ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 248


__ADS_3

Siang ini Williana menghubungi Stefan dan mengatakan ada pertemuan mendadak untuk membahas tentang kerja sama mereka di luar jadwal Stefan. Mereka janji temu di tempat biasa mereka bertemu saat membahas tentang kerja sama antar perusahaan. Dan ketika sampai di tempat, Stefan mendapati Williana yang sudah berada disana sambil memainkan ponselnya.


Stefan langsung mendudukkan dirinya di kursi yang ada didepan Williana enggan menyapa wanita yang sampai sekarang masih saja mengganggunya. Williana bahkan tidak pernah takut dengan segala ancaman Stefan yang memang tidak pernah benar benar Stefan lakukan.


Menyadari kehadiran Stefan karena aroma maskulin pria tampan itu, Williana pun langsung menyudahi memainkan ponselnya. Wanita dengan dress ungu yang mencetak jelas bentuk tubuhnya itu tersenyum menatap Stefan yang begitu cuek dan dingin seperti biasanya.


“Hay Stefan, long time no see..” Sapanya dengan suara yang dibuat semenggoda mungkin.


Stefan hanya melirik Williana sekilas karena sedikitpun Stefan tidak pernah tertarik pada wanita itu.


“Dimana Boby?” Tanya Stefan enggan meladeni Williana yang selalu saja mencari kesempatan untuk menggodanya.


“Aku tidak tau. Mungkin Boby masih dijalan. Atau mungkin bisa juga dia tau kalau kita butuh waktu untuk berdua.” Jawab Williana sambil mengedikkan kedua bahu terbukanya.


Stefan tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya. Pria itu tidak habis pikir dengan sikap Williana yang begitu tidak pantang menyerah untuk menarik perhatian-nya. Williana bahkan sepertinya tidak punya sedikitpun rasa malu.


Stefan mengangkat tangan kirinya menyingkap pelan jas dan kemeja lengan panjang yang menutupi jam tangan yang dikenakan-nya. Pria itu mengeryit. Seharusnya Boby sudah datang sejak tadi bahkan sebelum dirinya datang mengingat pria itu adalah orang yang selalu tepat waktu.


Stefan tampak berpikir dan melirik sekilas pada Williana yang tersenyum manis menatapnya. Stefan merasa ada sesuatu yang aneh. Boby tidak pernah telat jika ada pertemuan untuk membahas tentang pekerjaan.


Merasa penasaran, Stefan pun merogoh saku dalam jasnya meraih ponselnya berniat menghubungi Boby. Namun saat Stefan sedang mencari kontak Boby, tiba tiba Williana merebut ponselnya membuat Stefan terkejut.

__ADS_1


“Apa apaan kamu Williana?” Tanya Stefan dengan penuh penekanan tidak terima dengan apa yang Williana lakukan dengan merebut ponsel miliknya. Tatapan pria itu menyorot begitu tajam pada Williana yang tetap terlihat santai tanpa sedikitpun merasa bersalah atau merasa tidak enak hati sudah bersikap kurang ajar dan tidak sopan padanya.


“Begini Stefan. Aku rasa kita tidak perlu terburu buru membicarakan tentang kerja sama kita. Yah.. Kita juga perlu santai bukan? Tidak harus kita memikirkan tentang pekerjaan. Jadi ada baiknya kita tunggu saja sampai Boby datang. Tidak perlu menghubunginya untuk menanyakan dimana dia sekarang.”


Stefan berdecak kemudian merebut kembali ponselnya dari tangan Williana. Sebisanya Stefan selalu menghindari pertemuan dengan wanita itu. Jika saja tidak terlibat kontrak, Stefan juga enggan berhubungan dengan perusahaan Williana.


“Bersikaplah sopan Williana. Atau saya akan membatalkan kontrak kerja sama kita.” Ujar Stefan tegas.


Williana memutar jengah kedua bola matanya. Wanita tidak habis pikir dimana letak kekurangan-nya sehingga Stefan tidak pernah mau bersamanya. Stefan bahkan sepertinya sangat anti dengan-nya. Sejak atau sebelum bersama dengan Hana.


