
Stefan sedang mengenakan dasinya saat ponselnya berdering. Penasaran karena pagi pagi ponselnya sudah berdering, Stefan pun segera meraih ponselnya yang sedang di isi daya baterainya diatas nakas.
Stefan mengeryit ketika mendapati nama kontak dokter Rania yang tertera di layar menyala ponsel miliknya.
Stefan sesaat terdiam berpikir tidak mungkin jika dokter Rania menelepon-nya tanpa sebab. Dan Stefan yakin dokter cantik itu pasti menghubunginya karena ingin ada sesuatu yang dibicarakan. Dan itu pasti tentang Alan.
Stefan kemudian segera mengangkat telepon tersebut.
“Ya Rania. Ada apa pagi pagi meneleponku?” Tanpa basa basi Stefan langsung bertanya kenapa dokter Rania yang menghubunginya pagi pagi.
“Halo Stefan. Apa kamu sibuk hari ini? Aku ada yang mau di bicarakan. Ini tentang Alan.”
Stefan mengeryit. Setelah bertemu secara langsung dan melihat bagaimana Alan dan Hana, Stefan merasa sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas. Namun karena Stefan juga mendengar sendiri apa yang ibu Alan katakan saat itu tentang perasaan Alan pada Hana, Stefan merasa harus sangat waspada. Bisa saja Alan tiba tiba merebut Hana darinya.
“Kita ketemu di tempat biasa saat jam makan siang.” Ujar Stefan.
“Oke..” Balas dokter Rania kemudian segera mengakhiri panggilan-nya pada Stefan.
Stefan berdecak. Stefan sebenarnya tidak ingin memikirkan apapun selain bagaimana caranya menghadapi tingkah Hana yang semakin ajaib karena kehamilan-nya. Tapi mengingat Alan yang ternyata juga mencintai Hana diam diam Stefan merasa tidak bisa diam saja. Stefan tidak mau mengambil resiko Alan diam diam menusuknya dari arah lain.
Suara pintu kamar yang dibuka membuat Stefan mengalihkan perhatian-nya. Pria itu diam saat melihat Hana yang masuk dengan penampilan yang tidak seperti biasanya. Wanita itu berdandan dengan begitu cantik.
Stefan mengeryit. Hana banyak berubah setelah kehamilan-nya diketahui. Hana yang biasanya selalu tampil sederhana kini terlihat centil dan seolah tidak ingin terlihat biasa saja.
“Selamat pagi suamiku..” Sapa Hana dengan sangat ceria.
Stefan merasa aneh dengan sapaan itu. Hana benar benar sangat centil menurut Stefan pagi ini.
Hana mendekat pada Stefan kemudian tiba tiba berjinjit dan mencium kedua pipi Stefan secara bergantian. Setelah itu Hana tertawa malu malu.
Stefan mengerjapkan beberapa kali kedua matanya karena tiba tiba Hana menciumnya bahkan tanpa Stefan minta.
__ADS_1
“Eemm.. Stefan.” Panggil Hana pada Stefan yang terus diam didepan-nya.
“Ya..” Saut Stefan ditengah rasa bingungnya karena tingkah Hana.
“Penampilan aku bagaimana? Mamah tadi bilang aku cantik dengan gaun ini.” Senyum Hana meminta pendapat dari Stefan.
Stefan menatap Hana dari atas sampai bawah. Hana mengenakan gaun dengan model yang menurutnya terlalu berlebihan untuk di kenakan dirumah. Apa lagi warnanya juga begitu mencolok yaitu kuning menyala. Hana memang terlihat cantik namun tetap saja penampilan Hana terlalu berlebihan menurut Stefan.
Stefan ingin sekali berkata jujur bahwa penampilan Hana sangat tidak pantas jika hanya berada didalam rumah. Tapi Stefan mengingat bagaimana saat Hana marah kemudian menangis hanya karena baterai ponselnya habis semalam.
Stefan menghela napas. Mungkin untuk saat ini akan lebih baik jika Stefan sependapat dengan mamahnya. Karena Stefan yakin mamahnya juga tidak begitu jujur mengatakan Hana cantik dengan penampilan-nya sekarang.
“Em iyah, kamu cantik.” Ujar Stefan pelan.
