ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 296


__ADS_3

Berita itu tidak hanya di ketahui oleh Stefan saja. Tapi Alan, dokter Rania juga Amira. Bahkan semua orang pun sudah melihat berita tersebut.


“Jadi kakak kamu..”


“Ck, enggak.. Itu cuma salah paham.” Sela Tristan dengan decakan kesal.


Amira mengeryit. Berita itu menyertakan video saat Rico bersikap begitu manis pada Williana. Bahkan disana juga ada Tristan yang menyaksikan secara langsung.


“Tapi disana ada kamu kok..”


“Huh, udahlah Amira.. Yang jelas kakak aku itu nggak ada hubungan apa apa sama Rico. Lagian mana mau sih kakak aku sama dia. Nggak selevel tau nggak.” Ketus Tristan. Tristan memang sedang sangat kesal pada Rico karena Rico yang tidak mau di ajak bekerja sama.


“Apa? Nggak se level?” Tanya Amira yang langsung berubah ekspresi begitu mendengar kata tidak selevel yang keluar dari bibir Tristan. Amira juga menekan kata “Nggak se level” yang membuat Tristan langsung tersadar.


“Hem Amira maksud aku..”


“Eh Tristan aku sama kamu juga nggak selevel tuh. Aku cuma anak dari orang yang nggak punya apa apa. Sedangkan kamu, kamu anak orang kaya. Kamu bisa membeli apapun yang kamu tanpa harus bekerja keras kaya aku.” Amira mulai ngotot. Gadis itu merasa tersinggung dengan apa yang Tristan katakan.


“Ya ampun Amira.. Kok jadi marah marah sih. Maksud aku itu bukan begitu. Lagian kan kita lagi ngomongin Rico sama kakak aku. Kenapa malah jadi merembet ke kita sih?”


Amira melengos. Kesal sekali mendengar ucapan sombong Tristan.


“Kamu sama aja kaya kakak kamu. Kamu sombong.” Ketus Amira kemudian berlalu meninggalkan Tristan yang sedang menghitung barang apa saja yang perlu di beli oleh pak Ang.


“Hhh.. Kok jadi dia yang marah sih? Nggak tau apa aku lagi kesel banget sama si Rico itu. Dasar cewek. Maunya menang sendiri.” Gerutu Tristan kesal.


Sampai jam pulang kerja Amira terus mendiamkan Tristan. Amira bahkan memesan ojek online dan menolak di antar pulang oleh Tristan.


“Kamu pulang sama aku Amira..” Ujar Tristan mencegah saat Amira hendak naik ke boncengan ojek online yang di pesan-nya.


“Apaan sih? Lepasin. Aku sama kamu itu nggak se level.” Balas Amira menghempaskan tangan-nya di cekal oleh Tristan.


Tristan tidak berdaya. Pemuda itu akhirnya membiarkan saja Amira pulang dengan ojek online tersebut. Tristan sadar ucapan-nya memang sudah sangat salah. Tidak seharusnya Tristan membandingkan derajat kakaknya dan Rico di depan Amira. Apa lagi sampai mengatakan hal yang tidak pantas hanya karena merasa kesal pada Rico yang menolak tawaran-nya untuk bekerja sama.


“Ya ampun.. Bodoh banget sih aku..” Gumam Tristan mengusap kasar wajah tampan-nya sendiri merasa frustasi karena Amira yang marah padanya.

__ADS_1


-----------


Di tempat lain tepatnya di kediaman sederhana Alan, Alan dan dokter Rania juga sedang membahas berita yang sedang hangat itu.


“Memangnya nona Williana itu sangat tergila gila sama tuan Stefan yah?” Tanya Alan yang mendapat anggukan dari dokter Rania.


“Ya, setahu aku sih begitu. Tapi Stefan nggak pernah merespon. Dan hebatnya Williana itu terus saja berusaha meskipun tau Stefan sudah menikah dengan Lusi bahkan sampai sekarang dengan Hana. Tapi kok bisa gitu tiba tiba ada berita Williana punya hubungan sama Rico. Pake ada Videonya segala lagi.”


Alan tertawa geli mendengar kekasihnya yang malah ngoceh panjang lebar.


“Iya deh iya yang tau semuanya tentang tuan Stefan Devandra.”


Dokter Rania berdecak.


“Aku nggak bilang tahu semua ya. Aku cuma bilang setahu aku. Kamu mah..” Dokter cantik itu mengerucutkan bibirnya karena Alan yang meledeknya.


