ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 209


__ADS_3

Sore ini Stefan dan Hana berbaring diatas ranjang dengan putra tampan nan mungil mereka yang berada ditengah mereka berdua.


Hana masih tidak menyangka putranya akan begitu cepat lahir. Padahal sedikitpun dirinya dan Stefan belum menyiapkan apapun untuk putra mereka. Tentu saja karena mereka berdua berpikir bayi tampan itu akan lahir tepat sembilan bulan atau bisa saja lebih.


“Stefan.. Apa kamu sudah menyiapkan nama untuknya?” Tanya Hana pelan. Hana tidak ingin suaranya sampai mengusik tidur lelap buah hati tercintanya.


Baru saja Stefan hendak menjawab namun tiba tiba suara ketukan pintu terdengar. Stefan menghela napas kemudian bangkit dari berbaringnya.


“Sebentar Hana.” Katanya kemudian turun dari ranjang.


Stefan melangkah pelan menuju pintu kamar serba putih itu. Kamar yang memang tidak pernah lagi Stefan tempati sejak sang papah pergi untuk selamanya.


“Mamah..” Gumam Stefan pelan setelah membuka pintu kamarnya.


“Stefan, mamah mau pergi sebentar. Angel bilang dia ingin jalan jalan. Gabriel juga ikut.” Ujar Sera dengan senyuman dibibirnya.


“Biarkan body guard mengantar kalian.”


“Itu sudah pasti.”


“Ya sudah mamah pergi ya..”


“Ya mah, hati hati.” Angguk Stefan kemudian kembali menutup pintu kamarnya setelah Sera berlalu.


Stefan menghela napas pelan. Stefan sangat berharap tidak akan ada lagi sesuatu yang buruk setelah ini. Tapi meskipun begitu Stefan tetap tidak akan lengah karena keselamatan keluarganya adalah prioritas utama baginya.


Stefan memutar tubuhnya kemudian kembali mendekat pada Hana yang masih berbaring dengan posisi yang sama diatas ranjang. Namun kali ini Stefan tidak memposisikan dirinya disamping putra mereka melainkan disamping Hana.


“Sampai dimana kita tadi?” Tanya Stefan dengan sangat pelan.

__ADS_1


“Nama untuk anak kita. Apa kamu sudah menyiapkan-nya?”


Stefan diam sesaat. Stefan sama sekali belum memikirkan tentang nama untuk anaknya. Dan lagi lagi itu karena Stefan pikir putranya tidak akan keluar secepat sekarang. Itu membuat Stefan merasa masih mempunyai waktu untuk memikirkan-nya.


“Untuk nama aku benar benar minta maaf Hana. Aku sama sekali belum memikirkan-nya.” Jawab Stefan menatap Hana penuh sesal.


Hana tersenyum. Hana paham juga mengerti. Selain karena suaminya yang super sibuk, kecelakaan yang membuat putranya harus segera dikeluarkan dari kandungan-nya juga sangat tidak terduga.


“Baiklah, aku mengerti. Kita masih bisa memikirkan-nya nanti.” Senyum Hana.


Stefan ikut tersenyum. Hana nya telah kembali. Hana yang penuh pengertian meskipun terkadang juga menyebalkan dengan tingkat kejujuran-nya saat berbicara tentang Stefan.


“Terimakasih sudah mengerti.”


Hana hanya tersenyum saja. Hana mengeryit saat tiba tiba Stefan menyingkap dress yang dikenakan-nya sampai perut.


“Apa luka ini sakit?” Tanya Stefan lirih menatap bekas sayatan diperut Hana.


“Aku benar benar minta maaf Hana. Maaf karena aku sudah lalai dan ceroboh. Maaf aku tidak bisa menjaga kamu dengan baik.” Sesal Stefan menatap perut Hana kemudian beralih menatap wajah cantik alami Hana.


Hana diam. Bagi Hana segala apa yang terjadi dalam kehidupan memang sudah di atur oleh Tuhan. Dan sebagai manusia mereka hanya bisa menjalaninya dengan berusaha sebaik mungkin.


“Andai saja malam itu aku tidak sibuk dengan laptop ku mungkin kamu tidak akan jatuh di kamar mandi sayang. Mungkin kamu tidak akan kesakitan dan luka di perut kamu ini tidak akan ada..” Lanjut Stefan masih dengan suara lirihnya.


