ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 280


__ADS_3

“Kamu kenapa Nia?”


Dokter Rania menatap Alan yang berada didepan-nya. Wanita itu merasa aneh dengan panggilan tidak biasa Alan padanya.


“Nia?” Tanya dokter Rania mengulang panggilan Alan padanya.


“Kan nama kamu Rania. Aku pikir memanggil kamu Nia cukup manis.” Jawab Alan dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.


Dokter Rania tertawa mendengarnya. Menurutnya panggilan tersebut justru terdengar aneh, tidak manis atau romantis.


“Kamu kenapa dari tadi diam terus? Kamu bahkan sama sekali tidak menyentuh makanan kamu. Apa makanan-nya tidak sesuai yang kamu mau? Aku salah memesan ya?” Alan menatap dokter Rania dengan tatapan penuh rasa bersalah karena memang Alan lah yang memesan makanan untuk dokter Rania yang Alan pikir dokter cantik itu akan menyukainya.


Dokter Rania tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


“Tidak, makanan ini enak Alan. Hanya saja aku sedang sedikit mempunyai beban dihati.” Ujar dokter Rania yang merasa tidak punya pilihan lain selain terbuka pada Alan. Karena memang tidak ada lagi yang bisa dokter cantik itu percaya selain Alan dan keluarganya.


“Beban hati?” Tanya Alan dengan keryitan di keningnya.


“Iya..” Angguk dokter Rania tersenyum tipis.


“Apa itu? boleh aku tau?” Tanya Alan lagi merasa sangat penasaran dengan apa yang dimaksud beban hati oleh kekasihnya.


Dokter Rania menghela napas. Dia yakin percaya pada Alan bukan pilihan yang salah. Tentu saja karena dokter Rania juga tau Alan dan keluarganya adalah orang baik.


“Jadi semalam om dan tante aku datang kerumah. Sebenarnya mereka itu adalah sepupu jauh ayah dan ibu aku. Mereka datang untuk meminjam uang karena anak mereka yang akan menikah.” Dokter Rania mulai menceritakan pada Alan yang mendengarkan dengan seksama dan penuh perhatian.


“Jujur aku kaget dengan kedatangan mereka. Yah.. Karena hubungan kami kurang bahkan sangat tidak baik dulu. Mereka begitu semena mena pada mendiang kedua orang tuaku Alan. Mereka menuduh yang tidak dan selalu mencari masalah pada ayah juga ibuku. Bahkan mereka juga pernah mengatakan padaku kalau aku tidak akan bisa menjadi seperti sekarang. Aku ingin sekali marah pada mereka yang datang dan sok baik begitu tau aku sudah bisa mencapai apa yang aku impikan. Tapi aku juga tidak mungkin mengesampingkan rasa hormatku pada orang yang jauh lebih tua dariku.” Lanjut dokter Rania sambil mengaduk malas makanan di piringnya.

__ADS_1


“Aku sebenarnya nggak pengin sedikitpun berhubungan lagi dengan mereka. Sakit hati aku mengingat bagaimana perlakuan mereka di masa lalu sama aku, sama keluargaku juga.”


Alan tersenyum mendengarnya. Pria itu meraih tangan dokter Rania kemudian menggenggamnya lembut.


“Aku ngerti bagaimana perasaan kamu dokter. Bagaimanapun juga kita sama sama berasal dari keluarga yang tidak berpunya. Tapi dokter, kamu harus tau, Tuhan itu sangat adil. Kalau memang kamu tidak ingin lagi berhubungan dengan mereka menjauhlah dengan baik. Tapi kalau memang kamu ingin tetap berkeluarga dengan mereka maka kamu harus bisa menerima apapun kekurangan mereka. Kita hanya manusia biasa dokter. Yang mampu membolak balikkan hati manusia hanyalah Tuhan.”


Dokter Rania menatap Alan yang berbicara dengan sangat pelan dan lembut. Dokter Rania merasa tenang dan tidak sendiri sekarang. Wanita itu merasa memiliki sandaran yang selama ini tidak pernah dia miliki setelah meninggalnya kedua orang tuanya.


“Kamu tidak perlu khawatir. Karena mulai sekarang kamu sudah tidak sendiri lagi. Ada aku yang akan selalu ada disamping kamu dokter.” Tambah Alan yang membuat senyuman di bibir dokter Rania mengembang.


