
Stefan tidak tau harus senang atau tidak. Kehamilan adalah sesuatu yang sangat di tunggu tunggu oleh pasangan suami istri yang saling mencintai. Dan dirinya juga Hana adalah pasangan yang saling mencintai.
“Stefan?”
Sentuhan Hana di tangan-nya membuat Stefan tersentak. Lamunan pria tampan itu seketika langsung buyar. Stefan menatap Hana yang masih berbaring diatas tempat tidur. Tidak tega melihat Hana yang lemah, Stefan akhirnya memutuskan untuk tidak jadi pergi ke perusahaan. Stefan memilih untuk menemani Hana yang sedang merasa tidak enak badan.
“Kamu kenapa?” Tanya Hana menatap Stefan dengan wajah sendunya.
Stefan menelan ludah. Pria itu masih bingung harus bereaksi seperti apa. Masa lalu kembali membayanginya membuat Stefan merasa takut akan kembali mengalaminya. Apa lagi Stefan juga tau ada pria yang diam diam mencintai Hana, istrinya. Stefan takut Hana akan memilih Alan suatu saat nanti.
Stefan menghela napas. Pria itu menatap perut rata Hana kemudian mengusapnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Hana tersenyum menatap tangan Stefan yang begitu lembut mengusap perutnya. Hana merasa semua itu masih seperti mimpi. Dirinya hamil anak Stefan.
“Angel dan mamah pasti akan senang kalau tau didalam sini ada Stefan junior..” Gumam Stefan membuat Hana tersenyum geli.
Stefan memang menunjukan reaksi yang tidak berlebihan mendengar Hana hamil. Tapi Hana berusaha untuk memaklumi itu. Toh selama dirinya mengenal dan bersama Stefan pria itu memang datar dan dingin.
Hana menghela napas pelan. Gejala awal kehamilan-nya memang tidak begitu menonjol. Hana juga belum mengalami muntah di pagi hari. Hanya saja beberapa hari belakangan Hana sering merasakan perut bagian bawahnya sakit.
“Aku akan menelepon mamah nanti.” Ujar Hana dengan senyuman dibibirnya.
Stefan hanya menganggukkan pelan kepalanya. Meskipun pikiran-nya sedang tidak karuan sekarang tapi Stefan berusaha menutupinya dari Hana. Stefan tidak mau Hana salah paham dan menganggapnya tidak percaya.
“Aku akan carikan dokter kandungan terbaik untuk kamu nanti.” Kata Stefan pelan.
Hana hanya mengangguk saja. Apapun jika memang itu yang terbaik untuk calon anaknya Hana akan menurut. Hana tidak akan protes karena Hana sendiri yakin Stefan juga sangat bahagia dengan kabar kehamilan-nya pagi ini.
__ADS_1
Stefan naik keatas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya tepat disamping Hana. Pria itu kembali mengusap lembut perut rata Hana. Stefan yakin se yakin yakin-nya janin yang sedang tumbuh dalam rahim Hana pasti adalah darah dagingnya. Stefan juga yakin Hana tidak akan bertindak bodoh seperti Lusi dengan mengkhianatinya.
Hana yang melihat Stefan tampak sedang memikirkan sesuatu tersenyum. Stefan sudah menceritakan semuanya tentang masa lalunya dulu. Dan Hana paham jika sekarang pria itu tampak uring uringan.
“Katakan saja apa yang sedang mengganjal dihati dan pikiran kamu sekarang Stefan..”
Stefan mengeryit kemudian menatap Hana. Pria itu tidak menyangka Hana bisa menebak apa yang sedang di pikirkan-nya.
“Kamu tenang saja, aku bukan perempuan yang mudah terbawa perasaan kok.” Senyum Hana begitu Stefan menatapnya.
Stefan menghela napas. Pikiran-nya begitu jahat karena menyamakan Hana dengan Lusi. Tapi Stefan tidak bisa menampik pemikiran itu.
“Maaf.. Aku hanya takut kejadian di masa lalu kembali terulang lagi Hana.” Lirih Stefan merasa bersalah.
Hana tertawa geli mendengarnya. Kepala dan perutnya masih terasa sakit namun karena ada Stefan di sampingnya Hana merasa nyaman.
“Memangnya ada ya laki laki lain yang sebodoh kamu di dunia ini?”
