
Tristan akhirnya makan malam bersama keluarga kekasihnya itu. Dan dari situ Tristan merasakan kehangatan keluarga yang sekalipun tidak pernah dia rasakan. Tristan bahkan terus tersenyum sembari mengunyah makanan dalam mulutnya.
“Nak Tristan, memangnya kamu nggak dicariin sama orang tua kamu setiap hari pulang malam terus karena nganterin Amira pulang?”
Pertanyaan ibu membuat Alan dan Amira berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya. Mereka berdua saling menatap sesaat kemudian terdiam. Pertanyaan sang ibu sedikit keterlaluan menurut mereka.
Sementara Tristan, dia malah tersenyum lebar. Meski sebenarnya hatinya teriris mendengar pertanyaan yang ibu lontarkan tentang kedua orang tuanya yang memang sudah lama tiada.
“Hem.. Saya sudah tidak punya orang tua bu.. Saya tinggal hanya berdua dengan kakak saya.” Jawab Tristan pelan.
Ibu sedikit tergagap mendengar jawaban Tristan. Bukan maksud hatinya membuat Tristan sedih karena menyinggung tentang kedua orang tuanya yang sudah tiada. Karena sebenarnya ibu memang tidak tau bahwa Tristan adalah anak yatim piatu. Yang ibu tau hanya Tristan adalah anak orang kaya.
“Eemm.. Maaf nak Tristan. Ibu tidak bermaksud..” Ujar ibu pelan merasa sangat tidak enak hati pada Tristan.
“Nggak papa kok bu..” Senyum Tristan menganggukkan kepalanya.
Ibu melirik Amira dan Alan yang hanya diam saja. Ibu benar benar merasa sangat tidak hati pada Tristan juga pada Amira yang pasti salah mengartikan maksudnya.
Selesai makan malam, Alan mengajak Tristan untuk duduk berdua diteras rumah. Sebenarnya Tristan sudah ingin pulang karena selain hari yang sudah malam, Tristan juga harus mengerjakan tugas dari bu Amanda yang memang harus segera di kumpulkan besok pagi.
Alan menyeruput teh hangat yang dibuatkan oleh Amira kemudian menoleh pada Tristan yang hanya diam saja disampingnya dan memang hanya terhalang meja yang berada ditengah tengah mereka berdua.
“Tristan..” Panggil Alan sambil meletakan secangkir teh yang baru saja diminumnya.
“Ya kak..” Saut Tristan menoleh membalas tatapan Tristan padanya.
Alan diam sesaat. Pria itu menghela napas pelan lalu menatap lurus kedepan.
“Tentang hubungan kamu dan Amira, apa kakak kamu tau?” Tanya Alan tanpa menatap pada Tristan.
“Ya kak.. Kak Williana tau aku dan Amira pacaran.” Jawab Tristan pelan. Tristan tau Alan pasti akan mengatakan sesuatu yang penting padanya sehingga terus menahan-nya agar tidak segera pulang secara tidak langsung.
“Kakak kamu nggak keberatan dengan hubungan kalian?” Tanya Alan lagi.
Sesaat Tristan terdiam. Pemuda itu berpikir mungkin akan lebih baik jika dirinya jujur pada Alan tanpa ada yang harus di tutup tutupi.
__ADS_1
“Jujur kak, awalnya kak Williana melarang aku dekat sama Amira. Tapi sekarang udah enggak.”
Alan mengeryit merasa sangat penasaran.
“Boleh aku tau kenapa kakak kamu sampai melarang kamu dekat dengan Amira?”
Tristan menghela napas. Tidak mungkin rasanya jika dirinya mengatakan dengan gamblang penyebab Williana melarangnya dekat dengan Amira dulu.
“Apa karena Amira adalah anak orang nggak punya?” Tanya Alan pelan.
Meskipun ragu namun Tristan tetap menjawab jujur dengan menganggukkan kepalanya. Pemuda itu merasa tidak enak jika mengatakan sendiri bahwa Williana melarangnya dekat dengan Amira karena Amira adalah anak dari keluarga sederhana dan Williana anggap tidak sepadan dengan keluarganya.
“Pasaran sekali alasan-nya.” Tawa geli Alan.
Tristan menoleh menatap tidak percaya pada Alan yang malah begitu santai berkata tanpa ada sedikitpun terlihat raut kemarahan dari wajahnya.
