
Tidak menunda waktu, Stefan segera menghubungi seseorang untuk mengawasi rumah om dan tantenya juga rumah sakit tempat Gabriel di rawat sekarang. Stefan juga langsung memegang kendali semua CCTV dirumah om dan tantenya meski Stefan melakukan-nya tanpa izin dari keduanya.
“Stefan... Aku kangen sama Angel..”
Stefan yang sedang fokus dengan laptopnya menoleh pada Hana yang duduk di tepi ranjang. Wanita itu masih mengenakan piyama warna pinknya yang membuat Stefan merasa gemas.
“Mau Video call?” Tawar Stefan yang langsung di angguki Hana dengan sangat semangat.
“Kemarilah.” Perintah Stefan.
Dengan senang hati Hana bangkit dari duduknya di tepi ranjang dan mendekat pada Stefan. Wanita itu mengambil posisi disamping Stefan.
“Cium aku dulu.” Pinta Stefan mendekatkan wajahnya pada Hana.
Hana berdecak. Stefan tidak melakukan-nya dengan tulus. Pria itu meminta cium padanya sebelum melakukan apa yang dia tawarkan sendiri pada Hana.
“Iiihh.. Kamu gitu banget sama istri sendiri. Masa cuma mau video call sama Angel aja aku harus cium kamu dulu.” Kesal Hana menjauhkan wajahnya dari Stefan.
Stefan tersenyum miring.
“Di dunia ini tidak ada yang gratis sayang..” Bisik Stefan di telinga Hana.
Hana mengerucutkan bibirnya. Namun wanita itu nyatanya tetap memberikan ciuman pada Stefan yang tentu tidak di sia siakan oleh pria itu. Stefan langsung menahan kepala Hana saat Hana akan melepaskan ciuman-nya. Pria itu justru semakin memperdalam ciuman-nya yang membuat Hana tidak berdaya untuk menolaknya.
Setelah beberapa saat, Stefan pun melepaskan ciuman-nya. Dengan napas tersengal Stefan menempelkan keningnya dengan kening Hana. Stefan tidak bisa memungkiri perasaanya yang terasa sedikit tenang begitu keluar dari rumah om dan tantenya.
Deringan ponsel Stefan membuat Stefan berdecak. Pria itu menjauhkan wajahnya dari wajah Hana dan melepaskan tangkupan kedua tangan-nya dari wajah cantik Hana.
“Sebentar Hana..” Katanya.
__ADS_1
Hana hanya mengangguk saja sambil mengatur napasnya yang tersengal tidak beraturan karena ciuman lama Stefan tadi.
Sementara Stefan, dia segera meraih ponselnya dan mengangkat telepon yang ternyata dari orang suruhan-nya itu.
“Halo..”
Hana hanya diam saja karena memang Hana tidak terlalu pandai berbahasa inggris. Hana memilih untuk fokus dengan laptop yang memang baru Stefan beli hari ini.
“Hana, aku harus pergi sekarang. Kamu tetap disini dan jangan kemana mana. Aku akan suruh orang untuk menjaga kamu.”
Hana mengeryit. Niatnya untuk bertemu dan berkenalan dengan om dan tante juga kedua sepupu Stefan, Gabriel dan Selena tidak berjalan seperti yang Hana bayangkan.
“Memangnya kamu mau kemana?” Tanya Hana dengan wajah sendu.
“Ada yang mencurigakan dirumah om dan tante. Orang yang aku suruh untuk mengawasi rumah om dan tante bilang dia melihat Gabriel masuk kekamarnya lewat balkon. Sedangkan dirumah sakit Gabriel masih tidak sadarkan diri.” Jawab Stefan.
Hana terkejut mendengarnya. Gabriel benar benar penuh teka teki dan rahasia.
Hana hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan segala kebingungan juga ketakutan yang dirasakan-nya. Dari kemarin malam Hana juga sudah merasa aneh dengan ekspresi Gabriel yang sangat berbeda dari yang Hana lihat saat pertama kali mereka bertemu.
“Kamu juga harus hati hati Stefan..” Lirih Hana.
Stefan tersenyum dan membelai lembut pipi chuby Hana.
“Kamu nggak perlu khawatir Hana, aku akan selalu baik baik saja.”
