
“Mommy liat deh, ini lucu banget sepatunya. Tapi kayanya masih kegedean buat adek.”
Angel begitu sangat antusias menunjukan isi kado yang dibukanya pada Hana berupa sepatu kets warna coklat gelap kombinasi putih yang begitu lucu pada Hana.
Stefan dan Hana yang melihat itu tersenyum dan menganggukan kepalanya setuju. Saat ini mereka bertiga memang sedang membuka satu persatu kado yang banyak diterima oleh Hana dari rekan bisnis maupun karyawan-nya. Karena itu pula Angel sampai merengek agar Stefan tidak pulang malam sehingga Stefan mengalah dan pulang setelah makan siang agar mereka bisa sama sama membuka satu persatu kado kado tersebut.
Stefan juga mengajak Hana dan Theo untuk sama sama menjemput Angel di sekolah agar gadis kecil itu senang.
Sera yang duduk di sofa sambil memangku Theo hanya bisa tersenyum menatap Stefan, Hana, juga Angel yang duduk diatas karpet di depan-nya sambil membuka kado kado yang membuat ruangan luas itu terasa sempit saking banyaknya kado kado itu.
“Ini juga mom, dad.. Iihh kakak Angel jadi gemes sama baju baju dan sepatunya adek.”
Hana tertawa geli. Isi dari kado kado itu memang sangat lucu dan pasti mahal. Tentu saja karena merek dari barang barang pemberian itu adalah merek dari brand terkenal. Hana memaklumi itu mengingat Stefan adalah pengusaha yang pasti semua rekan bisnisnya bukan orang sembarangan.
“Daddy, oma, dulu waktu Angel lahir kadonya banyak begini juga nggak?”
Pertanyaan Angel membuat senyuman dibibir Stefan memudar perlahan. Pria itu tidak tau harus menjawab apa karena dulu dirinya sama sekali tidak ingin tau apapun karena sedang fokus sendiri dengan rasa sakit hatinya akibat perselingkuhan Lusi.
Stefan menghela napas dan menundukkan sebentar kepalanya. Mendadak Stefan merasa bersalah karena dulu seakan melimpahkan kesalahan Lusi pada Angel yang tidak tau apa apa.
Sera yang mengerti dengan gerak gerik Stefan segera menyauti pertanyaan Angel.
“Tentu saja sayang. Dulu waktu kakak Angel bayi juga kadonya banyak begini. Saking banyaknya bahkan semua mbak mbak disini sampai ikut bantuin oma sama daddy buka buka kadonya.” Jawab Sera yang membuat Angel langsung tersenyum lebar.
“Oh ya? Berarti semua juga sayang kakak Angel ya oma? Sama seperti semua sayang ke adek?”
“Oh iya dong.. Semua sayang sama kakak Angel.”
Hana melirik Stefan yang hanya diam saja. Meskipun sekarang Hana tidak tau apa yang sedang di pikirkan suaminya, namun Hana tau bahwa perasaan suaminya sekarang sedang tidak baik baik saja. Dan semua itu pasti ada kaitan-nya dengan masa lalu.
Hana meraih tangan besar Stefan membuat Stefan langsung menoleh dan menatapnya.
Hana tersenyum manis seakan mengatakan pada pria itu bahwa semuanya sudah baik baik saja. Dan senyuman manis Hana membuat Stefan mengangguk paham kemudian kembali mengukir senyuman di bibir tipisnya.
“Permisi nyonya, tuan.”
__ADS_1
Perhatian semua yang ada di ruang keluarga saat itu langsung teralihkan pada pelayan yang tiba tiba muncul dari balik pintu yang terbuka sedikit.
“Ya.. Ada apa mbak?” Tanya Hana dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
“Didepan ada dokter Rania dan tuan Alan juga keluarganya. Mereka mencari tuan dan nyonya.”
Kedua mata Hana melebar mendengar apa yang dikatakan oleh pelayan tersebut. Hana tidak menduga Alan dan keluarganya akan datang.
Stefan melirik Hana sesaat kemudian menghela napas. Sejujurnya sampai saat ini Stefan masih meyakini Alan masih memendam rasa pada Hana. Namun karena Stefan juga bersalah pada pria itu, Stefan tidak ingin egois dengan melarang Hana bertemu dengan Alan juga keluarganya.
“Ya.. Kami akan keluar sebentar lagi. Kamu buatkan minum dan berikan hidangan untuk mereka.” Jawab Stefan yang membuat Hana langsung menoleh padanya.
“Steff tapi..”
“Bukan-nya mengabaikan tamu yang datang itu bukan perbuatan yang baik?” Sela Stefan tanpa membalas tatapan Hana.
Hana diam. Tanpa harus bertanya pun Hana tau seperti apa perasaan suaminya sekarang.
“Mah, aku titip Theo sama Angel dulu ya.. Kita harus nemuin tamu kita soalnya.” Ujar Stefan menatap Sera yang hanya diam duduk di sofa di belakangnya.
