ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 101


__ADS_3

Stefan sampai di perusahaan-nya setelah mengantar Angel lebih dulu ke sekolahan-nya. Dan seperti biasanya, kedatangan Stefan selalu disambut dengan ramah oleh semua karyawan termasuk Rico.


“Selamat pagi tuan..” Sapa Rico saat Stefan sampai didepan mejanya yang memang berada diluar ruangan Stefan.


“Ya, pagi Rico. Apa Boby sudah datang?”


“Tuan Boby sedang berada dalam perjalanan tuan. Sebentar lagi mungkin sampai.” Jawab Rico.


Stefan menganggukkan kepalanya pelan. Hari ini Stefan memang ada janji temu dengan salah satu rekan bisnisnya untuk membahas tentang kerja sama yang akan kembali mereka jalin bersama.


“Ya sudah kalau begitu. Nanti kalau dia datang suruh saja untuk langsung masuk ke ruangan saya ya..”


“Oh iya Tuan.” Angguk Rico mengerti.


Setelah Rico menjawab dengan menganggukan kepala mengerti, Stefan pun segera masuk kedalam ruangan-nya. Pria itu mendudukan dirinya di kursi kebesaran-nya kemudian mulai menyalakan laptopnya. Namun baru saja hendak mengetik sandi laptop miliknya tiba tiba ponsel dalam saku jas yang di kenakan-nya berdering.


Stefan berdecak kemudian segera merogoh sakunya mengeluarkan benda pipih yang terus berdering nyaring itu.


Stefan mengeryit ketika mendapati kontak nama orang suruhan-nya. Penasaran, Stefan pun segera mengangkatnya.


“Ada apa?” Tanya Stefan langsung.


“Ya tuan, maaf saya mengganggu waktu anda. Saya hanya ingin memberitahu pada tuan bahwa beberapa hari ini ada orang yang mengikuti nona Amira tuan.”


Stefan menyipitkan kedua matanya. Stefan memang menyuruh orang untuk mengawasi keluarga Alan. Stefan tidak ingin tanggung tanggung bertanggung jawab atas kecelakaan itu. Stefan sampai menyuruh orang untuk memastikan bahwa Amira, Aisha, juga ibunya selalu aman.


“Segera cari tau siapa orang itu.” Perintah Stefan dengan tegas.


“Baik tuan.” Balas tegas orang suruhan Stefan.


Stefan kemudian segera menutup sambungan telepon-nya. Stefan sebenarnya tidak pernah kepikiran Amira akan punya masalah dengan orang lain. Stefan hanya ingin memastikan keluarga Alan baik baik saja karena itu sebagai tanggung jawabnya juga bagi Stefan selama Alan belum benar benar pulih seperti sedia kala. Meskipun kepulihan Alan bukan lah sesuatu yang Stefan harapkan sebenarnya.

__ADS_1


“Apa mungkin Amira punya musuh?”


Stefan terlihat berpikir pikir. Namun pria itu kemudian beranggapan tidak mungkin jika Amira punya musuh. Kecuali Alan.


Stefan menghela napas kasar kemudian meletakan ponselnya disamping laptop diatas tumpukan berkas yang ada diatas meja kerjanya. Stefan yakin orang kepercayaan-nya bisa menangani semua itu.


Tidak lama saat Stefan berkutat dengan laptopnya, suara pintu ruangan-nya terbuka membuat perhatian Stefan teralihkan.


Stefan tersenyum samar saat mendapati Boby, rekan bisnisnya yang masuk kedalam ruangan-nya kemudian melangkah mendekat padanya.


“Selamat pagi Stefan.” Sapa Boby dengan senyuman yang menghiasi bibirnya sambil menyodorkan tangan.


Stefan bangkit dari duduknya menyambut kedatangan rekan bisnisnya itu kemudian menjabat tangan Boby.


“Ya, pagi juga Boby. Silahkan duduk.”


Boby mengangguk kemudian mendudukkan dirinya dikursi didepan meja kerja Stefan. Pria itu kemudian memperlihatkan map biru yang di bawanya pada Stefan dan menyodorkan-nya.


“Kamu bisa lihat dulu isi dari berkas ini Stefan.”


“Saya harap kerja sama kita kali ini akan seperti sebelum sebelumnya Stefan. Syukur syukur bisa lebih maju.”


