
“Permisi nyonya..”
Hana menoleh ketika seorang pelayan menghampirinya. Wanita itu baru saja menyelesaikan rajutan-nya yang memang Hana niatkan untuk diberikan kepada Stefan.
“Ya mbak, ada apa?” Tanya Hana pelan.
“Didepan ada yang mencari nyonya. Katanya namanya Aisha.”
Hana mengeryit. Wanita itu kemudian langsung bangkit dari duduknya disofa dan berlalu dari ruang keluarga untuk melihat apakah benar yang berada didepan adalah Aisha atau bukan.
Begitu sampai diteras depan rumah, Hana langsung menatap kearah gerbang. Benar saja, disana ada Aisha yang masih mengenakan seragam SMP nya. Hana bisa menebak mungkin gadis itu baru pulang dari sekolah dan langsung datang kerumah Stefan.
Hana langsung meminta body guard yang berjaga untuk membukakan gerbang kemudian membawa Aisha padanya.
“Kak Hana..”
Begitu berada didepan Hana, Aisha langsung berhambur memeluk Hana. Gadis remaja itu bahkan menangis terisak di pelukan Hana membuat Hana mengeryit bingung.
“Ada apa Aisha? Kenapa kamu menangis? ibu baik baik saja kan?” Tanya Hana sambil mengusap punggung Aisha pelan.
Aisha kemudian melepaskan pelukan-nya pada Hana. Dengan menangis sesenggukan gadis itu berusaha menceritakan semuanya pada Hana tentang kakaknya Alan yang menolak untuk menemui ibu dan kakaknya Amira. Meskipun memang Alan tidak pernah melarang Aisha untuk datang. Alan justru sering menelepon-nya dan meminta Aisha untuk datang hanya sekedar ingin mengajari Aisha belajar.
Hana menghela napas pelan. Wanita itu kemudian mengajak Aisha ke taman belakang untuk membicarakan semuanya.
“Kak Alan juga sering sekali melamun kak.. Kalau aku tanya kak Alan selalu bilang tidak apa apa dan baik baik saja. Tapi aku kemarin melihat kak Alan diam diam menangis.”
Hana diam mendengarkan cerita Aisha dengan seksama. Alan bukan pria yang seperti itu. Alan tidak mungkin membenci ibu dan adiknya Amira. Hana tau Alan sangat menyayangi keluarganya.
“Kak.. Aku mohon banget kakak datang temui kak Alan. Tanyakan pada kak Alan kenapa dia bersikap seperti itu.. Aku nggak mau ibu sedih terus kak...”
Hana menghela napas pelan. Hana tidak ingin membuat Stefan marah padanya. Hana tau bagaimana Stefan yang tidak suka jika Hana berhubungan dengan pria lain meskipun itu adalah Alan. Dan sebagai istri yang baik Hana hanya sedang berusaha menjaga perasaan Stefan. Hana juga berusaha menjaga hubungan-nya dengan Stefan tetap baik dan harmonis.
“Begini ya Aisha... Sekarang kakak sudah tidak sebebas dulu.. Kakak sudah tidak bisa lagi datang untuk menemui kak Alan.. Kakak sudah punya suami dan kakak nggak bisa pergi tanpa izin dari kak Stefan..”
Aisha menatap Hana dengan tatapan bingung. Yang Aisha tau Stefan adalah pria baik karena sudah mau membiayai pengobatan Alan juga ibunya. Stefan juga sudah melunasi tagihan sekolahnya dan Amira sang kakak.
__ADS_1
“Aku akan bilang sama kak Stefan langsung kak.. Aku yakin kak Stefan pasti mau mengizinkan kak Hana untuk bertemu dengan kak Alan. Bukankah kak Stefan orang yang baik?”
Hana menatap Aisha bingung. Stefan memang bersikap baik pada Aisha. Karena itu Aisha juga menganggap Stefan tidak seperti Amira menganggap Stefan. Aisha bahkan dengan lancar memanggil Stefan dengan panggilan kakak seperti pada Hana.
“Nggak bisa begitu Aisha.. Kak Stefan sibuk dan tidak ada dirumah sekarang.” Senyum Hana berusaha memberi pengertian pada Aisha.
Aisha menundukkan kepalanya. Gadis berseragam SMP itu padahal sudah berharap penuh pada Hana.
“Kata siapa aku sibuk?”
Suara Stefan membuat Hana dan Aisha menoleh ke arahnya dan Angel. Hana terkejut melihat suaminya juga anaknya sudah berada dirumah padahal sekarang belum waktunya mereka pulang.
