ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 180


__ADS_3

Sera sedang menemani Angel mewarnai gambarnya saat mbak Titin menghampirinya dan mengatakan ada dokter Rania dan Alan yang datang.


Sera mengeryit. Tidak biasanya dokter Rania datang kerumahnya apa lagi dengan Alan yang adalah sahabat dari Hana juga orang yang pernah Stefan celakai secara tidak sengaja.


Mendadak Sera merasa khawatir. Sera takut jika ternyata Alan sudah tau bahwa Stefan yang mencelakainya dan berniat untuk memberitahu Hana kemudian membawa Hana pergi dari rumahnya.


“Enggak.. Aku nggak boleh berpikir terlalu jauh. Stefan bilang hanya Rico dan para body guard yang tau kejadian malam itu. Alan tidak mungkin tau.” Batin Sera mengusir jauh jauh pemikiran buruknya.


“Oma kenapa?”


Pertanyaan polos Angel membuat Sera tersenyum. Wanita itu mengusap lembut kepala Angel.


“Oma turun sebentar ya sayang.. Kamu mewarnainya biar di temenin sama mbak Titin.”


“Oke oma..” Angguk Angel mengerti.


“Ya sudah, oma turun ya.. Mbak Titin, tolong temani Angel mewarnai ya..”


“Baik nyonya..”


Sera kemudian bangkit dari duduknya di sofa dan melangkah berlalu dari ruang keluarga yang berada dilantai dua rumahnya. Sera melangkah menuju tangga dan menuruninya satu persatu untuk menemui dokter Rania dan Alan yang sudah menunggunya diruang tamu.


Sera berhenti melangkah ketika sampai tidak jauh dari ruang tamu. Wanita itu terdiam sesaat menatap Alan dan dokter Rania yang duduk sejajar di sofa panjang diruang tamu.


Sera menghela napas pelan kemudian kembali melanjutkan langkahnya untuk menemui tamunya.


“Rania, Alan...”


Dokter Rania juga Alan langsung berdiri dari duduknya saat Sera muncul. Mereka berdua tersenyum manis dan langsung menyalimi Sera dengan sopan secara bergantian.

__ADS_1


“Tante.. Apa kabar tante?” Senyum dokter Rania bertanya.


“Baik, tante sangat baik. Kalian berdua sendiri bagaimana kabarnya?”


“Seperti yang tante lihat sekarang. Kami berdua juga sangat baik tante.” Jawab dokter Rania.


“Syukurlah kalau begitu. Oh ya, silahkan duduk lagi. Kalian mau minum apa?”


“Oh nggak perlu repot repot tante.” Tolak halus dokter Rania sambil duduk kembali ke sofa begitu juga dengan Alan yang hanya diam saja.


“Nggak repot kok, kan bukan tante yang bikin.” Tawa Sera.


Kebetulan saat itu ada pelayan yang melintas dan Sera meminta tolong agar pelayan tersebut membuatkan minuman untuk Alan dan dokter Rania.


“Eemm.. Jadi kedatangan kami kesini karena kami ingin bertemu dengan Hana tante. Rasanya kami sudah sangat lama tidak bertemu dengan Hana dan sebagai seorang teman kami merindukan Hana..”


Sera menahan napas sesaat. Wanita itu kemudian tertawa lagi. Perasaan tidak enak itu muncul lagi di hatinya.


“Oh enggak tante. Nggak ada. Kami hanya ingin bertemu saja.” Jawab dokter Rania cepat.


“Sayang banget ya.. Hana nya lagi pergi jadi kalian nggak bisa ketemu sekarang.” Sesal Sera menatap dokter Rania dan Alan bergantian.


“Nggak papa tante. Mungkin lain kali kami bisa kesini lagi setelah Hana pulang.”


Alan hanya bisa menghela napas pelan. Pria itu ingin sekali melihat bagaimana Hana sekarang. Apa lagi Alan juga tau Hana sedang hamil besar. Alan semakin merasa penasaran bagaimana sosok Hana dengan perut buncitnya sekarang.


