ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 50


__ADS_3

Setelah makan malam selesai, Hana menemani Angel bermain kemudian menemaninya tidur sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya tanpa memikirkan dimana Stefan sekarang. Yang ada di pikiran Hana sekarang hanyalah kenapa nomor Aisha sama sekali tidak bisa dia hubungi. Hana juga berpikir apa salahnya jika memang benar Aisha memblokir nomornya.


“Apa aku kerumah ibu saja? Tapi apa Stefan akan mengizinkan-nya?” Hana bertanya tanya sendiri. Hana merasa tidak tenang sekarang. Hana tidak tau bagaimana keadaan Alan.


“Dokter Rania.. Ya, mungkin aku bisa menelepon dokter itu dan menanyakan langsung bagaimana kabar Alan. Stefan pasti punya nomornya.”


Ketika Hana hendak turun dari ranjang tiba tiba pintu kamarnya terbuka dan munculah Stefan dengan begitu gagahnya. Dengan kaos putih polos dan celana piyama hitam yang begitu pas membalut tubuh kekarnya.


“Stefan...” Senyum Hana menatap Stefan yang masuk ke kamarnya. Dengan semangat Hana turun kemudian menghampiri Stefan.


“Kenapa?” Tanya Stefan yang memang selalu memperlihatkan wajah tanpa ekspresinya.


“Boleh tidak aku pinjam handphone kamu Stefan. Atau kalau enggak boleh aku minta nomornya dokter Rania saja.”


Stefan menyipitkan kedua matanya mendengar apa yang Hana katakan.


“Nomor dokter Rania? Untuk apa?” Tanya Stefan penasaran.


“Aku ingin tau bagaimana keadaan Alan sekarang Stefan. Aku sudah berusaha menghubungi Aisha tapi tidak bisa. Nomorku sepertinya di blokir.” Jawab Hana dengan wajah memelas.


Stefan melengos. Stefan sengaja menyuruh body guard untuk mencegah keluarga Alan masuk dan melihat keadaan Alan dirumah dokter Rania agar Aisha juga tidak tau dan tidak memberitahunya pada Hana. Tapi ternyata Hana malah ingin menanyakan langsung pada dokter Rania tentang keadaan pria itu.


“Aku nggak punya nomor dokter Rania.” Jawab Stefan kemudian melangkah melewati Hana begitu saja.


Hana mengeryit. Rasanya tidak mungkin jika Stefan tidak menyimpan nomor dokter cantik itu. Apa lagi mereka juga adalah teman. Dan lagi, Stefan mempercayakan dokter itu untuk menangani Alan yang artinya mereka juga pasti selalu berkomunikasi untuk membahas tentang keadaan Alan.


“Kalau begitu boleh tidak aku kerumah dokter Rania besok?” Tanya Hana kemudian.


Stefan berdecak. Jika sudah membahas tentang Alan Hana memang bisa menjadi sangat menyebalkan.

__ADS_1


“Tidak boleh.” Jawab Stefan.


Hana membalikan tubuhnya menatap tidak mengerti pada Stefan yang sudah duduk diatas tempat tidur mereka.


“Tapi kenapa? Aku hanya ingin tau bagaimana keadaan Alan sekarang Stefan. Kenapa tidak boleh?”


Stefan melayangkan tatapan tajamnya pada Hana membuat Hana tersentak. Stefan kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah mendekat pada Hana yang tetap berdiri didepan pintu kamar mereka yang tertutup.


“Sekarang aku tanya sama kamu Hana. Kalau seandainya aku bertanya sama kamu boleh atau tidak aku berkencan dengan dokter Rania, apa kamu akan mengizinkan?”


Hana menatap tidak mengerti pada Stefan yang ada didepan-nya. Pria itu berdiri dengan memasukan kedua tandan-nya kedalam saku celana piyama hitam yang dikenakan-nya.


“Stefan, Alan itu sahabat aku.” Ujar Hana mencoba memberi pemahaman pada Stefan tentang dirinya dan Alan.


“Dokter Rania juga temanku.” Balas Stefan cepat.


Rahang Hana mengeras. Entah apa yang Stefan inginkan sebenarnya. Hana sudah baik baik bertanya tapi Stefan malah seperti sengaja mencari alasan agar mereka beradu mulut.


