
Hana tersenyum sambil melangkah menuju ruangan Stefan. Sore tadi saat mengantar Angel pulang Rico mengatakan Stefan sedang sangat sibuk sehingga Hana berinisiatif ikut dengan Rico ke perusahaan Stefan. Hana bahkan juga membawakan makan malam untuk Stefan.
Hana menghela napas ketika sampai didepan pintu ruangan suaminya. Hana menutup mulutnya dengan tangan tertawa sendiri membayangkan ekspresi Stefan jika melihatnya yang tiba tiba masuk keruangan-nya. Stefan juga pasti akan sangat senang karena Hana membawakan makan malam yang secara khusus Hana masakan sendiri untuk Stefan.
Hana menarik napas dalam untuk meredakan tawanya sendiri kemudian menghembuskan-nya perlahan. Hana mengangkat rantang yang dibawanya kemudian meraih handle pintu ruangan Stefan, memutar dan mendorongnya perlahan hingga pintu ruangan Stefan terbuka.
Namun niatnya untuk memberi kejutan Stefan justru terbalik malah Hana yang diberi kejutan melihat Stefan yang sedang bersama dengan Williana. Apa lagi posisi keduanya sangat dekat dan cukup intim dengan tangan Williana yang sedang mengusap lengan Stefan.
“Kalian !!” Geram Hana dengan rahang mengeras melihat kebersamaan keduanya.
Stefan langsung berdiri dari duduknya kemudian menjauh dari Williana yang tetap terlihat santai meskipun Hana melihatnya. Wanita itu bahkan tersenyum meremehkan menatap Hana yang melangkah mendekat dengan wajah geram.
Stefan mendesis. Sudah bisa di pastikan Hana pasti akan salah paham. Hana pasti akan marah marah padanya, mengomelinya dan mungkin menuduhnya bermain api dengan Williana di belakangnya.
Hana mendekat pada Stefan dan Williana, menatap keduanya bergantian.
“Jadi ini kesibukan yang Rico bilang? Sibuk sama perempuan sexy ini? Iya?” Tanya Hana menatap Stefan dengan tajam.
Stefan berdecak. Hana benar benar salah mengartikan apa yang dilihatnya. Tapi Stefan bisa paham jika memang Hana marah mengingat posisinya dan Williana yang memang sangat dekat tadi.
Stefan merasa bodoh sekarang. Seharusnya dirinya langsung menjauh atau mengusir Williana dengan tindakan tadi agar Hana tidak melihat apa yang membuatnya salah paham.
Stefan hanya diam saja saat Hana bertanya dengan nada marah. Pria itu tidak ingin semakin terlihat bodoh dengan menjelaskan sesuatu didepan Williana.
“Dan kamu.. Aku heran sama kamu Williana. Memangnya diluar sana nggak ada laki laki lain ya selain Stefan? Kenapa sih kamu masih saja dekat dekat sama Stefan hah?! Stefan itu suami aku. Dia hanya cinta sama aku !!” Kali ini Hana marah pada Williana yang terus saja tersenyum remeh padanya. Rasanya Hana ingin sekali membenturkan rantang yang dibawanya ke wajah memuakkan Williana.
Williana melirik Stefan yang sudah menjauh darinya. Wanita itu menggeleng melihat Stefan yang hanya diam dengan ekspresi datarnya. Williana berpikir mungkin Stefan memang tidak berniat menjelaskan apapun pada Hana. Itu membuat Williana merasa senang karena dengan Stefan hanya diam Hana pasti akan semakin merasa panas dan marah.
“Emm.. Hana, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Kami berdua hanya sedang meluangkan sedikit waktu setelah aktivitas yang cukup menguras tenaga hari ini. Ya.. Mengobrol untuk menghilangkan penat tidak masalah bukan?” Senyum Williana tetap tenang meskipun Hana sudah begitu marah padanya.
Emosi Hana semakin memuncak mendengar kata “aktivitas yang cukup menguras tenaga” yang dilontarkan dengan tenang oleh Williana.
Sementara Stefan, pria itu mengangkat satu alisnya. Stefan tau apa yang Williana inginkan sekarang. Tapi Stefan bukan pria bodoh, dan Stefan juga yakin istrinya tidak mungkin termakan oleh ucapan Williana.
Hana melirik Stefan sengit kemudian menatap lagi pada Williana yang tetap mengukir senyuman dibibirnya. Wanita itu benar benar sangat jengkel sekarang karena Stefan yang hanya diam saja dan Williana yang sedikitpun tidak merasa bersalah karena telah berduaan dengan suaminya.
__ADS_1
Hana memejamkan kedua matanya, menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan. Hana berusaha untuk meredam emosinya sendiri. Hana yakin Williana akan merasa semakin menang jika Hana terus marah marah didepan-nya.
“Oke Hana.. Tenang.. jangan membuat Williana merasa menang sekarang. Kamu bisa memarahi Stefan nanti.” Batin Hana kemudian memejamkan kedua matanya.
Setelah berhasil menenangkan dirinya, Hana kembali membuka kedua matanya. Hana melirik lagi pada Stefan dengan tatapan tajamnya. Namun saat kembali menatap Williana Hana sudah bersikap biasa.
“Baiklah.. Maaf kalau aku sudah marah marah tidak jelas.” Ujar Hana pelan.
Senyuman dibibir Williana langsung pudar. Bukan itu yang Williana inginkan. Williana ingin Hana marah pada Stefan. Williana ingin membuat Hana tidak percaya lagi pada Stefan. Karena dengan begitu Williana akan bisa dengan mudah masuk ke celah hubungan keduanya.