“Terimakasih ya Alan..” Ujar dokter Rania pelan.


Alan berdecak mendengarnya.


“Apaan sih, pake terimakasih segala. Kaya nggak nganggep aku pacar banget kamu mah.”


“Aku sangat berharap hubungan ini tidak hanya sekedar mementingkan rasa suka dan nyaman Alan.” Katanya.


Ekspresi Alan langsung berubah. Dari kesal menjadi hangat. Tatapan kedua matanya menyorot begitu teduh pada sosok cantik kekasih hatinya.


“Tentu saja dokter. Aku serius memilih kamu sebagai calon pendamping hidup aku untuk selamanya. Bahkan sampai di kehidupan yang abadi nanti aku ingin selalu bersama kamu, menggenggam tangan kamu.” Balas Alan.


Dokter Rania tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia percaya pada Alan, pria yang berhasil mengetuk pintu hatinya. Pria pertama yang berhasil membuat dokter Rania merasakan cinta setelah mendiang ayahnya.


-----------


Hari yang sangat sangat di tunggu oleh Williana akhirnya tiba, yaitu hari dimana akan di adakan-nya perpisahan kelas 12 di sekolah Tristan.

__ADS_1


Williana mematut dirinya didepan cermin besar dikamar serba mewahnya. Wanita itu mengenakan dress dengan warna kalem yang cukup sederhana namun tetap terlihat elegan. Bukan tanpa alasan Williana mengenakan dress seperti itu. Williana berusaha menyamakan penampilan-nya dengan penampilan Hana. Williana yakin dengan penampilan-nya sekarang Stefan pasti akan menatapnya.


“Tidak terlalu buruk..” Gumam Williana menatap dari atas sampai bawah penampilan-nya sendiri.


Tiba tiba Williana tertawa sendiri. Wanita itu merasa sudang menjilat ludahnya sendiri. Williana pernah menghina cara Hana berpakaian. Tapi sekarang dirinya malah mengikuti gaya Hana dengan harapan Stefan mau menatapnya.


“Stefan, aku yakin dengan penampilanku seperti ini kamu akan sadar bahwa aku jauh lebih baik dari Hana. Aku melebihi apapun yang ada pada diri Hana.” Williana kembali bergumam dengan sangat yakin.


Suara pintu yang dibuka dengan pelan oleh Tristan membuat Williana menoleh. Wanita itu tersenyum saat mendapati adiknya terkesima dengan penampilan barunya hari ini.


“Bagaimana penampilan kakak?” Tanya Williana meminta pendapat Tristan.


Tristan yang terdiam dengan mulut sedikit terbuka kemudian langsung tersadar. Pemuda itu masuk kedalam kamar Williana sambil menatap dari atas sampai bawah penampilan tidak biasa sang kakak. Penampilan yang sederhana dan tidak se terbuka seperti biasanya. Penampilan yang berhasil membuat Williana terlihat sangat manis sekarang menurut Tristan.


“Kak ini...” Tristan menggantungkan ucapan-nya kemudian menggeleng takjub.


“Aku nggak bohong kak, kakak sangat cantik dengan penampilan seperti ini.” Ujar Tristan memuji.


Williana tertawa pelan merasa senang. Tristan terlalu berlebihan memuji dan menatapnya menurutnya. Tapi pujian Tristan semakin membuatnya merasa yakin bahwa kali ini Stefan akan menatapnya.


“Kamu juga keren banget Tristan. Kakak yakin penampilan kamu pasti akan mendapat banyak tepuk tangan hari ini.” Balas Williana menyemangati adiknya. Tidak perduli dengan siapapun Tristan akan tampil nanti.


Tristan tertawa pelan. Senang sekali rasanya mendapatkan dukungan penuh dari kakaknya. Apa lagi kakaknya sendiri juga tau bahwa Tristan akan tampil didepan banyak teman teman sekolah serta donatur besar sekolahnya dengan Amira.


“Ya udah yuk kak kita berangkat? Aku yang bawa mobilnya yah..”


“Oke.” Angguk Williana.

__ADS_1


Tristan kemudian memberikan lengan-nya pada Williana yang langsung melingkarkan tangan-nya disana. Keduanya keluar dari kamar Williana dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


__ADS_2