
Stefan dan Hana melangkah buru buru di koridor rumah sakit dengan tangan saling bertautan. Kabar tentang percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh Gabriel benar benar sangat mengejutkan keduanya. Apa lagi semalam Stefan dan Hana juga mendengar suara benda jatuh dari samping kamarnya. Dan saat Stefan mengecek kesamping kamar mereka tiba tiba Gabriel mendatangi Hana dan menanyakan tentang bunyi keras itu padahal rasanya sangat mustahil jika Gabriel juga mendengarnya karena posisi kamar mereka yang berjauhan. Stefan dan Hana berada dikamar dilantai satu sedang Gabriel kamarnya berada dilantai dua diruangan paling ujung.
“Itu om, Stefan..” Lirih Hana.
Stefan mengangguk dan segera mendekat pada tuan Smith yang sedang duduk dengan kepala tertunduk di kursi panjang di depan ruangan tempat Gabriel berada. Pria itu jelas sekali terlihat sangat terpukul dengan kondisi putri bungsunya sekarang.
“Om...”
Tuan Smith tidak bergeming meski Stefan dan Hana sudah berdiri didepan-nya. Pria itu tetap pada posisinya.
Hana yang melihat itu merasa sangat iba. Hana tidak menyangka Gabriel akan melakukan hal senekat itu dengan mencoba mengakhiri hidupnya sendiri.
“Dokter bilang Gabriel akan mengalami gangguan pada pita suaranya. Dan sekarang Gabriel sama sekali belum sadarkan diri. Om sudah cek ke seluruh CCTV yang ada dirumah tapi sedikitpun tidak ada yang mencurigakan.”
Stefan mengeryit. Tiba tiba Stefan merasa ada sesuatu yang aneh dibalik peristiwa percobaan bunuh diri Gabriel. Apa lagi semalam Gabriel juga terlihat baik baik saja.
“Boleh kita masuk kedalam om?” Tanya Hana yang penasaran dengan keadaan Gabriel sekarang.
“Silahkan. Didalam juga ada Selena dan Riana.”
Stefan dan Hana saling menatap kemudian mengangguk pelan. Mereka berdua masuk kedalam ruangan VIP tempat Gabriel berada meninggalkan tuan Smith yang terus saja menundukan kepalanya tidak berdaya.
“Kak Stefan, kak Hana..”
Selena yang sedang memegang tangan Gabriel langsung menoleh kearah pintu yang terbuka. Gadis dengan rambut panjang lurus sebahu pirang itu terkejut namun juga sangat bahagia melihat Stefan dan Hana.
Selena melepaskan tangan Gabriel lalu bangkit dari duduknya dikursi samping brankar tempat Gabriel berbaring. Selena melangkah dengan cepat mendekat pada Stefan dan Hana yang langsung mengurungkan niatnya melangkah begitu Selena menyebut nama keduanya.
Selena tersenyum lebar menatap Stefan dan Hana secara bergantian. Gadis itu tidak melakukan apa apa seperti apa yang Hana bayangkan.
“Mommy Sera sudah banyak bercerita mengenai kak Hana. Senang bisa bertemu denganmu kak Hana..” Katanya berpusat pada Hana.
__ADS_1
“Ah iyah Selena..” Balas Hana tersenyum.
Selena kemudian beralih menatap pada Stefan yang hanya diam saja dengan tatapan datarnya.
“Mana Angel?” Tanyanya.
“Angel nggak bisa ikut. Dia tidak bisa meninggalkan sekolahnya.” Jawab Stefan.
“Oh oke.. Baiklah.” Angguk Selena mengerti.
Nyonya Smith menatap kearah ketiganya tanpa sedikitpun senyuman yang menghiasi bibirnya. Hatinya sedang benar benar kalut karena kondisi Gabriel sekarang.
Setelah mengobrol sedikit dengan Selena, Stefan menggandeng Hana untuk mendekat kearah brankar Gabriel di ikuti Selena.
Stefan tidak menyangka juga masih tidak percaya Gabriel mencoba mengakhiri hidupnya sendiri.
“Apa yang terjadi sebenarnya tante?” Tanya Stefan pada nyonya Smith, tantenya.