“Apa aku harus menjadi pelayan di rumah kamu dulu Stefan supaya kamu mau menatapku? atau mungkin aku menjadi baby siter Angel atau Theo putra kedua kamu dengan perempuan itu?”


Stefan menggelengkan kepalanya. Stefan tidak tau sampai kapan Williana akan bersikap seperti itu padanya.


“Apa itu artinya kamu belum merasa muak denganku Stefan? Kalau benar begitu, aku akan terus berusaha sampai rasa nyaman itu lebih dulu muncul sebelum rasa muak itu.” Senyum Williana yang sedikitpun tidak merasa malu dengan apa yang di ucapkan-nya.


“Kamu benar benar perempuan yang tidak punya urat malu Williana. Kalau begitu detik ini juga kerja sama kita cukup sampai disini.”


Stefan meraih map berisi berkas yang dibawanya kemudian merobeknya didepan Williana.


Kedua mata Williana membulat tidak percaya melihat apa yang Stefan lakukan. Dirinya juga Stefan pasti akan mengalami kerugian besar jika sampai kerja sama antar perusahaan mereka berhenti begitu saja.

__ADS_1


“Stefan, jangan bodoh. Kita akan mengalami banyak kerugian jika kamu melakukan itu.” Ujar Williana berusaha mencegah apa yang Stefan lakukan dengan merobek berkas berkas penting tersebut.


Stefan tersenyum sinis. Menghentikan kontrak dengan salah satu perusahaan memang akan mengalami kerugian. Tapi bagi Stefan itu bukan masalah besar selama dirinya merasa nyaman dan tidak terus terusan di ganggu oleh Williana.


“Saya tidak perduli Williana.” Balas Stefan dengan santai.


Stefan kemudian menaburkan sobekan berkas tersebut pada Williana yang masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Stefan. Sebenarnya hari ini tidak ada pertemuan apapun. Itu hanya tipuan Williana saja pada Stefan agar bisa bertemu dengan pria itu. Itu sebabnya Boby sama sekali tidak datang.


“Satu lagi Williana, saya bukan orang bodoh. Saya tau bagaimana Boby. Dia bukan tipe orang yang suka mengulur ngulur waktu dalam masalah pekerjaan. Saya tau ini hanya akal akalan kamu saja supaya saya datang menemui kamu. Jangan kamu pikir kamu bisa mengelabuhi saya Williana.”


Setelah berkata begitu tegas, Stefan pun bangkit dari duduknya. Namun saat Stefan hendak berlalu tiba tiba Williana mencekal lengan-nya. Hal itu membuat emosi Stefan semakin memuncak. Stefan menatap lengan-nya yang dicekal oleh tangan putih bersih Williana penuh amarah.


“Singkirkan tangan kamu dari lengan saya Williana.” Tekan Stefan menatap Williana tajam.


“Enggak, aku nggak akan lepasin sebelum kamu duduk lagi Stefan.” Tolak Williana dengan tegas pula.


Stefan merasa tidak bisa lagi menahan emosinya. Pria itu menatap ke sekitar restoran tempat mereka berada. Disana memang hanya ada beberapa meja yang di tempati oleh pelanggan. Namun Stefan yakin jika sampai dirinya melakukan hal bodoh itu pasti akan menjadi pusat perhatian. Bukan tidak mungkin juga apa yang Stefan lakukan akan menjadi berita yang sangat tidak mengenakan mengingat siapa dirinya juga Williana di pandangan publik.


“Williana, saya bisa membuat perusahaan kamu hancur seperti berkas penting kerja sama ini jika kamu tidak juga melepaskan tangan saya.” Ancam Stefan dengan tenang.


Refleks Williana langsung menarik tangan-nya karena terkejut mendengar ancaman Stefan kali ini. Williana juga bukan wanita bodoh yang mau kehilangan semuanya hanya karena salah mendekati Stefan.

__ADS_1


“Bagus.” Senyum miring Stefan.


Stefan mengusap bekas cekalan tangan Williana di lengan-nya kemudian berlalu dengan gaya coolnya dari restoran tersebut.


__ADS_2