ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 265


__ADS_3

Siang itu juga hubungan Alan dan dokter Rania resmi. Mereka mulai menjalin komitmen untuk saling melengkapi satu sama lain. Alan juga berjanji pada dokter cantik itu akan terus menjaganya semampu yang dia bisa.


Setelah selesai makan siang, Alan langsung mengantar kembali dokter Rania kerumah sakit tempat dokter cantik itu bekerja.


“Nanti pulangnya aku jemput ya sayang..” Ujar Alan saat dokter Rania turun dan berdiri disamping motornya.


Dokter Rania mengulum senyumnya mendengar Alan memanggilnya dengan sebutan sayang.


“Apaan sih?” Katanya malu malu.


“Loh kenapa? kan kamu pacar aku sekarang.” Senyum Alan menatap dokter Rania dengan tatapan menggoda.


“Wajar kan kalau aku panggil kamu sayang. Kan sekarang kamu sayangnya aku.” Tambah Alan membuat wajah dokter Rania semakin memerah karena malu.


“Ya udah aku masuk yah..” Ujar dokter Rania menahan senyuman di bibirnya.


“Oke, dokter cintaku.” Balas Alan membuat wajah dokter Rania semakin terasa panas.


“Apaan sih, berlebihan banget.”


Tidak ingin semakin malu di depan Alan, dokter Rania pun segera melangkah masuk ke dalam gedung rumah sakit elit itu.


Baik dokter Rania maupun Alan, keduanya sekarang merasa sama sama lega juga tenang. Perasaan mereka tidak salah dan kini hubungan mereka sudah resmi dengan status yang jelas.


Alan menghela napas dengan senyuman yang menghiasi bibirnya kemudian kembali melajukan motornya dengan kecepatan sedang berlalu dari depan gedung rumah sakit untuk menuju tempat kerjanya lagi mengingat waktu istirahat makan siang yang sebentar lagi sudah akan habis.


-----------


“Dansa? Yang bener aja Tristan. Aku nggak bisa dansa.”


Tristan mencebikkan bibir tipisnya. Acara perpisahan kelas 12 sudah akan diselenggarakan dua pekan lagi. Dan tadi wali kelas mereka memberitahukan agar setiap kelas mempersembahkan penampilan-nya karena akan ada para donatur yang hadir di acara tersebut.

__ADS_1


“Ya kan kita bisa latihan dulu Amira.” Hela napas Tristan merasa jengah karena Amira yang sering kali tidak percaya dengan kemampuan-nya sendiri.


“Enggak mau. Lagian juga aku kan harus kerja. Nggak ada waktu buat latihan. Kalau kamu mau dansa silahkan saja. Sama siapapun enggak papa asal jangan sama Putri. Aku cukup jadi penonton aja.”


Tristan berdecak. Amira benar benar sangat aneh karena menyuruhnya untuk berdansa dengan gadis lain meskipun ada pengecualian yaitu tidak bersama Putri.


“Memangnya kamu mau aku peluk peluk cewek lain?” Tanya Tristan dengan wajah kesal.


“Ya asal pelukan-nya biasa aja aku sih baik baik aja.” Jawab Amira dengan entengnya.


Tristan menggelengkan kepalanya tidak percaya. Amira sepertinya tidak merasa cemburu jika melihat Tristan berdansa dengan gadis lain.


“Eh Amira, yang namanya dansa itu harus mesra pelukan-nya. Kalau nggak mesra ya nggak akan dapet dong chemistry nya. Gimana sih?” Kesal Tristan mencebikkan bibir tipisnya lagi.


Amira menyipitkan kedua matanya.


“Jadi kamu maunya pelukan yang mesra begitu sama cewek lain?” Tanya Amira dengan nada sedikit naik.


“Ya nggak mau lah. Makan-nya aku ngajaknya kamu bukan yang lain. Kan kamu pacar aku.” Jawab Tristan dengan disertai decakan kesal.


“Jadi gimana? Mau apa nggak?” Tristan bertanya lagi mencoba memastikan mau atau tidaknya Amira berdansa dengan-nya di acara perpisahan kelas 12 dua minggu mendatang.


“Tapi kan aku nggak bisa dansa Tristan. Aku juga kan harus kerja.”


