ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 211


__ADS_3

Dokter Rania menyempatkan waktunya setelah pulang dari rumah sakit untuk kerumah Alan. Dokter cantik itu berharap semoga Alan sudah pulang kerumah dari bekerjanya malam ini.


Dokter Rania memang sengaja datang ingin menemui Alan untuk memberitahukan apa yang dokter Rania tau dari Rico tentang Hana. Sebenarnya dokter cantik itu ingin memberitahu Alan sejak awal dia tau tentang Hana yang sudah melahirkan. Namun karena kesibukan-nya dirumah sakit, dokter Rania terpaksa harus sedikit bersabar.


Sebenarnya memberitahukan lewat telepon saja bisa. Tapi dokter cantik itu merasa akan lebih nyaman jika mengatakan-nya secara langsung berhadapan dengan Alan.


Amira yang baru turun dari motor Tristan mengeryit ketika melihat mobil Rania yang muncul dari gang sempit yang tidak jauh dari halaman rumah sederhana keluarganya.


Amira merasa penasaran karena tiba tiba dokter cantik itu datang kerumahnya.


“Itu kan mobilnya dokter Rania..” Gumam Amira pelan.


Tristan yang merasa aneh karena tatapan Amira pada mobil dokter Rania ikut mengeryit penasaran.


“Kamu kenapa?” Tanya Tristan membuat Amira menatapnya.


“Nggak papa sih. Cuma bingung aja kok dokter Rania tiba tiba datang kesini.” Jawab Amira.


Tristan berdecak pelan. Sebenarnya Tristan pernah melihat dokter Rania dan Alan berboncengan menaiki motor Alan. Dan Tristan berpikir mungkin keduanya memang berhubungan cukup dekat melebihi hubungan dokter dengan mantan pasien-nya.


“Kaya nggak tau aja.” Gumam Tristan membuat Amira mengeryit menatapnya.


Mobil dokter Rania sampai tepat disamping motor Tristan yang masih Tristan naiki. Hal itu membuat Amira tidak bisa menjawab gumaman Tristan.


Dokter Rania keluar dari mobilnya dan tersenyum menatap Amira dan Tristan yang menatapnya.


“Hay Amira, Tristan. Apa kabar?” Tanya ramah dokter Rania mendekat pada keduanya.


“Hay juga dokter. Kabar kami baik dok, bahkan sangat baik. Dokter sendiri bagaimana kabarnya?” Jawab Tristan kemudian bertanya balik pada dokter Rania.


“Syukurlah kalau begitu. Kabarku juga baik.” Senyum dokter cantik itu menganggukan pelan kepalanya.

__ADS_1


Amira menghela napas. Gadis itu bisa menebak siapa yang ingin dokter cantik itu temui. Yang jelas bukan dirinya atau ibunya apa lagi Aisha.


“Silahkan masuk dokter. Kak Alan sudah ada dirumah kok.” Ujar Amira.


“Oh iya, terimakasih Amira. Tapi biar aku menunggu diluar saja.” Tolak dokter Rania dengan halus.


“Ya sudah kalau begitu biar aku panggilin kak Alan dulu didalam. Dokter duduk saja dulu.”


“Oke..”


Dokter Rania kemudian melangkah ke teras dan mendudukkan dirinya dikursi yang ada diteras depan rumah sederhana keluarga Alan. Sementara Tristan, dia kemudian turun dari motornya dan ikut masuk menyusul Amira masuk kedalam rumah sederhana itu.


Tidak lama setelah Tristan masuk, keluarlah Alan dari dalam rumah dengan wajah berseri seri. Pria tampan itu tersenyum menatap dokter Rania yang sedang memainkan ponsel di tangan-nya. Rasa bahagia langsung menguasai hati pria itu.


“Dokter..” Panggil Alan pelan membuat dokter Rania langsung berpaling dari ponsel di tangan-nya.


Dokter Rania tersenyum menatap Alan yang berdiri didepan pintu disamping kursi yang di dudukinya. Wanita cantik dengan setelan orange itu kemudian bangkit dari duduknya dan berdiri menghadap Alan.


“Apa aku ganggu?” Tanya dokter Rania kemudian.


“Oh enggak. Tentu saja enggak dokter.” Jawab Alan buru buru.


“Silahkan masuk, tapi maaf yah kalau berantakan.”