“Perlu kamu tau Tristan. Kami memang keluarga tidak punya. Tapi kami bukan orang yang memandang bahwa orang kaya itu lebih mulia dari kami yang tidak punya apa apa ini. Terutama aku. Aku menganggap semua orang di dunia ini sama. Karena menurut aku yang pantas membedakan manusia satu dengan manusia lainya adalah Tuhan. Karena hanya Tuhan yang maha sempurna juga maha kaya.”
Tristan tersenyum mendengarnya. Tristan senang mendengar apa yang Alan katakan. Karena Tristan juga setuju dengan pendapat Alan tentang manusia yang sebenarnya memang semuanya sama.
“Aku juga berpikir begitu kak. Semua manusia itu sama mau mereka kaya ataupun enggak.”
Tristan menganggukkan kepalanya setuju.
“Kakak tenang aja, aku janji aku nggak akan nyakitin Amira. Aku akan jaga Amira dengan baik.” Senyum Tristan berkata dengan sangat yakin.
“Aku pegang janji kamu Tristan. Tapi ingat. Kalau sampai kamu berani membuat Amira sakit hati, aku sendiri yang akan menghajar kamu.”
Tristan tertawa mendengarnya. Tristan yakin dirinya tidak akan sedikitpun menyakiti Amira. Karena Tristan juga sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dirinya akan menjaga Amira dengan baik dan dengan sepenuh jiwa dan raganya.
“Kakak nggak perlu khawatir. Aku bukan tipe orang yang suka ingkar janji kok.” Balas Tristan.
Deringan ponsel dalam saku celana jins belel Tristan menjeda obrolan mereka berdua. Tristan segera merogoh saku celana jinsnya mengeluarkan benda pipih itu.
Tristan menatap layar ponselnya dimana nama kontak Williana tertera disana.
__ADS_1
“Hem sebentar ya kak, aku angkat telepon dulu.” Ujar Tristan pada Alan sopan.
“Oh oke, silahkan.” Angguk Alan mempersilahkan.
Tristan kemudian bangkit dari duduknya dan sedikit menjauh dari Alan kemudian segera mengangkat telepon dari Williana.
“Halo kak...”
“Dimana kamu? kenapa sampai jam segini belum juga pulang?”
Tristan menoleh pada Alan sebentar yang sedang menikmati teh hangatnya.
“Eemm.. Aku masih dirumahnya Amira kak. Soalnya tadi disuruh makan malam sekalian sama ibu dan kakak nya Amira.” Jawab Tristan jujur.
“Jadi kamu lebih memilih makan malam bersama mereka dan membiarkan kakak makan sendiri dirumah, begitu?” Tanya Williana sinis.
“Eem, bu bukan begitu maksudnya kak. Cuma kan aku juga nggak enak kalau nolak.”
“Sepertinya apa yang dikatakan Putri memang benar yah, Amira itu membawa pengaruh buruk untuk kamu.”
Tristan berdecak. Williana memang tidak melakukan apapun untuk memisahkan Tristan dan Amira. Namun Williana sering sekali mencela Amira saat sedang berbicara dengan Tristan.
“Kak..”
“Pulang sekarang juga Tristan. Jangan banyak alasan.” Sela Williana dengan tegas kemudian langsung memutuskan sambungan telepon-nya begitu saja.
Tristan berdecak pelan. Pemuda itu kemudian kembali mendekat pada Alan yang masih duduk santai dikursinya.
“Em.. Kak, aku pulang dulu ya.. Udah di tungguin dirumah sama kak Williana soalnya.”
“Oh oke, apa perlu aku panggilin Amira?” Tanya Alan hendak bangkit dari duduknya.
“Oh nggak usah kak, kasihan Amira harus istirahat. Nggak papa nanti aku kirim pesan saja sama dia.” Senyum Tristan.
“Ya sudah kalau begitu. Hati hati dijalan.”
__ADS_1
“Ya kak..”
Tristan menyalimi Alan yang kemudian bangkit dari duduknya. Alan menatap Tristan yang menjauh darinya menuju motor gedenya. Sebelum benar benar berlalu, Tristan membunyikan klakson motornya dan mengangguk pelan pada Alan. Setelah itu Tristan mengendarai motornya berlalu dengan kecepatan sedang dari halaman rumah sederhana keluarga Alan untuk pulang.