ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 232


__ADS_3

“Menurut kamu apa yang akan terjadi jika aku mengaku pada keluarga Alan bahwa akulah orang yang menabrak Alan malam itu?”


Hana baru saja hendak menarik selimut untuk menutupi tubuhnya saat tiba tiba Stefan bertanya padanya. Hana menoleh menatap Stefan dengan tatapan tidak mengerti kemudian bangkit dan terduduk kembali.


“Selama ini yang ibu Alan tau aku adalah orang baik yang menolongnya meskipun dengan kamu yang harus menikah denganku Hana. Apa mungkin mereka akan sangat membenciku jika tau akulah pelaku yang menabrak Alan sampai Alan harus koma berbulan bulan.”


Hana menghela napas. Itu juga yang sangat Hana khawatirkan sebenarnya. Terlebih jika mengingat bagaimana keras kepalanya Amira, adik Alan.


“Ibu itu orang yang baik Stefan. Dia selalu mengerti dan memahami bagaimana posisi seseorang.”


“Tapi tidak untuk aku yang sudah menabrak Alan Hana. Tidak ada orang tua yang bisa memaklumi jika anaknya terluka apa lagi sampai sekarat.” Sela Stefan cepat.


Hana diam. Apa yang Stefan katakan memang benar karena Hana juga merasakan hal itu sekarang. Jangankan anaknya terluka, tidurnya terganggu saja Hana merasa sangat tidak rela.


“Aku harus tetap jujur bukan pada mereka? Mereka juga harus tau yang sebenarnya.”


Hana hanya bisa diam menatap Stefan yang terlihat sangat kebingungan. Selama mereka bersama ini adalah kali pertama Stefan terlihat gusar di depan Hana.


Hana menghela napas. Mungkin ibu Alan memang akan sangat marah. Namun jika ibu Alan juga menyadari apa saja yang sudah Stefan lakukan untuk keluarganya, ibu Alan pasti akan bisa maklum. Terlebih apa yang Stefan lakukan sebagai bentuk pertanggung jawaban juga tidak sedikit.


Hana meraih tangan Stefan kemudian mencium punggung tangan besar suaminya. Setelah itu Hana kembali menatap Stefan dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


“Stefan, Tuhan akan selalu menyertakan kebaikan untuk orang orang baik. Aku percaya suami aku adalah laki laki yang baik. Yang meskipun sedikit licik tapi tidak lepas tangan begitu saja untuk mempertanggung jawabkan apa yang memang sudah seharusnya.” Katanya.


Stefan hanya diam saja menatap Hana yang masih menggenggam tangan-nya. Stefan merasa Hana terlalu berlebihan menganggapnya sebagai pria yang baik.


“Hana kamu...”

__ADS_1


“Sshhtt.. Jangan banyak bicara. Sudah malam. Lebih baik sekarang kita tidur. Oke?” Sela Hana yang membuat Stefan urung melanjutkan ucapan-nya.


Detik berikutnya Stefan tertawa. Pria itu kemudian mendorong tubuh Hana hingga Hana terlentang dengan posisi Stefan yang berada diatasnya.


“Stefan, kamu mau ngapain?” Tanya Hana waspada. Bukan enggan melayani suaminya. Hanya saja menurut Hana belum saatnya mereka kembali melakukan hubungan suami istri.


“Menurut kamu?” Tanya Stefan menatap Hana dengan seringaian di bibirnya.


“Enggak enggak, ini nggak boleh. Aku baru operasi Stefan. Jangan gila.” Geleng Hana berusaha lepas dari cengkraman suaminya.


“Hanya ciuman saja juga tidak boleh?” Tanya Stefan semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Hana.


“Enggak Stefan, nggak boleh..”


Hana berusaha mendorong bahu Stefan. Namun apalah daya kekuatan-nya sebagai seorang wanita tidak sebanding dengan kekuatan Stefan yang tentu jauh lebih kuat darinya.


“Oh ya? Memangnya kamu berani berteriak sekarang hem?”


Hana menelan ludah semakin khawatir. Wajah Stefan semakin dekat dengan wajahnya. Bahkan kini hidung mereka berdua sudah saling bersentuhan.


