
Karena rasa sakit di kepalanya, tanpa sadar Hana pun kembali terlelap. Wanita itu kali ini benar benar mempercayakan kepengurusan Theo sepenuhnya pada Stefan.
Stefan yang tidak tega melihat istrinya kelelahan pun berusaha mengajak Theo bermain agar Theo tidak rewel. Stefan juga memandikan Theo dan memakaikan baju untuk Theo dengan telaten. Meski sedikit mengalami kesulitan karena Theo yang begitu sangat aktif saat di mandikan, namun Stefan tetap dengan sangat telaten mengurus putra pertamanya itu dengan Hana.
Selesai memandikan Theo, Stefan pun mengajak Theo keluar untuk bersantai di taman belakang rumah sore ini. Namun baru beberapa langkah menuruni anak tangga langkahnya di cegat oleh Sera dan Angel yang baru pulang.
“Loh, kamu sudah pulang nak? Hana mana?” Tanya Sera pada Stefan.
“Hana ada di kamar mah lagi istirahat. Katanya kepalanya pusing.” Jawab Stefan.
Sera terkejut mendengarnya. Padahal siang tadi saat dirinya pamit untuk menjemput Angel Hana tampak baik baik saja.
“Ya Tuhan.. Tapi Hana baik baik saja kan?” Sera kembali bertanya kali ini di sertai dengan wajah khawatir yang tergambar dengan jelas.
“Aku nggak tau mah.. Tapi aku tadi udah telepon Clara dan menyuruhnya supaya kesini untuk memeriksakan keadaan Hana.”
Sera menghela napas. Jika saja dirinya tau Hana sedang tidak enak badan, Sera tidak akan pergi dan menyuruh saja pak supir untuk menjemput Angel dan mbak Titin.
“Ya sudah mah, aku ke taman yah..” Ujar Stefan kemudian.
“Dad, nanti kalau Angel sudah bersih bersih Angel kesana ya?” Senyum lebar Angel yang mendapat anggukan kepala dari Stefan.
Setelah itu Stefan pun kembali melanjutkan langkahnya menuruni satu persatu anak tangga. Begitu juga dengan Sera dan Angel yang mempercepat langkahnya menaiki anak tangga.
Sera menyuruh Angel untuk langsung membersihkan dirinya. Sedang dirinya menuju kamar Stefan dan Hana.
Sera membuka pelan pintu kamar Stefan dan Hana. Wanita itu berniat mengecek keadaan Hana yang sedang merasa tidak enak badan itu. Sera menghela napas ketika melihat Hana yang sedang terlelap. Wanita itu menatap Hana dengan tatapan sendunya. Sera merasa sangat bersalah karena meninggalkan Hana siang tadi.
Tidak ingin mengganggu Hana, Sera pun memutuskan untuk kembali keluar dari kamar Hana dan Stefan. Wanita itu menutup dengan sangat pelan pintu kamar itu saat keluar karena tidak ingin sampai mengganggu atau mengusik tidur lelap Hana.
Menjelang makan malam, dokter Clara datang. Wanita yang mengenakan setelan warna nude itu tidak mengenakan jas kebanggaan-nya karena memang dia datang dari rumah bukan mampir saat dalam perjalanan pulang dari rumah sakit kerumahnya.
__ADS_1
Hana yang saat itu baru turun dari lantai dua rumahnya mengeryit melihat Sera dan Stefan yang sedang mengobrol dengan dokter Clara.
“Dokter Clara..” Gumam Hana pelan.
Penasaran dengan kedatangan tiba tiba dokter cantik itu, Hana pun melangkah mendekat pada Stefan dan Sera dengan Theo yang berada di gendongan-nya. Rasa sakit itu masih sedikit terasa di kepalanya. Namun kali ini sudah bisa Hana paksakan.
“Dokter Clara..”
Suara Hana membuat Stefan, Sera juga dokter Clara menoleh padanya. Mereka bertiga tersenyum menatap Hana yang muncul dengan Theo dalam gendongan-nya.
“Hana.. Selamat malam Hana.” Senyum dokter Clara menyapa.
Hana menganggukkan kepala dengan senyuman tipis yang menghiasi bibirnya. Wanita itu benar benar sangat penasaran kenapa tiba tiba dokter Clara datang kerumahnya.
