ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 35


__ADS_3

Pagi ini Stefan beberapa kali menguap karena tidur terlalu larut semalam. Pria itu masih merasakan kantuknya namun tetap memaksakan diri untuk berangkat ke perusahaan seperti biasanya.


Hana yang melihat itu merasa tidak tega kemudian segera keluar dari kamarnya untuk membuatkan kopi yang memang dipercaya dapat menghilangkan rasa kantuk.


Hana tau mungkin Stefan tidak terbiasa minum kopi. Karena sejak Hana tinggal disitu sekalipun Hana tidak pernah melihat pria itu meminum kopi. Entah saat sedang bersantai atau sedang bekerja diruangan-nya yang ada dilantai bawah.


“Kenapa aku ngantuk sekali..” Gumam Stefan kemudian mendudukan dirinya di tepi ranjang. Stefan bahkan sampai tidak sadar Hana keluar dari kamar.


Padahal Stefan sudah mandi bahkan sudah rapi dengan setelan jas warna abu bu tuanya. Namun rasa kantuk itu tidak juga hilang bahkan sepertinya semakin menjadi jadi.


Stefan mengucek ujung kedua matanya mencoba menghilangkan rasa kantuk itu, tapi nyatanya kedua matanya tetap terasa berat dan seperti akan menutup dengan sendirinya. Padahal pagi ini Stefan ada rapat penting yang tidak bisa di abaikan begitu saja. Belum lagi akan ada Ma'ruf yang datang menghadapnya dengan karyawan-nya nanti.


Tidak lama Hana kembali masuk kedalam kamarnya dengan membawakan secangkir kopi panas untuk Stefan. Hana melangkah mendekat dan berdiri tepat didepan Stefan.


“Sebagai istri yang baik aku bikinin kopi panas buat kamu biar kamu nggak ngantuk terus.”


Stefan mendongak perlahan menatap Hana yang tersenyum manis padanya tidak mengerti. Stefan tidak terlalu suka dengan minuman rasa rasa apa lagi kopi. Pria itu lebih suka air putih.


“Aku nggak suka kopi.” Katanya jujur.


Hana berdecak. Stefan selalu saja membuatnya kesal. Pria itu begitu datar dan seperti tidak tau bagaimana caranya menghargai orang lain.


“Udah minum aja dulu. Biar kamu nggak ngantuk. Kamu itu harus semangat Stefan. Harus rajin biar jadi contoh yang baik untuk karyawan karyawan kamu..” Ujar Hana mencoba meyakinkan Stefan serta menyemangatinya.


Stefan melirik secangkir kopi panas buatan Hana kemudian kembali menatap Hana.


“Cobain deh dikit aja. Aku bantuin yah..”


“Hana tapi..”


“Awas pelan pelan, ini panas.”


Tanpa mau mendengarkan penolakan Stefan, Hana membantu pria itu menyeruput sedikit kopi panas buatan-nya dengan menyodorkan secangkir kopi panas tersebut pada bibir Stefan yang mau tidak mau Stefan cicipi sedikit.


Dan benar saja, begitu rasa pahit bercampur manis yang begitu pas itu Stefan rasakan di lidahnya rasa kantuk itu hilang begitu saja.

__ADS_1


“Gimana?” Tanya Hana yang harus sedikit membungkuk saat membantu Stefan minum kopi panas buatan-nya.


Stefan terdiam menatap Hana yang tersenyum manis padanya. Kopi buatan Hana sepertinya adalah kopi ter enak yang pernah Stefan minum.


Tanpa sadar Stefan mengangkat tangan-nya membelai lembut pipi chuby Hana membuat si empunya terkejut.


“Stefan kamu..”


“Hana, tetaplah disisiku..” Lirih Stefan menatap Hana dalam.


Hana menelan ludahnya. Tatapan Stefan kali ini sangat berbeda dari biasanya. Kedua mata coklat beningnya memancarkan kelembutan dan ketulusan yang baru kali ini Hana lihat.


Tidak mau terlena dengan sesuatu yang tidak mungkin baginya, Hana pun segera menegakkan tubuhnya menghindari sentuhan lembut tangan Stefan di pipinya. Hana juga sedikit memundurkan langkah menjauh dari Stefan yang terlihat murung karena Hana menghindar.


“Kenapa?” Tanya Stefan yang langsung kembali dengan wajah tanpa ekspresinya.


“Enggak, enggak papa.” Jawab Hana enggan menatap Stefan.