Karena Hana yang tidak ada dirumah, dokter Rania dan Alan pun memilih untuk segera pamit setelah mengobrol sebentar dengan Sera. Mereka berdua segera berlalu dari kediaman mewah Stefan meninggalkan Sera yang akhirnya bisa bernapas dengan lega karena niat Alan dan dokter Rania bertemu dengan Hana harus tertunda.


“Nggak papa kan?”

__ADS_1


Alan mengeryit mendengar pertanyaan dokter Rania. Pria itu kemudian mengurangi kecepatan motornya dan menepi ditepi jalan yang cukup ramai malam itu.


“Nggak papa apanya?” Tanya balik Alan menoleh pada dokter Rania yang ada di boncengan-nya.


“Ya.. Tadikan kamu nggak jadi ketemu sama Hana karena Hana nya nggak ada. Kamu nggak kecewa kan?”


Tawa Alan pecah mendengarnya. Pria itu bahkan sampai memegangi perutnya yang terasa geli karena apa yang dokter Rania tanyakan padanya.


“Kok ketawa sih? Memangnya ada yang lucu?” Tanya dokter Rania merasa kesal karena Alan malah tertawa.


“Ya.. bahkan sangat lucu dokter.” Jawab Alan setelah tawanya mereda.


Dokter Rania menatap Alan menuntut penjelasan atas apa yang dimaksud dengan lucu oleh pria itu.


“Eh dokter, pasti kamu berpikir sekarang aku masih memiliki perasaan pada Hana kan? kamu juga pasti berpikir aku mengajak kamu datang kerumah tuan Stefan untuk bertemu dengan Hana karena aku merindukan-nya, begitu kan?”


Dokter Rania tampak terkejut namun hanya diam saja. Wanita itu tidak menyangka Alan bisa dengan tepat menebak apa yang ada di pikiran-nya.


“Dokter salah besar kalau menganggap aku masih memiliki perasaan pada Hana. Karena pada kenyataan-nya aku sudah berhasil melupakan Hana dari hati juga pikiranku. Aku memang ingin bertemu dengan Hana, aku merindukan dia. Tapi rindu itu hanya sebatas rindu seorang sahabat pada sahabat lamanya dokter. Bagaimanapun juga kami bersahabat sejak kecil.” Ujar Alan menjelaskan.


Mendengar itu tiba tiba dokter Rania merasakan hatinya begitu lega dan lapang. Ada setitik rasa hangat yang tiba tiba terasa dihatinya yang detik berikutnya langsung menyebar ke seluruh tubuhnya. Semua itu membuat dokter Rania mendadak merasa berbunga bunga juga bahagia.


“Ya Tuhan.. Bodoh sekali aku ini.. Untuk apa aku menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sangat tidak perlu di dengar oleh dokter Rania..” Batin Alan yang entah kenapa tiba tiba merasa menyesal sudah menjelaskan sementara dokter Rania saja sama sekali tidak merespon apapun atas penjelasan-nya.


“Hem.. Sudah malam dokter, sebaiknya dokter aku antar pulang sekarang.”


Merasa malu juga menyesal dengan penjelasan-nya, Alan pun segera mengalihkan pembicaraan. Pria itu kembali menghidupkan mesin motornya dan melaju dengan kecepatan sedang untuk mengantar dokter cantik itu pulang ke rumahnya.


“Aku ikut bahagia Alan kalau kamu memang sudah benar benar berhasil melupakan Hana. Karena dengan begitu kamu tidak akan lagi tersiksa dengan perasaan kamu sendiri. Karena yang Hana cintai sekarang adalah Stefan, bukan kamu.” Batin dokter Rania tersenyum.

__ADS_1


Setelah mengantar dokter Rania pulang, Alan pun segera menuju jalan pulang kerumahnya. Dan sepanjang perjalanan menuju pulang Alan terus merutuki dirinya sendiri dalam hati. Entah apa yang ada di pikiran Alan tadi sehingga dirinya tiba tiba menjelaskan tentang perasaan-nya pada dokter Rania. Sedangkan Alan sendiri yakin dokter Rania tidak ingin tau apapun tentang perasaan-nya.


“Dasar bodoh kamu Alan. Kamu mempermalukan diri kamu sendiri. Untuk apa menjelaskan sesuatu yang tidak perlu.”


__ADS_2