“Ayo teriak. Aku ingin mendengarnya.” Ledek Stefan.


Hana hanya bisa diam dengan rasa khawatir akan apa yang sebentar lagi akan Stefan lakukan padanya. Berteriak rasanya sangat tidak mungkin mengingat putranya yang sedang terlelap. Hana tidak ingin mengusik tidur lelap putranya, Theo.


“Stefan please.. Aku ngantuk banget. Aku juga capek seharian ngurusin Theo..” Hana mencoba mencari alasan dengan mengeluhkan sesuatu yang biasanya tidak pernah sekalipun dia keluhkan selama menikah dengan Stefan.


“Benarkah?” Tanya Stefan berbisik.

__ADS_1


Ketika sedikit lagi bibir Stefan menyentuh bibir Hana tiba tiba suara Theo menangis langsung terdengar. Hal itu membuat Stefan langsung bangkit dari atas Hana kemudian loncat begitu saja dari ranjang mendekat pada ranjang kecil tempat Theo berada.


Hana yang melihat itu terkejut. Stefan benar benar sangat sigap dengan gerakan cepatnya.


Pelan pelan Hana bangkit dari berbaringnya. Wanita itu menatap Stefan yang sedang berusaha menidurkan kembali Theo dengan mengusap lembut betis bayi itu yang kemudian langsung kembali diam dan terlelap kembali.


Setelah di rasa Theo tenang, Stefan kemudian menoleh pada Hana. Pria itu tertawa sendiri karena berhasil menggoda istrinya sampai merasa ketakutan. Namun siapa sangka putranya Theo seperti membela Hana dan menyuruhnya untuk berhenti menggoda mommy nya dengan menangis.


“Sepertinya dia akan lebih siaga dari aku dalam menjaga kamu Hana.” Ujar Stefan.


Hana mengeryit sempat kebingungan. Detik berikutnya seulas senyum menghiasi bibirnya. Theo menangis agar Stefan berhenti menggodanya.


“Ya.. Theo tau bagaimana sikap asli daddy nya.” Balas Stefan.


Stefan menyipitkan kedua matanya. Meski sempat merasa khawatir karena keluarga Alan yang belum tau siapa dirinya, namun Stefan bisa langsung merasa tenang karena kepercayaan-nya pada Hana.


“Jadi?” Tanya Stefan mulai berniat kembali menggoda istrinya.


Hana yang mengerti arti tatapan suaminya, segera menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut tebal warna putih yang sangat mudah di jangkaunya.


“Jangan ganggu aku. Aku ngantuk Stefan.” Katanya dengan nada ketus.


Stefan terkekeh geli. Entah kenapa melihat wajah penuh kekhawatiran Hana karena godaan-nya dari dulu membuat Stefan merasakan sesuatu yang menyenangkan. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah Stefan rasakan.


Stefan menghela napas kemudian kembali menatap Theo yang sudah kembali tenang memejamkan kedua matanya. Bayi tampan nan mungil itu benar benar sangat mirip dengan dirinya. Bahkan mungkin jika orang lain di tunjukan photo Stefan saat bayi mungkin mereka akan mengira bayi Stefan adalah Theo karena mereka memang bak pinang dibelah dua.


“Daddy yakin kamu bisa menjadi pemimpin yang baik suatu saat nanti Theo. Daddy juga yakin kamu bisa melindungi kakak dan mommy serta adik adik kamu dengan baik suatu saat nanti. Daddy percaya sama kamu nak.” Batin Stefan menatap Theo yang begitu pulas.

__ADS_1


Stefan tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi kedepan-nya karena tidak semua orang menyukainya. Tapi apapun yang terjadi, Stefan akan terus mengupayakan yang terbaik untuk istri, anak, juga mamahnya juga orang orang yang Stefan sayangi. Karena bagi Stefan keluarga adalah segalanya. Selama mereka masih saling perduli selama itu pula hubungan keluarga akan terus terjalin erat juga dekat. Tidak perduli sejauh apapun jarak memisahkan.


__ADS_2