Stefan diam sebentar sebelum akhirnya menganggukkan kepala mengizinkan untuk Sera juga Angel ikut serta bersamanya dan Hana menemui dokter Rania dan keluarga Alan.
Sementara Hana, dia tidak tau harus bagaimana sekarang. Satu sisi Hana sangat merindukan ibu Alan yang dulu memang sangat baik padanya. Tapi di sisi lain Hana takut Stefan akan salah paham dengan kedekatan-nya dan keluarga Alan.
“Ayo..” Ajak Stefan yang mau tidak mau membuat Hana harus ikut bangkit kemudian melangkah mengikuti Stefan menuju ruang tamu dimana dokter Rania dan keluarga Alan sedang menunggu mereka.
Hana berhenti melangkah begitu melihat ibu yang duduk diapit oleh Amira dan Aisha di atas sofa panjang dimana disana juga ada Alan dan dokter Rania yang duduk berjajar di sofa satunya lagi.
Sesaat Hana menahan napas kemudian menghembuskan-nya perlahan. Hana berharap tidak akan ada kesalah pahaman antara Alan dan Stefan, suaminya.
“Tenang sayang.. Semuanya akan baik baik saja.” Bisik Sera.
Hana menoleh pada Sera kemudian menganggukkan kepala dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Hana tau dirinya tidak sendiri. Ada Sera juga Angel bersamanya.
Hana kembali melangkah mengikuti Stefan yang sudah lebih dulu melangkah di depan-nya.
__ADS_1
Dokter Rania, Alan beserta keluarganya langsung bangkit dari duduknya begitu Stefan sampai didepan mereka.
“Stefan..” Senyum dokter Rania menyapa Stefan yang hanya diam saja dengan wajah datarnya.
Stefan menatap Alan yang tersenyum ramah padanya kemudian berganti menatap pada ibu, Amira juga Aisha.
“Selamat malam tuan. Maaf kalau kedatangan kami mengganggu. Kami hanya ingin bertemu dengan Hana juga mengucapkan selamat atas kelahiran putra kalian.” Kali ini ibu yang bersuara.
Stefan mengangguk pelan dengan senyuman tipis di wajahnya.
“Hem.. Silahkan duduk kembali.” Ujar Stefan kembali mempersilahkan dokter Rania, Alan, juga keluarganya untuk duduk.
“Terimakasih tuan.” Angguk pelan ibu Alan.
Detik berikutnya Hana muncul membuat ibu langsung berdiri kembali dari duduknya. Tanpa sedikitpun merasa ragu wanita itu melangkah melewati Amira dan mendekat pada Hana.
“Hana..” Lirihnya dengan suara bergetar menatap Hana dari atas sampai bawah.
Kedua mata Hana berkaca kaca menatap ibu Alan yang baginya sudah seperti ibunya sendiri. Hana langsung menyalimi wanita itu kemudian berhambur memeluknya erat.
“Ibu.. Hana kangen banget sama ibu..” Lirih Hana menangis di balik punggung ibu yang juga ikut menangis sambil membalas pelukan Hana.
Semua yang ada disitu tersenyum menatapnya kecuali Stefan. Pria itu bahkan sama sekali enggan menatap Hana berpelukan dengan ibu Alan.
Setelah meluapkan rasa rindunya, ibu Alan pun menyapa Sera dengan ramah begitu juga dengan Alan dan kedua adiknya. Angel bahkan langsung mengajak Aisha untuk bermain karena sebelumnya memang mereka pernah bertemu.
Mereka mengobrol hangat dan fokus pada Theo yang ada di gendongan Sera. Sementara Stefan, pria itu terus saja diam dengan wajah tanpa ekspresi.
“Ibu punya hadiah untuk Theo, memang tidak ada harganya. Tapi ibu harap kamu mau menerimanya.” Ujar ibu Alan di tengah obrolan mereka sambil menyodorkan kado yang dibawanya pada Hana.
Hana tersenyum manis dan dengan senang hati menerima kado tersebut. Hana bahkan langsung membukanya didepan semua orang yang ada disitu.
“Wah ini bagus banget bu, terimakasih ya bu. Maaf kalau Hana merepotkan.” Senyum Hana yang kemudian langsung memakaikan sepatu rajut pada kaki kecil Theo. Hana yakin, sepatu rajut itu adalah buatan tangan ibu Alan.
“Jangan bicara seperti itu nak.. Ibu yang sudah banyak berhutang sama kamu. Bahagia selalu ya sayang. Ibu sayang banget sama kamu Hana.” Tangis ibu yang kembali memeluk Hana.
__ADS_1
Hana hanya tersenyum dalam pelukan ibu Alan. Meski Hana tidak tau apa yang terjadi jika nanti keluarga Alan tau bahwa Stefan lah orang yang telah menabrak Alan malam itu.