
Tristan mendekat pada Amira kemudian mendudukan dirinya disamping Amira yang melengos enggan menatapnya setelah sebelumnya meminta dengan pelan pada teman sebangku Amira untuk pindah tempat duduk sementara. Tristan menghela napas. Tristan tau Amira kesal padanya.
“Amira.. Aku sudah ngerasain sendiri bagaimana susahnya mencari uang sendiri. Waktu untuk belajar itu bener bener nggak ada. Kamu lihat sendiri kan aku bahkan sampai kena hukuman sama bu Amanda karena ketiduran saat jam pelajaran berlangsung. Aku nggak bisa tidur nyenyak semalaman saat itu Amira. Aku nggak mau kamu sampai mengalami itu.” Tristan kembali mencoba mengingatkan Amira pelan pelan. Tristan bener benar tidak ingin Amira merasakan apa yang dia rasakan.
Amira memejamkan kedua matanya sesaat kemudian membukanya dengan helaan napas kasar yang keluar dari bibirnya.
“Eh Tristan. Aku sama kamu itu enggak sama. Kita berbeda. Kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau dengan gampang. Sedangkan aku, untuk sekolah saja aku mengandalkan beasiswa. Bahkan sekarang tuan Stefan yang biayain sekolah aku dan Aisha. Aku itu pengin bisa bantuin ibu aku meringankan beban ekonomi kami sehari hari. Jadi tolong nggak usah ngatur aku apa lagi ngelarang aku buat ini itu. Aku tau apa yang aku lakukan itu baik.”
Tristan menatap Amira dengan wajah kesalnya. Pemuda itu benar benar sangat tidak menyukai sikap keras kepala pacarnya itu.
“Kamu ngeyel banget sih di kasih tau. Kerja itu nggak enak. Belum saatnya juga seumuran kita udah kerja.”
“Apa? Belum saatnya seumuran kita kerja? Heh Tristan harusnya kamu perluas pandangan kamu. Lihat diluar sana, banyak anak anak kecil yang menjadi tulang punggung keluarganya. Ada juga yang sampai putus sekolah karena mereka nggak ada biaya. Dan aku, aku adalah deretan diantara mereka.”
Tristan tidak bisa lagi membalas apa yang Amira katakan. Tristan melengos tidak mau menatap Amira yang begitu keras kepala dan susah untuk di ingatkan.
Edo dan Joshua yang melihat dan mendengar perdebatan keduanya hanya bisa diam saja. Mereka tidak tau kenapa tiba tiba Amira dan Tristan berdebat bahkan didepan teman teman sekelas yang lain.
“Udah pacaran bukan-nya mesra malah berantem. Mereka berdua itu benar benar sulit di pahami.” Gumam Edo menggelengkan kepalanya yang di angguki oleh Joshua setuju dengan apa yang Edo katakan.
“Itu sebabnya kita berdua nggak perlu dulu dekat dekat sama perempuan. Selain harus siap dompet tebel, kita juga harus siap mental agar tetap waras menghadapi mereka Do.” Timpal Joshua.
“Bener banget Jo.” Angguk Edo merasa sependapat dengan Joshua.
__ADS_1
---------
Suara deringan ponsel yang berasal dari tas Williana membuat pembicaraan tentang kerja sama antara Stefan, Boby juga Williana harus terhenti sampai beberapa kali.
“Maaf, sebentar..” Ujar Williana merasa sangat tidak enak hati karena ponselnya yang terus berdering itu.
Williana meraih tasnya kemudian mengeluarkan benda pipih miliknya. Williana berdecak saat mendapati beberapa panggilan tidak terjawab dari Putri serta beberapa pesan masuk yang di kirim oleh gadis itu.
Stefan yang melihat ekspresi kesal dari Williana hanya bisa menggeleng saja. Sebenarnya Stefan sangat malas berurusan dengan wanita itu. Tapi karena sudah ada kerja sama yang tidak bisa di putuskan begitu saja membuat Stefan harus bisa menahan diri. Yang terpenting bagi Stefan adalah Williana bisa profesional dalam bekerja sama dengan-nya tanpa sedikitpun mencampurkan urusan pribadi dengan hubungan bisnis mereka.
