ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 127


__ADS_3

“Apa Stefan tadi datang kesini Alan?” Tanya dokter Rania pada Alan yang sedang sibuk mencampurkan cat air di wadahnya.


Alan terdiam sesaat kemudian menoleh pada dokter Rania yang berdiri tidak jauh darinya di ambang pintu kamarnya. Wanita itu baru saja pulang dari rumah sakit malam ini. Dokter Rania bahkan tidak makan malam dirumah.


“Ya dokter.” Jawab Alan menganggukkan kepala dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


“Apa dia marah marah sama kamu?” Tanya dokter Rania lagi.


Alan kembali diam. Pria itu menghela napas pelan kemudian melanjutkan aktivitas mencampurkan cat dengan warna yang berbeda untuk menghasilkan warna yang Alan inginkan.


“Ya dokter. Tapi aku memaklumi itu. Tuan Stefan marah karena menganggap aku mempunyai niat lain mendonorkan darah pada Angel. Tuan Stefan bahkan mengira aku berniat merebut Hana darinya. Bukankah itu prasangka yang sangat manis? Tuan Stefan begitu sangat mencintai Hana sampai terlalu khawatir. Dia bahkan tau aku mencintai Hana dalam diam dokter.” Jawab Alan panjang lebar.


Dokter Rania memejamkan sesaat kedua matanya. Wanita itu juga tidak tau darimana Stefan mengetahui tentang perasaan Alan pada Hana. Tapi mengingat Stefan yang bukan pria bodoh, dokter Rania tidak mau berpikir panjang tentang darimana Stefan tau tentang perasaan Alan pada Hana.


“Tapi Stefan tidak sampai melakukan sesuatu yang menyakiti kamu kan Alan?”


Alan tertawa pelan kemudian menggelengkan kepalanya. Alan akui Stefan benar benar bukan pria pengecut. Buktinya meskipun sedang sangat marah namun Stefan tidak melakukan apa apa padanya. Meskipun Stefan sempat mengancamnya tapi pria itu sama sekali tidak melakukan kekerasan fisik.


“Tentu saja tidak. Orang yang begitu terhormat seperti tuan Stefan tentu saja memiliki pemikiran yang panjang dokter.” Jawab Alan lagi.


Dokter Rania menghela napas lega. Stefan memang pria yang tidak mudah melakukan kekerasan fisik pada siapapun. Pria itu juga sangat pandai dalam menguasai dirinya saat emosi.


“Syukurlah kalau begitu. Ya sudah, ini sudah malam. Sebaiknya kamu tidur Alan.”


“Tunggu dokter. Ada yang mau aku perlihatkan.”


Dokter Rania mengeryit. Wanita itu kemudian melangkah mendekat pada Alan yang tetap duduk dengan tenang di kursi rodanya. Pria itu sudah tidak lagi memegang cat air.

__ADS_1


“Oh ya? apa?” Tanya dokter Rania penasaran.


Alan tersenyum simpul kemudian menghela napas pelan. Pria itu perlahan mulai bangun dari kursi rodanya. Alan berdiri dengan tegak kemudian perlahan mulai menggerakkan kedua kakinya.


Dokter Rania yang melihat itu terkejut dan langsung menutup mulutnya yang terbuka tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“Kamu..”


“Tunggu disana dokter. Aku akan meraih kamu.. Tunggu dan tetap berdiri disana..” Ujar Alan dengan sangat antusias.


Posisi dokter Rania dan Alan memang tidak begitu dekat. Dokter Rania berdiri sekitar satu setengah meter dari posisi Alan sekarang.


“Tolong dokter tetaplah disana.. Tunggu aku..” Ujar Alan lagi terus berusaha melangkahkan kakinya menuju tempat dokter Rania berdiri di depan pintu.


Dokter Rania terus menutup mulutnya. Wanita itu tidak percaya dengan apa yang dilihatnya karena pagi tadi saat dokter cantik itu mengajari Alan untuk menggerakkan kakinya Alan bahkan masih belum bisa melakukan-nya. Saat hendak bangkit dari kursi rodanya juga Alan masih harus dipegangi kedua tangan-nya. Tapi sekarang Alan bahkan bisa melangkahkan kedua kakinya pelan pelan.


