ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 16


__ADS_3

Hana mengantar Stefan dan Angel sampai teras rumahnya. Wanita itu sedikit bingung harus bagaimana karena ini kali pertama bagi dirinya mengantar Stefan yang akan pergi bekerja selama dirinya berada dirumah itu.


“Emm.. Sekolah yang pinter ya sayang..” Senyum Hana menunduk menatap Angel yang mendongak menatapnya.


“Ya mommy.. Nanti kalau Angel pulang sekolah buatin omelette keju lagi ya..” Senyum lebar Angel meminta pada Hana.


“Tidak masalah. Mommy akan buat yang banyak untuk kamu.”


“Makasih mommy.. Angel sayang banget sama mommy..”


Seingat Stefan ini adalah kali pertama dirinya melihat Angel yang begitu lebar tersenyum dengan binaran kebahagiaan di kedua matanya. Dan itu karena Hana, wanita yang baru beberapa hari masuk kedalam keluarga mereka.


Stefan menghela napas pelan. Jika saja Angel adalah putri kandungnya, mungkin Stefan akan sangat memanjakan-nya. Stefan juga tidak mungkin mengabaikan-nya. Stefan tau Angel tidak salah. Angel hanya seorang gadis kecil yang tidak tau apa apa. Dan Angel tidak bisa memilih akan dengan cara seperti apa dia dilahirkan.


Stefan melengos. Lusi benar benar berhasil menghancurkan seluruh cinta dan kepercayaan-nya. Bahkan setelah ketahuan selingkuh dan mengandung benih dari pria lain Lusi berniat kabur untuk meninggalkan-nya.


“Stefan?”


Lamunan Stefan tentang masa lalunya buyar saat Hana melambaikan tangan didepan wajahnya. Stefan langsung melayangkan tatapan datarnya pada Hana yang menatapnya bingung.


“Emm.. Angel sudah menunggu di mobil.” Ujar Hana memberitahu Stefan.


Stefan mengarahkan pandangan-nya ke mobil dan benar saja, Angel sudah duduk tepat dibelakang Rico yang akan mengemudikan mobil.


“Oh, ya sudah aku berangkat.” Kata Stefan dingin.


Saat Stefan hendak melangkah, Hana menyodorkan tangan-nya pada Stefan dengan senyuman manis yang terukir di bibir merah alaminya.


Stefan berdecak pelan kemudian merogoh saku dalam jasnya mengeluarkan kartu kredit kemudian memberikan-nya pada Hana. Pria itu berpikir Hana sedang meminta uang padanya.


“Kamu bisa membeli apapun yang kamu mau dengan kartu itu.”


Hana menatap kartu kredit yang diberikan Stefan padanya. Wanita itu kemudian menatap kembali pada Stefan dengan menyipitkan kedua matanya merasa sangat kesal.

__ADS_1


Hana menghela napas kasar dan meraih tangan kanan Stefan, menyaliminya kemudian menggenggamkan kembali kartu kredit itu pada Stefan.


“Aku cuma mau salim sama suami aku, bukan minta uang.” Ketus Hana dengan menekan kata suami dan melebarkan sedikit kedua matanya menatap Stefan kemudian berlalu masuk kembali kedalam rumah meninggalkan Stefan yang terdiam.


Stefan mengerjapkan kedua matanya menatap tangan kanan-nya dimana kartu kredit yang dia berikan dikembalikan lagi padanya oleh Hana.


Namun sebenarnya bukan kartu kredit itu yang membuat Stefan diam, melainkan karena Hana yang menyaliminya.


“Daddy ayo.. Nanti Angel telat.”


Stefan langsung tersadar dan segera melangkah menuju mobil. Pria itu masuk kedalam mobil Rico dan segera menyuruh Rico untuk melajukan mobilnya menuju sekolah Angel untuk lebih dulu mengantar gadis kecil itu.


“Daddy kenapa nggak cium mommy tadi?”


Stefan mengangkat sebelah alisnya menatap Angel yang menatap polos padanya.


“Memangnya kenapa?” Tanya balik Stefan tidak menyangka jika Angel akan menanyakan hal seperti itu padanya.


“Ya kan daddy sama mommy suami istri. Biasanya kalau suami istri itu kan kalau suaminya mau berangkat kerja istrinya di cium dulu keningnya.”


Rico yang mendengar pertanyaan Angel pada Stefan hanya bisa menahan tawa. Rico melihat dengan jelas Stefan yang salah tingkah karena pertanyaan putrinya.


