
Dokter Rania mengajak Alan untuk sama sama menjenguk Angel kerumah sakit. Meskipun wanita cantik itu sempat kesusahan saat akan membantu Alan turun dari lantai dua rumahnya. Dan berkat bantuan pak satpam serta asisten rumah tangga dirumahnya akhirnya dokter Rania bisa membawa Alan turun dari lantai dua.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, tidak ada obrolan apapun antara keduanya. Baik dokter Rania maupun Alan, keduanya sama sama fokus dengan pemikiran-nya masing masing.
“Dokter..” Panggil Alan pada dokter Rania yang sedang fokus dengan kemudinya.
“Ya.. Ada apa?” Tanya dokter Rania menatap sekilas pada Alan yang duduk disamping kemudinya.
“Kalau nanti darahku cocok, aku mau mendonorkan darahku untuk Angel. Aku ingin membantu juga.” Ujar Alan dengan senyuman di bibirnya.
Dokter Rania mengeryit. Sampai saat ini memang belum ada donor darah yang cocok dengan Angel.
“Apa kamu yakin?” Tanya dokter Rania merasa ragu dengan apa yang Alan katakan.
“Kenapa tidak? tuan Stefan sudah sangat baik padaku selama ini. Aku hanya ingin sedikit membalas kebaikan yang sudah tuan Stefan berikan padaku.” Jawab Alan menatap dokter Rania dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya.
Dokter Rania menganggukkan kepalanya. Wanita itu juga setuju kalau memang niat Alan benar benar ingin membantu tanpa ada niat lain yang terselubung.
“Ya sudah kalau kamu memang berniat untuk membantu. Semoga saja cocok ya..”
Alan menganggukkan kepalanya. Pria itu menghela napas. Meskipun memang Stefan membantunya dengan syarat agar Hana mau bersamanya, tapi bagaimanapun juga apa yang Stefan lakukan pada keluarganya sudah sangat membantu. Apa lagi Hana juga bahagia bersama Stefan. Alan merasa Stefan sudah sangat membantunya membahagiakan orang yang Alan cintai meskipun pada kenyataan-nya Alan juga harus merasa kecewa dan terluka karena kehilangan Hana yang sangat di cintainya.
“Ya dokter..”
Alan menghela napas. Pria itu benar benar berharap dirinya bisa membantu walaupun sedikit.
Begitu sampai didepan rumah sakit, dokter Rania meminta bantuan pada satpam disana untuk membantu memapah Alan keluar dari mobil kemudian mendudukkan-nya di kursi roda. Setelah itu dokter Rania mengucapkan terimakasih dan mendorong kursi roda Alan masuk kedalam rumah sakit tempat Angel di rawat sekarang.
“Dokter, kalau boleh aku tau memangnya kapan Angel kecelakaan?” Tanya Alan saat mereka sedang berada didalam lift menuju lantai dimana ruang ICU tempat Angel berada.
“Kecelakaan-nya sudah dari kemarin. Sekitar dua hari yang lalu lah. Dan aku baru mendengarnya tadi pagi itupun saat aku menyalakan tv.” Jawab dokter Rania menjelaskan.
__ADS_1
Alan mengangguk anggukkan kepalanya. Tidak heran jika kabar kecelakaan anak Stefan sampai ke publik mengingat siapa dan bagaimana Stefan.
“Lalu apa berita tentang pencarian donor darahnya juga di publikasikan?” Tanya Alan lagi.
“Tentu saja. Mengingat golongan darah Angel yang memang sangat jarang dan langka.”
“Kenapa tidak tuan Stefan saja yang mendonorkan darahnya?”
Dokter Rania menghela napas kemudian tersenyum.
“Mungkin golongan darah Angel tidak sama dengan Stefan. Mungkin sama dengan mendiang istri pertama Stefan, Lusi.”
Alan menghela napas kemudian menganggukkan kepalanya mengerti.
Detik berikutnya, pintu lift otomatis terbuka karena mereka berdua memang sudah sampai dilantai dimana ruang ICU berada.
Dokter Rania kembali mendorong kursi roda Alan. Mereka mendekat pada Rico yang duduk di luar ruang ICU sambil memainkan ponselnya.
“Dokter, selamat siang dokter. Tuan Alan..”
