ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 246


__ADS_3

Berbeda dengan Hana dan Stefan yang semakin romantis, Alan juga dokter Rania justru semakin berjarak sejak sore itu. Alan juga tidak menuruti apa yang dikatakan oleh ibunya untuk menemui dokter Rania kemudian meminta maaf pada dokter cantik itu atas kesalahan-nya karena sudah menganggap dokter cantik itu membohonginya bahkan bersekongkol dengan Stefan untuk menutupi segalanya dari Alan tentang peristiwa kecelakaan yang Alan alami malam itu.


Alan menghela napas. Beberapa hari ini dirinya benar benar tidak fokus mengerjakan pekerjaan-nya di kantor. Alan bahkan beberapa kali mendapat teguran langsung dari pemilik perusahaan.


“Kak..”


Panggilan Veby sama sekali tidak di dengar oleh Alan yang asik melamun memikirkan masalahnya. Pria itu terus saja menatap kearah layar laptopnya namun juga tidak fokus mengoreksi laporan yang dibuatnya sendiri.


Veby berdecak. Alan memang terlihat sangat tidak semangat beberapa hari ini. Alan bahkan sering mengabaikan makan siangnya dan memilih untuk berdiam diri dimeja kerjanya seorang diri.


“Kak...” Veby kemudian menepuk pelan bahu Alan membuat sang empunya terkejut kemudian langsung menoleh padanya.


“Eh kamu Veb, ada apa?” Senyum Alan begitu menyadari kehadiran Veby disampingnya. Pria itu tersenyum menatap Veby yang masih menatapnya dengan tatapan bingung.


“Kak Alan lagi ada masalah ya?” Tanya Veby kemudian.


Alan terdiam sesaat. Alan merasa tidak perlu menceritakan apapun pada siapapun karena Alan yakin semuanya akan berbalik menyalahkan-nya jika tau Stefan yang memang sudah bertanggung jawab dan menjamin yang terbaik untuk keluarganya.


“Eh enggak kok. Siapa bilang?”


Veby menghela napas kemudian menarik kursi kosong di samping meja kerja Alan. Wanita itu menatap Alan serius membuat Alan sesekali menundukan kepala takut Veby bisa membaca pancaran kedua matanya.

__ADS_1


“Jangan bohong kak. Kak Alan nggak biasanya loh begini. Kakak bahkan sampai kena tegur bos secara langsung karena kesalahan dalam membuat laporan. Dan juga kakak sering terlihat diam dan melamun sendiri. Kalau ada masalah baiknya di ceritakan kak.. Aku siap kok dengerin cerita kakak. Siapa tau aku juga bisa membantu. Ya kan?”


Alan tertawa pelan mendengarnya. Alan yakin tidak ada siapapun yang bisa membantunya menghadapi seorang Stefan Devandra karena memang tidak mungkin ada orang yang mau mencari mati dengan membantunya menghadapi Stefan.


“Aku nggak papa kok Veb. Aku baik baik saja. Aku juga nggak punya masalah apa apa. Kamu nggak usah khawatir.”


Veby mendesah merasa tidak habis pikir dengan Alan yang tetap berusaha menutupi masalahnya padahal hampir semua teman teman sekantor juga terus menebak nebak karena sikap tidak biasa Alan yang begitu terlihat mendadak.


“Kita ini sudah lama berteman loh kak. Masa kak Alan nggak percaya sama aku? ceritalah kak kalau ada masalah..”


Veby menatap Alan dengan tatapan sendunya membuat Alan akhirnya berpikir bahwa mungkin dirinya juga memerlukan masukan dari orang luar tentang permasalahan yang menguras pikiran juga menekan batin-nya.


“Eh tunggu tunggu. Jangan ngomong dulu kak. Mending kak Alan ceritanya sambil kita makan siang saja bagaimana?” Sela Veby dengan cepat.


Alan mengeryit namun akhirnya menganggukkan kepalanya. Keduanya kemudian sama sama keluar dari perusahaan untuk mencari tempat makan terdekat.


“Jadi gimana kak?” Tanya Veby setelah mereka berdua duduk dimeja paling pojok di restoran dekat perusahaan tempat mereka berdua bekerja.


Alan menghela napas. Alan sendiri tidak tau kenapa sulit sekali baginya menerima kenyataan yang ada.