“Angel jangan tanyakan itu lagi sama daddy. Daddy nggak suka. Itu urusan orang dewasa dan anak kecil tidak boleh sok tau.” Tegas Stefan membuat Angel langsung menundukan kepalanya.


“Ya daddy, maaf.” Ujar Angel pelan.


Stefan menghela napas. Pria itu kemudian menatap kejalanan yang sedang dilewatinya. Stefan tidak bermaksud berkata kasar pada Angel, Stefan hanya tidak tau dan bingung harus menjawab bagaimana dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis kecil itu.


“Rico tambah kecepatan.” Perintah Stefan.


“Baik tuan.” Balas Rico menurut.


Rico kemudian menambah kecepatan laju mobilnya menuju sekolah tempat Angel menimba ilmu. Sebenarnya Rico kasihan dan tidak tega melihat Angel menundukkan kepala karena ucapan tegas Stefan tadi. Tapi Rico tidak bisa berbuat apa apa. Stefan memang selalu bersikap dingin bahkan pada putrinya sendiri sejak kematian istri pertamanya.

__ADS_1


Setelah mengantar Angel ke sekolahnya, Stefan pindah duduk disamping Rico. Pria itu diam tanpa mengatakan apapun pada Rico yang berada disampingnya.


“Tuan, anda dan nyonya mendapat undangan makan malam pada acara peresmian hotel cabang baru Willa grup.”


Stefan berdecak pelan.


“Kamu saja yang datang.”


“Maaf tuan, tapi kali ini tidak bisa diwakilkan.”


Stefan menoleh dengan cepat pada Rico yang sedang fokus dengan kemudinya, menatap tidak mengerti kenapa Rico tidak bisa menggantikan-nya datang ke acara peresmian hotel itu.


“Memangnya kenapa?” Tanya Stefan.


“Nona Williana kemarin datang sendiri ke perusahaan dan mengantar langsung undangan itu. Nona Williana juga mengatakan ingin mengenal lebih jauh nyonya Hana.”


Stefan melengos kesal. Malas sekali rasanya jika harus membahas tentang wanita itu.


“Saya meletakkan undangan itu dimeja kerja anda tuan.” Ujar Rico lagi yang tidak mendapat sautan apapun dari Stefan.


Beberapa saat kemudian mobil Rico sampai diparkiran depan perusahaan. Stefan langsung keluar dan melangkah lebar memasuki gedung melewati satpam yang sedang berjaga. Satpam itu menyapanya namun hanya dibalas anggukan pelan oleh Stefan.


Berkali kali Stefan mendapat sapaan selamat pagi dari para karyawan-nya. Namun seperti biasanya, Stefan tetap bersikap dingin dengan wajah datarnya. Namun meskipun Stefan seperti itu, rasa hormat dan patuh para karyawan-nya tetap tidak kurang sedikitpun.


Stefan masuk kedalam ruangan-nya, duduk dikursi kebesaran-nya. Pandangan-nya terarah pada undangan bersampul coklat muda yang berada diatas tumpukan berkasnya.


Stefan menghela napas kemudian meraih undangan itu dan membukanya. Di dalam undangan itu memang tertera namanya dan Hana dengan jelas. Sepertinya wanita itu memang sengaja tidak ingin Rico menggantikan Stefan untuk datang ke acara peresmian hotelnya.


“Hana.. Apa mungkin dia bisa menyesuaikan diri disekitar orang orang memuakkan itu?”


Stefan bertanya tanya dalam hati. Stefan tidak ingin jika dirinya sampai dipermalukan karena membawa Hana ikut serta dalam acara tersebut. Tapi jika Stefan tidak mengajak Hana, Williana pasti akan menertawakan-nya. Bahkan bukan tidak mungkin wanita itu mengatakan dengan gamblang pada semua tamu tamunya yang hadir tentang hubungan Hana dan Stefan.


Stefan tau bagaimana Williana Atmaja. Dia adalah wanita ambisius yang memandang segala sesuatu dengan harta. Wanita yang juga selalu berusaha menarik perhatian Stefan tapi Stefan selalu mengabaikan-nya.

__ADS_1


Stefan kemudian merogoh saku dalam jasnya meraih ponselnya berniat menghubungi Hana namun Stefan berdecak. Stefan lupa dirinya bahkan belum menyimpan nomor istrinya itu.


__ADS_2