
Di meja makan Stefan terus diam dan fokus dengan makanan-nya. Pria itu bahkan sama sekali tidak melirik Hana yang ada disampingnya.
Sikap Stefan membuat Hana sedikit uring uringan. Hana beranggapan Stefan marah padanya karena Hana tadi bersin tepat didepan wajah pria tampan itu. Stefan bahkan sempat protes pada Hana karena kesal.
“Mommy..” Panggil Angel membuat Hana langsung menoleh padanya.
“Ya sayang...” Saut Hana langsung menoleh dan mengukir senyuman dibibirnya untuk Angel.
“Tadi katanya mommy bikin donat ya? Angel belum nyobain loh mommy...” Ujar Angel dengan wajah memelasnya.
“Oh iya.. Ya Tuhan.. Maaf ya sayang, mommy lupa. Eemm.. Mau mommy ambilin donatnya?” Senyum Hana menawarkan.
“Iya mommy..” Angguk Angel semangat.
“Angel mau yang toping apa?”
“Strawberry aja mommy..”
Sera tersenyum selalu merasa bahagia jika melihat Hana yang begitu perhatian pada Angel, cucunya.
Tanpa Hana sadari diam diam Stefan memperhatikan-nya. Pria itu merasa sangat kagum pada sosok Hana yang bisa begitu perhatian dan dengan tulus menyayangi Angel. Padahal Angel bukan putri kandungnya, tapi Hana selalu dengan tulus bersikap lembut pada gadis kecil itu. Hana bahkan pernah sampai rela bersimpuh didepan kedua kaki Stefan demi Angel.
Stefan kembali fokus dengan makanan-nya. Entah kenapa pria tampan itu tiba tiba berpikir bagaimana jika dirinya dan Hana memiliki bayi. Hana pasti akan sangat lembut memperlakukan anak mereka berdua nanti. Stefan yakin anak anaknya tidak akan sampai kekurangan kasih sayang.
Selesai makan malam, Stefan langsung menuju ke ruang kerjanya. Pria itu hendak meneruskan pekerjaan-nya yang memang belum sempat dia selesaikan.
Sementara Hana, wanita itu menyempatkan diri menemani Angel mengerjakan PRnya sebelum akhirnya masuk kedalam kamarnya dan Stefan.
Hana mengeryit ketika melihat kamarnya kosong. Itu artinya Stefan masih berkutat diruang kerjanya. Hana ingin kesana untuk mengucapkan kata maaf sekaligus terimakasih karena Stefan memberikan bunga padanya. Meski bunga itu membuatnya bersin namun itu bukan kesalahan Stefan. Harusnya Hana tidak mencium aroma bunga itu. Dengan begitu Stefan pasti tidak akan kesal karenanya.
__ADS_1
Tintiiiiinn !!
Suara klakson mobil yang cukup nyaring membuat Hana mengeryit. Penasaran, Hana pun keluar dari kamarnya menilik siapa yang datang dari balkon kamarnya.
Hana mengeryit melihat sebuah mobil mewah yang Hana tau bukan mobil Rico. Hana terus memperhatikan-nya hingga mobil itu berhenti dihalaman tepat didepan teras rumah.
Saat itulah sosok Williana turun dari mobil mewah itu. Hana berdecak merasa kesal. Hana tau apa tujuan wanita itu datang malam malam. Apa lagi melihat penampilan-nya yang sangat sexy itu.
“Dia nggak boleh gangguin Stefan.” Gumam Hana penuh tekad kemudian berlalu dari balkon dan melangkah cepat keluar dari kamarnya untuk mencegah Williana bertemu dengan Stefan, suaminya.
Hana melangkah cepat menuju tangga menuruninya bahkan sedikit berlari berharap agar Stefan tidak sampai melihat kedatangan Williana malam ini.
Hana mengeryit begitu melihat pelayan yang melangkah menuju ruang kerja suaminya. Hana menebak pelayan tersebut pasti hendak memanggil Stefan memberi tahukan tentang kedatangan Williana.
Tidak ingin sampai Stefan keluar menemui Williana, Hana pun mengejar pelayan itu dan memanggilnya.
“Saya nyonya..” Angguk si pelayan menunduk setelah Hana berada didepan-nya.
“Itu nyonya, didepan ada nona Williana. Beliau mencari tuan dan saya bermaksud memberitahu tuan tentang kedatangan nona Williana.” Jawab pelayan tersebut dengan jujur.
Hana menganggukkan kepalanya menghargai kejujuran pekerja suaminya. Hana kemudian tersenyum.
“Begini saja, kamu tidak perlu memberitahu Stefan tentang kedatangan Williana. Saya yang akan menemuinya. Lebih baik kamu buatkan minum saja.” Perintah Hana secara halus.
