ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 218


__ADS_3

Amira mengajak Tristan untuk singgah lebih dulu di taman sebelum ke tempat mie ayam langganan mereka berdua di pinggir jalan. Gadis itu mengajak Tristan untuk duduk di kursi panjang didekat motor gede warna merah milik Tristan.


“Aku penasaran pengin buka amplop gaji aku Tristan.” Katanya pada Tristan.


“Ya udah coba buka. Aku juga penasaran. Itu isinya uang semua apa bukan.”


“Ya uang semua lah Tristan. Walaupun ini receh tapi ini berharga banget tau buat aku.”


Tristan tertawa geli. Sebenarnya Tristan sudah tau dan bisa menebak bahwa isi amplop itu adalah uang karena sebelumnya pak Ang juga sudah bilang padanya kalau dalam amplop yang di pegang oleh Amira terdapat uang gajinya dan Amira.


“Oke, aku buka sekarang.”


Pelan pelan Amira mulai menyobek amplop tersebut. Begitu amplop tersebut terbuka sedikit, Amira terkejut melihat uang lima puluh ribuan yang begitu banyak.


“Loh Tristan ini kok...” Amira tidak bisa berkata kata. Yang langsung terbesit di benaknya adalah mungkin amplop berisi uang gajinya tertukar dengan uang yang di niatkan untuk belanja oleh pak Ang tadi.


“Aku harus telepon pak Ang sekarang. Pak Ang pasti lagi kebingungan Tristan.” Katanya cepat sembari merogoh tas selempangnya mencari ponselnya untuk menghubungi pak Ang.


“Eh eh.. Kamu mau ngapain Amira?” Tanya Tristan mengeryit melihat Amira yang mulai mencoba menghubungi pak Ang.


“Aku mau telepon pak Ang. Kasihan tau Tristan. Nanti di sangkanya uang buat belanjanya ilang gimana?”


Tristan menghela napas. Dengan lembut Tristan mengambil alih ponsel yang sudah Amira tempelkan di daun telinganya. Namun saat ponsel itu sudah ada di tangan Tristan, ternyata pak Ang sudah mengangkat telepon tersebut. Tristan pun langsung menempelkan ponsel milik Amira ke daun telinganya berbicara sebentar pada pak Ang.


“Loh Tristan kok itu..”

__ADS_1


“Eh Amira, denger ya.. Amplop itu tuh nggak ketuker sama amplop apapun. Lagian mana mungkin sih pak Ang nyimpen uang buat belanja barang di amplop. Ya pasti di dompetlah atau di tas kecil yang biasa dia bawa.”


“Tapi ini.. Gaji aku nggak sebanyak ini Tristan. Kalau cuma lebih satu dua lembar mungkin itu gaji aku yang naik. Tapi ini.. Ini dua kali lipat loh bahkan sepertinya lebih..” Ujar Amira sedikit gagap karena bingung dengan uang gaji yang di terimanya.


“Jadi sebenarnya tadi itu pak Ang bilang sama aku itu adalah uang gaji aku dan kamu yang di jadiin satu. Pak Ang bilang suruh dibagi dua sama rata. Jadi itu bukan amplop yang tertukar atau yang lain-nya. Tapi itu adalah gaji kamu.”


Amira mengeryit menatap Tristan kemudian beralih pada amplop tebal berisi uang gajinya.


“Maksudnya pak Ang kasih kamu gaji juga. Begitu?” Tanya Amira menatap Tristan tidak percaya.


“Iya..” Angguk Tristan menjawab.


Amira menghela napas merasa lega. Gadis itu kemudian mengeluarkan uang itu dari amplop dan membagi dua. Amira juga sudah menghitungnya sama rata. Setelah itu Amira menyodorkan separuh dari uang yang di pegangnya pada Tristan.


Tristan tertawa pelan melihatnya. Pemuda itu menerima uang yang menurutnya tidak seberapa itu. Tapi Tristan yakin uang itu sangat berharga bagi Amira. Karena dengan uang itu Amira bisa membantu ibunya juga kakaknya. Amira juga bisa memenuhi kebutuhan-nya sendiri tanpa harus meminta uang. Dan lagi Amira bisa memberi uang jajan pada adiknya, Aisha.


