ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 132


__ADS_3

Setelah dari rumah sakit, Stefan langsung mengajak Hana untuk menyambangi kediaman Williana. Stefan merasa ragu sebenarnya mengingat bagaimana Williana. Namun jika melihat bagaimana Hana sekarang Stefan yakin Williana pasti tidak akan bisa melawan-nya.


“Cepat sedikit dong Stef.. Aku udah nggak sabar pengin ngasih pelajaran sama Williana.”


Stefan menggelengkan pelan kepalanya. Hana sepertinya benar benar tidak bisa terima dengan apa yang Williana lakukan dengan diam diam menguntit Amira.


“Ya sabar dong sayang.. Sebentar lagi juga sampai kok.”


Hana berdecak merasa kesal. Entah kenapa Hana selalu saja tidak bisa mengontrol dirinya saat sedang emosi. Padahal Hana sering mewanti wanti dirinya sendiri agar bisa menahan emosinya. Namun saat emosi itu menguasai pikiran-nya, Hana sedikitpun tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Terkadang setelah marah Hana merasa tidak mengenal dirinya sendiri.


Hana melirik Stefan yang sedang fokus dengan kemudinya. Wanita itu kadang merasa khawatir Stefan akan bosan padanya. Apa lagi akhir akhir ini Hana juga selalu melakukan sesuatu semaunya sendiri.


Hana menghela napas dan memejamkan sesaat kedua matanya. Hal itu membuat Stefan mengeryit bingung.


“Kenapa?” Tanya Stefan kemudian.


Hana melirik Stefan sekilas kemudian menatap jalanan ramai yang sedang dilaluinya dengan Stefan menuju kediaman Williana yang belum sekalipun Hana sambangi.


“Enggak papa kok.” Jawab Hana.


Stefan mengangkat sebelah alisnya penasaran dengan ekspresi Hana yang berubah setelah terdiam beberapa saat. Padahal tadi Hana terlihat sangat marah dan menggebu gebu. Tapi sekarang Hana tampak sendu dan seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Apa kita pulang aja?” Tanya Stefan lagi.


Hana menoleh pada Stefan kemudian berdecak. Hana sudah sangat tidak sabar ingin mencaci maki Williana tapi Stefan malah bertanya apakah mereka pulang saja.


“Aku nggak akan mau pulang sebelum aku memberi peringatan pada Williana.” Tegas Hana.


Stefan diam diam tersenyum. Pria itu tidak sabar melihat reaksi Williana nanti jika sudah berhadapan dengan Hana. Stefan yakin Williana akan terkejut. Bahkan bisa saja Williana tidak bisa mengatakan apapun jika mendapat cacian dari Hana.


Beberapa menit kemudian mereka sampai tepat didepan kediaman mewah Williana. Tristan yang saat itu sedang berada di balkon kamarnya mengeryit bingung melihat mobil mewah Stefan berhenti tepat dihalaman rumah keluarganya bahkan persis di teras depan pintu utama rumah.

__ADS_1


“Itu kan kak Stefan sama istrinya. Mau ngapain mereka kesini? Apa mungkin kakak yang mengundang mereka untuk makan malam bersama? Tapi kan kakak sudah ada janji dengan Putri?”


Tristan terus bertanya tanya sendiri. Sebelumnya Stefan tidak pernah sekalipun datang kerumahnya meskipun dulu sering ada kabar bahwa kakaknya Williana menjalin kedekatan khusus dengan Stefan.


“Williana !!! Williana keluar kamu !!”


Kedua mata Tristan membulat mendengar pekikan keras Hana sambil memasuki rumahnya. Karena khawatir pada kakaknya, Tristan kemudian segera berlari dari balkon dan keluar dari kamarnya untuk melihat apa yang sedang terjadi sebenarnya.


Tristan berpikir mungkin Hana marah karena tau kakaknya dan Stefan mempunyai kedekatan khusus seperti rumor yang beredar di kalangan publik.


Sementara Williana yang sedang menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai dasar dimana meja makan berada mengeryit bingung mendengar suara lantang penuh emosi Hana yang memanggil manggil namanya dengan begitu tidak sopan.


“Kak, ada apa?”


Williana menoleh dan mendapati Tristan sudah berdiri di ujung tangga dilantai dua sambil menatapnya penuh ke khawatiran.


Williana menghela napas kemudian mengedikkan kedua bahunya tidak tau menahu dengan apa yang sedang terjadi. Williana merasa tidak menemui Stefan akhir akhir ini karena Williana sibuk sendiri dengan urusan bisnisnya. Williana bahkan juga belum sempat menjenguk Angel yang sampai sekarang masih berada dirumah sakit.