“Bukan-nya kamu sendiri yang bilang aku ini jelek, bawel, nggak cantik lagi. Terus memangnya kamu pikir siapa yang mau sama aku selain kamu? Kan kamu juga bilang aku bodoh, berarti kamu sebagai jodoh aku bodoh juga.” Ujar Hana membuat Stefan perlahan mengukir senyuman di bibir tipisnya.
Pria berparas bule itu merasa sangat terhibur dengan apa yang Hana katakan. Meskipun Hana mengatainya bodoh tapi Stefan tidak perduli. Karena sebenarnya Stefan sendiri merasa sangat beruntung bertemu dan bisa menikah dengan Hana.
“Ya, kamu benar. Nggak ada laki laki bodoh yang mau sama perempuan pesek dan jelek kaya kamu.” Tawa pelan Stefan.
“Huu.. Aku nggak pesek banget kok. Hidung aku masih bervolume.”
“Masa sih? Coba sini aku lihat..”
__ADS_1
“Nggak. Aku tau kamu pasti mau cubit hidung aku. Lihat aja nanti, aku bakal ngelahirin anak yang hidungnya lebih bagus dari hidung kamu. Lebih mancung dan tentunya lebih segalanya dari kamu Stefan.” Cerocos Hana yang membuat Stefan merasa gemas. Namun karena Stefan tau Hana sedang tidak baik baik saja pria itu hanya bisa tertawa saja. Tawa yang memang jarang Stefan perlihatkan pada orang lain.
Suara ketukan pintu membuat Stefan berdecak. Pria itu merasa kebersamaan-nya dengan Hana terganggu.
“Sebentar, aku buka pintu dulu.” Ujar Stefan kemudian bangkit dan turun dari ranjang melangkah menuju pintu untuk membukanya.
Begitu Stefan membuka pintu dua pelayan sudah berdiri dengan membawa nampan ditangan-nya masing masing. Stefan memang sempat meminta pada pelayan tadi agar dibawakan sarapan ke kamarnya.
“Permisi tuan.. Ini sarapan-nya.” Ujar salah satu dari dua pelayan tersebut.
Stefan mengangguk dan menyuruh dua pelayan itu masuk meletakan nampan berisi sarapan yang dibawanya diatas nakas. Setelah itu Stefan menyuruh mereka berdua untuk kembali keluar dari kamarnya dan Hana.
Hana yang sejak tadi berbaring berusaha untuk bangkit. Hana sebenarnya merasa tidak nyaman jika harus makan tidak pada tempatnya. Karena sejak dulu bahkan sejak dirinya kecil kedua orang tuanya selalu mengajarkan-nya untuk disiplin.
“Kenapa?” Tanya Stefan yang sudah mendekat kembali pada Hana.
“Eemm.. Aku tidak nyaman kalau harus makan diatas tempat tidur Stefan.” Jawab Hana jujur.
Stefan menghela napas. Stefan sudah pernah menghadapi tingkah ajaib wanita hamil. Jadi pria itu sudah tau apa yang harus dilakukan-nya pada Hana.
“Bagaimana kalau kita sarapan di balkon saja?” Tanya Stefan menyarankan.
Hana menganggukkan kepala dengan senyuman dibibirnya. Setidaknya Hana tidak makan diatas tempat tidur.
Setelah Hana mengangguk, Stefan langsung membopong tubuh Hana. Hana sempat menolak namun Stefan tidak mengindahkan penolakan-nya itu. Stefan tetap menggendong Hana ala bridal style membawanya ke balkon dan mendudukan-nya diatas kursi yang berada disana.
Setelah itu, Stefan kembali masuk kedalam kamar dan mengambil sarapan-nya juga sarapan milik Hana yang sudah dibawakan oleh pelayan.
__ADS_1
“Kamu harus makan yang banyak supaya calon anak kita sehat.” Ujar Stefan pada Hana.
Hana hanya tertawa menanggapinya. Stefan menjadi banyak berbicara pagi ini. Pria itu bahkan mungkin juga akan kembali menjadi pria bawel setelah tau kehamilan Hana. Dan Hana sangat menunggu moment dimana suaminya yang dingin dan datar itu berbicara ini itu untuk kebaikan-nya juga janin yang sedang tumbuh dirahimnya.