Dokter Rania tertawa pelan dengan gelengan kepala. Wanita itu kemudian masuk kedalam rumah sederhana keluarga Alan yang kemudian di ikuti oleh Alan dari belakang.


Ibu yang mendengar perihal tentang kedatangan dokter Rania dari Amira langsung meninggalkan aktivitas membuat kuenya di dapur. Wanita itu bahkan menyuruh agar Amira membuatkan minuman untuk dokter Rania.


“Kayanya ibu setuju deh sama hubungan kak Alan dan dokter Rania.” Gumam Tristan yang berdiri disamping Amira.


Amira mengeryit kemudian menoleh pada Tristan yang ada disampingnya.

__ADS_1


“Nggak usah sok tau deh. Ibu itu bersikap seperti itu karena sangat menghargai dokter Rania yang sudah berjasa sama kak Alan. Ibu juga nggak mungkin kali berpikir kalau kak Alan dan dokter Rania itu punya hubungan. Itu kan pemikiran ngasal kamu aja Tristan.” Ujar Amira sewot.


“Dih dia sewot. Eh Amira, mereka itu sudah dewasa. Mereka jauh lebih mengerti dan berpengalaman tentang percintaan dari pada kita. Mereka berdua juga pasti tau lah bagaimana caranya mengambil hati orang tua.” Balas Tristan tidak mau kalah.


“Iihh.. Kok kamu semakin ngelantur sih Tristan ngomongnya. Nggak jelas banget. Udah ah mending sekarang kamu pulang sana. Kerjain PR dari bu Amanda yang tadi siang. Dari pada nanti kamu kena hukum.” Kesal Amira.


“Ck, iya iya.. Tapi Amira, cium aku dong. Dikit aja.”


Amira mendelik menatap Tristan yang malah meminta cium darinya. Gadis itu benar benar sangat kesal sekarang pada pacarnya yang dia anggap sok tau tentang hubungan Alan dan dokter Rania.


“Kamu tuh, iiihh.. Udah sana pulang.” Usir Amira mendorong lengan Tristan agar menjauh darinya.


“Eh eh eh Amira.. Kok kamu marah beneran sih? Aku kan cuma minta cium.” Protes Tristan tidak terima dengan apa yang Amira lakukan.


“Bodo amat. Sana pulang.” Balas Amira tidak perduli kemudian mulai mengambil gelas untuk membuatkan minuman seperti apa yang ibu suruh padanya.


“Dasar pelit.” Ketus Tristan jengkel.


Amira melirik tajam pada Tristan sekilas. Amira juga sebenarnya berpikir mungkin memang Alan mempunyai hubungan khusus dengan dokter Rania. Tapi Amira berusaha untuk tidak berpikir terlalu jauh. Karena sebenarnya Amira juga khawatir ibunya akan melarang kakaknya berhubungan terlalu dekat dengan dokter Rania seperti apa yang pernah ibunya larang padanya dulu dengan Tristan.


Cup


Amira terkejut ketika tiba tiba Tristan mencium pipi kanan-nya. Kedua mata gadis itu membulat sempurna kemudian dengan cepat menoleh pada Tristan yang langsung menjauh darinya.


“Hehehe.. satu kosong. Makan-nya jadi pacar jangan pelit. Dadah.. Aku pulang. Sampai besok pacarku.” Tawa Tristan kemudian segera mengambil langkah seribu berlari dari dapur sebelum Amira mengamuk dan melemparinya sesuatu.


“Iihh.. Dasar cowok nyebelin.” Kesal Amira merasa gemas pada Tristan.


Amira kemudian menyentuh pipi kanan-nya yang baru saja di cium oleh Tristan. Ciuman colongan yang Tristan lakukan begitu mendadak dan membuatnya terkejut.


Perlahan seulas senyum mulai mengembang di bibir Amira hingga akhirnya senyuman itu benar benar terbentuk begitu manis. Wajah gadis itu memerah karena tersipu setelah di cium begitu tiba tiba oleh Tristan, pacarnya.

__ADS_1


“Nyebelin sih, tapi nggemesin juga. Baik, keren, ganteng, jago main basket. Ya Tuhan.. Terimakasih karena sudah mempertemukan hamba dengan orang setulus dan sebaik Tristan.” Batin Amira memejamkan kedua matanya dengan tangan yang terus memegangi pipi kanan-nya yang di cium oleh Tristan.


__ADS_2