“Williana, tolong serius. Pembangunan proyek kita harus secepatnya selesai supaya apa yang kita rencanakan juga bisa dengan cepat berjalan.” Ujar Boby yang memang sangat tidak sabar itu.
Williana terdiam sesaat. Wanita itu melirik pada Stefan sebentar kemudian segera menonaktifkan ponselnya agar Putri tidak lagi mengganggunya dengan terus menelepon-nya.
Obrolan tentang kerja sama mereka kembali berlanjut tanpa gangguan lagi dari suara ponsel Williana. Mereka bertiga tampak sangat serius membicarakan tentang rencana kerja sama mereka hingga akhirnya waktu makan siang pun tiba.
“Oke, mungkin cukup untuk pembahasan kali ini ya.” Senyum Boby merasa puas setelah obrolan tentang kerja sama itu berlangsung dengan baik tanpa gangguan apapun lagi.
“Ya..” Angguk Stefan tersenyum tipis.
“Kalau begitu saya permisi.”
Boby menjabat tangan Stefan dan Williana bergantian kemudian berlalu meninggalkan Stefan dan Williana berdua di meja didalam restoran tempat mereka bertemu.
__ADS_1
“Ini sudah waktunya makan siang Stefan. Sepertinya akan lebih baik kalau kita sekalian pesan makanan saja.” Saran Williana dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
Stefan menatap sebentar pada Williana kemudian merogoh saku dalam jas hitam yang dikenakan-nya meraih ponsel miliknya. Sebenarnya ponsel Stefan juga beberapa kali bergetar saat sedang berbincang dengan Boby tadi. Tapi Stefan berusaha mengabaikan-nya dan tetap fokus dengan pembahasan tentang kerja samanya.
Stefan tersenyum saat mendapat banyak panggilan tidak terjawab dari istri tercintanya. Apa lagi Hana juga mengirim beberapa pesan padanya. Hana bahkan sampai marah dan protes pada Stefan karena Stefan tidak mengangkat telepon darinya juga tidak membalas satupun pesan yang dikirim olehnya.
Williana yang melihat Stefan malah asik dengan ponselnya berdecak. Stefan benar benar tidak menganggapnya. Pria itu mengabaikan keberadaan-nya sekarang.
“Stefan, aku sedang berbicara sama kamu. Tolong hargai itu.” Protes Williana tidak terima Stefan mengabaikan keberadaan-nya.
Stefan mengeryit kemudian menatap pada Williana yang terlihat sangat kesal padanya. Pria itu kemudian tersenyum sinis.
“Pembicaraan kita tentang kerja sama antar perusahaan sudah selesai Williana. Jadi saya sudah tidak harus meladeni kamu.” Ujar Stefan dengan santainya.
Kedua mata Williana melebar mendengarnya. Ucapan Stefan benar benar sangat tidak menghargainya. Pria itu selalu saja meremehkan-nya jika sudah diluar jam kerja.
“Stefan tolong hargai aku. Aku sudah baik baik mengajak kamu untuk makan siang bersama. Apa salahnya kamu mengiyakan.” Marah Williana yang akhirnya tidak bisa menahan diri dan marah marah tidak terima dengan sikap meremehkan Stefan padanya.
Stefan yang mendengar nada bicara Williana yang sedikit meninggi mengeryit kemudian menggeleng pelan senyuman senyuman sinisnya.
“Kamu tidak bisa memaksa saya Williana. Maaf, saya harus segera menemui istri saya.” Balas Stefan dengan santainya kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan Williana keluar dari restoran tersebut.
Williana berdecak kesal karena sikap Stefan padanya. Pria itu benar benar tidak pernah sekalipun menghargainya. Padahal menurut Williana dirinya sudah lebih segalanya dari Hana. Bahkan jika di bandingkan siapapun pasti tau bahwa Hana tidak ada apa apanya jika bersanding dengan Williana, wanita cantik nan sexy yang pintar dalam berbisnis.
__ADS_1
“Aku nggak akan menyerah Stefan. Aku nggak akan kalah dari perempuan kampung itu.” Gumam Williana dengan rahang mengeras.