Kedua mata Stefan sedikit melebar. Sepertinya Stefan menyebut nama yang salah. Harusnya bukan nama dokter cantik itu yang Stefan sebut. Tapi Williana Atmaja. Wanita yang secara terang terangan tidak Hana sukai.


Merasa kesal, Stefan pun mendorong bahu Hana hingga punggung Hana terbentur sedikit keras ke daun pintu. Setelah itu Stefan langsung mengunci tubuh Hana sehingga Hana tidak bisa kemana mana.


“Jaga bicara kamu Hana. Aku bukan laki laki seperti itu.” Tekan Stefan menatap Hana tajam.


Hana menelan ludah. Ini kali pertama Stefan bersikap begitu sangat kasar bahkan sampai mendorong bahunya hingga punggung Hana membentur daun pintu dengan keras.


“Dengar Hana. Kamu itu istriku. Tidak seharusnya kamu menemui laki laki lain dibelakang aku.” Kesal Stefan dengan nada penuh penekanan.


Hana diam. Apa yang Stefan katakan memang benar. Tidak seharusnya Hana meminta izin untuk menemui pria lain meskipun Alan adalah sahabatnya.

__ADS_1


Hana menundukan kepalanya tidak berani menatap Stefan yang begitu marah padanya.


“Maaf...” Lirih Hana merasa bersalah.


Stefan menghela napas kasar mendengarnya. Stefan tidak bermaksud berbuat kasar pada Hana. Tapi ucapan Hana tadi benar benar membuat Stefan kalap.


Stefan menjauhkan dirinya dari Hana. Pria itu memutar tubuhnya kemudian berlalu dari hadapan Hana dan mendudukan dirinya ditepi ranjang dengan posisi memunggungi Hana. Dari awal Stefan sudah tau bahwa Hana dan Alan memang dekat. Sedangkan Stefan, pria itu hanya pria asing yang tiba tiba masuk kedalam kehidupan Hana. Itupun juga karena peristiwa Alan tertabrak mobil Stefan yang malam itu bermaksud menghindar.


Hana melirik Stefan merasa sangat bersalah karena membuat Stefan marah padanya. Pelan pelan Hana melangkah mendekat pada Stefan. Hana berdiri tepat disamping Stefan yang diam dengan tatapan lurus kedepan.


“Stefan.. Aku minta maaf..”Lirih Hana tidak berani menatap Stefan.


Hana sadar permintaan-nya memang salah. Apa lagi ucapan-nya yang tadi membuat Stefan sampai mendorongnya hingga punggung Hana membentur daun pintu kamar cukup keras.


“Aku nggak akan pergi kalau kamu enggak ngizinin aku pergi kok Stefan. Aku minta maaf.. Aku ngaku aku salah..”


Stefan melirik Hana yang berdiri disampingnya. Pria itu kemudian menghela napas pelan. Emosinya sudah hilang berganti dengan perasaan bersalah karena melihat Hana menunduk ketakutan saat dirinya marah tadi.


“Aku cuma khawatir sama keadaan Alan Stefan. Dia orang yang baik. Dia dulu selalu membantu aku saat aku susah. Aku hanya tidak mau dikatakan sebagai teman yang tidak tau balas budi.” Lanjut Hana masih tidak berani mengangkat kepalanya untuk menatap Stefan.


Stefan menelan ludah. Stefan berusaha untuk percaya pada Hana bahwa Hana memang tidak ada hubungan apapun dengan Alan selain sahabat. Tapi hati Stefan tetap menolak dan tidak bisa menerima jika Hana masih begitu perduli pada Alan. Apa lagi mengingat Hana yang bahkan sampai rela menikah dengan-nya hanya untuk menyelamatkan nyawa Alan.


Stefan takut Hana juga akan sama seperti Lusi, mengkhianatinya sampai mengandung dan melahirkan Angel.


“Stefan..” Panggil Hana dengan nada sedikit merengek.


Stefan tetap diam. Pria itu tidak tau harus mengatakan apa pada Hana sekarang. Terlalu mengekang Hana juga tidak akan baik pada akhirnya. Tapi membiarkan Hana terus memperdulikan Alan juga membuatnya merasa tidak nyaman bahkan takut.


Tidak mau terpancing emosi lagi, Stefan pun bangkit dari duduknya kemudian melangkah melewati Hana dan keluar kembali dari kamar mereka.

__ADS_1


Dan sampai pagi Stefan benar benar tidak kembali lagi ke kamarnya.


__ADS_2