ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 98


__ADS_3

“Ayo kak pelan pelan saja, kakak pasti bisa..”


Amira terus menyemangati Alan yang sedang berdiri dan berusaha untuk melangkahkan kedua kakinya yang terasa begitu sulit untuk sekedar Alan gerakkan.


Dokter Rania yang berdiri didepan Alan terus menginterupsi Alan agar pelan pelan menggerakkan kakinya.


Dokter cantik itu dengan sangat sabar dan telaten mengajarkan Alan bagaimana caranya untuk tenang dan menguasai dirinya. Itu adalah salah satu upaya yang dilakukan dokter Rania untuk membantu Alan agar bisa cepat sembuh seperti sedia kala. Karena pada dasarnya kondisi pria itu memang sudah baik baik saja. Hanya saja karena kakinya yang masih belum bisa Alan gerakkan sendiri membuatnya harus terus duduk di kursi roda.


Alan bahkan sekalipun tidak pernah keluar dari rumah itu. Alan terus berada dilantai dua rumah dokter Rania dan melakukan aktivitas membosankan-nya setiap hari didalam kamarnya.


“Lakukan perlahan Alan.. Jangan tergesa gesa. Pelan pelan saja.. Kamu pasti bisa..”


Alan terus berusaha sekuat tenaganya. Namun kakinya tidak juga bisa di gerakkan. Tapi Alan tidak menyerah, dia terus mencobanya karena Alan ingin secepatnya bisa beraktivitas seperti sedia kala lagi. Walaupun memang mungkin semuanya tidak akan lagi sama seperti dulu karena Hana sudah tidak mungkin lagi bersamanya. Alan tidak akan lagi mengantar jemput Hana ke tempat Hana biasa mengajar. Tapi itu tidak membuat semangat Alan berkurang sedikitpun karena Alan berpikir meskipun dirinya tidak bisa mengantar jemput Hana lagi, setidaknya masih ada kedua adiknya yang pasti akan sangat senang jika Alan mengantar jemputnya setiap hari ke sekolah.


“Dokter rasanya sulit sekali dokter. Kakiku tidak juga bergerak.” Keluh Alan terus menatap kedua kakinya yang sedikitpun tidak bergeser.


Dokter Rania tersenyum mendengarnya.


“Kamu harus sabar Alan.. Percaya lah kamu pasti bisa.. Asal kamu mau berusaha kamu pasti akan cepat sembuh.”


Alan menghela napas. Dokter Rania selalu menyemangatinya. Dokter cantik itu bahkan sepertinya tidak bosan mengajarinya untuk pelan pelan menggerakkan kedua kakinya.


Amira yang melihat itu tersenyum diam diam. Awalnya Amira memang tidak suka dengan dokter Rania. Tapi setelah melihat ketelatenan dokter cantik itu dalam merawat kakaknya Amira yakin dokter Rania memang wanita yang baik.


“Mungkin akan lebih baik kalau aku pulang kerumah orang tuaku saja dokter. Biarkan aku berusaha sendiri disana.” Ujar Alan menatap dokter Rania yang berdiri didepan-nya.

__ADS_1


Dokter Rania tersenyum lagi. Wanita itu sudah berjanji pada dirinya sendiri dari awal bahwa dia akan merawat Alan sampai Alan benar benar sembuh seperti sedia kala bagaimanapun caranya.


“Alan, Ibu kamu mungkin sekarang sudah baik baik saja itu karena dia tidak kelelahan. Tapi kalau kamu pulang tentu kamu akan merepotkan ibu kamu. Dan bukan tidak mungkin kesehatan ibu kamu akan terganggu.”


Alan terdiam mendengar apa yang dokter Rania katakan. Apa yang dokter cantik itu katakan memang benar. Ibunya pasti akan kelelahan jika mengurusinya yang hanya bisa duduk dikursi roda.


Alan melirik Amira yang duduk di sofa tunggal tidak jauh dari ranjang. Adiknya itu sama sekali tidak memberi tanggapan apapun atas apa yang dokter Rania katakan. Itu artinya Amira juga setuju dengan apa yang dokter Rania katakan.


“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini Alan. Kamu tidak lumpuh permanen. Kamu masih bisa sembuh asal kamu terus semangat dan berusaha.”