“Tante juga nggak tau Stefan. Saat tante memanggilnya untuk sarapan bersama tante menemukan Gabriel sudah bersimbah darah dengan gunting yang berada di genggamannya.” Jawab nyonya Smith. Suara wanita bule itu bahkan hampir tidak terdengar saking lirihnya.
Hana menatap iba pada nyonya Smith. Hana bisa melihat dan merasakan bagaimana rasanya berada di posisi nyonya Smith. Karena Hana juga pernah merasakan perasaan itu.
Hana kemudian menatap pada Gabriel. Gadis itu tampak tenang memejamkan kedua matanya dengan wajah pucat. Lehernya digulung dengan perban tebal yang membuat Hana kemudian mengeryit. Hana merasa percobaan bunuh diri yang dilakukan Gabriel sedikit tidak wajar.
Namun ternyata tidak hanya Hana saja yang merasakan keanehan itu. Stefan sebagai pria yang tidak mudah tertipu juga merasakan hal yang sama.
“Kata om dokter mengatakan pita suara Gabriel akan terganggu.” Ujar Stefan.
“Ya Stefan.. Tante juga tidak menyangka Gabriel akan senekat ini. Padahal sudah lama Gabriel tidak bertingkah aneh. Bahkan saat mamah kamu datang Gabriel juga bersikap seperti biasanya. Tante sama om..” Nyonya Smith tidak berdaya melanjutkan ucapan-nya. Tangisnya pecah dan langsung memeluk Selena yang berdiri disampingnya. Wanita itu tidak ingin sedikitpun sesuatu terjadi pada putri bungsunya. Meski memang Gabriel sering melakukan sesuatu diluar dugaan mereka.
Stefan menghela napas. Pria itu merasa ada yang janggal dari cara Gabriel mencoba mengakhiri hidupnya. Apa lagi Gabriel menusuk lehernya yang sepertinya memang sengaja agar pita suaranya rusak.
__ADS_1
“Hana..” Panggil Stefan pelan pada Hana.
“Ya Stefan..” Saut Hana pelan.
“Aku rasa kita harus menunda kepulangan kita untuk sementara. Tapi sementara itu, kita pindah menginap di hotel saja.”
Hana menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang Stefan katakan. Wanita itu yakin dan percaya Stefan melakukan semua itu untuk kebaikan-nya.
Stefan kemudian pamit pada om dan tantenya dengan alasan takut Hana kelelahan yang tentu di mengerti oleh mereka berdua. Stefan juga mengatakan bahwa dirinya akan membawa Hana keluar dari rumah itu untuk menginap dihotel saja. Tuan dan nyonya Smith hanya menganggukkan kepalanya setuju dengan keputusan Stefan. Karena mereka berdua juga tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Hana.
Stefan kemudian bergegas mengajak Hana ke hotel tanpa memikirkan barang barangnya yang ada dirumah om dan tantenya.
“Stefan, aku merasa ada yang aneh dengan cara Gabriel mencoba mengakhiri hidupnya.” Ujar Hana pelan.
Stefan tersenyum. Pria itu meraih pinggang Hana dan memeluknya mesra.
“Sudahlah, tidak perlu terlalu dipikirkan sayang. Yang terpenting kamu dan calon anak kita baik baik saja.”
“Tapi Stefan, semalam Gabriel terlihat baik baik saja. Dia tidak terlihat sedang Frustasi. Dia bahkan tersenyum saat melihat kamu kan?”
Stefan diam. Apa yang Hana katakan memang benar. Stefan juga melihat Gabriel yang tersenyum padanya. Senyum yang sangat tidak biasa menurut Stefan.
“Aku akan suruh orang untuk mengawasi rumah om dan tante juga rumah sakit tempat Gabriel berada.”
Hana mengeryit menatap Stefan bingung.
“Memangnya kamu juga punya orang orang seperti Rico disini?” Tanya Hana polos.
Stefan tersenyum geli. Sepertinya Hana belum benar benar tau siapa dirinya. Hana hanya mengenal Stefan sebagai pria yang dicintainya.
“Jangan lupakan siapa nama suamimu sayang. Aku Stefan Devandra. Aku bisa melakukan apa saja yang aku mau.” Ujar Stefan dengan bangganya.
__ADS_1
Hana berdecak, sikap sombong dan terlalu percaya diri suaminya muncul kembali ke permukaan.