“Disini kamu rupanya Williana.”


“Apa begitu cara kamu bertamu kerumah orang lain Hana? Dimana sopan santun kamu sebagai nyonya di keluarga Devandra?” Tanya Williana menatap Hana sinis.


Hana menyipitkan kedua matanya menatap Williana yang perlahan mulai melanjutkan langkahnya menuruni satu persatu anak tangga mendekat pada Hana dan Stefan.


Begitu sampai didepan Hana, Williana melipat kedua tangan-nya dibawah dada menatap meremehkan pada Hana. Williana menatap sebentar pada Stefan yang diam seperti kacung dibelakang Hana.


Tristan yang khawatir melihat kemarahan yang terlihat jelas dari ekspresi Hana langsung berlari menuruni tangga mendekat pada kakaknya. Tristan berdiri tepat disamping Williana yang sedang berhadapan dengan Hana.


“Aku tidak perduli omong kosong kamu tentang sopan santun Williana. Aku kesini karena kamu yang sudah begitu lancang mengganggu orang ku.” Tegas Hana menatap tajam pada Williana.


Williana mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti dengan maksud Hana. Wanita itu tidak mengusik Hana sedikitpun. Williana akui dirinya memang terus berusaha menarik perhatian Stefan. Tapi rasanya tidak mungkin jika Stefan mengadu pada Hana setiap Williana mendekat padanya.

__ADS_1


Tristan yang berdiri di samping Hana menelan ludah merasa takut dengan kemarahan Hana. Padahal selama ini Tristan berpikir kakaknya lah wanita paling sadis di dunia. Tapi ternyata masih ada yang lebih sadis dan menyeramkan dari kakaknya yaitu Hana, nyonya dari keluarga Devandra.


“Apa maksud kamu Hana. Jangan seenaknya kalau ngomong. Jangan kamu pikir aku takut hanya karena kamu adalah istri ke dua Stefan.”


Hana tersenyum sinis. Wanita itu menatap dari atas sampai bawah penampilan Williana.


“Jangan kamu pikir aku tidak tau apa yang kamu lakukan pada Amira, Williana. Kamu membayar orang untuk membuntuti Amira bukan? Kamu bahkan juga menyuruh orang untuk menculik Amira?”


Tidak hanya Williana yang terkejut mendengarnya. Tristan bahkan jauh lebih terkejut karena apa yang di dengarnya. Tristan pikir kakaknya tidak merencanakan apapun pada Amira.


“Dengar Williana, aku sudah menganggap Amira seperti adikku sendiri. Jadi jangan pernah kamu macam macam sama dia. Kalau sampai kamu mengulangi lagi apa yang kamu lakukan pada Amira, aku tidak akan segan menjambak rambut jelek kamu itu. Aku juga tidak akan segan menghancurkan se isi rumah ini.”


Williana mendelik mendengar Hana mengancamnya. Sebelumnya tidak pernah ada satupun orang yang mengancamnya. Bahkan Stefan saja tidak pernah seperti itu padanya.


“Kamu..”


PLAK !


Satu tamparan keras dari Hana mendarat di pipi kanan Williana. Wanita itu sangat sangat terkejut dengan apa yang Hana lakukan padanya. Hana berani menamparnya didepan Stefan juga Tristan.


“Itu ganjaran untuk kamu karena sudah berani menyentuh Amira.” Marah Hana menatap Williana tajam.


Stefan yang melihat itu benar benar terkejut bukan main. Hana melakukan kekerasan fisik pada Williana.


Berbeda dengan Tristan yang hanya diam saja. Tristan sebenarnya juga sedang memendam kemarahan karena tau apa yang Williana lakukan pada Amira.


“Kamu ingat Williana. Jangan pernah macam macam dengan orang orang ku atau kamu akan tau akibatnya. Ayo Stef, kita pulang.”


Hana berlalu begitu saja setelah menampar dan mengancam Williana. Wanita itu merasa sangat puas sekarang karena sudah mengeluarkan kemarahan-nya pada Williana.


Stefan menghela napas. Pria tampan dengan kemeja putih tulang itu menatap bergantian pada Williana dan Tristan sebelum akhirnya menyusul Hana keluar dari rumah Williana.

__ADS_1


Stefan tidak menyangka jika Hana bisa semarah itu pada Williana sampai melakukan kekerasan fisik. Padahal yang Stefan bayangkan Hana hanya marah dan mencaci Williana saja, tidak sampai menamparnya.


“Aku nggak nyangka ternyata kakak tega melakukan itu.” Ujar Tristan kemudian berlalu meninggalkan Williana yang masih terkejut karena tamparan tiba tiba Hana.


__ADS_2