Alan membalas tatapan dokter Rania yang begitu teduh padanya. Saat itu lah Alan menyadari sesuatu. Dokter Rania sangat cantik dan imut. Apa lagi dia juga sangat baik dan mempunyai hati yang tulus dalam membantunya.


Sesaat keduanya terus bertatapan membuat Amira yang melihatnya tersenyum. Entah kenapa Amira merasa keduanya sangat cocok.


Deringan ponsel yang berada disaku dress rumahan pink yang dikenakan dokter Rania berhasil menyadarkan keduanya. Mereka berdua langsung salah tingkah karena itu.


“Hem, nggak papa. Ya sudah kamu duduk lagi aja. Aku mau angkat telepon dulu.”


“Iya...” Angguk Alan tersenyum tipis.


Dokter Rania membantu Alan duduk kembali di kursi rodanya. Setelah itu dokter Rania keluar dari kamar Alan untuk mengangkat telepon tersebut.


Amira kemudian mendekat pada kakaknya setelah dokter Rania berlalu keluar dari kamar Alan.


“Dokter Rania ternyata orangnya baik ya kak..” Senyum Amira kemudian mendorong kursi roda Alan membawanya ke balkon.

__ADS_1


Alan tertawa pelan mendengarnya. Lucu sekali rasanya mendengar apa yang adiknya katakan tentang dokter Rania. Siapapun juga pasti tau bahwa dokter cantik itu memang baik dan penuh dengan perhatian.


“Kamu ini gimana sih dek, kalau dokter Rania nggak baik nggak mungkin dong kakak bisa seperti sekarang.” Balas Alan yang membuat Amira ikut tertawa mendengarnya.


“Hehehe.. Iya juga sih kak.”


“Makan-nya kamu kalau menilai seseorang itu jangan seenak dengkul. Sekarang kamu baru sadar kalau dokter Rania itu baik. Kemarin kemana aja dek?” Geleng Alan yang juga mengerti Amira yang selalu bersikap sinis dan ketus pada dokter Rania.


Amira hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena salah tingkah. Amira akui dirinya memang salah karena sudah menilai dokter Rania sebelah mata. Namun Amira bukan tanpa alasan menilai dokter Rania seperti itu. Semua itu tentu saja karena hubungan dokter Rania yang terlihat dekat dengan Stefan.


“Oh iya Amira, kamu kok sekarang jarang ngajak Tristan kesini? Kenapa?” Tanya Alan penasaran karena sudah jarang bertemu dengan Tristan, teman dekat adiknya, Amira.


Amira menghela napas pelan. Amira sendiri tidak tau kenapa tiba tiba Tristan menjauh darinya. Amira bahkan ragu apakah Tristan masih menganggapnya teman atau tidak.


“Tristan mungkin sedang sibuk kak.. Dia nggak ada waktu buat main kesini.” Jawab Amira tersenyum tipis.


Tristan mengeryit mendengarnya. Yang Alan tau Tristan itu tidak pernah ada kata sibuk untuk mengantar Amira menemuinya. Bahkan pernah beberapa kali Tristan juga membawa serta ibu dan Aisha saat menjenguk Alan.


“Apa kalian sedang ada masalah?” Tanya Alan penasaran.


Amira menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan kakaknya. Amira tidak pernah merasa mempunyai masalah dengan Tristan. Dan Amira pikir mungkin memang lebih baik jika mereka tidak lagi dekat. Amira tidak ingin sakit hati karena keluarga Tristan pasti tidak akan menyukainya dan melarang Tristan berteman dengan-nya.


“Kami baik baik saja kak..” Jawab Amira.


Alan merasa tidak yakin dengan jawaban Amira. Apa lagi wajah Amira terlihat begitu jelas berubah ekspresinya saat Alan menanyakan tentang Tristan. Tapi Alan tidak ingin menuntut Amira untuk menceritakan tentang hubungan dekatnya dengan Tristan yang sedang renggang sekarang. Alan tidak ingin membuat adiknya merasa tertekan karena dituntut untuk terbuka padanya.

__ADS_1


“Syukurlah kalau begitu dek.” Senyum Alan menatap Amira.


“Ya kak..” Balas Amira.


__ADS_2