ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 212


__ADS_3

Alan dan ibu terkejut mendengar apa yang dokter Rania katakan tentang Hana yang sudah melahirkan anaknya dengan proses operasi di Amerika. Mereka bertanya tanya apakah tujuan Stefan dan Hana pergi adalah untuk proses operasi tersebut.


“Memangnya kenapa Hana sampai di operasi dokter? Apa sesuatu terjadi pada Hana sampai untuk operasi saja tuan Stefan harus membawa Hana ke Amerika? Apa sesuatu yang menimpa Hana itu sangat gawat?” Tanya ibu dengan mimik wajah penuh ke khawatiran.


Dokter Rania terdiam sesaat kemudian tersenyum menatap ibu. Dokter cantik itu tau ibu Alan memang sangat menyayangi Hana. Wajar saja, ibu mengenal Hana sudah lama.


Dokter Rania meraih kedua tangan ibu yang duduk disampingnya, menggenggamnya dengan lembut berusaha untuk menenangkan wanita itu dengan sentuhan lembutnya.


“Bu.. Hana tidak menderita apapun. Kepergian Hana dan Stefan kesana juga bukan karena Hana yang harus di operasi. Hana mengalami insiden disana yang akhirnya harus dilarikan kerumah sakit dan dokter disana terpaksa harus mengeluarkan janin dalam kandungan Hana demi kebaikan keduanya. Tapi operasi itu berjalan lancar bu. Hana dan bayinya sudah baik baik saja.” Jelas dokter Rania pelan.


Alan menghela napas mendengarnya. Meski memang cintanya pada Hana tidak terbalas bahkan bertepuk sebelah tangan karena Hana memilih untuk bersama Stefan, tapi perasaan khawatir itu tetap Alan rasakan karena Hana adalah sahabat yang selalu bersamanya sejak kecil.


“Ya Tuhan.. Syukurlah kalau begitu. Lalu, dokter apa Hana dan tuan Stefan sudah kembali ke jakarta?” Hela napas lega ibu kemudian kembali bertanya pada dokter Rania tentang Hana.


“Saya tidak tau kapan Hana akan kembali ke indonesia bu.. Tapi yang terpenting Hana dan bayinya baik baik saja. Nanti kalau Hana dan Stefan sudah kembali lagi ke jakarta, kita bisa sama sama kesana.”


Alan hanya diam saja. Pria merasa tenang karena Hana dan bayinya baik baik saja.


“Ya dokter. Kalau dokter mau kesana tolong kabari ibu ya.. Ibu juga ingin sekali melihat langsung bagaimana keadaan Hana.” Ujar ibu menatap dokter Rania penuh harap.


Dokter Rania hanya menganggukan kepala menjawabnya. Wanita itu terus mengembangkan senyuman manis di bibirnya menatap ibu yang terlihat begitu khawatir meski sudah dijelaskan detail tentang keadaan dan bayinya.


“Dokter, anak Hana dan tuan Stefan laki laki atau perempuan?” Tanya ibu lirih.


Dokter Rania diam. Wanita itu lupa tidak menanyakan tentang jenis kelamin bayi yang di lahirkan oleh Hana pada Rico.


“Hem.. untuk itu saya belum tau bu.. Saya lupa menanyakan-nya pada asisten Stefan. Saya sudah berusaha menghubungi Stefan untuk menanyakan langsung. Tapi Stefan tidak mengangkat telepon dari saya. Mungkin dia sibuk.”


“Yah.. Biasanya suami yang baik memang akan seperti itu dokter. Dia akan memprioritaskan anak dan istrinya dan tidak perduli dengan yang lain-nya.” Senyum haru ibu merasa bahagia dengan asumsi baiknya terhadap Stefan.

__ADS_1


Alan hanya tersenyum tipis mendengarnya. Selama ini Alan juga selalu berusaha menilai Stefan dengan baik. Apa lagi Stefan juga yang sudah membuat kondisi keuangan keluarganya jauh lebih baik sebelumnya. Misalnya tentang biaya sekolah kedua adiknya yang tidak lagi membebani Alan juga ibunya.


Amira yang juga mendengar pembicaraan itu dari celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka ikut merasa lega karena Hana dan bayinya selamat dan baik baik saja.


Amira tiba tiba mengeryit.


“Apa mungkin perasaan nggak enak ibu itu adalah pertanda bahwa sesuatu yang buruk sedang menimpa kak Hana hari itu?” Gumam gadis cantik itu tampak berpikir.