Hana menghela napas pelan. Senyuman Williana yang tiba tiba berganti dengan ekspresi kesal membuat ide cemerlang tiba tiba melintas di pemikiran Hana.
Hana melirik ke meja kerja Stefan. Disana ada segelas air putih yang masih utuh. Sepertinya Stefan juga belum menyentuhnya.
Hana kemudian meraih segelas air putih itu membuat Stefan dan Williana kompak berpikir jika Hana hendak menyiram Williana menggunakan segelas air minum tersebut.
Williana menelan ludah. Bukan takut, hanya saja Williana tidak ingin jika apa yang di pikirkan-nya benar benar terjadi, yaitu Hana menyiramnya dengan segelas air putih yang sekarang Hana pegang.
Namun pemikiran Stefan dan Williana memang salah karena Hana tidak berniat sedikitpun untuk menyiram Williana dengan segelas air tersebut. Hana justru mendekat pada Stefan yang hanya diam ditempatnya berdiri dengan tatapan datar.
“Maaf Stefan aku marah marah tidak jelas tadi. Aku pikir kamu dan Williana tadi sedang melakukan sesuatu. Tapi aku percaya kok yang kamu cintai hanya aku..” Kata Hana menatap Stefan dengan ekspresi penuh sesal.
Stefan benar benar tidak paham. Hana membawa segelas air putih itu kepadanya kemudian berbicara dengan wajah penuh sesal.
Sementara Williana, kini justru dia yang marah melihat Hana yang begitu dekat dengan Stefan. Kedua tanganya mengepal erat merasa kesal karena Hana tidak melanjutkan kemarahan-nya dan justru bersikap begitu lembut pada Stefan didepan-nya.
“Aku benar benar minta maaf Stefan.” Senyum Hana kemudian menyodorkan segelas air minum tersebut didepan bibir Stefan.
Stefan menatap Hana dengan kedua mata menyipit. Namun Stefan tetap meminum segelas air putih yang Hana sodorkan padanya.
Setelah Stefan meminum sedikit segelas air putih tersebut, Hana kembali menaruhnya diatas meja kerja Stefan di tempatnya semula. Setelah itu Hana berjinjit mencium pipi Stefan dengan kedua tangan berada dibahu Stefan.
Hana memang sengaja memendam sementara amarah dalam hatinya pada Stefan untuk membuat Williana panas.
“Aku sengaja kesini karena hari ini kamu nggak ada kabar Stefan. Rico bilang kamu sedang sangat padat pekerjaan-nya. Jadi aku sengaja pengin kasih kejutan buat kamu. Aku juga bawain makan malam loh buat kamu. Tunggu sebentar.”
__ADS_1
Hana meraih rantang yang diletakan diatas meja kerja Stefan kemudian membukanya dan membawanya kembali mendekat pada Stefan.
“Aku masakin kamu udang asam manis. Aku nggak tau kamu suka atau enggak. Tapi kamu bisa coba dulu sedikit.” Ujar Hana kemudian menyendok sedikit masakan-nya tersebut dan menyodorkan-nya pada Stefan yang tentu saja langsung Stefan terima.
“Gimana? Enak nggak?” Tanya Hana dengan senyuman manis yang terus menghiasi bibirnya.
Stefan tersenyum dan menganggukan kepalanya. Stefan kemudian mencium kening Hana membuat Hana tertawa pelan.
Williana yang melihat itu semua semakin merasa emosi. Tidak ingin melihat kemesraan keduanya, Williana kemudian meraih tas mahalnya dan keluar dari ruangan Stefan dengan menghentak hentakkan kakinya.
Hana yang melihat itu tersenyum merasa puas. Hampir saja Hana membuat Williana merasa menang darinya.
“Ya udah mending sekarang kamu suapin aku makan. Aku udah laper banget tau nggak.”
Senyuman penuh kemenangan Hana perlahan pudar mendengar apa yang Stefan katakan. Hana menyipitkan kedua matanya menatap Stefan kesal.
“Apa kamu bilang Stefan? Suapin kamu makan? emangnya kamu bayi?” Tanya Hana sinis.
Stefan mengeryit. Hana tiba tiba berubah sinis begitu Williana keluar dari ruangan-nya.
“Loh tadi kan kamu..”
Hana meletakan rantang berisi udang asam manis yang di pegangnya dimeja Stefan dengan keras hingga Stefan tersentak kaget. Hana kemudian mengangkat kepalan tangan-nya menatap dengan wajah penuh rasa kesal.
BUG !!
Hana melayangkan kepalan tangan-nya ke sudut bibir Stefan keras membuat Stefan terkejut kemudian mengerang kesakitan sembari menutup sudut bibirnya yang terkena bogem mentah Hana.
“Itu ganjaran untuk suami yang matanya jelalatan kaya kamu Stefan !” Ketus Hana kemudian berlalu keluar meninggalkan Stefan sendiri di ruangan-nya.
Hana sempat menoleh lagi pada Stefan saat sampai di ambang pintu dan mendelik kesal pada suaminya itu sebelum benar benar berlalu.
Stefan mengaduh kesakitan. Hana benar benar memukulnya dengan sangat keras dan begitu tiba tiba sehingga Stefan tidak sempat menghindar.
“Ya Tuhan.. Kenapa aku bisa jatuh cinta dengan perempuan ajaib seperti dia.” Gerutu Stefan kesal.
__ADS_1