Tristan menatap Amira yang juga masih menatapnya. Tristan meraih tangan Amira dan memberikan kembali uang itu pada Amira. Hal itu membuat Amira kembali mengeryit.


“Aku nggak pernah berniat kerja pada pak Ang. Aku hanya ingin bisa selalu ada buat kamu Amira. Aku ingin bisa membantu kamu. Ya walaupun nggak mungkin aku bisa membantu dengan memberikan uang. Tapi setidaknya aku bisa membantu kamu dengan tenaga aku. Jadi aku merasa aku nggak perlu dengan uang ini. Uang ini buat kamu aja Amira. Ini itu gaji kamu.”


Amira menggelengkan kepalanya. Tristan terlalu banyak membantunya.


“Tristan tapi...”


“Amira, aku kan pacar kamu dan aku yakin aku juga yang akan menjadi suami kamu nanti. Jadi aku sedang latihan buat selalu ada buat kamu. Kan nantinya juga aku yang bakal kerja cari uang buat nafkahin kamu kalau kita sudah menikah. Ya kan?” Sela Tristan membuat ekspresi Amira langsung berubah.

__ADS_1


Amira mengulum senyumnya mendengar Tristan berbicara tentang pernikahan yang sebenarnya masih sangat jauh untuk di jangkau itu karena mereka masih duduk dibangku sekolah. Sedang mereka sendiri masih harus menempuh pendidikan yang lain sebelum benar benar siap untuk hidup bekerja sama dalam sebuah ikatan yang serius.


“Apaan sih ngomongnya. Masih kecil juga.”


Tristan berdecak mendengar itu. Tristan juga tau dirinya dan Amira masih kecil. Tapi Tristan tidak sedikitpun bercanda dengan apa yang di katakan-nya. Baginya Amira adalah dunia baru yang membuatnya bebas dari kekangan Williana. Amira juga adalah gadis yang mengajari Tristan bagaimana dirinya harus bertahan ditengah kesulitan hidup di kota yang keras. Meski pada akhirnya memang Tristan harus kembali bersandar pada sang kakak, yaitu Williana. Tapi setidaknya Tristan sudah melalui hal yang sangat tidak biasa yang membuat Tristan sadar bahwa uang bukanlah segalanya. Meski memang segala sesuatu didalam kehidupan membutuhkan uang.


“Memangnya kamu nggak mau ya nikah sama aku?” Tanya Tristan menatap Amira sendu.


“Iiih apaan sih nanya nya. Kita itu masih kecil Tristan, masih harus sekolah, terus kuliah, ya.. Meskipun aku tidak tau bisa atau enggak. Tapi kalau kamu itu sudah pasti harus mengejar semua itu Tristan. Kamu itu calon orang hebat. Kamu bakal jadi pemimpin di perusahaan besar. Makan-nya kamu itu harus serius belajar biar kamu jadi orang yang pintar. Oke?”


Tristan tersenyum tipis kemudian meraih satu lagi tangan Amira yang memegang separuh uang dari bagian sama ratanya, menggenggamnya dengan lembut.


Amira yang mendapat perlakuan begitu lembut dari Tristan hanya bisa diam dengan jantung yang berdetak sangat cepat.


“Amira aku serius. Aku tau kita masih kecil. Tapi aku bener bener pengin sama kamu terus. Apapun rintangan-nya Amira, aku mohon kamu tetap bertahan dengan hubungan ini. Aku tidak akan bisa menjadi orang hebat tanpa kamu.” Lirih Tristan menatap Amira serius.


Amira tidak tau harus membalas apa. Tapi Amira juga tidak bisa bohong. Amira bahagia mendengar apa yang Tristan katakan.


“Kamu mau kan Amira jalani semua ini sampai kita benar benar bisa bersama saat kita dewasa kelak?” Tanya Tristan menatap Amira penuh harap.


Amira menghela napas kemudian melepaskan genggaman tangan Tristan pelan.


“Iya iya aku mau. Ya udah yuk katanya mau makan mie ayam.” Senyum Amira kemudian bangkit dari duduknya.


Tristan tersenyum lebar mendengarnya. Tristan kemudian mengangguk mengiyakan ajakan Amira. Tristan yakin dirinya pasti bisa selalu bersama dengan Amira seperti apa yang Tristan inginkan.

__ADS_1


__ADS_2