ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 37


__ADS_3

Tidak jauh berbeda dengan Stefan, Hana juga merasakan apa yang Stefan rasakan. Wanita itu bahkan terus tertawa dan tersenyum sendiri mengingat pemintaan Stefan yang memang tidak dirinya jawab itu.


“Ada apa denganku? Kenapa rasanya aku ingin terus tersenyum dan tertawa?”


Hana menggeleng dengan tawa pelan-nya. Hana merasa dirinya sudah gila sekarang. Dan itu karena Stefan, suaminya sendiri.


“Tapi apa Stefan benar benar serius meminta aku untuk selalu ada di sisinya? Dia kan kaya bunglon. Sedikit sedikit baik terus nanti galak lagi, dingin lagi.”


Senyum Hana memudar mengingat bagaimana Stefan saat bersikap padanya. Stefan memang terkadang baik. Tapi Stefan juga terkadang sangat menyebalkan.


Hana menghela napas. Hana tidak begitu tau banyak hal tentang Stefan. Bahkan apa yang Hana tau dari Sera saja Hana merasa ragu tentang Stefan yang katanya sangat mencintai mendiang istri pertamanya. Bukan tidak percaya pada Sera, tapi apa yang Hana lihat dari sikap Stefan itu benar benar sangat berbanding terbalik dengan kata sangat mencintai. Stefan lebih terlihat sangat membenci Lusi dari pada mencintai Lusi.


“Apa itu hanya perasaan aku saja ya?”


Hana sekarang bingung sendiri. Apa lagi jika melihat Stefan bertatapan dengan putrinya sendiri Angel, Stefan seperti sengaja menghindar dan enggan menatap putrinya lama lama. Padahal Angel memang sangat mirip dengan Lusi, ibu kandungnya.


Hana kemudian mengedarkan pandangan-nya ke seluruh dinding kamarnya dan Stefan yang hampir keseluruhan bercat putih itu. Disana bahkan tidak ada photo Lusi satupun. Bahkan photo pengantin yang dipajang disana juga adalah photo pengantin-nya dengan Stefan. Begitu juga di ruangan lain dirumah mewah itu misalnya diruang keluarga. Photo Angel juga satupun tidak ada dikamarnya dan Stefan.


“Apa coba aku tanyakan sama pelayan yah? Mereka kan selalu disini. Mereka pasti tau.”


Hana tampak berpikir. Sekarang Hana benar benar penasaran ingin mengetahui segala sesuatu tentang Stefan dan Lusi dimasa lalu.


“Atau aku tanyakan langsung saja sama Stefan? Tapi, nanti dia marah.”


Hana berdecak. Hana bukan takut Stefan marah padanya. Hana hanya tidak mau merusak mood pria itu yang pasti juga akan berimbas pada Angel.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Hana menolehkan kepalanya ke pintu. Hana kemudian bangkit dari duduknya ditepi ranjang, meletakan ponsel yang di pegangnya menaruhnya diatas ranjang kemudian melangkah menuju pintu untuk membukanya.


“Mamah..” Senyum Hana melihat Sera yang berdiri didepan pintu kamarnya dan Stefan.


“Emm.. Mamah nggak ganggu kan?” Tanya Sera pada Hana.


“Sama sekali enggak mah. Masuk mah...”


Sera mengangguk kemudian masuk kedalam kamar Hana dan Stefan. Baru kali ada yang mempersilahkan-nya masuk dirumahnya sendiri. Tapi Sera maklum karena sekarang kamar putranya bukan hanya milik putranya sendiri, tapi juga Hana istrinya.


“Mamah masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Stefan pagi ini Hana. Bisa tolong kamu ceritakan sesuatu sama mamah?”


Hana mengeryit bingung. Sambil mendudukan dirinya kembali di tepi ranjang Hana berpikir. Stefan memang agak lain hari ini. Stefan bahkan berinisiatif sendiri mengulurkan tangan saat Hana hendak menyaliminya ketika akan berangkat bekerja.

__ADS_1


“Stefan nggak biasa minum kopi loh Hana. Tapi pagi ini dia tiba tiba datang dengan secangkir kopi ditangan-nya. Apa kamu yang membuatkan kopi untuk Stefan?”


Hana mengangguk pelan.


“Ya mah.. Aku sengaja membuatkan-nya karena Stefan terus saja menguap dan seperti tidak bisa menahan kantuknya.” Jawab Hana.


Sera tersenyum mendengar jawaban Hana.


“Pantes, wong istri tercinta yang bikinin.”


Hana mengeryit tidak mengerti namun juga merasa sedikit malu mendengar apa yang Sera katakan. Karena pada kenyataan-nya mereka berdua sebenarnya sama sekali tidak saling mencintai.


“Mamah bisa aja.”


“Tapi beneran loh nak.. Stefan itu cuma minum air putih. Dia itu enggak suka minuman rasa rasa. Tapi kopi hitam buatan kamu dia mau bahkan dia bilang sama mamah didepan Angel juga katanya sejak pagi ini dia suka kopi. Cinta memang bisa mengalahkan segalanya ya..” Senyum Sera menatap Hana yang hanya tertawa pelan saja merasa aneh dengan apa yang Sera katakan.