“Iihh.. gemes banget kalau begini.” Alan mencubit gemas kedua pipi dokter Rania membuat si empunya meringis.


“Iihh.. Alan, sakit tau.” Keluh dokter Rania dengan ekspresi kesakitan yang membuat Alan merasa tidak tega.


“Ya ampun.. Maaf maaf sayang..” Sesal Alan.


Untuk sesaat keduanya saling menatap satu sama lain. Keduanya juga saling mengagumi satu sama lain dalam diam hingga suara deru mesin motor membuat keduanya tersadar kemudian langsung menoleh.


Alan dan dokter Rania mengeryit melihat Amira yang pulang tidak dengan Tristan sore ini. Amira pulang dengan mengendarai ojek online.


“Tumben banget nggak sama Tristan.” Gumam Alan bingung.


Alan kemudian bangkit dari duduknya di ikuti oleh dokter Rania untuk mencegat langkah Amira yang sedang melangkah menuju pintu utama kediaman-nya.


“Kak..” Senyum Amira terpaksa sambil menyalimi Alan dan dokter Rania. Amira tidak ingin tau apa yang sedang di rasakan-nya sekarang.


“Tumben banget kamu naik ojek dek, Tristan-nya mana?” Tanya Alan bingung.


Amira tidak langsung menjawab. Gadis itu berusaha memutar otak untuk menjawab pertanyaan Alan tanpa harus berbohong.

__ADS_1


“Tristan masih di tokonya pak Ang kak. Aku sengaja pulang duluan.” Jawab Amira.


Tristan mengangkat sebelah alisnya. Tidak biasanya Tristan membiarkan Amira pulang sendiri.


“Ya udah kak, aku capek banget nih. Aku masuk ya kak..” Senyum Amira kemudian melewati Alan dan dokter Rania dengan sopan masuk ke dalam rumah.


Alan terus menatap punggung Amira. Pria itu tau bagaimana adiknya saat sedang dalam keadaan hati yang tidak baik.


“Aku tebak Amira sedang ada masalah dengan Tristan.” Senyum dokter Rania merasa geli.


“Yah.. Namanya juga hubungan kan? Pasti ada masalahnya.” Tawa pelan Alan menggelengkan kepalanya.


----------


Di lain tempat, tepatnya di perusahaan Stefan.


Rico duduk di kursi di depan meja kerja Stefan. Pria itu beberapa kali menghela napas karena takut Stefan marah padanya.


“Jadi, bisa kamu jelaskan maksud berita yang sejak semalam berhembus itu Rico? di depan bahkan banyak wartawan yang menunggu klarifikasi kamu.” Ujar Stefan yang menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dengan santai.


Rico memejamkan sesaat kedua matanya.


“Maaf kalau saya membuat kehebohan tuan atas munculnya berita itu. Tapi saya sendiri juga sudah menduga hal ini sudah terjadi.” Rico mulai menjelaskan.


“Maksud kamu?” Tanya Stefan tidak mengerti.


Rico menelan ludah. Rico berharap caranya tidak salah.


“Jadi sebenarnya nona Williana tau saya mengikutinya beberapa hari ini tuan. Dan nona Williana menegur saya di depan banyak orang. Saya berpikir kalau sampai nona Williana menyebut nama anda, otomatis nama anda pasti akan terseret. Maka dari itu saya berusaha untuk menutupinya dengan berpura pura bersikap lembut seolah saya dekat dengan nona Williana tuan. Maafkan kesalahan saya karena membuat heboh dengan adanya berita tersebut.” Jawab Rico menjelaskan.


Stefan diam sesaat. Rico berusaha melindungi nama baiknya.


“Lalu bagaimana dengan hasil pengawasan kamu? Apa ada yang mencurigakan?” Tanya Stefan lagi.


“Tidak ada tuan. Nona Williana beraktivitas seperti biasanya dan tidak sama sekali merencanakan sesuatu.” Rico kembali menjawab.

__ADS_1


Stefan menganggukkan pelan kepalanya. Bangga sekali rasanya memiliki orang yang bisa di percaya seperti Rico.


“Tapi Rico saya lihat kalian berdua memang cocok.” Goda Stefan yang membuat Rico melongo tidak percaya. Bagaimana mungkin bos besarnya mengatakan hal seperti itu. Sedangkan Rico, jika di dunia hanya ada satu wanita yaitu Williana, Rico tidak akan perduli dan lebih memilih untuk hidup sendiri selamanya.


__ADS_2