“Bagaimana kalau kita makan malam dulu saja Clara?” Tanya Sera menawarkan pada dokter Clara.
Hana hanya diam saja. Dia masih bingung dengan kedatangan tiba tiba dokter Clara. Padahal Theo sedang baik baik saja. Hari itu juga belum saatnya Theo cek perkembangan-nya setiap bulan.
Hana mengeryit merasa sedikit tidak suka dengan sikap dokter Clara kali ini. Entah kenapa tiba tiba saja Hana merasa tidak nyaman dengan kehadiran dokter Clara. Padahal biasanya Hana tidak pernah merasakan hal tersebut.
“Hey..”
Hana tersentak saat tiba tiba Stefan menoel ujung hidungnya. Hana berdecak pelan. Perlakuan manis Stefan juga membuatnya merasa sedikit kesal.
“Kenapa kok ngelamun gitu?” Tanya Stefan dengan lembut.
Hana hanya menghela napas. Dan itu membuat Stefan mengeryit heran. Tidak biasanya Hana bersikap seperti itu.
“Sini Theo biar sama daddy.” Stefan mengambil alih Theo dari gendongan Hana kemudian meraih tangan Hana dan menggandengnya lembut.
“Kita makan dulu ya.. Setelah itu baru kamu di periksa oleh Clara.” Ujar Stefan dengan lembut.
__ADS_1
“Apa? Di periksa? Memangnya aku kenapa? Aku kan nggak papa. Aku baik baik saja.”
Stefan menyipitkan kedua matanya menatap Hana yang bertingkah tidak seperti biasanya malam ini. Padahal saat Stefan pulang sore tadi Hana masih bersikap lembut seperti biasanya. Namun begitu melihat kehadiran dokter Clara tiba tiba Hana berubah.
“Aku nggak mau di periksa.” Tolak Hana tegas.
Kedua mata Stefan melebar sesaat mendengarnya.
“Hana kamu..”
“Aku baik baik saja Stefan. Tolong jangan memaksa. Aku nggak suka ya di paksa.” Sela Hana masih dengan nada tegas.
Stefan menelan ludah. Untung saja Sera sudah lebih dulu mengajak dokter Clara ke meja makan. Sehingga tidak ada yang mendengar penolakan keras Hana.
“Lagian kenapa tiba tiba dokter Clara datang kesini sih?” Ketus Hana.
“Aku yang menyuruhnya Hana. Aku yang menyuruh Clara untuk datang dan memeriksa keadaan kamu.” Balas Stefan dengan tegas.
Hana melengos. Entah kenapa rasa kesal dan emosi itu tiba tiba hinggap di hati juga pikiran-nya. Hana sendiri juga tidak mengerti kenapa perasaan-nya bisa mendadak seperti itu. Tidak terkontrol dan seolah akan meluap luap.
“Pokonya aku nggak mau di periksa sama dokter Clara. Titik.” Hana bersikukuh dan menghindari tatapan Stefan.
Stefan memejamkan kedua matanya sesaat. Tingkah Hana sangat aneh dan tidak biasa dan itu berhasil membangkitkan amarah dalam diri Stefan. Namun Stefan tidak ingin sampai kalap. Pria itu berusaha meredam emosinya karena tidak ingin menyakiti istri tercintanya.
“Mau atau tidak kamu harus tetap di periksa Hana. Aku nggak mau di bantah oleh siapapun sekarang.” Tekan Stefan yang terpaksa harus bersikap tegas demi kebaikan Hana.
Sebelumnya Stefan sudah di beritahu oleh pelayan yang membantu Hana menggendong Theo saat Hana hendak ke kamarnya. Dan mendengar itu rasa khawatir Stefan akan keadaan Hana semakin besar. Stefan takut sesuatu yang tidak di inginkan terjadi mengingat Hana yang setiap hari kelelahan mengurus Theo tanpa bantuan dari siapapun. Bukan tidak mau membayar baby siter, tapi karena Hana yang menolak. Dan Theo juga tidak bisa sembarang di sentuh oleh orang.
Hana menatap Stefan jengkel. Stefan memaksanya agar mau di periksa oleh dokter Clara.
“Kamu..”
__ADS_1
“Aku nggak suka dibantah Hana.” Sela Stefan penuh penekanan.