Hana menghela napas dan memejamkan sesaat kedua matanya. Hana ingin sekali bertanya tentang Stefan dan Lusi pada Sera. Tapi Hana sudah tau akan seperti apa jawaban Sera. Dan jawaban itu membuat Hana ragu.


“Hana, mamah nggak tau kalau sikap Stefan yang seperti itu bisa menarik perhatian kamu.”


Hana tersenyum.


Sera mengangguk mengerti.


“Ya memang. Tapi dari semua perempuan yang mengejarnya satu pun tidak pernah Stefan gubris.”


Hana tersenyum. Wanita itu tidak tau saja bagaimana Stefan saat berada di pesta peresmian hotel Williana. Stefan dengan begitu mesranya mau berdansa dengan Williana.


“Kamu bisa ceritakan bagaimana awal hubungan kalian? Dan kenapa Stefan baru membawa kamu kesini saat kalian berdua sepakat untuk menikah?”


Kedua mata Hana membulat mendengarnya. Itu adalah pertanyaan yang selalu berusaha hindari. Hana tidak mungkin berbohong menjawabnya. Karena jika dirinya berbohong Sera pasti akan kecewa jika tau yang sebenarnya apa lagi jika taunya dari orang lain.


“Mamah benar benar sangat penasaran Hana.. Kalau dulu bagaimana Lusi meluluhkan hati Stefan itu mungkin mudah. Tapi mengingat bagaimana Stefan yang sekarang pasti berada di posisi kamu ini sangat tidak mudah. Apa lagi saat awal awal kalian mengenal.”


Hana menelan ludah. Hana benar benar tidak tau harus bagaimana menjawabnya. Pertemuan-nya dan Stefan sangat tidak diduga. Stefan tiba tiba datang dan menawarkan sesuatu yang tidak bisa Hana tolak.


“Hana, hey...” Sera menyentuh pelan bahu Hana membuat Hana menggigit bibir bawahnya.


“Aku.. Aku...”


“Ayolah.. Tidak perlu malu malu sama mamah. Mamah ingin tau bagaimana Stefan bisa mendapatkan kamu.”

__ADS_1


Jantung Hana berdetak begitu cepat. Apapun alasan-nya kebohongan tetap sesuatu yang tidak bisa dibenarkan. Tapi berkata jujur sekarang tanpa persetujuan dari Stefan pasti akan menimbulkan masalah yang cukup fatal.


“Aku...”


Deringan ponsel Hana membuat Hana langsung menolehkan kepala pada benda pipih itu. Hana menghela napas merasa lega melihat nama Aisha yang tertera disana. Dan secara tidak langsung telepon dari Aisha menyelamatkan Hana dari pertanyaan Sera.


“Eemm.. Sebentar ya mah, aku angkat telepon dulu.” Senyum Hana merasa tidak enak hati pada Sera.


“Oh oke.. Silahkan.” Senyum Sera manis.


Hana meraih ponselnya kemudian segera mengangkat telepon dari Aisha tanpa beranjak dari tempatnya.


“Halo Aisha...” Sapa Hana begitu mengangkat telepon tersebut.


“Halo kak.. Kak, Kak Alan kak, Kak Alan..”


Hana mengeryit dan melirik sekilas pada Sera yang duduk disampingnya.


“Ya, kenapa dengan dia Aisha?” Tanya Hana yang sengaja tidak menyebut nama Alan didepan Sera.


“Dokter yang menangani kak Alan bilang ada perkembangan baik pada kondisi kak Alan. Aku, ibu juga kak Amira akan kesana sore ini kak.. Apa kakak juga bisa datang?”


“Eemm.. Syukurlah kalau begitu. Aku nanti akan tanyakan pada Stefan yah.. Kami berdua pasti kesana.”


Hana menutup telepon-nya setelah itu. Hana tersenyum merasa sangat bahagia karena akhirnya kondisi Alan mulai ada perkembangan.


“Ada apa Hana?” Tanya Sera penasaran.


“Eemm.. Itu mah, sahabat aku yang lagi sakit mulai membaik. Dan adiknya menelepon aku menanyakan apakah aku bisa datang bersama untuk menjenguknya.” Jawab Hana.


“Oohh.. Kalau begitu coba saja kamu telepon Stefan sekarang. Ajak Stefan sekalian kenalkan Stefan pada keluarga sahabat kamu itu.” Senyum Sera pada Hana.


“Ya mah...” Angguk Hana pelan.


“Kalau begitu mamah keluar yah..”


Sekali lagi hana hanya menganggukan kepalanya dengan senyuman menghiasi bibirnya. Setelah Sera keluar dari kamarnya Hana menghela napas lega.


Kali ini Hana selamat dari pertanyaan Sera seputar awal hubungan-nya dengan Stefan.


“Terimakasih Tuhan.. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk Alan dan keluarganya..”

__ADS_1


__ADS_2