Hana menghela napas. Luka sayatan di perutnya memang sesekali terasa nyeri. Selain itu luka itu juga membatasi pergerakan Hana. Tapi sedikitpun Hana tidak pernah merasa itu adalah beban untuknya. Karena dengan melihat wajah damai putranya saja itu sudah cukup mengobati apa yang telah Hana rasakan.


“Tapi kalau aku tidak jatuh dikamar mandi malam itu terus aku tidak di operasi mungkin kita tidak bisa secepat ini bertemu dengan putra kita Stefan. Aku tidak pernah sedikitpun menganggap semua yang aku rasakan adalah beban. Aku ini perempuan. Aku seorang mommy. Aku juga adalah istri dari seorang tuan Stefan Devandra. Jadi aku harus kuat untuk menyeimbangi kamu. Tidak perlu merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi. Yang paling penting adalah bagaimana caranya kita menjaga semua ini kedepan-nya Stefan.” Ujar Hana panjang lebar.


Stefan menatap dalam pada Hana yang berbaring disampingnya. Pria itu memposisikan dirinya duduk disamping tubuh Hana yang berbaring terlentang diatas tempat tidur. Pemikiran Hana begitu bijak dan dewasa. Pemikiran yang mungkin tidak di miliki oleh semua wanita, begitu pikir Stefan.

__ADS_1


“Kamu tau Stefan, saat perasaan cinta untuk kamu muncul kemudian tumbuh begitu subur di hati aku, saat itulah aku bertekad akan melalui semuanya. Tidak perduli sakit ataupun tidak. Asal kamu tetap setia dan mau menerima aku dengan segala kekurangan yang aku punya, aku yakin aku bisa menjalani semuanya.”


Perlahan Stefan menurunkan wajahnya mendekat pada Hana yang hanya diam dengan posisi terlentangnya. Tatapan dalam Stefan membuat Hana tidak bisa berpaling dari kedua bola mata coklat bening itu.


“Dengar baik baik Hana.” Lirih Stefan membuat Hana mengeryit bingung.


“Kamu sudah berhasil menguasai hati dan pikiranku. Jiwa dan ragaku tidak akan terasa lengkap tanpa kamu disampingku. Aku bersumpah tidak akan melepaskan kamu apapun yang terjadi. Masalah apapun yang akan menghampiri hubungan kita nanti aku tidak akan sedikitpun membiarkan kamu jauh dari pandangan mataku.” Bisik Stefan dengan wajah yang begitu dekat dengan wajah Hana. Bahkan Hana sampai bisa merasakan hangatnya napas Stefan yang menerpa wajah cantiknya.


“Stefan..”


Cup


Ciuman Stefan menyela apa yang ingin Hana katakan. Pria itu seolah tidak mengizinkan Hana mengatakan apapun saat ini.


Ciuman Stefan semakin dalam namun tetap sangat lembut dan hati hati. Stefan juga sesekali melepasnya agar Hana tidak kesulitan untuk mengambil napas.


Tangisan putra mereka membuat Stefan langsung melepaskan ciuman-nya pada Hana. Pria itu juga menurunkan kembali dress yang Hana kenakan, menutupi luka bekas operasi di perut Hana.


“Mungkin dia lapar sayang..” Ujar Stefan.


“Sepertinya begitu.” Balas Hana setuju.


Tidak mau putranya semakin kencang menangis, Stefan pun segera menyuruh agar Hana memberikan asinya.


“Ya Tuhan.. Perasaan ini membuatku merasa sangat bahagia. Tapi aku juga merasa hampir gila karena rasa takut akan rahasia yang belum aku katakan dengan jujur pada Hana. Tentang kecelakaan yang menimpa Alan malam itu. Dan tentang aku yang adalah orang yang menabrak Alan.” Batin Stefan menatap Hana yang sedang berbaring miring sambil menyusui putra mereka.


Rasa takut akan Hana pergi darinya selalu saja muncul disaat mereka hanya sedang berdua saja. Stefan tidak bisa membayangkan jika sampai Hana kecewa padanya kemudian pergi meninggalkan-nya dan kembali bersama dengan Alan.


“Enggak, aku nggak akan biarin itu terjadi. Apapun yang terjadi Hana akan tetap menjadi milikku.” Stefan kembali membatin.

__ADS_1


__ADS_2