Hana kemudian berhambur memeluk Stefan. Hana menyesal karena meminta Stefan untuk datang ke Amerika. Jika saja dari awal Hana tau kejadian-nya akan seperti itu Hana tidak akan merengek bahkan marah pada Stefan meminta ke inginan-nya segera di turuti.
“Maafin aku..” Lirih Hana.
__ADS_1
Stefan tersenyum dibalik punggung Hana. Pria itu membalas lembut pelukan Hana dan sesekali mencium kepala wanita yang sangat di cintainya itu. Stefan tidak menyalahkan siapapun karena Stefan juga memaklumi sikap Hana yang memang sedang tidak menentu dan tidak bisa di tebak sejak hamil.
“Tidak ada yang perlu di permasalahkan. Sekarang lebih baik kita video call saja dengan Angel. Dia pasti sangat merindukan mommy nya yang cantik ini.”
Hana tertawa pelan mendengar gurauan Stefan di akhir kalimatnya.
Mereka berdua kemudian segera menghubungi Sera dan melakukan video call seperti yang di inginkan Hana. Angel sempat menangis saat melihat Stefan dan Hana. Gadis kecil itu mencurahkan rasa rindunya pada Hana yang memang baru pertama kali berjarak dengan-nya selama Hana menjadi mommy sambungnya.
Stefan yang melihat itu hanya bisa tersenyum. Stefan bersyukur karena meskipun Angel bukan darah dagingnya namun hatinya bisa begitu lapang menerima keberadaan gadis kecil itu sebagai bagian dari hidupnya. Stefan bahkan sekarang sangat menyayangi Angel dan sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri.
Selesai bervideo call, Stefan segera bersiap sembari menunggu orang suruhan-nya yang memang sedang menuju ke hotel tempatnya dan Hana menginap.
“Stefan, aku tidak akan nyaman jika orang suruhan kamu itu laki laki. Tidak bagus bukan kalau dia masuk ke kamar ini dan hanya berdua denganku? Mungkin dia memang tidak akan macam macam. Tapi aku akan sangat risih kalau bersama orang asing dalam satu ruangan apa lagi orang itu laki laki.” Ujar Hana menatap Stefan yang sedang bersiap didepan cermin.
Stefan tertawa mendengar itu. Stefan juga tidak bodoh dengan membiarkan istrinya bersama dengan laki laki asing meski orang tersebut adalah orang kepercayaan-nya dalam satu ruangan. Meski Stefan percaya tapi Stefan juga tidak akan membiarkan pria manapun menatap istrinya begitu bebas.
“Hey nyonya Devandra. Suami kamu ini tidak bodoh. Aku tentu saja tidak akan membiarkan laki laki manapun menatap kamu lebih dari satu detik. Dan tentang orang suruhan aku yang sedang menuju kesini, dia adalah agen cantik yang tangguh dan tentunya juga lancar berbahasa indonesia.” Kata Stefan menatap Hana dari cermin didepan-nya.
Hana mendelik mendengar kata agen cantik yang terlontar dari bibir tipis suaminya. Itu berarti orang yang sedang menuju ke hotel untuk menjaganya adalah seorang wanita.
“Cantik? Jadi maksud kamu aku ini masih kurang cantik begitu?”
Stefan mengeryit mendengar nada pertanyaan Hana yang menyiratkan kemarahan itu.
“Apa yang salah dengan ucapanku?” Batin Stefan bertanya tanya.
“Emang yah semua laki laki itu sama. Nggak mau perempuannya di tatap sama laki laki lain tapi dirinya sendiri matanya jelalatan menatap perempuan diluar sana.” Cerocos Hana.
Stefan menghela napas kemudian berdecak pelan. Hana memang sangat sensitif dan gampang sekali cemburu sekarang.
__ADS_1
“Oke oke.. Kamu yang paling cantik, paling manis dan yang penting satu satunya yang paling aku cintai Hana.” Ujar Stefan menoleh pada Hana yang duduk diatas tempat tidur.
“Bodo ah, males aku ngomong sama kamu. Semua laki laki sama saja.” Ketus Hana melengos enggan menatap Stefan yang berdiri didepan cermin besar diseberang ranjang.