
Stefan langsung meninggalkan meeting yang sedang berlangsung begitu Rico datang dan mengatakan bahwa Angel sudah mendapatkan donor darah yang cocok. Sebelumnya Rico sudah berkali kali menelepon Stefan. Namun karena Stefan tidak kunjung mengangkat telepon darinya Rico memilih untuk langsung menghampiri Stefan dan mengatakan semuanya secara langsung.
Stefan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit. Pria itu tidak tau apa maksud Alan yang tiba tiba datang dan mendonorkan darahnya pada Angel. Sedang Stefan sendiri tau Alan mencintai Hana. Stefan khawatir Alan mempunyai maksud dan tujuan tertentu.
Stefan berdecak saat terjebak macet di antara mobil mobil lain-nya. Merasa kesal, pria itu berkali kali membunyikan klakson mobilnya. Stefan benar benar tidak rela jika sampai pertolongan Alan pada Angel akan menghancurkan segala yang sudah dengan susah payah Stefan bangun. Yaitu kebersamaan-nya dengan Hana juga Angel.
Setelah lolos dari kemacetan, Stefan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan maximal hingga akhirnya Stefan sampai di parkiran rumah sakit dalam waktu singkat.
Stefan turun dari mobilnya kemudian berlari masuk kedalam rumah sakit. Detak jantung Stefan terus berdetak dengan sangat kencang selama melangkah di koridor rumah sakit menuju ruang ICU dimana disana ada Hana dan dokter Rania yang sedang duduk bersama.
“Mana laki laki itu?” Tanya Stefan membuat dokter Rania dan Hana langsung menatap kearahnya.
Hana dan dokter Rania saling menatap kemudian bangkit dari duduknya dengan kompak.
“Apa maksud kamu Stefan?” Tanya Hana tidak tau apa maksud Stefan yang tiba tiba menanyakan laki laki yang Hana sendiri tidak tau siapa.
Sementara dokter Rania, tentu saja dia tau apa yang Stefan maksud. Namun dokter Rania memilih diam saja.
“Alan. Mana dia? Dan apa maksudnya mendonorkan darah pada Angel tanpa sepengetahuanku?” Tanya Stefan menatap Hana dan dokter Rania bergantian dengan tatapan tajamnya.
Hana menyipitkan kedua matanya. Hana yakin yang memberitahukan tentang pendonoran darah itu pasti adalah Rico.
“Stefan, harusnya kamu berterimakasih sama Alan. Bukan malah marah marah tidak jelas seperti ini. Berkat Alan sekarang Angel mendapatkan darah itu. Kenapa kamu malah marah marah tidak jelas seperti ini?”
Stefan melengos menghindari kontak mata dengan Hana. Sampai sekarang sepertinya Hana tidak tau bahwa Alan menyimpan rasa padanya.
“Sejak Angel kecelakaan kita mencari donor darah untuk Angel dan tidak kunjung menemukan darah yang cocok. Tapi sekarang begitu sudah ada yang mendonorkan darah yang cocok kamu malah seperti ini. Mau kamu apa si sebenarnya?”
Stefan diam. Dia tidak ingin berdebat dengan Hana. Yang jelas Stefan yakin Alan pasti punya tujuan tertentu melakukan itu.
__ADS_1
“Rania..” Stefan menatap dokter Rania dengan tatapan datarnya mengabaikan apa yang Hana katakan.
“Mana Alan?” Tanya Stefan pelan.
Hana menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan apa yang sedang berada di dalam kepala suaminya itu.
Sementara dokter Rania, dia tidak langsung menjawab. Dokter Rania melirik Hana lebih dulu sebelum membalas tatapan datar Stefan padanya.
“Alan sudah pulang. Setelah darahnya di ambil dia meminta untuk di antar pulang.” Jawab dokter Rania yang membuat Hana juga langsung menatapnya.
Stefan menghela napas. Pria itu kemudian berlalu begitu saja setelah mendengar jawaban dari dokter Rania. Stefan berniat menuju kediaman dokter Rania untuk menemui Alan disana.
“Ya Tuhan, Stefan..”
Dokter Rania langsung menahan Hana yang hendak mengejar Stefan saat itu. Dokter cantik itu mencekal lengan Hana yang sudah melangkah hendak mengejar Stefan.
