ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 247


__ADS_3

Alan mengendarai motornya dengan kecepatan diatas rata rata. Pria itu tidak perduli meskipun jalanan begitu padat siang ini. Karena yang ada di pikiran-nya hanya dokter Rania.


Begitu sampai dirumah sakit, Alan harus menelan kekecewaan karena ternyata dokter Rania sudah tiga hari tidak masuk kerja. Alan juga lupa tidak menanyakan alasan izin-nya dokter Rania tidak masuk kerja pada perawat di rumah sakit yang dia tanya.


Alan kembali melajukan sepeda motornya membelah jalanan padat siang itu. Ketika hampir sampai di wilayah tempat dokter cantik itu tinggal, Alan menyempatkan diri mampir ke toko bunga dan membeli setangkai mawar merah yang dia maksudkan sebagai tanda maafnya pada dokter Rania. Mungkin memang tidak akan mudah mendapat maaf dari dokter cantik itu, tapi Alan akan tetap berusaha apapun caranya. Karena Alan tidak ingin hubungan-nya renggang dengan dokter Rania.


-----------


Tidak jauh berbeda dengan Alan, dokter Rania juga tampak tidak semangat menjalani hari harinya saat bekerja dirumah sakit. Bahkan sekarang dokter cantik itu tidak masuk kerja karena kembali mengalami sakit akibat sering mengabaikan waktu makan-nya.


“Permisi nona, ini makan siangnya.”


Dokter Rania menoleh ketika mendengar suara asisten rumah tangganya. Seharian ini dokter cantik itu memang sama sekali tidak keluar kamarnya karena merasa pusing juga lemas.


“Taruh disitu saja mbak. Terimakasih yah?” Senyum dokter cantik itu pada asisten rumah tangganya yang dengan setia mengantarkan makanan untuknya ke kamar.


Asisten rumah tangga yang biasa disapa mbak oleh dokter Rania hanya bisa menghela napas sembari mengambil makanan tadi pagi yang dia bawakan ke kamar dokter Rania untuk sarapan. Makanan itu masih utuh dan sama sekali tidak di sentuh oleh dokter cantik itu.


Setelah mengambil makanan tadi pagi yang masih utuh itu, asisten rumah tangga tersebut kembali keluar dari kamar dokter Rania, membiarkan dokter cantik itu menyendiri di kamarnya.


Dokter Rania menghela napas kasar. Tiga hari tidak melakukan aktivitas apapun dan selalu dikamar membuatnya merasa jenuh. Dan dalam kejenuhan-nya, tiba tiba ingatan-nya tertuju pada Alan. Sejak sore itu dokter Rania memang memutuskan untuk tidak komunikasi lagi dengan Alan. Selain karena tau Alan sedang marah padanya, dokter Rania juga merasa sedikit kecewa karena Alan malah menuduhnya bersekongkol dengan Stefan untuk menutupi apa yang terjadi. Padahal pada kenyataan-nya dokter Rania tidak bermaksud berbohong. Dokter itu hanya tidak ingin ada masalah. Namun kemudian pemikiran dokter Rania berubah dan memilih untuk memberitahu Alan yang sebenarnya berharap Alan tidak mempermasalahkan lagi apa yang telah lalu mengingat Stefan yang sudah bertanggung jawab akan semuanya.


“Alan sudah menemui Stefan belum yah? Terus apa dia sudah memberitahu Hana juga tentang yang sebenarnya terjadi dulu.” Gumam dokter cantik itu sambil menatap langit langit kamarnya.


“Sudah, aku sudah memberitahu Hana.”


Dokter Rania terkejut saat tiba tiba mendengar suara Alan. Wanita itu menoleh cepat kearah pintu kamarnya. Kedua matanya terbelalak melihat Alan yang tiba tiba sudah berdiri disana dengan membawa setangkai mawar merah di tangan-nya.

__ADS_1


“Kamu..”


“Aku sudah menemui tuan Stefan. Aku sudah memukulnya. Aku juga sudah memberitahu Hana tentang yang sebenarnya dokter.” Sela Alan sambil melangkah mendekat pada ranjang dokter Rania yang langsung bangkit dari berbaringnya begitu menyadari kehadiran Alan yang sangat tiba tiba itu.


“Apa?” Lirih dokter cantik itu menutup mulutnya terkejut dengan pengakuan Alan.