Stefan menghela napas kemudian bangkit dari duduknya ditepi ranjang. Pria itu melangkah maju mendekat pada Hana yang kembali memundurkan langkahnya. Semakin Hana mundur semakin maju pula Stefan. Sampai akhirnya punggung Hana menabrak tembok dan Hana tidak bisa lagi menghindari Stefan.


“Hana..” Panggil Stefan menyela apa yang ingin Hana katakan padanya. Stefan tau Hana pasti akan beralasan supaya bisa lolos darinya.


“Tetap di sisiku apapun yang terjadi.. Bisa kan?”


Hana diam. Hana tidak tau harus menjawab apa karena selalu di sisi Stefan itu bukan hal yang mudah. Apa lagi tidak ada sedikitpun rasa cinta baik di hati Hana maupun di hati Stefan. Mereka akan tetap menjadi orang lain meskipun setiap malam selalu berada dalam kamar yang sama.


“Maaf Stefan.. Kita tidak saling mencintai dan sepertinya itu sangat mustahil.” Jawab Hana pelan.


Stefan kemudian mundur selangkah memberi ruang pada Hana agar Hana tidak merasa tertekan oleh apa yang Stefan pertanyakan sekarang.


“Lagi pula diluar sana banyak yang lebih pantas untuk selalu ada di sisi kamu Stefan.” Lanjut Hana menatap Stefan sekilas.


“Aku malas sama perempuan perempuan yang mengejarku. Kamu ngejar aku nggak?”


Hana mendelik. Mana mungkin dirinya mengejar pria menyebalkan dan selalu melakukan segalanya semaunya sendiri seperti Stefan.

__ADS_1


“Iihh.. Amit amit deh.” Jawab Hana bergidik.


“Makanya aku maunya kamu yang selalu ada di sisi aku. Karena cuma kamu satu satunya perempuan bodoh yang nggak doyan sama harta aku. Oke?”


Stefan mengambil secangkir kopi yang dipegang Hana. Pria itu tersenyum manis membuat Hana terkejut dalam diamnya.


“Kopinya enak. Aku suka.” Katanya kemudian keluar dengan santai dari kamarnya sambil menyeruput lagi kopi buatan Hana itu.


Hana mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Hana bahkan juga menepuk nepuk pelan pipinya sendiri masih merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“Aku nggak mimpi.. Stefan tadi senyum beneran kan?” Gumam Hana bertanya pada dirinya sendiri.


Hana perlahan mengembangkan senyuman dibibirnya. Stefan memintanya secara langsung agar Hana selalu berada di sisinya. Permintaan yang begitu manis meskipun Stefan juga mengatainya perempuan bodoh.


“Aku juga nggak bodoh kali.. Stefan itu ganteng, kaya, hidungnya mancung, putih.. Walaupun memang nyebelin-nya selangit.”


Hana senyum senyum sendiri mengingat pertanyaan Stefan padanya tadi. Tanpa Stefan bertanya pun sebenarnya Hana mau, tapi Hana juga tidak mungkin terus bertahan sementara rasa cinta itu sama sekali tidak mereka berdua rasakan.


“Ya sudahlah.. Ikuti aja bagaimana rencana Tuhan.. Yang penting sekarang aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Stefan dan juga ibu yang baik untuk Angel.” Hela napas Hana bergumam pelan kemudian keluar dari kamarnya menyusul Stefan menuju meja makan.


Di meja makan.


“Daddy minum apa?” Tanya Angel menatap Stefan yang datang dengan membawa cangkir ditangan-nya dan sesekali menyeruputnya.


“Oh ini.. Daddy minum kopi.” Jawab Stefan menatap Angel sebentar yang duduk di kursi dimeja makan disamping Sera.


Sera yang mendengar jawaban Stefan mengeryit.


“Kopi? Kamu minum kopi? Tapi sejak kapan kamu suka kopi nak?” Tanya Sera heran.


Stefan tersenyum samar menatap secangkir kopi yang begitu nikmat menurutnya.


“Sejak pagi ini mah..” Jawab Stefan terus menatap kopi yang hanya menyisakan sedikit di cangkirnya padahal kopi itu juga masih mengepulkan apa diatasnya.


Sera benar benar tidak percaya. Stefan tidak pernah meminum kopi apa lagi jika itu adalah kopi hitam seperti yang sedang Stefan nikmati sekarang.

__ADS_1


__ADS_2