Stefan menganggukkan kepalanya setuju. Selama menjadi pengusaha Stefan sekalipun tidak pernah merasa kecewa menjalin kerja sama dengan Boby. Selain karena Boby memang adalah teman baik sesama pengusaha, Boby juga mempunyai otak cerdas dan pemikiran yang maju. Boby juga adalah orang yang tidak pernah keberatan saat mendapat kritikan.


“Itu pasti Boby.” Balas Stefan merasa yakin.


Setelah berbincang cukup lama, Boby pun pamit pada Stefan karena pria bersetelan jas abu abu itu juga masih mempunyai kesibukan lain, sama seperti Stefan.


Stefan kembali berkutat dengan laptopnya setelah Boby keluar dari ruangan-nya. Stefan akan mempersingkat waktu kerjanya karena saat waktu makan siang nanti Stefan berniat mengajak Hana untuk membeli semua yang akan dibutuhkan oleh Hana dan mungkin tidak akan kembali lagi ke perusahaan.


Tidak terasa waktu makan siang tiba. Hana berkutat didepan cermin memoles wajahnya dengan make up tipis sehingga terlihat natural. Seperti yang Stefan inginkan, agar Hana tidak berdandan terlalu menor.

__ADS_1


Hana tersenyum puas melihat bayangan dirinya didepan cermin. Wanita itu kemudian menguncir tinggi rambut panjangnya membuat kulit leher putih bersihnya terekspos.


“Begini nggak terlalu menor kan yah?” Gumam Hana menilai nilai sendiri penampilan-nya.


Hana bangkit dari duduknya sedikit memutar tubuhnya memastikan sekali lagi penampilan-nya.


Saat Hana sedang fokus menilai penampilan- nya sendiri, tiba tiba pintu kamarnya ada yang membuka. Hana menoleh dan mendapati Stefan sudah berdiri disana.


“Stefan..” Senyum Hana langsung berlari dan berhambur memeluk Stefan erat.


Stefan tersenyum. Siang ini Hana pasti akan sangat manja padanya. Buktinya wanita itu langsung berhambur memeluknya saat Stefan membuka pintu.


“Lain kali nggak usah lari lari yah, pelan pelan aja jalan-nya kalau mau peluk aku. Aku nggak akan kabur kok.” Ujar Stefan membalas lembut pelukan erat Hana padanya.


Hana tertawa pelan kemudian melepaskan pelukan-nya. Hana mendongak menatap wajah tampan suaminya kemudian berjinjit mencium singkat bibir tipis Stefan.


Stefan terkejut. Lagi lagi Hana menciumnya dengan tiba tiba dan tanpa Stefan minta. Padahal biasanya saat Stefan meminta cium Hana pasti akan terdiam dan tampak ragu ragu bahkan menolaknya.


“Aku sudah siap. Kita pergi sekarang ya.”


Stefan menatap Hana yang tersenyum manis padanya. Sejujurnya Stefan merasa sangat tidak biasa dengan tingkah istrinya. Tapi apapun itu Stefan akan berusaha untuk terbiasa karena tingkah Hana pasti akan semakin ajaib kedepan-nya.


Stefan juga menilai penampilan istrinya. Dress simpel warna peach selutut tanpa lengan yang begitu pas melekat di tubuhnya di padukan dengan flat shoes yang warnanya senada.


“Kamu cantik.” Senyum Stefan memuji. Stefan tidak sedang berbohong. Penampilan simpel Hana memang membuat Hana semakin terlihat cantik dimatanya.


Hana tersenyum malu malu mendengar pujian suaminya. Pujian yang tidak pernah Hana dengar sebelumnya.


“Makasih.” Hana menundukkan kepalanya tersipu malu.


Stefan tersenyum melihatnya. Pria itu kemudian menyentuh dagu Hana mendongakkan-nya dengan lembut. Setelah itu Stefan mendekatkan wajahnya pada wajah Hana mengamati dengan penuh perhatian wajah cantik istrinya itu.

__ADS_1


Cup


Hana memejamkan kedua matanya saat Stefan mendaratkan ciuman di keningnya. Hana tersenyum tidak menyangka Stefan akan bersikap begitu manis. Saking tidak percayanya Hana bahkan menganggap dirinya sedang bermimpi.


__ADS_2