
“Alan berangkat ya bu..” Alan menyalimi ibu karena hendak berangkat kerja pagi ini. Pria itu sebenarnya masih memikirkan apa yang ibunya katakan semalam. Namun sampai sekarang Alan masih belum bisa menerima apa yang telah terjadi padanya. Apa lagi Stefan juga sudah mengambil Hana darinya dulu meskipun sekarang Alan memang sudah tidak lagi mencintai Hana.
“Hati hati. Ingat apa yang ibu katakan semalam nak. Tuhan tidak akan menghendaki sesuatu tanpa alasan. Yakinlah bahwa keputusan Tuhan memang yang terbaik untuk setiap hambanya.” Senyum ibu kembali mengeluarkan kata bijaknya untuk Alan.
Alan menghela napas kemudian menganggukkan kepalanya. Meski hati dan pikiran-nya masih menolak namun Alan tetap tersenyum mengiyakan apa yang dikatakan oleh ibunya.
“Ya bu...”
“Jangan lupa datangi dokter Rania. Minta maaf sama dia. Bagaimanapun juga kamu tidak boleh bersikap seperti itu pada orang yang sudah berjasa membantu dan merawat kamu selama kamu sakit dulu nak.”
Alan menganggukan lagi kepalanya. Pria itu berusaha untuk diam meski hatinya terus memberontak tidak terima karena ibunya juga sama sekali tidak memihak padanya.
“Ya bu..” Lirih Alan kemudian melangkah menuju motornya menjauh dari ibunya yang berdiri di ambang pintu utama rumah sederhana mereka.
Ibu tersenyum melihat Alan yang berlalu dari halaman rumah sederhananya. Setelah memastikan Alan sudah tidak lagi terlihat, ibu pun segera bersiap karena pagi ini ibu berniat untuk menemui Hana juga Stefan.
“Semoga saja tuan Stefan belum pergi pagi ini.” Gumamnya sambil mengunci pintu rumahnya kemudian buru buru melangkah agar tidak ketinggalan angkot di depan gang.
Dalam perjalanan menuju kediaman Stefan, ibu tampak harap harap cemas. Wanita itu sebenarnya takut menghadap seorang Stefan Devandra sendiri. Tapi ibu tidak punya pilihan lain. Selain karena ibu juga ingin tau alasan kenapa sampai Stefan menabrak Alan, Ibu juga ingin mendengar sendiri apakah Stefan merasa menyesal karena sudah menutupi apa yang sudah terjadi selama ini. Meski memang ibu sendiri sadar dirinya dan keluarganya hidup tenang juga berkat Stefan yang menjamin-nya.
-----------
Pagi ini Theo kembali merengek tidak ingin lepas dari gendongan Hana. Itu membuat Hana tidak bisa membersihkan dirinya lebih awal seperti biasanya. Hana bahkan sampai harus meminta tolong pada Stefan untuk sementara menggantikan-nya menjaga Theo karena dirinya yang sudah harus mandi.
“Kenapa sih dek? Pengin-nya sama mommy terus yah?” Stefan bertanya pada Theo yang terus menatapnya. Pria yang sudah mengenakan kemeja biru muda lengkap dengan dasi hitamnya itu sedang menggendong Theo menggantikan Hana yang sedang mandi.
__ADS_1
“Yang pinter ya sayang.. Bantuin daddy jaga mommy..” Senyum Stefan menatap lembut wajah tampan Theo yang terus menatapnya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Stefan mengalihkan perhatian-nya. Pria itu menghela napas kemudian melangkah pelan menuju pintu dengan Theo yang berada di gendongan-nya. Stefan berpikir mungkin yang mengetuk pintu saat ini adalah Angel yang memang sedang libur sekolahnya.
Stefan mengernyit ketika mendapati Sera yang ada didepan-nya, dan bukan Angel.
“Mamah?” Gumam Stefan.
“Hay sayangnya oma.. Udah bangun yah? Sini sini sama oma sayang..” Sera mengambil alih Theo dari gendongan Stefan dengan sangat lembut dan hati hati. Namun baru beberapa detik berada dalam gendongan Sera, Theo langsung menangis yang langsung membuat Stefan panik.
