
“Malam itu aku nggak sengaja ketemu Angga. Dan dia nawarin aku buat pulang bareng. Karena aku nungguin kamu lama banget sambil jalan akhirnya aku setuju. Karena aku berpikir mungkin kakak kamu ngelarang kamu buat nganterin aku pulang.” Jelas Amira yang tidak mau jika Tristan terus bersikap ketus padanya.
Tristan menghela napas. Pemuda itu mengangkat beras dengan berat 5 kg dan meletakan-nya di rak paling atas dengan sangat pelan dan hati hati. Karena jika tergeser sedikit saja semua tumpukan beras itu bisa saja jatuh menimpanya
“Tristan, kamu nggak percaya sama aku?”
Tristan menoleh menatap Amira yang masih memegang segelas es teh untuknya. Mendengar penjelasan Amira, entah kenapa Tristan tiba tiba merasa bersalah karena sudah menganggap Amira tidak setia padanya. Padahal Tristan sendiri tau Amira adalah gadis baik baik. Itu juga alasan kenapa Tristan mendekati Amira kemudian menjadikan Amira sebagai gadis pilihan hatinya.
“Aku tuh nggak mau sampai kamu deket deket sama cowok lain Amira. Apa lagi sama si Angga yang sok keren itu.” Ujar Tristan dengan ekspresi sendunya.
Amira tersenyum mendengarnya. Kemarahan Tristan padanya karena Tristan yang takut Amira berpindah ke lain hati. Tristan takut kehilangan dirinya.
“Kenapa senyum senyum begitu? Kamu seneng aku BT terus?” Tanya Tristan dengan nada kesalnya.
Amira tertawa mendengarnya. Wajah Tristan saat sedang merasa kesal benar benar sangat lucu dan menggemaskan menurutnya.
“Enggak.. Bukan begitu maksud aku. Cuma ya.. Aku merasa tersanjung saja seorang Tristan Atmaja, tuan muda dari keluarga ternama merasa kesal karena cemburu sama aku yang nggak punya apa apa dan hanya seorang pelayan toko sembako. Itu benar benar sangat luar biasa loh.”
Tristan berdecak disertai dengan helaan napas kesalnya. Pemuda itu kemudian mencubit gemas hidung Amira membuat si mpunya meringis kesakitan.
“Dasar cewek nyebelin. Pacarnya cemburu malah kesenengan.” Ujar Tristan sambil mencubit hidung Amira.
__ADS_1
“Aduh aduh.. aduh Tristan sakit..” Ringis Amira memegangi pergelangan tangan Tristan yang mencubit hidungnya.
Tristan segera melepaskan capitan ibu jari dan jari telunjuknya kemudian tertawa melihat hidung Amira yang memerah.
“Lucu banget loh kamu hidung kamu merah gitu, kaya badut.” Tawa Tristan yang kemudian mengambil segelas es teh yang dibawa oleh Amira.
“Iiihh.. Sakit banget ya Tuhan.. Kamu jahat banget sama aku Tristan..” Amira mengerucutkan bibirnya merasa kesal karena Tristan membuat hidungnya terasa sakit bahkan sampai memerah.
“Biarin. Itu ganjaran buat kamu karena sudah berani menerima tawaran pulang dari Angga. Cowok yang sok keren dan sok misterius itu.” Kata Tristan kemudian meminum segelas es teh buatan Amira untuk membasahi tenggorokan-nya yang terasa kering.
Tristan merasa lega sekarang. Rasa benci juga kesal yang menguasai hatinya sirna begitu saja setelah Amira menjelaskan tentang malam dimana Tristan begitu sangat emosi karena melihat Amira dan Angga berboncengan.
“Belii..”
“Biar aku aja.” Katanya kemudian berlalu dari hadapan Amira bermaksud untuk melayani pembeli yang sudah berdiri di depan toko tersebut.