Alan kemudian menghela napas.


“Tapi ternyata meskipun aku sudah memukul tuan Stefan dan memberitahu Hana semuanya tetap sama. Tidak ada yang berubah dokter. Hana tetap memilih bersama tuan Stefan. Hana juga meminta aku untuk maklum begitu juga dengan ibu.”


Dokter Rania menelan ludah kemudian menundukan kepalanya. Wanita itu benar benar sangat menyesal karena memberitahu Alan tanpa lebih dulu berpikir akibatnya.


“Selain itu aku juga merasa ada sesuatu yang tidak biasa dokter. Aku merasa ada sesuatu yang hilang. Yaitu kamu.”


Dokter Rania kembali menatap Alan. Wanita itu juga sebenarnya merasakan hal yang sama.


Dokter Rania hanya diam saja mendengarkan apa yang Alan katakan. Hatinya memang sakit saat Alan menuduhnya menutupi semua kenyataan yang terjadi malam itu karena dirinya di bayar oleh Stefan.


“Dokter..” Panggil Alan menatap serius pada dokter Rania.


“Aku datang kesini untuk meminta maaf sama kamu. Aku izin dari tempat kerja karena aku tau aku sudah sangat bersalah sama kamu.” Ujar Alan lagi.


Dokter cantik itu masih diam. Rasa kecewanya pada Alan surut begitu saja karena pria itu sudah meminta maaf padanya. Karena memang pada dasarnya sangat wajar jika sampai Alan salah mengartikan maksudnya. Apa lagi dokter Rania juga berteman dengan Stefan dan Alan tau tentang hal itu.


“Kamu mau kan maafin aku dokter? Aku janji aku nggak akan mengatakan hal yang tidak seharusnya lagi sama kamu. Aku akan berusaha lebih menjaga perasaan kamu kedepan-nya.”


Mendengar itu dokter Rania tertawa. Permintaan maaf Alan terlalu berlebihan menurutnya.

__ADS_1


“Ya udah iya iyaa di maafin. Aku juga minta maaf sama kamu karena nggak jujur dari awal tentang semuanya. Aku lakukan itu karena aku yakin Stefan pasti akan mengatakan-nya sendiri sama kamu dan keluarga kamu. Tapi ternyata aku tidak sabar menunggu waktu itu.” Senyum dokter Rania.


Alan menganggukkan kepalanya mengerti. Ucapan Veby saat makan siang tadi benar benar langsung mengubah pola pikirnya. Sekarang Alan mengerti apa yang ibunya maksud. Semua yang terjadi memang adalah kehendak Tuhan untuk mengubah kehidupan Alan lebih baik lagi.


“Makasih ya dokter udah mau maafin aku.” Alan merasa sangat lega sekarang karena hubungan-nya dengan dokter cantik itu akan kembali membaik seperti biasanya.


“Iyaa..” Angguk dokter Rania.


Alan kemudian menatap setangkai mawar merah yang dipegangnya. Pria itu tersenyum menatap bunga tersebut kemudian menyodorkan-nya pada dokter Rania.


“Ini untuk aku?” Tanya dokter Rania menunjuk dirinya sendiri.


“Hh.. Ya iyalah buat kamu dokter. Masa iya aku tujuin buat mbak tapi aku kasihnya ke kamu.” Hela napas Alan menatap dokter Rania dengan tatapan kesal di buat buat.


Dokter Rania menutup mulutnya tertawa pelan kemudian menerima bunga yang di sodorkan oleh Alan padanya.


“Makasih..” Katanya pelan.


Alan hanya menganggukkan kepalanya kemudian menatap sepiring makanan diatas nakas dan meraihnya. Alan sudah tau bahwa dokter Rania sedang sakit dari satpam juga asisten rumah tangga disana.


“Kebiasaan banget kalau sakit malas makan. Orang sakit itu harus banyak makan terus minum obat biar cepet sembuh.” Ujar Alan sambil bersiap untuk menyuapi dokter Rania.


Dokter Rania hanya diam saja. Wanita itu tau apa yang akan Alan lakukan.


“Lebih baik sekarang kamu makan. Biar aku suapi.”


Dokter Rania menurut saja saat Alan menyuapinya. Rasa jenuh dan bosan-nya seketika hilang karena kehadiran Alan sekarang.

__ADS_1


__ADS_2