“Sini sini mah.. Maaf mah.. Bukan-nya nggak boleh gendong Theo, tapi dari tadi pagi memang Theo lagi pinter banget. Dia nggak mau sama siapa siapa selain sama mommy nya. Sama aku aja tadi nangis terus.” Sesal Stefan menatap Sera sendu setelah mengambil kembali Theo dari gendongan Sera.
Ajaibnya begitu berada kembali di gendongan Stefan, Theo langsung diam membuat Sera tersenyum.
Stefan tersenyum kemudian menatap putranya yang memang langsung diam saat berada di gendongan-nya. Dengan lembut Stefan menyeka air mata dari yang menetes dari sudut mata putranya.
“Hana mana?” Tanya Sera kemudian.
“Hana baru bisa mandi mah. Theo maunya nyusu terus dari jam 3 pagi ini.” Jawab Stefan merasa kasihan pada Hana yang tidak bisa tidur dengan durasi yang lama.
“Udah nggak papa, memang begitu resikonya menjadi seorang mommy. Makan-nya, kamu sebagai suami yang baik harus bisa ngertiin Hana dan bisa selalu menghibur Hana. Saat ini dia sedang sangat membutuhkan dukungan dan semangat dari orang orang terdekatnya supaya bisa merawat Theo dengan penuh cinta dan kasih sayang.” Ujar Sera sambil mengusap lembut puncak kepala Theo.
Stefan menganggukan kepalanya setuju dengan apa yang mamahnya katakan.
__ADS_1
“Permisi tuan, nyonya.”
Stefan dan Sera langsung menoleh mendengar suara pelayan yang entah dari kapan sudah berada tidak jauh dari mereka berdua.
“Ya... Apa Angel menangis dibawah?” Tanya Sera yang langsung terpikirkan pada Angel yang dia tinggal sendiri di meja makan.
“Maaf, nona Angel tidak menangis nyonya. Tapi di depan ada seorang ibu ibu yang katanya ingin bertemu langsung dengan nyonya Hana dan tuan Stefan. Katanya ibu itu adalah ibunya tuan Alan.”
Sera dan Stefan saling menatap sesaat. Keduanya berpikir mungkin kedatangan ibu Alan adalah untuk membahas tentang apa yang memang sudah diketahui oleh Alan.
“Ya sudah, suruh saja dia masuk. Jangan lupa buatkan minum. Sebentar lagi kami akan turun.” Ujar Sera dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
“Baik nyonya.” Angguk si pelayan kemudian berlalu dari hadapan Stefan dan Sera.
Stefan menghela napas. Pria itu merasa cemas mendengar ibu Alan datang pagi ini. Stefan takut Hana akan merasa bersalah jika sudah berhadapan dengan wanita yang selama di anggapnya sebagai ibunya sendiri.
“Semuanya akan baik baik saja. Mamah tau ibu Alan adalah orang yang baik Stefan.” Senyum Sera mencoba menenangkan Stefan.
Stefan mengangguk dan tersenyum tipis.
“Ya mah..” Jawabnya.
“Ya sudah kalau begitu biar mamah yang lebih dulu menemui ibunya Alan. Kamu tunggu saja sampai Hana selesai mandi. Setelah itu baru kalian berdua turun dan sama sama menemui ibunya Alan. Inget nak, kamu harus tenang. Mamah yakin kedatangan ibu Alan kesini bukan untuk menyalahkan kamu. Ibu Alan pasti bisa menilai mana yang baik dan mana yang tidak.” Sera menepuk pelan bahu Stefan sebelum berlalu untuk menemui ibu Alan yang sudah di persilahkan masuk olehnya.
Sedang Stefan, pria itu menghela napas lagi kemudian masuk kembali kedalam kamar menunggu Hana yang belum juga selesai membersihkan diri di dalam kamar mandi.
__ADS_1
“Tuhan... Aku pasrahkan semuanya padamu.” Batin Stefan.