
Hana terus membelai dengan sangat hati hati pipi bayi mungilnya. Wanita itu tidak menyangka Stefan akan membawa putra mereka padanya. Apa lagi sebelumnya Stefan selalu beralasan bahwa bayi mereka tidak bisa sembarang disentuh apa lagi dibawa keluar dari ruangan tempatnya berada sebelum ini.
“Stefan ini.. Bagaimana mungkin?” Hana bertanya dengan suara yang sangat lirih namun masih bisa dengan jelas Stefan dengar karena posisi Stefan yang begitu dekat dengan-nya.
Stefan tersenyum kemudian membelai lembut pipi chuby Hana. Stefan sendiri juga tidak menyangka dokter akan mengizinkan-nya membawa putranya keruang rawat Hana. Apa lagi dokter juga mengatakan bahwa putranya begitu sehat dan kuat seperti bayi yang lahir dengan usia kandungan yang cukup.
“Aku sudah bilang bukan? anak kita, dia jagoan yang sangat hebat dan kuat.” Ujar Stefan menatap Hana penuh cinta.
Hana tertawa mendengarnya. Saat itu air mata kembali menetes dari sudut matanya. Air mata haru tanda kebahagiaan yang sedang Hana rasakan karena akhirnya bisa mendekap putra pertamanya dengan Stefan.
“Dia sangat tampan.” Lirih Hana kagum.
“Tentu saja. Dia putraku.” Balas Stefan dengan sangat percaya diri.
Hana tertawa lagi. Hana juga tidak bisa munafik. Suaminya memang tampan bahkan sangat. Dan Hana sangat bersyukur karena mendapatkan jodoh se sempurna Stefan.
Karena obrolan mereka, makhluk mungil nan tampan itu terbangun dari tidur pulasnya. Tangisan-nya begitu nyaring membuat setiap sudut ruang rawat Hana seperti memantulkan suara tangisan-nya.
Stefan yang tidak biasa dengan hal tersebut tampak sangat panik. Berbeda dengan Hana yang malah tertawa.
“Hey Hana, kamu memang istriku. Tapi bukan berarti kamu bisa bebas menertawakan anakku yang sedang menangis.” Sebal Stefan sembari berusaha menenangkan putranya yang sedang menangis karena tidurnya terganggu.
Mendengar apa yang Stefan katakan dengan raut wajah mengancam membuat Hana semakin merasa geli. Stefan benar benar sangat tidak mau siapapun membuat putranya merasa tidak nyaman.
“Jangan berlebihan daddy.. Biarkan dia menangis untuk membentuk otot otot dalam tubuhnya agar semakin kuat.” Ujar Hana dengan pelan.
Stefan mengeryit. Apapun alasan-nya Stefan tidak bisa menerimanya. Stefan merasa sangat tidak tega melihat buah hatinya yang begitu mungil menangis sampai tubuhnya bergetar.
“Ya Tuhan, Hana tolong jangan membuat anakku semakin kencang menangis.” Mohon Stefan yang tidak tau harus bagaimana menenangkan putranya yang sedang menangis.
__ADS_1
Hana menggeleng masih dengan tawa pelan-nya karena merasa geli dengan respon Stefan ketika putranya menangis. Tidak ingin membuat putranya juga suaminya marah, Hana pun segera memberikan asi pertamanya.
Stefan menghela napas lega begitu putranya diam. Pria itu menatap putranya yang begitu kuat menyusu pada Hana.
“Sepertinya dia sangat kelaparan.” Katanya.
“Ya.. Dia menyusu begitu kuat.” Setuju Hana sesekali meringis karena putranya yang begitu menggunakan tenaga menyedot asinya.
Stefan tertawa pelan. Pria itu mengangkat jari telunjuknya yang sejak tadi dia genggamkan pada putranya untuk menenangkan-nya saat menangis tadi. Genggaman tangan kecil itu begitu kuat membuat Stefan merasa geli di jari telunjuknya.
“Oh ya Stefan, tadi Gabriel bilang mamah sama Angel sudah sedang dalam perjalanan menuju kesini. Tante yang memberitahu tentang keberadaan aku disini ke mamah.”