“Kamu tau kan aku dulu pernah kecelakaan kemudian koma yang akhirnya membuat aku berhenti bekerja.”

__ADS_1


Veby menganggukkan kepalanya. Veby juga sempat menjenguk saat Alan selesai di operasi dulu.


“Jadi sekarang aku sudah tau siapa orang yang nabrak aku waktu itu Veb. Bahkan orang paling dekat dan paling aku percaya juga tau sejak dulu. Tapi dia menutupinya dari aku dan baru memberitahu aku. Yang membuat aku sangat kecewa adalah dia juga meminta aku untuk memaklumi apa yang sudah menimpa aku karena si penabrak sudah bertanggung jawab. Dia membiayai semua pengobatan aku. Dia juga memberikan segala yang terbaik untuk ibu juga kedua adikku. Lebih parahnya lagi si penabrak itu juga merebut satu satunya orang yang pernah sangat aku cintai Veb. Aku nggak tau harus bagaimana. Sedangkan keluarga juga meminta untuk aku maklum dan menganggap semua sudah kehendak Tuhan. Sementara aku sendiri untuk melawan rasanya sangat tidak mungkin karena orang yang menabrak aku mempunyai segala yang tidak aku miliki.”


“Maksud kakak harta?” Tanya Veby yang langsung mendapat anggukan kepala dari Alan.


“Memangnya orang yang menabrak kakak itu jahat banget yah?”


Alan diam. Alan dulu menganggap Stefan sebagai orang baik yang mungkin menjadi perantara dari Tuhan untuk menolongnya meskipun Alan harus kehilangan Hana.


“Apa orang itu juga tetap tidak mau mengakui bahwa dia yang menabrak kakak setelah kakak tau semuanya?” Veby kembali melontarkan pertanyaan.


“Dia mengakuinya saat aku datang dan memukulnya. Dia juga diam dan tidak membalas saat aku memukulnya. Bahkan dia datang ke perusahaan tempat kita secara langsung untuk minta maaf. Awalnya aku memang menganggap dia orang yang baik meskipun dia terlihat kaku dan dingin. Tapi setelah aku tau semuanya, aku berubah pikiran karena dia memang iblis yang begitu licik.”


Veby menghela napas. Mendengar cerita Alan, Veby langsung bisa menyimpulkan bahwa apa yang menimpa Alan juga disertai oleh kesalah pahaman yang Veby sendiri juga tidak tau dimana letaknya. Tentu saja karena Alan tidak menceritakan siapa siapa yang terlibat dalam ceritanya itu.


“Kak.. Kadang untuk menyikapi masalah kita nggak hanya harus menggunakan pikiran dan hati. Kita juga harus menggunakan keyakinan kita pada Tuhan. Aku tidak tau siapa siapa saja yang kakak maksud. Tapi menurutku mungkin apa yang dilakukan oleh orang yang kakak percaya itu ada niat baik didalamnya. Apa lagi jika menilik semua perubahan baik yang kita alami setelah kejadian yang menimpa kita. Entah itu kejadian buruk ataupun sebaliknya. Kadang memang untuk memberikan sesuatu yang baru dan baik pada hambanya Tuhan menghendaki ujian yang begitu berat. Kakak pernah dengar tidak, kata orang bijak sabar itu memang pahit. Tapi buahnya sangat manis.” Ujar Veby dengan senyuman manis di bibirnya.


Alan bungkam mendengar apa yang Veby katakan. Seketika bayangan saat dokter Rania pamit dan melewatinya saat sedang bertamu di rumahnya sore itu langsung muncul kembali. Perasaan bersalah di hati Alan juga muncul seiring dengan munculnya bayangan dokter Rania yang keluar dari rumahnya kemudian menjauh menuju mobilnya. Alan menyesal karena langsung memandang dokter cantik itu buruk setelah semua yang dia lakukan dengan merawatnya. Apa lagi Alan juga menuduhnya menutupi semuanya karena di bayar oleh Stefan.


Setelah mendengar apa yang Veby katakan, Alan langsung izin untuk pulang cepat dengan alasan ada urusan mendesak yang tidak bisa di tunda. Alan ingin menemui dokter Rania dirumah sakit dan meminta maaf atas segala ucapan yang dia katakan yang menyakiti hati dokter cantik itu siang ini juga.

__ADS_1


__ADS_2