Tristan menghela napas pelan kemudian tersenyum. Pemuda tampan itu meraih kedua tangan Amira dan menggenggamnya. Tatapan-nya mengarah tepat pada kedua mata Amira yang terlihat meragu.


“Kamu nggak usah khawatir. Aku yang akan ajarin kamu dansa. Pelan pelan aja pasti bisa kok. Masih dua minggu ini. Kita juga bisa belajar dansanya setelah kita selesai kerja di toko.” Ujar Tristan berusaha meyakinkan Amira dengan sangat lembut.


Amira menghela napas kemudian menganggukkan kepalanya.


“Gituh dong. Ya udah yuk pulang.” Senyum Tristan meraih tangan Amira.

__ADS_1


Amira menganggukan lagi kepalanya. Gadis itu menurut saja saat Tristan mengajaknya menuju parkiran. Meski sebenarnya Amira tidak yakin, tapi Amira juga tidak ingin melihat Tristan sampai memeluk mesra gadis lain.


Seperti biasanya, sebelum mengantar Amira pulang Tristan lebih dulu mengajak Amira ke kediaman-nya.


“Masuk dulu yuk?” Ajak Tristan yang di angguki oleh Amira.


Keduanya melangkah masuk kedalam kediaman mewah keluarga Atmaja.


“Sebentar ya Ra, aku ganti baju dulu. Kamu kalau mau apa apa tinggal bilang saja sama bibi. Atau ngambil sendiri juga lebih bagus. Anggap saja rumah sendiri.” Ujar Tristan dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


“Ck.. Udah ah sana jangan banyak bercanda. Keburu ke sorean nggak enak sama pak Ang nanti.” Decak pelan Amira berkata dengan sangat tegas pada Tristan karena tidak ingin sampai telat ke toko pak Ang siang ini.


“Iya iya.. Sabar dong. Ya udah aku ke atas dulu. Kamu tunggu dan duduk dengan tenang disini.”


“Iya...” Balas Amira yang langsung mendudukan dirinya di sofa ruang tamu.


Tristan kemudian melangkah berlalu meninggalkan Amira sendiri di ruang tamu. Begitu sampai di depan tangga, Tristan mempercepat langkahnya karena tidak mau membuat mood kekasih hatinya menjadi jelek karena terlalu lama menunggunya.


Di ruang tamu Amira menghela napas. Gadis itu menyapukan pandangan-nya ke seluruh sudut ruang tamu luas itu.


“Kamu lagi..”


Suara Williana membuat Amira tersentak. Gadis itu menoleh kearah Williana yang baru saja masuk kedalam rumahnya.


Amira langsung bangkit dari duduknya karena kehadiran kakak dari Tristan itu.


“Saya heran sama Tristan. Memangnya kelebihan kamu itu apa sih, sampai adik saya begitu tergila gila sama kamu. Tristan bahkan sampai berani melawan dan menolak perintah saya.” Ujar Williana menatap penampilan sederhana gadis berkuncir tinggi yang berdiri didepan sofa yang tadi menjadi tempat duduknya sinis. Williana kemudian mendekat dan menatap remeh pada Amira yang hanya diam dengan kepala sedikit tertunduk.


“Heh, asal kamu tau ya. Saya diam bukan berarti saya setuju kamu berhubungan dengan Tristan. Saya hanya tidak mau sampai adik saya kabur lagi hanya karena gadis seperti kamu. Lagian saya yakin suatu saat nanti Tristan akan bosan sama kamu. Tristan akan sadar bahwa kamu itu nggak layak untuk dia cintai.”


Amira menelan ludah dengan kedua tangan terkepal erat. Dalam hatinya Amira menolak apa yang Williana katakan. Amira yakin Tristan bukan orang yang mudah bosan apa lagi pada dirinya.

__ADS_1


“Saat itu tiba saya harap kamu tidak menangis putus asa. Saya tidak mau mendengar ada kasus bunuh diri hanya karena cinta monyet yang berakhir.” Williana kembali mengatakan ucapan yang tidak seharusnya pada Amira.


Pelan pelan Amira mengangkat kepalanya menatap Williana dengan tatapan sendunya. Amira tidak tau apa salahnya sehingga Williana begitu sangat tidak menyukainya.


__ADS_2