“Stefan.. Angel..” Gumam Hana pelan.
Aisha tersenyum tipis dan mengangguk pelan pada Stefan. Gadis itu selalu mempercayai bahwa Stefan memang orang yang baik.
Stefan dan Angel kemudian melangkah menghampiri Hana dan Aisha yang duduk di gazebo di taman belakang rumah.
Hana langsung menyalimi Stefan begitu Stefan sampai didepan-nya. Begitu juga dengan Angel yang langsung menyalimi Hana.
“Kok kalian...”
Hana mengangguk pelan kemudian meraih kedua bahu Angel dan mengecek suhu badan gadis kecil itu dengan menempelkan punggung tangan-nya ke kening Angel.
“Badan kamu panas sayang.. Istirahat saja ya.. Mommy temenin..” Senyum Hana menatap Angel.
Angel yang sejak tadi penasaran pada sosok Aisha hanya mengangguk kemudian kembali menatap Aisha dengan penuh rasa ingin tahu.
“Mommy.. Ini siapa?” Tanya Angel dengan wajah polosnya menatap Aisha.
“Oh ini.. Ini namanya Aisha sayang. Angel bisa panggil tante Aisha.. Soalnya dia sudah mommy anggap sebagai adik mommy sendiri..”
Angel mengangguk mengerti kemudian mengulurkan tangan-nya pada Aisha.
“Hay tante.. Ini Angel..” Senyumnya lebar.
__ADS_1
Aisha sempat ragu namun tetap menerima uluran tangan Angel dan menjabatnya dengan mantap.
“Aisha..” Senyumnya tipis.
Hana tertawa pelan melihatnya. Wanita itu kemudian memanggil pelayan yang saat itu melintas dan menyuruhnya untuk mengajak Angel dan Aisha masuk kedalam.
“Tapi kak, aku harus pulang. Ibu pasti akan sangat khawatir.” Ujar Aisha menolak untuk masuk kedalam rumah dengan Angel dan pelayan.
“Eemm.. Aisha, nanti aku yang antar kamu pulang. Sekalian aku dan Hana juga akan menjenguk Alan kerumah dokter Rania.” Senyum Stefan pada Aisha.
Hana mengerjapkan kedua matanya mendengar apa yang Stefan katakan. Padahal Hana pikir Stefan akan marah jika tau Aisha datang dengan niat ingin Hana menjenguk kakaknya.
“Jadi lebih baik sekarang kamu masuk dan tolong temenin Angel sebentar saja. Aku harus bicara berdua dulu dengan Hana.” Ujar Stefan lagi pada Aisha.
Aisha menatap Hana seperti meminta persetujuan. Dan senyuman serta anggukan pelan kepala Hana membuat Aisha akhirnya mau masuk kedalam rumah dan menemani Angel yang akan beristirahat siang ini.
Setelah Angel, Aisha dan pelayan berlalu dari hadapan-nya Stefan menghela napas. Pria itu menatap Hana yang hanya diam saja didepan-nya.
“Jadi apa kamu juga ingin menjenguk Alan?” Tanya Stefan yang langsung kembali memperlihatkan wajah datarnya.
Hana menelan ludah. Hana sebenarnya memang ingin tau bagaimana keadaan Alan sekarang. Tapi kembali lagi dengan status dan kewajiban-nya sebagai istri Stefan, Hana berusaha untuk mengabaikan asal keluarga Alan juga Alan baik baik saja.
“Aku nggak akan pergi Stefan.” Ujar Hana pelan.
“Meskipun bersamaku?” Tanya Stefan lagi.
“Ya...” Jawab Hana tersenyum membalas tatapan datar Stefan.
“Kenapa? Takut aku marah?”
Hana menghela napas. Stefan mungkin memang akan marah. Tapi sebenarnya apa yang Hana lakukan bukan hanya takut Stefan marah. Hana hanya sedang berusaha menjadi istri yang baik.
“Aku hanya ingin menjadi istri yang baik. Aku sudah terbiasa dan kebal dengan kemarahan kamu Stefan.” Jawab Hana dengan santainya.
Stefan mengangguk anggukkan kepalanya. Stefan percaya Hana berbicara jujur.
__ADS_1
“Baik kalau begitu, lima jam lagi siap siap ya.. Kita sama sama kerumah dokter Rania. Kenalkan suami kamu ini dengan sahabat baik kamu.” Ujar Stefan kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Hana yang hanya diam namun perlahan tersenyum.
“Aku yakin aku nggak salah mencintai kamu Stefan.” Lirih Hana.