
Malam ini Tristan kembali pulang terlambat. Bahkan Tristan pulang saat Williana sudah berada dirumah.
“Pulang telat lagi?”
Pertanyaan Williana membuat langkah Tristan terhenti. Pemuda itu menoleh dan tersenyum ketika mendapati Williana yang sedang duduk santai di sofa ruang tamu dengan majalah yang sedang menjadi pusat perhatian-nya.
Tristan melangkah mendekat pada sang kakak kemudian memposisikan dirinya duduk di samping Williana yang masih tidak berpaling dari majalah yang berada di pangkuan-nya.
“Iya kak.. Hari ini aku sama Amira latihan dansanya agak lama. Yah.. supaya Amira cepet lues.” Kata Tristan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
Williana tersenyum miring kemudian menggelengkan kepalanya. Wanita itu menutup majalah yang sedang di bacanya lalu menatap pada Tristan.
“Memangnya harus dengan dia ya? Kalau nyatanya memang dia nggak bisa ngapain di paksain. Memangnya di kelas kamu nggak ada apa teman perempuan yang bisa dansa?”
Tristan berdecak mendengarnya.
“Ya kan aku maunya sama Amira kak.” Jawabnya merasa jengah pada sikap sang kakak.
“Amira... Sehebat apa sih memangnya dia, sampai kamu saja begitu sangat tergila gila? Apa lebihnya dia? Kaya enggak, cantik juga enggak.”
“Kakak nggak akan tau bagaimana rasanya mencintai dan di cintai seperti apa yang aku rasakan sekarang, kalau kakak saja masih berharap sama kak Stefan.” Balas Tristan kembali menegakkan tubuhnya.
Kedua mata Williana melebar mendengar apa yang Tristan katakan.
“Diam kamu Tristan. Kamu tidak tau apa apa. Tidak seharusnya kamu menyinggung soal kakak dan Stefan.” Marah Williana tidak terima.
Tristan tertawa merasa sangat lucu dengan sikap kakaknya sendiri. Williana selalu saja merendahkan orang lain. Tapi sedikit saja dirinya di singgung Williana akan sangat marah.
__ADS_1
“Baru di singgung sedikit saja kakak sudah marah. Tapi kakak suka sekali menyinggung perasaan orang lain. Kakak selalu menganggap diri kakak yang paling benar. Paling pintar dan paling bisa melakukan segala hal.”
Rahang Williana mengeras. Tristan begitu sangat berani dengan terang terangan menyinggung kakaknya sendiri. Dan itu Tristan lakukan karena tidak terima Williana terus saja merendahkan Amira, pujaan hatinya.
“Kamu berani sekali Tristan. Kamu benar benar sudah terpengaruh oleh gadis itu.” Tekan Williana marah.
Tristan menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan tingkah kakaknya yang selalu saja menyalahkan orang lain.
“Kakak salah. Yang membuat aku seperti ini adalah kakak, bukan Amira. Kakak selalu bertindak semau kakak sendiri tanpa sedikitpun memikirkan orang lain bahkan aku, adik kakak sendiri. Kakak hanya mementingkan diri kakak sendiri. Kakak egois, dan kakak nggak pernah sekalipun mau mengerti perasaan aku.”
Williana menyipitkan kedua matanya menatap tidak suka pada Tristan yang malah melimpahkan segala kesalahan padanya.
“Kalau saja Amira tidak sering menyabarkan aku, mungkin aku sudah pergi lagi dari rumah ini kak.. Karena sebenarnya aku muak dengan semua aturan kakak.”
“Kamu..”
“Cukup Tristan !” Marah Williana yang refleks melayangkan tamparan keras pada Tristan. Hal itu membuat Tristan langsung diam.
Williana terkejut menyadari apa yang dilakukan-nya pada Tristan. Wanita itu menatap tangan-nya sendiri yang dia gunakan untuk menampar Tristan karena emosinya yang tiba tiba membludak itu.
“Ya Tuhan..” Lirih Williana dengan suara bergetar. Williana tidak menyangka jika tangan-nya akan menyakiti adik satu satunya itu.
“Tristan kakak..”
“Kakak nggak perlu berlebihan. Tamparan ini tidak sesakit apa yang selama ini kakak lakukan sama aku dengan membatasi apa yang seharusnya bisa aku lakukan dengan bebas.” Sela Tristan mencoba untuk tetap tenang menahan rasa sakit di pipinya akibat tamparan keras dari Williana.
Williana menelan ludah tidak menyangka dirinya akan menampar adiknya sendiri. Namun apa yang keluar dari bibir Tristan tadi benar benar membuat Williana tidak bisa menahan emosinya sehingga tiba tiba refleks tangan-nya melayang begitu saja kemudian mendarat dengan keras di pipi kanan Tristan.
__ADS_1
“Aku selalu berharap kakak tidak salah melangkah.” Lirih Tristan lalu bangkit dari duduknya dan melangkah menjauh dari Williana yang merasa sangat menyesal telah menamparnya.
“Ya Tuhan.. Apa yang aku lakukan?”
Pandangan Williana mengabur menatap tangan-nya sendiri. Genangan air memenuhi kedua kelopak matanya hingga akhirnya tetesan bening itu mulai meluncur menyeberangi kedua pipi tirusnya.
Ya, Williana menangis menyesali apa yang baru saja dia lakukan pada Tristan.
“Tristan.. Maafin kakak dek..” Lirihnya terus menatap tangan-nya yang tadi melayang dengan keras di pipi kanan Tristan.
Tidak jauh berbeda dengan Williana, Tristan pun menangis dalam diam sembari melangkahkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Pemuda itu menangis bukan karena rasa sakit dari tamparan kakaknya Williana. Tapi karena rasa kecewa pada kakaknya yang tidak pernah sekalipun menyadari kesalahan-nya. Bahkan meski sudah mendapat peringatan keras dari seorang Stefan Devandra.
Namun se kecewa apapun Tristan pada Williana, Tristan tetap tidak akan pernah bisa membenci wanita itu. Tentu saja karena Tristan bahwa Williana sangat menyayanginya di balik sikap keras dan keterlaluan-nya. Tristan sangat berterimakasih dan bersyukur karena memiliki Williana sebagai kakaknya yang sudah begitu berjasa memberikan segala yang terbaik untuknya meski sering kali caranya salah.
“Kalau saja kalian masih ada disini sekarang. Kakak pasti tidak akan bersikap seperti ini.. Kakak pasti akan mendengarkan nasehat kalian..” Batin Tristan yang kembali teringat akan sosok kedua orang tuanya yang sudah lama meninggalkan-nya dan Williana karena peristiwa kecelakaan yang juga hampir merenggut nyawa Tristan dulu.
“Tristan tunggu !!”
Tristan langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Williana yang memanggilnya. Pemuda itu memejamkan sesaat kedua matanya sembari menelan ludah membasahi kerongkongan-nya yang terasa panas juga kering.
“Kakak minta maaf.. Kakak nggak bermaksud untuk memukul kamu Tristan.. Maaf..” Ujar Williana dengan suara tersendat.
Tanpa menoleh atau membalikkan tubuhnya pun Tristan tau kakaknya sedang menangis. Tristan tau kakaknya pasti merasa bersalah karena memukulnya. Tapi sekarang Tristan benar benar tidak ingin mendengar apapun dari mulut kakaknya yang pasti akan kembali menyalahkan pihak yang tidak seharusnya disebut sekarang.
Tristan kembali melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju lantai dua menjauh dari Williana yang menangis menyesal akan apa yang baru saja dia lakukan tanpa sengaja pada Tristan.
__ADS_1