----------


Sementara itu di kediaman Atmaja, Tristan baru saja masuk kedalam kediaman mewahnya saat tidak sengaja mendapati kakaknya Williana yang sedang melamun sendiri di ruang tamu.


Tristan mengeryit kemudian mengangkat pergelangan tangan kirinya untuk menilik waktu.


“Masih jam segini, tumben banget kakak udah pulang?” Gumamnya bertanya pada dirinya sendiri merasa heran karena tidak biasanya Williana sudah berada dirumah. Biasanya wanita itu selalu pulang larut dengan alasan sibuk karena pekerjaan-nya.


Karena merasa penasaran, Tristan pun mendekat pada sang kakak yang sepertinya tidak menyadari kehadiran-nya. Tristan mendudukkan dirinya tepat disamping Williana yang asik melamun.


“Kak..” Panggil Tristan pelan. Namun sepertinya yang di panggil sama sekali tidak mendengar. Williana bahkan tetap menatap lurus kedepan dengan pandangan menerawang jauh.


Tristan semakin merasa penasaran. Tidak biasanya kakaknya bersikap seperti itu.


Karena Williana yang tidak juga menyaut ketika Tristan mencoba memanggilnya lagi, Tristan pun akhirnya menyentuh lembut bahu wanita bersetelan piyama warna peach itu. Dan sentuhan lembut serta panggilan pelan Tristan yang ketiga kalinya itu berhasil menyadarkan Williana dari dunianya sendiri.


Williana menoleh dan tampak terkejut mendapati Tristan yang sudah ada disampingnya.


“Eh kamu.. Sudah pulang?” Senyum Williana menatap Tristan.


Tristan mengangkat sebelah alisnya. Aneh sekali rasanya mendapat pertanyaan seperti itu dari kakaknya.

__ADS_1


“Harusnya tuh Tristan yang nanya ke kakak. Tumben kakak jam segini sudah dirumah? biasanya kan kita hanya ketemu pagi doang pas sarapan. Ketemu malem kalau Tristan lagi nggak bisa tidur dan sengaja nungguin kakak pulang kan?”


Williana mengangguk pelan. Kesibukan memang selalu menyita waktu berharganya bersama Tristan, adik yang paling dia sayangi.


“Ya.. Hari ini kakak tidak terlalu sibuk Tristan. Jadi pulang lebih cepat dari biasanya. Kamu abis nganterin Amira ya?”


Tristan diam sesaat. Meskipun memang Williana tidak melarang dirinya berhubungan dengan Amira, namun Williana juga tidak pernah mau akrab dengan Amira. Bahkan sesekali Williana berkata pedas pada Amira didepan Tristan langsung. Beruntungnya Amira adalah gadis yang keras kepala dan tidak terlalu memperdulikan ucapan tidak baik yang di tujukan pada dirinya.


“Ya kan memang tugas Tristan sebagai pacarnya Amira ya begitu. Melindungi, menjaga, dan memastikan Amira pulang dengan selamat dan aman sampai didepan pintu kamarnya.” Jawab Tristan tenang.


Williana tersenyum tipis. Wanita itu yakin adiknya adalah pria yang baik dan bertanggung jawab.


“Beruntung banget ya gadis miskin itu jadi pacarnya kamu. Udah baik, keren lagi.”


Tristan berdecak. Kakaknya mulai berkata yang tidak baik tentang Amira.


“Kakak jangan gitu dong ngomongnya. Amira itu anaknya baik loh kak. Justru Tristan yang beruntung karena memiliki Amira sebagai pacar Tristan.” Protes Tristan pelan.


“Huh, oke oke. Kakak nggak mau bahas panjang lebar tentang dia. Oh iya kamu sudah makan belum?”


Enggan membahas terlalu panjang tentang Amira, Williana pun bertanya pada Tristan untuk mengubah topik.


“Sudah kak..”


“Syukurlah..” Senyum Williana manis.


“Ya udah kalau gitu Tristan ke kamar yah, ada tugas yang harus Tristan kerjakan buat besok.”


“Oh okay. Belajar yang rajin ya adik kakak yang keren.” Ujar Williana membelai lembut puncak kepala Tristan.

__ADS_1


Tristan hanya mengangguk dengan senyuman tipisnya kemudian bangkit dari duduknya disamping Williana meninggalkan Williana sendiri lagi di ruang tamu.


Williana menghela napas pelan. Sebenarnya wanita itu sedang berpikir kenapa Stefan sedikitpun tidak pernah mau meliriknya.


__ADS_2