“Baik nyonya..” Angguk pelayan itu kemudian berlalu dari hadapan Hana mengurungkan niatnya memanggil Stefan dan melangkah menuju dapur untuk menjalankan perintah Hana membuatkan minum untuk Williana.
Hana tersenyum merasa menang kemudian segera melangkah menuju ruang utama untuk menemui Williana. Wanita yang terus berusaha mengganggu suaminya.
Dan lagi lagi tanpa sepengetahuan Hana, Stefan mendengarnya. Stefan sebenarnya sudah tau Williana akan datang karena Williana bahkan mengirim pesan padanya memberitahu bahwa dirinya sudah berada diruang utama kediaman Stefan. Dan Stefan yang saat itu hendak keluar menemuinya tidak sengaja mendengar apa yang Hana katakan pada pelayan yang hendak memberitahu Stefan tentang kedatangan Williana.
__ADS_1
Stefan menggelengkan pelan kepalanya kemudian tersenyum. Hana benar benar sangat unik dan pemberani. Bahkan seorang Williana yang selalu ditakuti oleh wanita wanita yang juga mendekati Stefan, Hana bisa menghadapinya dengan dagu terangkat.
Khawatir dengan Hana yang hanya sendiri menghadapi Williana, Stefan pun segera menyusul. Pria itu tau Williana seperti apa dan bagaimana. Dan Stefan tidak ingin kalau sampai sesuatu terjadi pada Hana, wanitanya.
“Hay Williana..” Senyum Hana menyapa Williana begitu sampai diruang tamu
Williana bangun dari duduknya disofa. Kedua matanya menatap tajam pada Hana yang pernah mengerjainya. Williana benar benar masih tidak bisa menerima apa yang Hana lakukan padanya.
“Kamu.. Mana Stefan? Aku nggak ada urusan sama kamu.” Ujar Williana tajam.
Hana tertawa pelan mendengarnya. Hana kemudian mendudukan dirinya di sofa yang berhadapan dengan sofa yang sempat di duduki oleh Williana.
“Apa kamu tidak malu Williana? malam malam begini datang mencari laki laki yang sudah beristri. Lalu kamu menanyakan keberadaan laki laki itu pada istrinya dengan sangat tidak sopan.” Senyum Hana menatap Williana meremehkan.
“Tapi karena aku tau Stefan itu orang yang setia dan tidak mungkin mempunyai hubungan apapun sama kamu aku bisa mengerti. Sayangnya sekarang Stefan sudah tidur Williana. Aku nggak mungkin membangunkan-nya hanya karena kamu yang datang. Jadi maaf ya, lebih baik sekarang kamu pulang saja.” Tambah Hana.
Williana mengepalkan kedua tangan-nya mendengar apa yang Hana katakan. Wanita itu merasa sangat terhina karena ucapan Hana yang begitu meremehkan-nya.
“Kamu tidak sepadan denganku Hana, jadi lebih baik kamu jaga sikap.” Kata Williana sombong.
Hana tertawa pelan dan mengangguk anggukan kepalanya mengerti.
“Kita memang tidak sepadan Williana. Kamu seorang perempuan yang berasal dari keluarga terpandang. Sedangkan aku, hanya mantan guru TK. Tapi apapun itu, sekaya apapun kamu, aku tetap lebih berhak segalanya atas Stefan. Karena apa? karena aku adalah istrinya Stefan. Aku perempuan yang di cintai oleh Stefan. Kamu pahamkan apa maksud aku?”
Rahang Williana mengatup keras. Ingin sekali Williana melayangkan tamparan-nya pada wajah Hana yang menurutnya sangat memuakkan. Tapi Williana tidak mungkin melakukan-nya karena itu akan membuat Stefan salah menilainya.
“Sepertinya memang lebih aku pulang dari pada berhadapan dengan orang yang tidak sepadan denganku.” Tidak ingin merasa kalah, Williana pun berlalu setelah menghina Hana. Wanita itu melangkah dengan sangat elegan keluar dari kediaman Stefan kemudian masuk ke dalam mobil mewahnya dan berlalu meninggalkan kediaman mewah pria dambaan-nya.
“Huuu.. Dasar nenek sihir. Dia kira gampang apa merebut Stefan dari aku.”
__ADS_1
Dari balik tembok Stefan tersenyum mendengarnya. Stefan tidak menyangka Hana bahkan berani berkata begitu tajam pada Williana. Tidak ingin Hana tau tentang keberadaan-nya Stefan pun segera berlalu dari tempat persembunyian-nya.
“Apa benar aku mencintainya?” Batin Stefan bertanya pada dirinya sendiri.