Stefan meringis. Sedikitpun Stefan tidak mengingat untuk menghubungi mamahnya bahkan sampai sekarang. Yang Stefan pikirkan hanya bagaimana dirinya harus memberikan yang terbaik untuk istri juga putra pertamanya.
“Ya Tuhan.. Aku benar benar lupa memberitahu mamah tentang kamu disini Hana.”
“Sebaiknya aku segera menghubungi mamah. Kamu tidak apa kan aku tinggal sebentar? Aku akan minta Gabriel untuk menemani kamu disini.”
“Iya Stefan. Jemput mamah dan Angel di bandara. Jangan lupa katakan pada mereka bahwa aku baik baik saja.” Ujar Hana dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.
“Hem..” Angguk Stefan kemudian mencium kening Hana dan putranya bergantian. Setelah itu Stefan bangkit dari duduknya di kursi yang ada di samping brankar Hana.
Stefan mengirim pesan pada Gabriel untuk menemani Hana kembali. Dan Gabriel yang kebetulan sedang berada di taman rumah sakit segera bergegas menuju ruang rawat Hana.
Setelah Gabriel masuk dan menemani Hana di ruang rawatnya, Stefan pun segera bergegas. Stefan juga tidak lupa menghubungi Sera yang ternyata banyak mengirim pesan dan menelepon-nya namun tidak Stefan respon karena Stefan yang sama sekali tidak memperdulikan apapun selain keadaan Hana dan putranya.
Saat Stefan menghubunginya, ternyata Sera sudah sampai di bandara. Dan Stefan, pria itu tentu saja langsung bergegas menuju bandara menggunakan mobil Gabriel yang ada di parkiran rumah sakit untuk menjemput Sera dan Angel, putrinya.
---------
__ADS_1
“Oma.. Kenapa kita menyusul mommy dan daddy kesini? Bagaimana dengan sekolah Angel nanti?” Tanya Angel pada Sera begitu mereka keluar dari bandara.
Sera tersenyum. Sekarang Sera jauh lebih tenang karena Stefan sudah balik menghubunginya. Stefan bahkan mengatakan akan segera datang untuk menjemputnya dan Angel di bandara sekarang.
“Oma, daddy, sama mommy punya kejutan buat kamu sayang. Dan untuk sekolah kamu tenang saja. Om Rico yang akan mengurusnya.” Senyum Sera menjawab.
“Kejutan? untuk Angel? Oma serius?” Tanya Angel yang langsung antusias begitu Sera mengatakan bahwa Stefan, Hana, juga dirinya sudah menyiapkan kejutan untuk gadis kecil itu.
“He'em.” Angguk Sera menjawab.
“Yey.. makasih oma.. Angel sayang banget sama oma, mommy, juga daddy..” Senyum lebar Angel merasa sangat bahagia.
Sera hanya tersenyum saja. Stefan mengatakan padanya bahwa Hana juga putranya sehat dan baik baik saja. Hal itu membuat Sera merasa tenang.
“Sekarang kita tunggu daddy. Daddy sedang dalam perjalanan menuju kesini untuk menjemput kita sayang..” Kata Sera pada Angel.
“Ya oma.. Angel sudah tidak sabar ingin bertemu dengan mommy dan daddy. Angel kangen banget sama mereka.”
Sera menghela napas kemudian menuntun gadis kecil itu mengajaknya untuk duduk sembari menunggu Stefan yang sudah berada dalam perjalanan untuk menjemput mereka berdua.
Suara deringan ponsel milik body guard yang mengawal Sera dan Angel membuat Sera menoleh. Ya, Rico memang menyuruh orang untuk mengawal Sera dan Angel.
“Apa itu Rico?” Tanya Sera pada pria tampan berambut cepak yang berdiri disamping kursi yang di dudukinya dan Angel.
“Ya nyonya.” Jawab pria dengan baju serba hitam tersebut.
“Oke.. Katakan pada Rico kita sudah sampai dan Stefan sudah sedang menuju kesini untuk menjemput kita.” Ujar Sera pada body guardnya.
“Baik nyonya.” Jawab body guard tersebut menganggukkan kepala lalu segera mengangkat telepon dari Rico.
__ADS_1