Hana tertawa lagi dengan tangan yang menutupi mulutnya. Wanita itu tersipu karena pujian suaminya.
“Ya Tuhan.. Ada apa dengan istriku sebenarnya?” Batin Stefan terus menatap penampilan Hana.
Begitu sampai di meja makan, Stefan melihat dengan jelas Sera yang menahan tawa. Dan Stefan yakin Sera pasti sedang menertawakan penampilan Hana pagi ini.
Stefan mendudukan dirinya dikursi paling ujung dimeja makan dengan Hana yang duduk disampingnya. Pria itu benar benar tidak mengerti dengan perubahan Hana yang tiba tiba menjadi sangat aneh.
“Selamat pagi daddy.. Mommy..” Sapa Angel dengan senyuman dibibirnya.
“Pagi juga sayang..” Senyum Hana membalas.
Sementara Stefan, dia diam saja tidak tau harus bersikap bagaimana karena ke anehan Hana pagi ini.
Selesai sarapan, Stefan segera mengajak Angel untuk berangkat ke sekolah. Pria itu tidak mau semakin merasa pusing melihat kelakuan ajaib istrinya yang sudah diluar batas.
“Daddy..” Panggil Angel menoleh pada Stefan.
__ADS_1
“Hem..” Saut Stefan pelan.
Angel terdiam sesaat dan menatap Stefan yang begitu fokus dengan kemudinya.
“Angel ada yang harus dibeli nanti pulang sekolah. Peralatan menggambar Angel sudah habis.”
Stefan menghela napas pelan. Jadwalnya sangat padat hari ini. Ditambah lagi Stefan juga sudah ada janji dengan dokter Rania siang ini untuk membahas tentang Alan.
“Kamu bisa membelinya dengan om Rico atau oma nanti setelah pulang sekolah. Daddy sibuk.”
Ekspresi Angel langsung berubah sendu mendengar apa yang Stefan katakan. Angel sebenarnya ingin pergi dengan Hana dan Stefan. Tapi ucapan Stefan membuatnya tidak bisa berkata apa apa lagi. Angel ingin protes tapi takut Stefan marah padanya.
“Ya dad..” Balas Angel pelan kemudian menundukkan kepalanya.
Perasaan takut itu kembali mencuat di hati Angel. Angel takut Stefan akan kembali mengabaikan-nya seperti dulu jika nanti adiknya lahir. Angel takut Stefan akan lebih sayang pada adiknya nanti dari pada dirinya.
Tidak lama mobil Stefan sampai didepan gerbang sekolah Angel. Angel turun dari mobil Stefan setelah berpamitan serta menyalimi Stefan.
Setelah itu, Stefan kembali melajukan mobilnya tanpa lebih dulu memperhatikan Angel seperti biasanya. Hal itu membuat Angel merasa sedih dan kembali di abaikan oleh daddy nya.
“Angel..”
Angel menoleh saat mendengar suara memanggil namanya. Gadis kecil itu mengeryit melihat segerombol anak tingkat SMP dan SMA menghampirinya. Seragam mereka memang sama, hanya Angel masih di tingkat sekolah dasar sedang mereka sudah berada di tingkat SLTP dan SLTA.
“Benerkan kamu yang namanya Angel, anaknya om Stefan Devandra.”
Angel menatap satu persatu wajah remaja remaja cantik yang ada didepan-nya. Angel memang sudah sering di tegur oleh siswi siswi yang Angel sendiri tidak tau. Dan Angel tau maksud dan tujuan mereka menegurnya.
“Daddy aku sudah punya istri yang cantik dan baik. Kalian tidak boleh memberikan apapun pada daddy ku.” Tegas Angel kemudian berlalu menjauh dari segerombolan anak remaja itu.
Angel sebenarnya bosan dengan mereka mereka yang selalu sok manis dan baik karena ujung ujungnya pasti ingin menitip surat cinta untuk daddy nya. Angel bahkan selalu membuang semua titipan surat mereka sejak dulu karena tidak ingin membuat daddy nya marah jika sampai Angel memberikan-nya. Apa lagi sekarang sudah ada Hana yang berstatus sebagai mommy sambungnya.
__ADS_1