Dokter Rania tersenyum menganggukkan kepalanya.
“Panggil saja aku Alan, tidak usah pake embel embel tuan, Rico.” Ujar Alan.
Rico menganggukkan kepala dengan senyuman dibibirnya. Pria dengan setelan jas hitam itu memang di perintahkan langsung oleh Stefan untuk berjaga di depan ruang ICU karena didalam ada Hana dan Sera yang sedang menemani Angel yang memang belum kunjung siuman sejak kemarin.
“Emm.. Dokter, bagaimana kalau kita langsung saja cek darah. Siapa tau darahku bisa untuk di donorkan pada Angel.”
Rico mengeryit mendengarnya. Pria itu memang belum menemukan pendonor yang cocok untuk Angel. Hal itu membuat Stefan terus marah marah bahkan selalu mengamuk tidak jelas pada setiap karyawan di perusahaan dua hari ini.
Dokter Rania kemudian menatap pada Rico.
__ADS_1
“Apa kamu juga belum menemukan pendonor untuk Angel Rico?” Tanya dokter Rania pada Rico.
Alan ikut menatap Rico menunggu jawaban atas pertanyaan yang di lontarkan dokter Rania pada orang kepercayaan Stefan itu.
“Sampai saat ini belum dokter.” Jawabnya dengan helaan napas berat.
“Baiklah kalau begitu. Alan kita keruangan dokter sekarang.”
Alan hanya menganggukkan kepalanya. Pria itu benar benar berniat tulus dari hatinya ingin membantu Stefan dengan mendonorkan darahnya pada Angel. Itupun kalau cocok.
Dokter Rania kemudian langsung mengajak Alan untuk mengecek darahnya apakah cocok untuk di donorkan pada Angel atau tidak. Dan ternyata darah Alan memang cocok dengan darah Angel.
Tanpa membuang waktu, Alan segera mendonorkan darahnya pada Angel tentunya setelah di periksa lebih dulu.
Siang itu juga Angel mendapatkan donor darah yang cocok dari Alan. Sera dan Hana menangis sambil berpelukan bersyukur karena akhirnya Angel mendapatkan donor darah yang cocok.
“Terimakasih atas bantuan-nya dokter. Aku tidak tau harus bagaimana membalasnya. Tapi apa yang dokter lakukan dengan mendonorkan darah untuk Angel benar benar sangat membantu kami yang sedang sangat membutuhkan.” Ujar Hana pada dokter Rania setelah Angel berhasil mendapat donor darah berkat bantuan dari dokter cantik itu.
Dokter Rania tersenyum mendengarnya. Wanita itu juga tidak menyangka jika ternyata darah Alan sama dengan darah Angel.
“Hana.. Kamu tidak perlu berterimakasih padaku. Karena sebenarnya bukan aku yang mendonorkan darah untuk Angel.”
Hana mengeryit menatap tidak mengerti pada dokter cantik yang adalah teman Stefan, suaminya.
“Maksudnya yang mendonorkan darah untuk Angel itu orang lain?” Tanya Hana penasaran.
Dokter Rania tersenyum dan menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Hana. Alan memang langsung minta diantar pulang setelah darahnya di ambil. Pria itu beralasan merasa sedikit pusing dan butuh istirahat sehingga dokter Rania tidak bisa mencegah dan memilih untuk mengantar kembali pulang Alan kerumahnya. Dan setelah mengantar Alan pulang, dokter Rania kembali kerumah sakit untuk memastikan pendonoran darah itu benar benar sukses tanpa ada hambatan apapun.
“Siapa dokter? Siapa yang mendonorkan darah untuk Angel? Lalu dimana dia sekarang? Aku ingin berterimakasih sama dia.”
Dokter Rania menghela napas. Alan sepertinya memang sengaja menghindari pertemuan dengan Hana. Namun pria itu juga tidak mengatakan apapun pada dokter Rania yang artinya baik Hana, Stefan, maupun Sera boleh tau bahwa Alan lah yang sudah mendonorkan darahnya untuk Angel.
__ADS_1
“Yang mendonorkan darah untuk Angel adalah Alan Hana.” Jawab dokter Rania membuat Hana langsung menutup mulutnya yang terbuka karena keterkejutan-nya.