Amira yang melihat itu tersenyum. Tristan benar benar sangat telaten. Tristan juga tidak merasa gengsi bekerja di toko sembako milik pak Ang untuk membantunya. Padahal Tristan adalah adik dari seorang pengusaha yang namanya sudah tidak lagi asing bagi masyarakat. Nama Williana bahkan juga sering di sandingkan dengan Stefan karena kepintaran-nya dalam mengelola bisnis keluarga..
---------------
“Jadi gimana Rania, kamu bisa tidak datang ke acara adik kamu? Kami benar benar sangat mengharapkan kehadiran kamu Rania.”
__ADS_1
Dokter Rania berdecak. Baru saja sampai dirumah dan dokter cantik itu sudah disambut oleh om dan tantenya yang dengan tidak tau malunya kembali datang membawa undangan pernikahan anaknya. Mereka bahkan bersikap seenaknya dirumah dokter Rania dengan menyuruh si mbak mengeluarkan segala apa yang ada di kulkas untuk di hidangkan sebagai suguhan atas kedatangan-nya. Si mbak memang belum mengadu pada dokter Rania, namun dokter Rania bisa menebak dari cara om dan tantenya menyuruh si mbak.
“Saya sibuk. Dan saya nggak bisa datang ke acara anak om dan tante.”
Sepasang suami istri itu saling menatap kemudian tersenyum menatap pada dokter Rania.
“Rania, kami berdua tau kamu sibuk. Tapi bagaimanapun juga kita ini keluarga. Rasanya sangat tidak baik kalau bahkan untuk menghadiri pernikahan saudara sendiri saja kamu tidak bisa.” Kata pria yang tidak lain adalah om dari dokter Rania.
Dokter Rania tersenyum sinis. Dokter cantik itu tidak tau apa isi kepala sepupu jauh orang tuanya itu. Mereka bahkan seperti orang yang lupa ingatan. Mereka berdua begitu berani mendatanginya, meminjam uang, kemudian mengundang secara paksa dokter Rania untuk hadir di acara anaknya yang akan segera menikah. Mereka bahkan terkesan mempermalukan dirinya sendiri di depan dokter Rania dengan sikap sok bijaknya tanpa sedikitpun merasa malu atas apa yang sudah mereka lakukan pada kedua orang tua dokter Rania di masa lalu.
“Keluarga? Jadi setelah saya berhasil seperti sekarang kalian baru menganggap saya ini keluarga kalian? Sementara dulu, saat hidup kami masih susah kalian begitu semena mena. Kalian bahkan mengatakan padaku bahwa cita cita ku menjadi seorang dokter tidak akan tercapai.”
Ekspresi sepasang suami istri itu langsung berubah mendengar apa yang dokter Rania katakan. Mereka juga sebenernya sangat tidak menyangka dokter Rania bisa sukses dan memiliki apa yang bahkan mereka berdua juga kedua anaknya tidak miliki.
“Apa kalian lupa dengan fitnah yang kalian tujukan pada kedua orang tua saya? Kalian menuduh ayah dan ibu saya menghabiskan harta warisan. Padahal secuilpun kami tidak pernah mendapatkan itu.” Tambah dokter Rania yang mulai terbakar emosi.
“Rania, kami tau kami salah. Kami minta maaf. Lagi pula bukankah itu hanya masa lalu? Yang terpenting kan sekarang kita rukun, kita perbaiki semuanya dan lupakan apa yang terjadi di masa lalu. Percayalah nak, saat itu ada seseorang yang berusaha mengadu domba hubungan persaudaraan antara tante dan kedua orang tua kamu.”
Dokter Rania menggelengkan kepalanya tidak menyangka dengan apa yang di katakan oleh tantenya.
“Setelah semua yang kalian lakukan, lebih baik kita tidak perlu ada hubungan apapun lagi. Dan lebih baik sekarang kalian berdua pulang karena saya lelah dan saya mau istirahat. Tentang undangan kalian, terimakasih banyak. Dan sekali lagi saya tegaskan saya tidak bisa datang.”
__ADS_1
Setelah berkata demikian, Dokter Rania bangkit dari duduknya di sofa kemudian berlalu begitu saja tanpa memperdulikan keduanya.