangan sang kakak menuntun Williana keluar dari kediaman mewahnya.

__ADS_1


__ADS_2