“Aku harus mencegah Stefan dokter.. Aku tidak mau ada kesalah pahaman antara Stefan dan Alan..” Ujar Hana menatap dokter Rania yang menahan-nya.
“Tidak akan ada apa apa Hana. Percayalah. Biarkan Stefan dan Alan berbicara sesama laki laki.”
Hana menelan ludah menatap tidak mengerti pada dokter Rania. Stefan gampang sekali marah dan tersinggung dengan ucapan orang lain. Hana takut Alan sampai menyinggung perasaan suaminya yang pasti akan membuat Stefan kalap dan melakukan sesuatu yang tidak di inginkan.
“Tapi dokter..”
“Hana.. Cobalah berpikir positif. Stefan adalah laki laki yang baik. Bukan begitu?” Sela dokter Rania bertanya dengan sangat pelan pada Hana.
Hana menghela napas kemudian menganggukkan kepalanya. Hana tidak mengerti kenapa Stefan malah marah setelah ada pendonor yang cocok untuk Angel. Padahal seharusnya pria itu bahagia dan berterimakasih pada pendonor darah itu yang tidak lain adalah Alan.
“Ada apa ini? Kenapa ribut ribut?”
__ADS_1
Suara Sera membuat Hana dan dokter Rania langsung menoleh. Mereka berdua saling menatap sesaat kemudian tersenyum pada Sera yang menatap mereka bergantian.
“Mana Stefan? Tadi seperti ada suara Stefan.” Tanya Sera lagi.
“Eemm.. Stefan sedang ada urusan sebentar dan mendadak katanya mah. Nanti dia kesini lagi untuk melihat Angel.” Jawab Hana sekenanya.
Sera menghela napas dan menganggukkan kepalanya paham. Pekerjaan Stefan memang tidak bisa begitu saja di abaikan. Pria itu memiliki segudang kesibukan yang tentu tidak bisa begitu saja di tinggalkan karena itu menyangkut kemajuan perusahaan yang di pimpin-nya.
Sera melangkah mendekat pada dokter Rania. Wanita itu meraih kedua tangan dokter Rania dan menggenggamnya erat namun tetap dengan lembut.
“Tante tidak tau harus mengatakan apa sekarang sama kamu Rania. Rasanya ucapan terimakasih saja tidak cukup untuk mewakili perasaan tante juga apa yang kamu lakukan pada Angel hari ini. Tapi terimakasih untuk semuanya. Terimakasih untuk darah yang sudah kamu donorkan pada Angel. Itu sangat membantu Rania. Kamu menyelamatkan Angel.” Ujar Sera lirih menatap dokter cantik itu.
Dokter Rania tersenyum kemudian menggelengkan pelan kepalanya.
“Tante.. Bukan aku yang mendonorkan darah untuk Angel. Tapi Alan. Kebetulan darahnya sama dengan darah Angel sehingga dia berinisiatif ingin membantu.” Balas dokter Rania membuat Sera mengeryit.
“Alan?” Tanya Sera tidak mengerti.
“Ya.. Dia temen aku, teman Hana dan Stefan juga.”
Sera kemudian menatap Hana yang tersenyum dan menganggukkan pelan kepalanya.
“Lalu dimana Alan sekarang?” Tanya Sera kembali menatap pada dokter Rania.
“Dia sudah pulang tante. Setelah pengambilan darah dia mengeluh lemas dan sedikit pusing makan-nya dia memutuskan untuk pulang.”
Sera menganggukkan pelan kepalanya. Namun sedetik berikutnya senyuman kembali menghiasi bibirnya.
“Tapi bagaimanapun juga tante tetap berterimakasih sama kamu Rania. Berkat kamu yang mengajak Alan kesini sehingga Angel bisa dengan cepat mendapatkan donor darah yang cocok.”
__ADS_1
Hana tersenyum mendengarnya. Hana yakin Alan memang tulus membantunya dan Stefan. Apa lagi Alan juga pasti merasa berhutang dengan apa yang Stefan lakukan padanya selama ini.
“Aku yakin apa yang kamu lakukan ini tulus Alan. Aku berharap Stefan mengerti dan tidak salah mengartikan pertolongan kamu ini.” Batin Hana.