Alan terus berusaha melangkahkan kedua kakinya. Rasanya begitu kaku dan berat. Alan benar benar kembali seperti balita yang sedang belajar untuk berjalan.


Dokter Rania terus menunggu Alan sampai didepan-nya. Wanita itu perlahan menurunkan tangan yang menutupi mulutnya. Dokter cantik itu kemudian tersenyum. Melihat Alan yang mulai bisa melangkahkan kedua kakinya dokter cantik itu merasa sangat bahagia. Namun bersamaan dengan rasa bahagia itu dokter Rania juga merasa sedih. Dokter itu langsung berpikir jika Alan sudah normal dan bisa berjalan kembali, Alan pasti akan menjauh darinya. Bahkan bisa saja setelah Alan sembuh nanti mereka akan kembali menjadi orang asing yang tidak saling mengenal.


Dokter Rania menghela napas pelan. Wanita itu mengenyahkan pemikiran tidak jelasnya. Dokter itu kembali pada niat awalnya yang hanya ingin membantu pemulihan Alan dari kondisinya setelah kecelakaan.


“Ayo Alan.. Aku yakin kamu pasti bisa.. Semangat. Kamu harus cepat bisa berjalan lagi demi ibu dan kedua adik kamu..” Ujar dokter Rania memberi semangat pada Alan.


Mendengar itu Alan semakin merasa semangat. Bayangan ibu dan kedua adiknya yang tersenyum padanya membuat Alan semakin merasa dirinya harus segera pulih kembali dari kondisinya yang begitu lemah dan tidak berdaya.


“Ayo Alan.. Sedikit lagi..”

__ADS_1


Ketika sudah hampir sampai didepan dokter Rania, tiba tiba Alan merasakan kedua kakinya melemas. Pria itu meringis kemudian tubuhnya langsung ambruk dan bersimpuh tepat didepan kedua kaki dokter Rania.


Alan menghela napas kemudian tertawa. Ini adalah kali pertama dirinya bisa kembali melangkah meskipun tidak jauh. Tapi Alan merasa sangat bangga juga bahagia karena akhirnya kedua kakinya bisa kembali di gerakkan.


“Aku bisa dokter.. Aku bisa berjalan sendiri..” Lirih Alan menatap bergantian kedua kakinya.


Dokter Rania tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Wanita itu kemudian berjongkok didepan Alan.


“Ayo aku bantu..” Tawar dokter cantik itu tersenyum menatap Alan dengan menyodorkan kedua tangan-nya didepan Alan.


Alan membalas tatapan dokter Rania. Alan kemudian menatap kedua tangan dokter Rania yang mengudara didepan-nya. Alan meraih kedua tangan dokter Rania kemudian menariknya dan langsung memeluk erat tubuh dokter Rania.


“Terimakasih dokter.. Terimakasih atas semua bantuan dokter padaku selama ini.. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan dokter.” Gumam Alan memeluk erat tubuh dokter Rania.


Dokter Rania yang terkejut dengan apa yang Alan lakukan hanya bisa diam saja. Wanita itu tidak menyangka Alan akan memeluknya begitu erat.


“Aku tidak tau harus bagaimana membalas semua yang sudah dokter lakukan selama ini dalam membantuku. Tapi dokter, aku benar benar sangat berterimakasih.” Lanjut Alan memejamkan kedua matanya dan terus memeluk erat tubuh dokter Rania.


Perlahan dokter Rania mengukir senyuman dibibirnya. Wanita itu membalas pelukan erat Alan dengan kedua mata terpejam. Entah kenapa dokter Rania merasa sangat nyaman di peluk oleh Alan. Dokter Rania merasa menemukan sosok yang nyaman untuk dirinya bersandar.


Beberapa menit berpelukan, Alan kemudian melepaskan pelukan-nya pada dokter Rania. Pria itu mendadak merasa kikuk setelah sadar dengan apa yang baru saja dia lakukan dengan memeluk dokter Rania.


“Eemm.. Maaf dokter, aku tidak bermaksud kurang ajar. Aku hanya terlalu bahagia tadi.”


Dokter Rania tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


“Tidak apa apa Alan.”

__ADS_1


__ADS_2